Family Gathering Batam Pos


Seru, akrab dan penuh canda dan gelak tawa. Begitulah suasana ketika seluruh keluarga besar Batam Pos mengadakan acara bersama keluarga, pada family gathering dan Fun Day 2008 di Batam View Resort, Nongsa Sabtu (26/4) pekan lalu, sejak pagi hingga sore harinya.

Pada hari itu, kami rehat sejenak, melepas penat berkumpul bersama anak-anak dan istri serta keluarga besar Batam Pos setelah sehari-hari bertemu dalam kesibukan dan rutinitas kerja. Family Gathering juga berkesempatan bertatap muka dan menjalin silaturahmi antar karyawan yang tidak selalu bertemu.
Ada yang bekerja dari pagi sampai sore seperti bagian administrasi, keuangan dan umum, ada yang masuk sore hingga malam seperti redaksi, ada pula yang masuk subuh sampai pagi seperti ekspedisi dan distribusi serta pemasaran.
Acara kali ini, mengusung tema perduli lingkungan: One Earth Stop Global Warning dengan kaos warna hijau. Ini bukan latah. Tapi, keluarga besar Batam Pos perduli lingkungan. Tahun lalu, acaranya khusus buat karyawan dalam bentuk outbond yang dinamakan Batam Pos Extrem Chalenge di Haris Resort.
Ratusan karyawan bersama keluarga, langsung berbaur dalam berbagai permainan. Mulai dari balap karung, bakiak, volley ball hingga tepuk bantal. Ada pula yang memilih berenang, keliling naik banana boat dan menjajal jetsky. Kendati sempat diguyur hujan, tidak mengurangi keceriaan anak-anak dan karyawan.
Sorenya, acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Yakni, pembagian ratusan hadiah lucky draw. Mulai dari kebutuhan keluarga seperti magic com, mixer, home teathre, hingga televisi, kulkas dan sepeda motor. Lilis Lishatini, beruntung mendapat Honda Revo. Ia mengangkat tinggi-tinggi kunci motor sambil tersenyum lebar. Namun, yang lain tetap gembira. Sebab, semua karyawan dapat hadiah.
Kebersamaan seluruh karyawan merupakan kekuatan Batam Pos selama ini. Tahun 2007 Batam Pos menempati rangking satu di Riau Pos Grup dengan kinerja usaha terbaik dan di awal tahun 2008 ini, dua wartawan Batam Pos mendapat penghargaan Dahlan Iskan Award. Musuh kami bukanlah media cetak sejenis yang mencoba mengikuti langkah-langkah kami, tapi musuh utama kami adalah diri sendiri, seperti sikap malas, tidak disiplin, merasa hebat sendiri, arogan, congkak dan sombong. Selain itu, kami akan berhadapan dengan pemilik laptop yang makin lama makin murah, dan orang bisa online dimana saja lantaran makin meluasnya hotspot dan murahnya tarif internet. Kalau sudah begitu, buat apa lagi orang berlangganan koran? ***


Read More......

Seputar Off the Record

William L. Rivers dan Cleve Mathews dalam “Etika Media Massa dan Kecenderungan untuk Melanggarnya”, menekankan perlunya pemahaman wartawan mengenai etika dalam liputan. Kode etik media massa di antaranya, memberikan beberapa jenis keterangan yang mesti diperhatikan wartawan dan sumber – sumbernya.

KETERANGAN ON THE RECORD. Semua pernyataan boleh langsung dikutip dengan menyertakan nama serta predikat si sumber. Kecuai ada kesepakatan lain, semua komentar dianggap boleh dikutip. Oeh sebab itu, pastikan batasan mana keterangan – keterangan dengan kategori ini. Jangan sampai sudah wawancara berjam –jam ehh ujung – ujungnya sis umber bilang “ tapi ini off the record yaa.. “ keterangan yang didapat dari wawancara jadi melorot nilainya.
KETERANGAN ON BACKGROUND. Biasanya disebut “background” saja. Semua pernyataan boleh dikutip langsung, pakai tanda petik, tapi tanpa menyebutkan nama si sumber. Contohnya, “ya, memang ada polisi yang diperiksa berkait pemukulan tahanan itu”. Ujar sumber di Kepolisian. Jenis penyebutan yang digunakan si sumber harus dinegosiasikan terlebih dahulu. Apakah boleh kita menyebutkan kesatuannya? Atau hanya di Mapoltabes saja? Atau hanya menyebut petugas polisi saja? .
Yang harus diingat bahwa makin kabur identitas si sumber, makin ringan juga kredibilitas laporan si wartawan. Seorang perwira di Mapoltabes lebih kabur ketimbang seorang Perwira di Satreskrim Mapoltabes.
KETERANGAN ON DEEP BACKGROUND. Kategori ini jarang dimengerti terutama oleh nara sumber. Semua pernyataan sumber boleh digunakan akan tetapi tidak dalam kutipan langsung. Reporter menggunakan keterangan itu tanpa menyebutkan sumbernya. Hati – hati dengan kategori ini, sebab si sumber (apalagi yang sudah berpengalaman dengan media) sering memanfaatkan status ini untuk mengapungkan umpan tapi tidak mau bertanggung jawab. Apalagi kalau sampai kita terjebak di manfaatkan si sumber tersebut.
KETERANGAN OFF THE RECORD. Informasi yang diberikan secara off the record hanya diberikan kepada reporter dan tidak boleh disebar luaskan dengan cara apapun.
Informasi tersebut juga tidak boleh dialihkan kepada nara sumber lain dengan harapan informasi tersebut bisa dikutip. Secara umum harus diketahui terlebih dahulu bahwa rencana penyampaian informasi secara off the record harus disepakati terlebih dahulu oleh reporter.
Resiko menyetujui informasi off the record adalah si wartawan terikat untuk tidak menggunakan informasi tersebut (termasuk kemungkinan bahwa informasi itu diperoleh dalam bentuk yang lain dari nara sumber lain, tapi bisa menimbulkan kesan bahwa si wartawan tidak menghormati kesepakatannya dengan sumber pertama. Keterangan off the record baru berharga kalau ada pihak lain yang mengeluarkannya dan kita boleh mengutipnya dengan nama lengkap.
Jadi kalau dapat keterangan yang off the record, kita segera mencari sumber lain yang mau bicara. Apa yang dilakukan wartawan POSMETRO ketika memberitakan penangkapan kapal nelayan Thailand adalah contoh yang bagus. Kapal ditangkap hari Selasa, wartawan berkonfirmasi hari rabu, Angkatan Laut yang menahan kapal itu membenarkan tetapi tidak mau memberikan keterangan (sama saja dengan off the record kan.. ?) dan berjanji mengadakan jumpa pers pada hari Jumat. Akhirnya POSMESTRO memberitakan juga dengan keterangan yang jauh lebih bagus yang didapat dari Dinas Kelautan.

Read More......

Lag--lagi Soal Wawancara

Berita paling istimewa dihasilkan dari kerja keras reporter. Informasi berharga dan eksklusif – hanya kita yang dapat orang lain tidak – menghasilkan berita nomor satu. Sebuah berita yang tampak jerih payah reporter untuk mendapatkanny. Tak ada cara lain untuk mendapatkan itu kecuali wawancara langsung, menemui langsung si sumber berita.
Dalilnya adalah makin penting sumber makin berharga informasi dari dirinya, tetapi juga biasanya makin sulit di temui. Sudah bertemu pun masih perlu tehnik wawancara khusus untuk menggali dan membongkar informasi sebanyak – banyaknya dari si sumber tadi.

Leslie Rubinkowski, asisten professor di Sekolah Jurnalisme Perley Isaac Reed di Universitas West Virginia menyebutkan dari wawancara langsung tidak hanya di dapatkan informasi, tetapi juga bisa didapatkan bahan untuk membuat berita jadi “hidup” dan “bersuara”. Reporter bisa memilih kutipan terbaik, menggambarkan situasi saat wawancara dan ekspresi si sumber ketika memberi jawaban. Rubinkowski punya 12 petunjuk untuk sebuah wawancara yang efektif.
1.Jangan Terlambat. Pastikan kita punya waktu leluasa untuk wawancara itu. Pertimbangkan kemacetan lalu lintas, waktu untuk parkir atau apa saja yang bisa bikin kita terlambat. Prinsipnya : lebih baik datang lebih awal beberapa menit dan menunggu dari pada terlambat.
2. Berpakaian yang Pantas. Pantas, artinya cocok dengan tempat kita wawancara dan dengan sumber yang hendak kita temui. Kita yang perlu dia, jadi kitalah yang menyesuaikan diri. Tidak perlu bersolek berlebihan. Yang disarankan adalah pas dan kita tidak terasa hadir sebagai orang asing dan aneh di tempat kita mewawancarai sumber. Soalnya, ketika kita mengeluarkan buku notes dan mulai bertanya ini itu, maka itu saja sudah tampak aneh di mata orang lain, jadi kurangilah keanehan itu.
Jika kita mewawancarai seorang pengusaha di rumahnya, pilihlah pakaian yang pantas untuk situasi itu. Kapan kita boleh pakai celana jins saja? Tentu saja kalau situasinya bisa kita atur tidak terlalu formal. Dan pakailah selalu sepatu yang nyaman, siapa tahu lari–lari dan siapa tahu pula kita harus berdiri lama untuk wawancara itu.
3.Seperti Percakapan. Buatlah wawancara itu seperti sebuah percakapan. Tetapi jaga jangan sampai ngalor-ngidul. Kita yang mengendalikan percapakan itu supaya teratur, sesuai dengan informasi yang hendak kita kumpulkan dari si sumber. Siapkan daftar pertanyaan, tetapi jangan terlalu terpaku pada daftar pertanyaan itu. Kalau sumber kita menyebutkan sesuatu yang kontroversial, galilah informasi itu, lupakan sejenak daftar pertanyaan kita.
4. Skenario Pertanyaan. Susunlah skenario pertanyaan kita, bila informasi yang kita kejar sensitif bagi si sumber. Giring ke arah sana, jangan langsung menodong, karena biasanya si sumber akan menutup dirinya sama sekali bila merasa di pojokkan.
5.Minta Izin Merekam. Sebelum wawancara perlu disepakati dengan sumber, apakah kita akan merekam percakapan itu, kalau perlu jawaban YA dari si sumber terekam juga. Untuk berjaga, bila kelak si sumber mungkin akan mempermasalahkan hasil wawancaranya. Keluarkanlah buku notes setelah kita berada di tempat wawancara. Jangan menentengnya sepanjang jalan, simpan saja di dalam tas. Ajak dulu sumber kita sedikit berbasa-basi. Pokoknya buatlah sumber kita merasa nyaman dengan kehadiran kita dan dengan wawancara tersebut. Tunjukkan kepada sumber bahwa kita tertarik dengan apa yang dia sampaikan, bukan hanya sekedar mencatat kutipan – kutipan dari omongannya.
Catatlah atau jauh lebih baik rekamlah. Kalau kita merekam tetap saja kita harus mencatatnya sebagai back up. Terutama butir-butir penting yang menjadi informasi kunci. Pastikan perekam kita berfungsi baik, kasetnya tidak putus atau kusut dan baterai tidak soak. Bila kita siap, maka sumber merasa yakin tidak berbicara dengan orang yang salah.
Kalau kita mencatat, dan si sumber berbicara secara cepat, jangan segan untuk memintanya mengulangi kalimatnya. Mintalah dengan sopan tentunya.
Yang tak kurang penting adalah menyimpan kaset rekaman dan catatan hasil wawancara. Beri label dan catat tanggal serta nama sumbernya, agar mudah dicari lagi. Tidak ada yang lebih bikin frustasi dari pada kita harus berkejaran dengan deadline dan kita kebingungan mencari mana kaset dan catatan wawancara kita tadi.
6.Jawabn adalah Cerita. Ajukan pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan cerita. Orang yang mau bercerita kepada kita menunjukkan dua hal : pertama, dia percaya kepada kita. Kedua, kita bisa merespon cerita itu dan menunjukkan bahwa kita tertarik, apalagi kalau kita baru bertemu dengan si sumber kita.
7.Menjadi Saksi Mata. Amati suasana dan kea-daan tempat wawancara, tidak hanya terfokus pada ucapan si sumber. Sedapat mungkin pilihlah tempat wawancara dimana si sumber tadi melakukan sesuatu, atau disana akan terjadi sesuatu. Kita bisa menjadi penyaksi dari suasana dan itu bisa ditambahkan untuk membuat berita kita jadi lebih dramatis.
8.Bijaksanalah. Kita tahu kapan harus diam saja, mendengarkan saja, tidak mengajukan tanya, dengarkan dengan cukup hati-hati, sehingga kita bisa tahu kalau sumber kita diam karena sedang mengingat kembali atau mengumpulkan kembali ingatannya sebelum berbicara lagi. Jangan merasa bahwa kita harus mengisi setiap jeda dengan percakapan.
9.Wawancara di Jalanan. Kalau kita wawancara dengan orang jalanan, tampillah bersahabat, berbicara ringkas dan jangan tunjukkan kita takut, gentar atau segan. Tampillah sewajarnya, anda harus professional kan? Jadi berbaurlah dengan mereka. Keluarkan kemampuan acting kita. Caranya : Dekati seseorang di antara mereka. Kenalkan siapa kita dan apa yang sedang kita lakukan. Mintalah izin untuk mengajukan pertanyaan. Tentu saja dengan gaya bocara mereka, dengan sopan santun ala jalanan. Tanya nama dan dari mana mereka. Lagi, bertanyalah dengan ringkas dan cari kemungkinan untuk melanjutkan pertanyaan lain. Tunda mengajukan pertanyaan yang sulit hingga wawancara mendekati akhir. Cek lagi nama mereka, julukan atau nama gelar yang mereka dapatkan dikehidupan jalanan. Untuk cek lagi ejaannya, dan ucapkan terima kasih.
Ingat orang yang bersedia diwawancari sudah memudahkan kerja kita, tidak peduli apakan yang kita dapat dari dia menarik atau kurang begitu penting. Kalau informasi mereka diterbitkan beritahu mereka nama Koran kita, kapan kemungkinan terbitnya dan beritahu lagi nama anda. Tak peduli sekasar apapun mereka tetaplah sabar. Tetaplah yakinkan bahwa kita sedang kerja. Ingatkan sumber kita kenapa kita ada disana, kalau mungkin ulang pertanyaan. Kalau situasi tidak mengenakkan, jangan memaksa, tinggalkan saja. Dan jangan jadikan urusan pribadi, jangan dendam karena tidak ada gunanya.
10.Jangan Pura-pura Tahu. Bersikaplah bahwa kita tahu apa yang sedang kita lakukan, Karena apabila kita ragu si sumber akan memanfaatkan keraguan kita itu. Hati-hati. Tetapi bukan berarti kita berpura – pura tahu segalanya. Jadi jangan takut untuk bilang tidak me-ngerti dan meminta sumber untuk memberi penjelasan lebih. Cara bertanya yang paling baik untuk itu adalah …… “ Jadi tadi anda bilang bla… bla… “ atau “saya simpulkan dari penjelasan anda tadi bla… bla… “ Lemparkan lagi ke dia, kalau tidak sesuai pasti dia akan menjelaskan lagi.
11.Kalau Sudah Tahu Buat Apa Wawancara? Harapkanlah selalu akan mendapatkan kejutan. Jangan bikin wawancara dengan orang yang akan memberikan penjelasan yang sudah kita tahu. Jangan biarkan perasaan kita atau bias sikap kita menyelewengkan arah pertanyaan saat wawancara dan berita yang kita sedang tulis.
12.Bayangkan Kalau Kita Yang Ditanya. Tunjukkan simpati kepada sumber kita. Dan terakhir Tanya diri kita sendiri : bagaimana seandainya kita yang jadi sumber, dan sumber kita jadi reporter yang menanyai kita? Kita ingin diperlakukan seperti apa? Ini pertanyaan yang sangat jarang kita kita pikirkan dan renungkan.

Read More......

Wawancara Jempolan

Setelah menguasai jurus – jurus wawancara, kita sudah dapat turun ke gelanggang reportase. Jurnalis yang handal akan menambah kemampuannya dengan 12 jurus tambahan lagi dari Jim Hall, praktisi jurnalis di Amerika yang lebih dari 26 tahun menjadi reporter, editor dan guru para jurnalis muda.

Inilah sarannya:
1.Pusatkan perhatian pada apa yang dikatakan sumber, bukan pada APA YANG HENDAK KITA TANYAKAN BERIKUTNYA. Pertanyaan kita berikutnya akan sangat baik apabila kita ajukan setelah kita menyimak sumber menjawab pertanyaan kita sebelumnya. Karena itu dengarkanlah dengan cermat dan kritis. Yakinkan bahwa kita mengerti apa yang dikatakan sumber kita. Kalau tidak mengerti, jangan ragu untuk memintanya mengulangi lagi sedikit penjelasannya. Simaklah juga APA YANG DIA SAMPAIKAN TIDAK LEWAT UCAPAN LANGSUNG. Apakah dia sedang menghindari topik pertanyaan kita ?
2. Jangan sekali – kali memotong pembicaraan sumber kita. Jangan mengajukan pertanyaan yang kepanjangan. Jangan kita berbicara terlalu banyak. Jangan mengajukan pertanyaan yang menantang di awal perbincangan. Kita bertemu sumber untuk mendengar opininya, bukan menawarkan oponi kepada mereka.
3.Kendalikan gerak tubuh dan emosi kita. Kalau sumber merasa pendapatnya tidak kita terima, maka habislah wawncara itu. Apabila sumber kita mengajak melihat – lihat rumahnya, kantornya, pabriknya,kebunya , dll, terima saja. Dengan catatan, apabila kita masih punya waktu, catat apa saja yang bisa kita amati dan kita juga bisa terus mengajukan pertanyaan sambil jalan.
4.Mulailah dengan pertanyaan yang mudah. Mungkin pertanyaan yang menyangkut pribadi si sumber kita. Mulailah dengan anekdot kalau itu relevan. “wawancara sangat mirip dengan percakapan biasa. Akan tetapi kita harus memandu percakapan tersebut. Kita harus mengetahui apa yang ingin kita dapatkan dari sumber dan kita harus dapatkan itu”. kata Anthoni DeCurtis, jurnalis yang pernah jadi editor di Majalah Rolling Stone.
5.Kalau sumber kita berbelok ke pembicaraan yang tidak terduga sebelumnya. Ikuti saja dahulu. Jangan paksa dengan topik kita. Tetapi ingatlah selalu bahwa kita harus mengumpulkan data yang sudah direncanakan sebelum wawancara itu. Rata – rata satu jam wawancara sudah cukup lama. Maka pada saatnya, tegaslah tapi sopan, bawa kembali percakapan itu ke jalur wawancara kita. Siaplah, karena biasanya ada saja hal menarik yang kita dapatkan pada saat kita hendak mengakhiri wawancara.
6.Akurasi adalah segalanya dalam berita kita. Karena itu, yakinkan bahwa kutipan kita akurat. Kalau kita tidak yakin, buatlah paraphrase, uraian dari ucapan sumber dengan kata – kata sendiri. Tanyakan ejaan dari kata – kata yang rumit yang diucapkan sumber. Buat kesimpulan pendek dari pokok pikiran yang diucapkan sumber kita, kalau ada waktu.
7.Tanyakan itu kembali secara ringkas dan dapatkan jawaban. “ ya, tepat seperti itu! ” dari si sumber tadi.
8.Beritahu sumber kita, bahwa kita mungkin akan menelepon dia kembali untuk mengecek fakta-fakta yang dia berikan. Ingat hanya fakta bukan ucapan dia. Teleponlah, apabila memang ada yang hendak dicek ulang, pada saat kita hampir menyelesaikan tulisan hasil wawancara tadi. Jangan sebelum kita menuliskan atau pada saat hendak menuliskannya. Kita akan tambah bingung nanti, Karena si sumber (apalagi yang belum terbiasa bicara dengan pers) biasanya tak tentram dengan apa yang sudah disampaaikan kepada kita.
9.Kapan harus merekam wawancara ? bila ada waktu untuk mentranskip dan berita kita memerlukan kelengkapan urutan – urutan pertanyaannya. Biasanya rekaman sangat berperan kalau kita membuat tulisan dalam bentuk tanya jawab atau profil tokoh. Rekaman juga dipertimbangkan kalau si tokoh punya gaya bicara yang agak tidak umum. Perlu juga merekam kalau topik yang sedang kita gali bisa menjadi kontroversi. Tetapi pertimbangkan juga kelancaran wawancara. Ada sumber yang tidak betah kalau melihat alat perekam. Untuk kasus seperti ini, sebaiknya hindari saja rekaman dan gunakan keahlian kita mencatat.
10.Asumsi dari setiap wawancara adalah semua pernyataan si sumber kita ON THE RECORD. Kecuali kalau secara langsung pada beberapa bagian dari wawancara itu sisumber meminta OFF THE RECORD. Tapi sebelum kita setujui itu, cobalah untuk meyakinkan sumber kita. Yakinkan bahwa dia tak perlu takut kalau pernyataan yang dia minta OFF THE RECORD tadi tidak membahayakan dia apalagi kalau bagian itu menarik. Tetapi jangan berbohong, kalau kita bilang tidak berbahaya, itu harus benar – benar aman.
11.Kutipan langsung dari sumber kita, penting untuk berita kita. Dengan kutipan langsung pembaca seolah – olah mendengar langsung apa yang dikatakan oleh sumber. Kutipan juga meyakinkan pembaca bahwa kita hanya melaporkan secara obyektif. Tetapi ingat kutipan harus 100% akurat. Kalau ragu, tidak usai memakai tanpa kutip, uraikan saja. Mengubah kalimat dalam kutipan di bolehkan sejauh dengan pertimbangan tata bahasa.
12.Pastikan bahwa kutipan langsung memang menarik dan penting untuk di tulis dalam bentuk itu. Pastikan kutipan langsung tidak sekedar mengulangi apa yang sudah di uraikan sebelum atau sesudahnya. Buat apa hanya mengulang – ngulang saja.
13.Pastikan bahwa apa yang di ketahui oleh sumber kita seluruhnya diberiktahukan kepada kitadan kita mendapatkan pembenaran dari dia untuk memberitakan itu. Ada memang bagian dari wawancara yang disampaikan oleh sumber ke kita tetapi dia keberatan kalau kita beritakan. Itu namanya informasi Latar Belakang. Kalau kita sepakati itu, maka hormatilah kesepakatan itu. Ada lagi informasi yang kita tahu bahwa sumber kita tahu, tetapi dia tidak mau menyampaikannya ke kita dalam wawancara itu.


Read More......

Persiapan Wawancara

Ada tiga cara mengumpulkan informasi untuk berita yang hendak kita tulis – riset, pengamatan dan wawancara. Dari tiga hal itu, wawancara adalah hal yang pa-ling penting. Wawancara bisa dilakukan dengan ber-temu langsung, dengan telepon dan sekarang sudah lazim wawancara lewat e-mail alias surat elektronik. Wawancara bisa dilakukan dalam beberapa kali per-temuan, atau hanya beberapa menit dengan beberapa pertanyaan, misalnya ketika kita meminta pendapat Menteri yang hendak bersiap berangkat di bandara.

Apapun bentuknya, hasil wawancara itu menjadi informasi penting dalam berita kita.
Berikut petunjuk praktis wawancara yang baik :
1. Jangan bertanya kepada Dian Sastrowardoyo, An-da berperan sebagai apa dalam film Ada Apa Dengan Cinta? Dijamin, dia akan pergi sebelum men-jawab apa – apa. Masih mendingan kalau cuma pergi. Kalau dimaki – maki, “Lo jadi wartawan goblok banget sih..!” rasanya bukan salah Dian. Artinya sebelum wawancara siapkan diri dengan informasi mendasar tentang orang yang hendak kita wawancara. Jangan menjadi keledai bodoh di depan sumber.
2. Persiapan membuat kita percaya diri dan bisa mengajukan pertanyaan – pertanyaan yang baik. Itu bisa mengirimkan sinyal kepada sumber kita bahwa dia tidak bicara kepada reporter yang salah. Bacalah apa saja yang sempat dan ada tersedia. Tanyalah siapa saja yang tau tentang sumber kita itu. Sumber kita akan jadi tidak pelit bicara kalau kita tahu apa hobinya, prestasinya dan apa saja hal kecil yang membanggakan dia. “Rempah dan bumbu dasar untuk sebuah wawancara yang hebat adalah pengetahuan tentang sang sumber. Itulah yang membuat keakraban sang reporter dengan si orang yang di wawancarai,” kata Tom Rosentiel, Pengarang buku Sembilan Elemen Jurnalisme bersama Bill Kovach.
3.Apa tema wawancara kita? Dari tema itu kemudian kita berangkat menyusun daftar pertanyaan. Mungkin kita akan bilang, “Ah, nanti kan bisa keluar pertanyaan yang spontan.” Memang, tetapi ingat cara terbaik un-tuk memancing pertanyaan spontan adalah dengan mempersiapkannya terlebih dahulu. Dengan bekal pertanyaan hebat dalam daftar yang kita pegang, kita bisa santai saat berhadapan dengan sumber. Sebab kita yakin kita tidak akan lupa pertanyaan penting untuk berita kita yang bakal kelewatan.
4. Susun kalimat pertanyaan kita dengan kalimat yang netral. Jangan bertanya, “anda kan TIDAK PERNAH setuju dengan pemberantasan korupsi dengan hukuman mati?” lebih baik bertanya, “Bisa URAIKAN kenapa anda mengusulkan korupsi diberantas sistematis dan tahap demi tahap?” umumnya wanita berumur tidka nyaman mengungkapkan berapa usianya sebenarnya. Jangan tanyakan itu langsung. Lebih baik kalau kita bertanya dengan pertanyaan terbuka. Misalnya, kalau kita tahu Nia Daniati mengeluarkan album pertamanya tahun 1982, kita bisa tanyakan umur berapa waktu itu dia. Kalau dia menjawab, kita tinggal menambahkan selisih tahun dengan usia saat itu.
5.Pilih pakaian yang pantas. Bertemu seorang wali kota tentu beda tuntutannya atas penampilan kita dibandingkan kalau kita harus mewawancarai anak jalanan. Pokoknya ikuti saja kepatutan – kepatutan berpakaian. Wawancara dengan penggali pasir di pinggir sungai tidak harus pakai dasi kan?
6. Ini agak susah. Buatlah suasana wawancara itu tidak seperti wawancara, tetapi lebih sebagai percakapan. Tetapi Anda juga harus tetap menjaga percakapan itu terstruktur sesuai dengan informasi yang ingin anda dapatkan. Jangan larut terbawa percakapan yang tidak ada nilai informasinya.
7. Tunggulah sebentar sebelum mengeluarkan pena dan notes. Buat suasananya enak dan dilihatlah kesiapan sis umber. Ini menentukan jalannya wawancara selanjutnya.
8. Tataplah mata si sumber dan tunjukkan kita menyimak jawabannya, tesenyumlah karena senyum adalah pelumasnya kata – kata. Senyum membuat kita dan si sumber kita santai.
9. Ketika sumber kita bicara, mengangguklah atau ge-rakkanlah bahasa tubuh lainnya untuk menunjukkan ki-ta mengerti dan menyimak terus. Duduklah di ujung depan kursi dan jangan bersandar. Condongkan tubuh ke arah sumber.
10. Amati dan catat bahasa tubuh sumber kita, pakai-annya, kondisi fisiknya, karakternya yang khas dan caranya berinteraksi dengan orang – orang disekitar dia. Ini akan membantu kita melukis dengan kata – kata dalam berita kita nanti untuk dinikmati pembaca. Ada banyak hal menarik yang tak terucapkan, anda perlu mendeskripsikannya. Apakah lukisan di dinding kantor atau ruang tamu rumahnya? Dan hal lain yang menarik, amatilah .
11. Catat dengan tulisan yang pasti bisa kita baca lagi.
12.Matikan telepon genggam atau pasang sinyal getaran saja. Suara telepon akan sangat mengganggu kelancaran wawancara. Yakinkan bahwa saat itu yang paling penting bagi anda saat itu adalah bicara dengan sis umber. Lupakan saja telepon masuk, meski-pun dari presiden.

Read More......

Apa Mengapa Wawancara

Kita tidak menulis dengan kata tetapi dengan informasi. Kata adalah simbol informasi dan tanpa informasi yang menarik kita tidak akan mampu menemukan kata – kata yang akan memikat pembaca.Menggali informasi yang menarik dan akurat, reportase suasana, detil konkret, opini para tokoh yang terlibat, fakta – fakta, dokumen sejarah, angka statistik adalah tugas reportase yang paling fundamental. Mereka bertugas mengumpulkan batu fondasi yang kokoh bagi sebuah tulisan.


Menggali informasi di lapangan bisa dikelompokan sebagai berikut: (1) Merekam suasana, laporan pandangan mata, telinga, hidung, lidah, kulit dan perasaan.
(2) Wawancara, menggali opini seseorang atau menyerap background masalah dari pakar maupun tokoh kunci dalam suatu peristiwa atau suatu masalah.
(3) Riset, mengumpulkan data – data pendukung berupa bagan/gambar, dokumen resmi, angka statistik, kliping koran/majalah atau dokumen – dokumen sejarah.
Sebuah tulisan yang bisa memuaskan hasrat pemba-ca akan kelengkapan dan kejelasan umumnya di ba-ngun dari melalui ketiga kegiatan itu sekaligus (hasil dari seluruh penggalian itu disebut reportase). Bagai-manapun, wawancara adalah cara penggalian bahan yang paling penting.Berikut ini seluk beluk tentang wawancara, terutama untuk pemula.
Mengapa Wawancara ?

Wartawan mewawancarai orang – orang untuk meng-gali opini dan informasi factual tentang suatu peristiwa atau suatu masalah. Wawancara merupakan jalan pintas untuk memperoleh informasi. Sebab wartawan tidak selalu bisa memperoleh semua berita secara langsung sekalipun peristiwanya terjadi disekitarnya.
Disinilah perlunya dia melakukan rekonstruksi peristiwa ataupun masalah melalui saksi mata atau mereka yang terlibat. Dan karena wartawan juga bukan pakar, sering-kali dia perlu mewawancarai seseorang yang mempu-nyai pengetahuan dan minat terhadap sesuatu masalah secara mendalam.

Janji Wawancara
Umumnya wartawan membuat perjanjian terlebih dahulu untuk suatu wawancara. Wartawan menjelaskan jati diri-nya, media apa yang diwakili dan tujuan dari wawancara tersebut. Dengan begitu, sumber bisa mempersiapkan informasi yang diminta.
Wartawan lebih suka mewawancarai orang – orang penting, seperti direktur perusahaan atau petinggi biro-krasi, ketimbang bawahannya; sekretaris, asisten atau humas. Wartawan ingin selalu mewawancarai orang per-tama yang tahu persis tentang masalah, atau dengan pakar yang bisa dengan cepat menjawab semua per-tanyaan. Sebab, pembaca lebih memberi respek pada jawaban yang diperoleh dari sumber top atau tokoh yang terdekat dengan cerita.
Wawancara mendalam biasanya memerlukan setidak-nya satu atau bahkan dua sampai tiga jam. Wartawan biasanya menawarkan diri untuk mendatangi rumah atau kantor sumber. Sebab, jika sumber berada pada ling-kungan yang akrab terlebih di ruang pribadi yang tanpa gangguan dia akan merasa lebih sreg sehingga bisa menjawab dengan bebas.

Pertanyaan Cerdas
Mempersiapkan pertanyaan bagus adalah langkah terpenting dalam suatu wawancara. Sumber jarang memberikan informasi yang benar – benar baru kalau tidak ada dorongan, mereka juga tidak terlalu berminat mendiskusikan isu atau malu untuk berbicara jujur pada wartawan yang belum dikenalnya. Jadi wartawan mesti berupaya dengan berbagai cara agar sumber tergerak untuk bicara.
Dalam mempersiapkan sebuah wawancara mendalam, wartawan harus cukup waktu untuk memperoleh semua keterangan tentang sumber dan tentu saja masalah yang akan didiskusikan. Wartawan harus siap untuk menanya-kan pertanyaan yang tepat, cerdas dan dapat mengerti pertanyaan sumber.
Jika persiapan matang, wartawan tidak akan mem-boroskan waktu untuk menanyakan hal-hal yang tidak penting yang sudah dipublikasikan luas. Pertanyaan ko-nyol bisa membosankan dan mematikan minat sumber untuk bicara. Sebaliknya, jika wartawan mengetahui isu secara baik, sumber juga akan lebih percaya sehingga akan lebih bebas bicara. Tak banyak sumber yang mau diwawancarai oleh wartawa yang bodoh, salah – salah si wartawan justru diusirnya.
Dengan persiapan yang matang, wartawan akan lebih tangkas mengajukan pertanyaan follow-up. Terjadilah ping-pong yang lebih lancar, hidup dan spontan.
Wartawan yang kurang persiapan sering kehilangan informasi baru yang menarik dan penting. Mereka sa-ngat tergantung pada penjelasan sumber dan mungkin tidak bisa mendeteksi bias yang ditimbulkan sum-bernya. Wartawan tidak tahu apa yang mesti ditanya-kannya atau apa yang baru, penting dan kontroversial.
Kadang sumber akan mencari keuntungan dari keto-lolan si wartawan. Sumber menolak memberi jawaban masalah yang kompleks karena takut sipenanya tidak akan mengerti. Atau sumber akan mencoba meng-gunakan itu sebagai alat untuk melindungi diri dari ke-salahan yang dilakukan. Dengan mempersiapkan diri secara baik, wartawan akan lebih gampang menge-tahui kalau sumbernya enggan menyinggung topik yang dibicarakan atau hanya memberikan jawaban sepihak dari suatu masalah yang kontroversial.
Pewawancara yang baik akan menyusun daftar perta-nyaan berdasar urutan logis agar sumber bisa menja-wab secara berurutan pula berdasar jawaban perta-nyaan sebelumnya. ( Pada saat wawancara, wartawan bisa mengecek pertanyaan mana belum terjawab).
Pada saat kita mempersiapkan wawancara, tanyakan pada diri kita sendiri, apakah mungkin pembaca juga akan menanyakan pertanyaan serupa ? Disamping itu mana fakta – fakta yang baru, penting dan manakah yang kiranya paling disukai dan banyak diminati pembaca pada umumnya?

Melontarkan Amunisi
Pertanyaan adalah amunisi seorang pewawancara. Wartawan umumnya mengajukan pertanyaan penting terlebih dahulu, sehingga apabila kehabisan waktu yang tersisa hanya pertanyaan kurang penting atau pertanyaan paling peka yang mungkin menyebabkan sumber mengakhiri wawancara atau bahkan mengusir si wartawan.
Pertanyaan yang paling baik adalah pertanyaan yang cenderung pendek, singkat dan relevan. Disamping itu juga harus sangat khusus. Pertanyaan umum akan meng-hasilkan jawaban yang umum, generalisasi yang abstrak. Sementara pertanyaan yang khusus akan menda-tangkan jawaban yang khusus, fakta – fakta yang konkret dana detail. Seberapa luas? – dua henktar? Seberapa tinggi? – lima meter? Seberapa mahal – dua milyar dolar?
Sebaliknya reporter menghindari pertanyaan yang ha-nya bisa dijawab oleh sumber dengan jawaban “ya” atau “tidak”. Reporter lebih mengingingkan tanggapan, ku-tipan yang berjiwa dan detail – detail yang penting dan konsekuensinya harus mengajukan pertanyaan yang mendorong sumber untuk memberi jawaban yang rinci. Reporter mungkin bisa meminta sumber untuk “men-diskripsikan” atau “menjelaskan” yakni dengan mena-nyakan “bagaimana” atau “mengapa” sebuah kejadian itu terjadi.
Jika perlu, reporter juga bisa meminta sumbe runtuk menunjukan dokumen atau angka statistik yang mendukung argumentasinya. Atau meminta sumber menggambarkan suatu bagan atau bahkan mempera-gakan bagaimana suatu peristiwa itu terjadi.

Mengemudikan Wawancara
Sesudah merencanakan wawancara, reporter dapat datang tepat pada waktunya dengan menggunakan pa-kaian yang pantas. Keterlambatan dan penampilan yang kumuh atau tidak sopan menyebabkan sumber enggan menyediakan cukup waktu, informasi, mempercayai dan menghormatinya.
Reporter bisa memulai wawancara dengan ngobrol – ngobrol ringan untuk menjalin keakraban. Misalnya, tentang susuatu yang menarik secara umum atau me-nanyakan sesuatu hal yang menarik atau menanyakan hal – hal yang khusus di kantor atau di rumah sumber.
Reporter sebaiknya menempatkan sumber dalam hubungan yang lebih akrab sehingga sumber lebih enak menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Hal ini akan menjadi sangat penting manakala sumber tidak biasa menjawab pertanyaan wartawan.
Reporter harus bisa mengontrol wawancara. Mereka harus dapat menentukan mana hal – hal yang penting, sehingga dapat menarik sumber untuk mendiskusikan lebih lanjut. Jika sumber larut pada hal-hal yang bersifat umum saja, reporter harus menariknya dengan meng-ajukan pertanyaan yang khusus. Jika sumber keluar dari jaur topik, reporter dapat mengulangi pertanyaan lagi untuk mengembalikan pembicaraan pada topik semula.
Pewawancara yang baik juga harus menjadi pendengar yang baik. Mereka harus mendengarkan dengan sek-sama untuk meyakinkan bahwa sumber teah menjawab pertanyaan yang diajukan dan untuk meyakinkan bahwa dia telah memahami jawaban yang diberikan.
Reporter perlu meminta kepada sumber untuk mengulangi atau menjelaskan kembali jawaban yang kurang jelas. Jika sumber tidak berhasil memberikan jawaban yang penting, reporter harus mengajukan pertanyaan lanjutan.
Reporter mesti tanggap setiap si sumber mengemu-kakan suatu fakta–fakta baru yang relevan dengan cerita. Reporter mesti mengejarnya untuk mendapatkan detil yang penting kendati itu berada di luar penugasan atau pertanyaan yang telah dipersiapkan.
Reporter tidak perlu berdebat dengan sumber. Dia hanya perlu mendorong sumber untuk menjelaskan pendapatnya selengkap dan sejelas mungkin.
Reporter juga harus terlebih dahulu meneliti profil sumber berita, sehingga dapat mendiskripsikan dengan benar. Misalnya tinggi badan, berat badan, postur tubuh, rambut, suara, parfum yang dipakai, mimik, busana, perhiasan, rumah, mobil, kantor, dan keluarga dari sumber.
Reporter yang baik dapat menganalisa bahasa non-verbal sumbernya dan mengambil keuntungan dari isyarat yang tidak terkatakan itu. Bagaimanapun pola tingkah sumber ketika diwawancarai misalnya gerak kepala mungkin dapat menunjukkan bahwa dia sedang nervous, simpatik, marah, berbohong atau berkata jujur? Reporter yang berpengalaman dapat melihat reaksi fisik sumber terhadap pertanyaan yang susah dijawab dan mempertimbangkan respon ini dalam melanjutkan interview.

Sumber yang Sulit
Sebagian besar orang mau bekerja sama dengan reporter dalam sebuah wawancara. Namun, beberapa orang mengambil sikap yang bermusuhan atau menolak untuk berbicara dengan reporter. Tapi alas an yang paling sering mereka tidak percaya dengan wartawan.
Jika reporter berjumpa dengan sumber yang ber-musuhan ini, dia dapat mempelajari mengapa si sumber mempunyai perasaan seperti itu. Pertama-tama reporter dapat menjelaskan kebijaksanaan radaksional Batam Pos yang ingin selalu menulis secara akurat, berimbang dan mengharamkan amplop.
Reporter juga dapat meyakinkan sumber berita bahwa mereka akan memperoleh keuntungan dengan berita yang akan dipublikasikan akan menguntungkan si sumber atau organisasi yang diwakilinya. Reporter juga bisa berargumentasi bahwa akan nampak jelek jika sumber menolak untuk mengomentari sebuah isu dari sudut pandangnya.
Jika itu tidak wajar juga, reporter yang sudah berpe-ngalaman dapat “memaksa” sumber untuk berkomentar. Yakni, misalnya dengan mengutip kata-kata dari orang lain atau klaim si sumber. Selain itu juga ada alternative lain, reporter bisa menjebak si sumber dengan me-nanyakan hal-hal yang sepele yang sepintas tidak relevan dengan masalah yang sebenarnya sehingga sumber terlena. Sumber akan terpancing untuk menjelaskan detil menurut persisnya. Jika semua jalan gagal, reporter bisa mengatakan pada sumber, bahwa dia bisa menemukan informasi serupa dengan sumber lain.

Mencatat atau Merekam?
Problem yang cukup serius lainnya khususnya bagi pemula adalah pencatatan. Jalan keluar terbaik adalah merekam wawancara (ini juga penting untuk mem-buktikan jika belakangan sumber mengklaim tidak per-nah diwawancara atau tidak mengatakan itu dan itu).
Namun tape recorder sering kali justru mengganjal wa-wancara. Rekaman juga menyulitkan reporter belaka-ngan melakukan transkip dan membuat laporan. Maka, jalan keluar optimal adalah merekam sekaligus menca-tat, ketika membuat laporan, dia bisa mengecek ulang ketelitian dengan memutar kembali rekamannya tanpa harus mendengarkan semua. Hanya sedikit reporter yang bisa menulis steno. Meskipun demukian, ada juga yang beberapa reporter bisa mengembangkan penyingkatan kata dengan caranya sendiri. Reporter dapat belajar untuk menyingkat kata-kata kutipan yang bagus dan coba mengingat pernyataan itu cukup panjang dan menulisnya kata per kata.
Jika pencatatan membuat sumber sungkan, reporter dapat menghentikannya. Reporter juga dapat menunjukkan atau membaca catatannya dihadapan si sumber. Segera stelah wawancara, reporter juga dapat memeriksa catatan ketika segala sesuatunya masih segar diingatan. Semakin lama dia menunda, semakin banyak yang dilupakan dan juga di lalaikannya.

Konferensi Pers

Bagi reporter, konferensi pers kurang bersifat eksklusif dibandingkan wawancara khusus. Orang yang bisa be-kerja sama dengan media, mengetahui lebih mudah me-ngecoh reporter melalui jumpa pers. Mereka dapat me-ngawali konferensi pers dengan pernyataan panjang menghabiskan banyak waktu. Jika setiap reporter tidak mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pertanya-annya, mudah bagi sumber untuk mengelak. Dengan kata lain, konferensi pers sebaiknya dihindari, kecuali jika cukup penting untuk bisa dijadikan background information. Kejar sumber yang relevan setelah konfe-rensi pers usai dan tembak dengan pertanyaan spesifik.

Deskripsi dalam Reportase

Efek ’’Anda hadir disana’’memungkinkan pembaca terlibat dalam berita. Dan ini hanya bisa dicapai lewat diskripsi atau pelukisan. Reporter yang pandai akan me-mudahkan penulis menghidupkan cerita. Secara ringkas, deskripsi adalah ibarat daging yang mengisi rangka cerita.

Dibawah ini ada beberapa saran untuk wartawan :
1. Ingat bahwa anda adalah mata, telinga, hidung pembaca anda.
2. Wawancara subyek itu (misalnya seorang tokoh) dalam keadaan sewajarnya.
3. Kumpulkanlah catatan sebanyak – banyaknya yang anda bisa pakai.
4. Dalam menulis laporan, sebarlah deskripsi se-panjang cerita. Jangan dihimpun di satu bagian, ini akan memperenak arus pembaca.
5. Ambilah jalan tengah antara terlalu sedikit deskripsinya. Bila cerita tidak berhasil membuat anda “melihat” si subyek, tambahkanlah deskripsi.
6. meskipun reporter menjadi telinga, mata dan hidung pembaca, ia tidak boleh meremehkan otak pembaca dengan menyisipkan kesimpulan dan menafsirkannya sendiri.
7. Seorang reporter yang kurang hati-hati akan menggambarkan wanita dengan kata “cantik”. Banyak yang mungkin tidak setuju bila pembaca sendiri tidak melihat gambar wanita itu.Sebagai gantinya penulis mungkin bisa menghilangkan kata “cantik” dengan menggambarkan secara realistis bagaimana wanita itu. Misalnya, matanya yang besar menggambarkan pada wajah kuning langsat yang dihiasi rambut hitam memanjang. Dengan teknik ini, memberikan gambar konkret untuk membantu pembaca membayangkan wanita itu. Setelah menanamkan daya tarik wajah wanita itu (cantik) kepribadian wanita itu dengan kutipan yang efektif.


Tips Wartawan Mencatat

1. Persiapan secara matang. Jika kita memper-siapkan dengan benar, kita bisa mencatat de-ngan baik.
2. Gunakan singkatan dengan baik sehingga kita dapat mempergunakan didalam catatan kita. Ini akan banyak menyingkat waktu.
3. Loncatilah kata – kata kecil yang tidak ada artinya di dalam catatan kita.
4. Jika ada sesuatu didalam catatan kita yang kita anggap penting, berilah tanda. Juga berilah jarak dalam catatan kita pada pertanyaan yang belum terjawab sehingga kita tidak lupa bahwa kita ma-sih memerlukan informasi lagi.
5. Pada saat kita mencatat, cobalah untuk me-mikirkan bagian manakah yang penting. Ini akan mengarahkan pada kita informasi apalagi yang masih perlu kita gali.
6. Belajarlah untuk mendengarkan dan menulis ber-sama – sama. Jika kita mendengarkan sesuatu yang ingin kita tulis dan memperhatikan pem-bicara saat menulis, mungkin kita akan kehilangan suatu informasi yang lebih penting.
7. Jangan hanya mencatat sesuatu yang kita dengar saja. Gunakan mata kita juga. Bagaimanakah ek-spresi sumber ketika menjawab pertanyaan (ter-senyum atau cemberut) dapat diletakkan pada konteks yang berbeda.
8. Cobalah untuk tetap menulis pada saat kita me-lihat sesuatu (misalnya kepada sumber) jika kita ingin menulis, sementara masih tetap bisa me-nangkap ekspresi seseorang ini adalah keahlian yang tak ternilai.
9. Segeralah sesudah selesai wawancara, perik-salah lagi catatan kita dana yakinkanlah bahwa kita telah mengerti apa yang kita tulis. Sesuatu yang kita rasa sudah jelas, barang kali bisa menjadi kurang jelas seperempat jam kemudian. Jika kita mempunyai pertanyaan, cobaah untuk segera mencari penjelasan begitu selesai wawancara. Hal ini mungkin akan menemui kesulitan jika kita mengadakan wawancara lewat telepon.
10. Akhirnya, jika kita meliput peristiwa yang terjadi di luar ruangan, selalulah membawa pensil. Hujan akan merusak tulisan jika kita menggunakan pe-na.

Menulis Hasil Wawancara
Pada saat memulai hasil wawancara, reporter harus menguji kritis semua informasi yang telah diperolehnya, menentukan mana fakta yang paling baik dijadikan berita dan kemudian memusatkan perhatian pada masalah tersebut ( buanglah hal-hal yang klise ), kata yang terlalu sering dipakai, perulangan, masalah – masalah yang kurang relevan.
Biasanya ketika menulis laporan wartawan membu-kanya dengan alinea ringkasan dan kemudian melanjut-kan ceritanya dalam alinea selanjutnya. Semua informasi disajikan berdasarkan kepentingannya, bukan persis seperti apa yang diucapkan oleh sumber. Latar belakang masalah, diusahakan sedikit mungkin dan diletakkan dialinea paling akhir. Setiap reporter mempunyai gaya penulisan yang khas. Sehingga awal alinea tidak harus dimulai dengan menyebutkan nama sumber. Reporter untuk menghidupkan sumber dengan menyajikan kutipan – kutipan atau deskripsi. Pendek kata, hasil reportase yang baik ditulis secara lengkap, jelas dan akurat.

Read More......

How get and How Write the News?

Bagaimana seorang wartawan bekerja? Seorang wartawan tentu saja harus menguasai teknik jurnalistik seperti menulis berita, artikel, feature, wawancara, repor-tase. Menguasai bidang liputan dan menaati kode etik jurnalistik.


Seorang wartawan haruslah memiliki sifat dasar seperti sikap kritis, rasa ingin tahu yang besar, pengetahuan luas, pikiran terbuka dan pekerja keras dan cerdas. Apalagi, harapan dan kebutuhan masyarakat terhadap informasi, selalu meningkat. Ini yang disebut teori rising demand.
Menulis berita, yang secara sederhana diartikan sebuah peristiwa atau kejadian yang menarik dan dilaporkan. Alur peristiwa itu biasanya dilaporkan dengan konsep Who (Siapa) What (apa) Where (dimana) When (kapan) Why (mengapa) dan How (bagaimana) Rumusan ini biasa disingkat 5W + 1 H. Rumus ini bisa kita susun menjadi : Peristiwa APA, yang terlibat SIAPA, terjadi KAPAN dan DIMANA dan MENGAPA bisa terjadi dan BAGAIMANA kejadiannya.
Dalam menyusun sebuah berita, biasanya dipakai struktur piramida terbalik yang terdiri dari Judul, teratas berita (lead) isi atau tubuh berita dan ekornya atau penutup. Yang perlu mendapat perhatian serius, ada tiga syarat sebuah berita yang tidak boleh diabaikan yakni, akurasi, akurasi dan akurasi.
Koran adalah bisnis kepercayaan. Kalau wartawannya salah ketik, salah tulis, berita tidak akurat, salah menangkap maksud sumber berita, tidak berimbang dan fair, berita berat sebelah, maka Koran itu akan ditinggalkan pembaca. Sebab, pembaca sekarang pandai-pandai dan kritis.
Hasil kerja wartawan, selalu dievaluasi dalam rapat redaksi. Yang dipertanyakan, apakah wartawannya ber-jerih payah dan bekerja keras mendapatkan berita itu? Sebab, makin tinggi kerja keras dan jerih payah itu, makin tinggi pula penghargaan masyarakat dan pem-bacanya. Contohnya, berita-berita investigasi.
Selain itu, bagaimana sang wartawan menulis berita? Yakni berita yang luas, lancar, mengalir, runtut, tidak salahl, dan selalu dipelototi lead dan isinya. Menjadi wartawan itu juga berarti belajar terus menerus.
Setiap media, memiliki aturan tersendiri menetapkan layak tidaknya sebuah berita dimuat. Seperti majalah Tempo misalnya, berita baru dimuat kalau memenuhi standar layak Tempo. Bagi kami, juga memiliki kriteria berita yang layak muat. Antara lain, berita yang hangat, inromatif, ekslutif, unik, dramatik, berdampak luas bagi pembaca, baru, trend, ketokohan, angle lain dan punya misi.
Cara-cara mendapatkan berita antara lain melalui wawancara dengan sumber berita. Wawancara gunanya adalah bagaimana agar masyarakat merasa bercakap-cakap dengan sumber berita. Menulis wawancara, tidak dimaksudkkan semua, kecuali wawancara Tanya jawab, tetapi pernyataan khas dan mempertegas. Kalau wawancaranya jelek, bagaimana menulis berita bagus? Sedangkan reportase gunanya adalah agar bagaimana membuat pembaca seolah-olah melihat sendiri kejadian itu. Ini tergantung bagaimana kemampuan si wartawan mendeskripsikan kejadian atau peristiwa yang disaksikannya.
Ada dua cara lagi mendapatkan berita , yakni melalui riset atau studi kepustakaan sehingga sang wartawan bisa menyajikan data dan informasi serta table yang mudah dimengerti pembaca. Dan yang terakhir adalah berita investigasi. Cara kerja wartawan investigasi mirip dengan kerja seorang detektif yang secara pelan dan terus menerus mengumpulkan data dan fakta untuk mengungkap sebuah kasus. Berita investigasi adalah berita penyelidikan secara mendalam.
Kendati begitu, dalam perjalanannya, seorang wartawan selain dituntut bersifat general dalam arti tahu banyak hal juga seorang spesialis di bidang tertentu. Itu sebabnya, ada wartawan “dangdut” ada wartawan TNI, wartawan kriminal dan sebagainya. Artinya, ia jauh lebih paham menulis soal itu.
Kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan wartawan (dan ini sebagai tanda ia tidak profesional) misalnya salah tulis, salah kutip pernyataan, salah judul, salah menangkap maksud sumber berita serta mengabaikan prinsip keseimbangan (cover both side). Sebab, syarat dari sebuah berita adalah : akurasi, akurasi, akurasi. Seorang wartawan tidak boleh malu bertanya dan bertanya lagi. Tidak apa-apa kalu dianggap nyinyir. Setelah itu, ia belajar melontarkan pertanyaan cerdas dan bernas.
Seorang wartawan yang baik, harus punya perencanaan kerja dan kreativitas. Perencanaan yang bagus berarti telah menyelesaikan separo tugas Koran edisi besok. Kalau sudah punya perencanaan sama sekali. Maka, akan kita lihat wartawan yang makin banyak bertanya, makin ketahuan bodohnya.
Semangat seorang wartawan yang selama ini hanya berupa romantisme sebagai pekerja surat kabar, harus digeser menjadi semangat profesi. Bakat menjadi seorang wartawan memang penting. Tapi, modal bakat saja tidak cukup. Seorang wartawan juga harus memiliki kemampuan yang terukur dan sekolahan. Itu sebabnya, minimal seorang wartawan harus sarjana stara I.
Dalam Menjalankan profesinya, wartawan yang profe-sional memiliki landasan moral bersama yang disebut etik jurnalistik. Etik jurnalistik ini berfungsi untuk menjaga agar wartawan tetap terikat pada tujuan profesinya sebagai wartawan sehingga wartawan ia akan menjadi profesional. Kode etik lebih berstandar kepada hati nurani sang wartawan.
Langkah yang harus dilakukan sebagai wartawan profesional, pertama kali adalah mendapatkan berita dengan cara etis. Ia harus memperkenalkan dirinya sebagai wartawan sehingga sumber berita tahu, apa yang akan dikatakannya, akan dipublikasikan. Kecuali pada berita investigasi.
Seorang wartawan juga harus menghormati hal sumber berita seperti informasi off the record. Sekali melanggar kepercayaan ini, Anda akan kehilangan sumber berita selamanya. Prinsip keberimbangan, obyektivitas dan check and rechek perlu dilakukan untuk menjaga akurasi berita.
Wartawan bukanlah mahkluk istimewa dan kebal hukum. Ia selalu dibayangi oleh delik pers dan apabila menghakimi orang (trial by the press) dan azas praduga tak bersalah yang bisa mengantarkannya masuk ke dalam penjara. Maka dari itu, wartawan harus memahami Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers dan kode etik jurnalistik yang ditetapkan dan diawasi oleh Dewan Pers. Seiring dengan berkembangnya perusahaan pers, saya percaya, wartawan amatiran akan tersingkir dengan sendirinya.
Batu Fondasi Tulisan

Kita tidak menulis dengan kata tetapi dengan informasi. Kata adalah simbol informasi dan tanpa informasi yang menarik kita tidak akan mampu menemukan kata – kata yang akan memikat pembaca.
Menggali informasi yang menarik dan akurat, reportase suasana, detil konkret, opini para tokoh yang terlibat, fakta – fakta, dokumen sejarah, angka statistik adalah tugas reportase yang paling fundamental. Mereka bertugas mengumpulkan batu fondasi yang kokoh bagi sebuah tulisan.
Menggali informasi di lapangan bisa dikelompokan sebagai berikut: (1) Merekam suasana, laporan pandangan mata, telinga, hidung, lidah, kulit dan perasaan.
(2) Wawancara, menggali opini seseorang atau menyerap background masalah dari pakar maupun tokoh kunci dalam suatu peristiwa atau suatu masalah.
(3) Riset, mengumpulkan data – data pendukung berupa bagan/gambar, dokumen resmi, angka statistik, kliping koran/majalah atau dokumen – dokumen sejarah.
Sebuah tulisan yang bisa memuaskan hasrat pemba-ca akan kelengkapan dan kejelasan umumnya di ba-ngun dari melalui ketiga kegiatan itu sekaligus (hasil dari seluruh penggalian itu disebut reportase). Bagai-manapun, wawancara adalah cara penggalian bahan yang paling penting.Berikut ini seluk beluk tentang wawancara, terutama untuk pemula.
Mengapa Wawancara ?

Wartawan mewawancarai orang – orang untuk meng-gali opini dan informasi factual tentang suatu peristiwa atau suatu masalah. Wawancara merupakan jalan pintas untuk memperoleh informasi. Sebab wartawan tidak selalu bisa memperoleh semua berita secara langsung sekalipun peristiwanya terjadi disekitarnya.
Disinilah perlunya dia melakukan rekonstruksi peristiwa ataupun masalah melalui saksi mata atau mereka yang terlibat. Dan karena wartawan juga bukan pakar, sering-kali dia perlu mewawancarai seseorang yang mempu-nyai pengetahuan dan minat terhadap sesuatu masalah secara mendalam.

Janji Wawancara
Umumnya wartawan membuat perjanjian terlebih dahulu untuk suatu wawancara. Wartawan menjelaskan jati diri-nya, media apa yang diwakili dan tujuan dari wawancara tersebut. Dengan begitu, sumber bisa mempersiapkan informasi yang diminta.
Wartawan lebih suka mewawancarai orang – orang penting, seperti direktur perusahaan atau petinggi biro-krasi, ketimbang bawahannya; sekretaris, asisten atau humas. Wartawan ingin selalu mewawancarai orang per-tama yang tahu persis tentang masalah, atau dengan pakar yang bisa dengan cepat menjawab semua per-tanyaan. Sebab, pembaca lebih memberi respek pada jawaban yang diperoleh dari sumber top atau tokoh yang terdekat dengan cerita.
Wawancara mendalam biasanya memerlukan setidak-nya satu atau bahkan dua sampai tiga jam. Wartawan biasanya menawarkan diri untuk mendatangi rumah atau kantor sumber. Sebab, jika sumber berada pada ling-kungan yang akrab terlebih di ruang pribadi yang tanpa gangguan dia akan merasa lebih sreg sehingga bisa menjawab dengan bebas.

Pertanyaan Cerdas
Mempersiapkan pertanyaan bagus adalah langkah terpenting dalam suatu wawancara. Sumber jarang memberikan informasi yang benar – benar baru kalau tidak ada dorongan, mereka juga tidak terlalu berminat mendiskusikan isu atau malu untuk berbicara jujur pada wartawan yang belum dikenalnya. Jadi wartawan mesti berupaya dengan berbagai cara agar sumber tergerak untuk bicara.
Dalam mempersiapkan sebuah wawancara mendalam, wartawan harus cukup waktu untuk memperoleh semua keterangan tentang sumber dan tentu saja masalah yang akan didiskusikan. Wartawan harus siap untuk menanya-kan pertanyaan yang tepat, cerdas dan dapat mengerti pertanyaan sumber.
Jika persiapan matang, wartawan tidak akan mem-boroskan waktu untuk menanyakan hal-hal yang tidak penting yang sudah dipublikasikan luas. Pertanyaan ko-nyol bisa membosankan dan mematikan minat sumber untuk bicara. Sebaliknya, jika wartawan mengetahui isu secara baik, sumber juga akan lebih percaya sehingga akan lebih bebas bicara. Tak banyak sumber yang mau diwawancarai oleh wartawa yang bodoh, salah – salah si wartawan justru diusirnya.
Dengan persiapan yang matang, wartawan akan lebih tangkas mengajukan pertanyaan follow-up. Terjadilah ping-pong yang lebih lancar, hidup dan spontan.
Wartawan yang kurang persiapan sering kehilangan informasi baru yang menarik dan penting. Mereka sa-ngat tergantung pada penjelasan sumber dan mungkin tidak bisa mendeteksi bias yang ditimbulkan sum-bernya. Wartawan tidak tahu apa yang mesti ditanya-kannya atau apa yang baru, penting dan kontroversial.
Kadang sumber akan mencari keuntungan dari keto-lolan si wartawan. Sumber menolak memberi jawaban masalah yang kompleks karena takut sipenanya tidak akan mengerti. Atau sumber akan mencoba meng-gunakan itu sebagai alat untuk melindungi diri dari ke-salahan yang dilakukan. Dengan mempersiapkan diri secara baik, wartawan akan lebih gampang menge-tahui kalau sumbernya enggan menyinggung topik yang dibicarakan atau hanya memberikan jawaban sepihak dari suatu masalah yang kontroversial.
Pewawancara yang baik akan menyusun daftar perta-nyaan berdasar urutan logis agar sumber bisa menja-wab secara berurutan pula berdasar jawaban perta-nyaan sebelumnya. ( Pada saat wawancara, wartawan bisa mengecek pertanyaan mana belum terjawab).
Pada saat kita mempersiapkan wawancara, tanyakan pada diri kita sendiri, apakah mungkin pembaca juga akan menanyakan pertanyaan serupa ? Disamping itu mana fakta – fakta yang baru, penting dan manakah yang kiranya paling disukai dan banyak diminati pembaca pada umumnya?

Melontarkan Amunisi
Pertanyaan adalah amunisi seorang pewawancara. Wartawan umumnya mengajukan pertanyaan penting terlebih dahulu, sehingga apabila kehabisan waktu yang tersisa hanya pertanyaan kurang penting atau pertanyaan paling peka yang mungkin menyebabkan sumber mengakhiri wawancara atau bahkan mengusir si wartawan.
Pertanyaan yang paling baik adalah pertanyaan yang cenderung pendek, singkat dan relevan. Disamping itu juga harus sangat khusus. Pertanyaan umum akan meng-hasilkan jawaban yang umum, generalisasi yang abstrak. Sementara pertanyaan yang khusus akan menda-tangkan jawaban yang khusus, fakta – fakta yang konkret dana detail. Seberapa luas? – dua henktar? Seberapa tinggi? – lima meter? Seberapa mahal – dua milyar dolar?
Sebaliknya reporter menghindari pertanyaan yang ha-nya bisa dijawab oleh sumber dengan jawaban “ya” atau “tidak”. Reporter lebih mengingingkan tanggapan, ku-tipan yang berjiwa dan detail – detail yang penting dan konsekuensinya harus mengajukan pertanyaan yang mendorong sumber untuk memberi jawaban yang rinci. Reporter mungkin bisa meminta sumber untuk “men-diskripsikan” atau “menjelaskan” yakni dengan mena-nyakan “bagaimana” atau “mengapa” sebuah kejadian itu terjadi.
Jika perlu, reporter juga bisa meminta sumbe runtuk menunjukan dokumen atau angka statistik yang mendukung argumentasinya. Atau meminta sumber menggambarkan suatu bagan atau bahkan mempera-gakan bagaimana suatu peristiwa itu terjadi.

Mengemudikan Wawancara
Sesudah merencanakan wawancara, reporter dapat datang tepat pada waktunya dengan menggunakan pa-kaian yang pantas. Keterlambatan dan penampilan yang kumuh atau tidak sopan menyebabkan sumber enggan menyediakan cukup waktu, informasi, mempercayai dan menghormatinya.
Reporter bisa memulai wawancara dengan ngobrol – ngobrol ringan untuk menjalin keakraban. Misalnya, tentang susuatu yang menarik secara umum atau me-nanyakan sesuatu hal yang menarik atau menanyakan hal – hal yang khusus di kantor atau di rumah sumber.
Reporter sebaiknya menempatkan sumber dalam hubungan yang lebih akrab sehingga sumber lebih enak menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Hal ini akan menjadi sangat penting manakala sumber tidak biasa menjawab pertanyaan wartawan.
Reporter harus bisa mengontrol wawancara. Mereka harus dapat menentukan mana hal – hal yang penting, sehingga dapat menarik sumber untuk mendiskusikan lebih lanjut. Jika sumber larut pada hal-hal yang bersifat umum saja, reporter harus menariknya dengan meng-ajukan pertanyaan yang khusus. Jika sumber keluar dari jaur topik, reporter dapat mengulangi pertanyaan lagi untuk mengembalikan pembicaraan pada topik semula.
Pewawancara yang baik juga harus menjadi pendengar yang baik. Mereka harus mendengarkan dengan sek-sama untuk meyakinkan bahwa sumber teah menjawab pertanyaan yang diajukan dan untuk meyakinkan bahwa dia telah memahami jawaban yang diberikan.
Reporter perlu meminta kepada sumber untuk mengulangi atau menjelaskan kembali jawaban yang kurang jelas. Jika sumber tidak berhasil memberikan jawaban yang penting, reporter harus mengajukan pertanyaan lanjutan.
Reporter mesti tanggap setiap si sumber mengemu-kakan suatu fakta–fakta baru yang relevan dengan cerita. Reporter mesti mengejarnya untuk mendapatkan detil yang penting kendati itu berada di luar penugasan atau pertanyaan yang telah dipersiapkan.
Reporter tidak perlu berdebat dengan sumber. Dia hanya perlu mendorong sumber untuk menjelaskan pendapatnya selengkap dan sejelas mungkin.
Reporter juga harus terlebih dahulu meneliti profil sumber berita, sehingga dapat mendiskripsikan dengan benar. Misalnya tinggi badan, berat badan, postur tubuh, rambut, suara, parfum yang dipakai, mimik, busana, perhiasan, rumah, mobil, kantor, dan keluarga dari sumber.
Reporter yang baik dapat menganalisa bahasa non-verbal sumbernya dan mengambil keuntungan dari isyarat yang tidak terkatakan itu. Bagaimanapun pola tingkah sumber ketika diwawancarai misalnya gerak kepala mungkin dapat menunjukkan bahwa dia sedang nervous, simpatik, marah, berbohong atau berkata jujur? Reporter yang berpengalaman dapat melihat reaksi fisik sumber terhadap pertanyaan yang susah dijawab dan mempertimbangkan respon ini dalam melanjutkan interview.

Sumber yang Sulit
Sebagian besar orang mau bekerja sama dengan reporter dalam sebuah wawancara. Namun, beberapa orang mengambil sikap yang bermusuhan atau menolak untuk berbicara dengan reporter. Tapi alas an yang paling sering mereka tidak percaya dengan wartawan.
Jika reporter berjumpa dengan sumber yang ber-musuhan ini, dia dapat mempelajari mengapa si sumber mempunyai perasaan seperti itu. Pertama-tama reporter dapat menjelaskan kebijaksanaan radaksional Batam Pos yang ingin selalu menulis secara akurat, berimbang dan mengharamkan amplop.
Reporter juga dapat meyakinkan sumber berita bahwa mereka akan memperoleh keuntungan dengan berita yang akan dipublikasikan akan menguntungkan si sumber atau organisasi yang diwakilinya. Reporter juga bisa berargumentasi bahwa akan nampak jelek jika sumber menolak untuk mengomentari sebuah isu dari sudut pandangnya.
Jika itu tidak wajar juga, reporter yang sudah berpe-ngalaman dapat “memaksa” sumber untuk berkomentar. Yakni, misalnya dengan mengutip kata-kata dari orang lain atau klaim si sumber. Selain itu juga ada alternative lain, reporter bisa menjebak si sumber dengan me-nanyakan hal-hal yang sepele yang sepintas tidak relevan dengan masalah yang sebenarnya sehingga sumber terlena. Sumber akan terpancing untuk menjelaskan detil menurut persisnya. Jika semua jalan gagal, reporter bisa mengatakan pada sumber, bahwa dia bisa menemukan informasi serupa dengan sumber lain.

Mencatat atau Merekam?
Problem yang cukup serius lainnya khususnya bagi pemula adalah pencatatan. Jalan keluar terbaik adalah merekam wawancara (ini juga penting untuk mem-buktikan jika belakangan sumber mengklaim tidak per-nah diwawancara atau tidak mengatakan itu dan itu).
Namun tape recorder sering kali justru mengganjal wa-wancara. Rekaman juga menyulitkan reporter belaka-ngan melakukan transkip dan membuat laporan. Maka, jalan keluar optimal adalah merekam sekaligus menca-tat, ketika membuat laporan, dia bisa mengecek ulang ketelitian dengan memutar kembali rekamannya tanpa harus mendengarkan semua. Hanya sedikit reporter yang bisa menulis steno. Meskipun demukian, ada juga yang beberapa reporter bisa mengembangkan penyingkatan kata dengan caranya sendiri. Reporter dapat belajar untuk menyingkat kata-kata kutipan yang bagus dan coba mengingat pernyataan itu cukup panjang dan menulisnya kata per kata.
Jika pencatatan membuat sumber sungkan, reporter dapat menghentikannya. Reporter juga dapat menunjukkan atau membaca catatannya dihadapan si sumber. Segera stelah wawancara, reporter juga dapat memeriksa catatan ketika segala sesuatunya masih segar diingatan. Semakin lama dia menunda, semakin banyak yang dilupakan dan juga di lalaikannya.

Konferensi Pers

Bagi reporter, konferensi pers kurang bersifat eksklusif dibandingkan wawancara khusus. Orang yang bisa be-kerja sama dengan media, mengetahui lebih mudah me-ngecoh reporter melalui jumpa pers. Mereka dapat me-ngawali konferensi pers dengan pernyataan panjang menghabiskan banyak waktu. Jika setiap reporter tidak mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pertanya-annya, mudah bagi sumber untuk mengelak. Dengan kata lain, konferensi pers sebaiknya dihindari, kecuali jika cukup penting untuk bisa dijadikan background information. Kejar sumber yang relevan setelah konfe-rensi pers usai dan tembak dengan pertanyaan spesifik.

Deskripsi dalam Reportase

Efek ’’Anda hadir disana’’memungkinkan pembaca terlibat dalam berita. Dan ini hanya bisa dicapai lewat diskripsi atau pelukisan. Reporter yang pandai akan me-mudahkan penulis menghidupkan cerita. Secara ringkas, deskripsi adalah ibarat daging yang mengisi rangka cerita.

Dibawah ini ada beberapa saran untuk wartawan :
1. Ingat bahwa anda adalah mata, telinga, hidung pembaca anda.
2. Wawancara subyek itu (misalnya seorang tokoh) dalam keadaan sewajarnya.
3. Kumpulkanlah catatan sebanyak – banyaknya yang anda bisa pakai.
4. Dalam menulis laporan, sebarlah deskripsi se-panjang cerita. Jangan dihimpun di satu bagian, ini akan memperenak arus pembaca.
5. Ambilah jalan tengah antara terlalu sedikit deskripsinya. Bila cerita tidak berhasil membuat anda “melihat” si subyek, tambahkanlah deskripsi.
6. meskipun reporter menjadi telinga, mata dan hidung pembaca, ia tidak boleh meremehkan otak pembaca dengan menyisipkan kesimpulan dan menafsirkannya sendiri.
7. Seorang reporter yang kurang hati-hati akan menggambarkan wanita dengan kata “cantik”. Banyak yang mungkin tidak setuju bila pembaca sendiri tidak melihat gambar wanita itu.Sebagai gantinya penulis mungkin bisa menghilangkan kata “cantik” dengan menggambarkan secara realistis bagaimana wanita itu. Misalnya, matanya yang besar menggambarkan pada wajah kuning langsat yang dihiasi rambut hitam memanjang. Dengan teknik ini, memberikan gambar konkret untuk membantu pembaca membayangkan wanita itu. Setelah menanamkan daya tarik wajah wanita itu (cantik) kepribadian wanita itu dengan kutipan yang efektif.


Tips Wartawan Mencatat

1. Persiapan secara matang. Jika kita memper-siapkan dengan benar, kita bisa mencatat de-ngan baik.
2. Gunakan singkatan dengan baik sehingga kita dapat mempergunakan didalam catatan kita. Ini akan banyak menyingkat waktu.
3. Loncatilah kata – kata kecil yang tidak ada artinya di dalam catatan kita.
4. Jika ada sesuatu didalam catatan kita yang kita anggap penting, berilah tanda. Juga berilah jarak dalam catatan kita pada pertanyaan yang belum terjawab sehingga kita tidak lupa bahwa kita ma-sih memerlukan informasi lagi.
5. Pada saat kita mencatat, cobalah untuk me-mikirkan bagian manakah yang penting. Ini akan mengarahkan pada kita informasi apalagi yang masih perlu kita gali.
6. Belajarlah untuk mendengarkan dan menulis ber-sama – sama. Jika kita mendengarkan sesuatu yang ingin kita tulis dan memperhatikan pem-bicara saat menulis, mungkin kita akan kehilangan suatu informasi yang lebih penting.
7. Jangan hanya mencatat sesuatu yang kita dengar saja. Gunakan mata kita juga. Bagaimanakah ek-spresi sumber ketika menjawab pertanyaan (ter-senyum atau cemberut) dapat diletakkan pada konteks yang berbeda.
8. Cobalah untuk tetap menulis pada saat kita me-lihat sesuatu (misalnya kepada sumber) jika kita ingin menulis, sementara masih tetap bisa me-nangkap ekspresi seseorang ini adalah keahlian yang tak ternilai.
9. Segeralah sesudah selesai wawancara, perik-salah lagi catatan kita dana yakinkanlah bahwa kita telah mengerti apa yang kita tulis. Sesuatu yang kita rasa sudah jelas, barang kali bisa menjadi kurang jelas seperempat jam kemudian. Jika kita mempunyai pertanyaan, cobaah untuk segera mencari penjelasan begitu selesai wawancara. Hal ini mungkin akan menemui kesulitan jika kita mengadakan wawancara lewat telepon.
10. Akhirnya, jika kita meliput peristiwa yang terjadi di luar ruangan, selalulah membawa pensil. Hujan akan merusak tulisan jika kita menggunakan pe-na.

Menulis Hasil Wawancara
Pada saat memulai hasil wawancara, reporter harus menguji kritis semua informasi yang telah diperolehnya, menentukan mana fakta yang paling baik dijadikan berita dan kemudian memusatkan perhatian pada masalah tersebut ( buanglah hal-hal yang klise ), kata yang terlalu sering dipakai, perulangan, masalah – masalah yang kurang relevan.
Biasanya ketika menulis laporan wartawan membu-kanya dengan alinea ringkasan dan kemudian melanjut-kan ceritanya dalam alinea selanjutnya. Semua informasi disajikan berdasarkan kepentingannya, bukan persis seperti apa yang diucapkan oleh sumber. Latar belakang masalah, diusahakan sedikit mungkin dan diletakkan dialinea paling akhir. Setiap reporter mempunyai gaya penulisan yang khas. Sehingga awal alinea tidak harus dimulai dengan menyebutkan nama sumber. Reporter untuk menghidupkan sumber dengan menyajikan kutipan – kutipan atau deskripsi. Pendek kata, hasil reportase yang baik ditulis secara lengkap, jelas dan akurat.


Read More......

Anda Wartawan yang Baik?

Wartawan datang dan pergi tapi hanya sedikit yang goresan penanya dinanti orang. Jurnalis seperti (almarhum) Muchtar Lubis di Indonesia,Lilian Ross di Amerika atau Robert Fisk di Inggris selalu dirindukan pembaca antara lain karena kejujurannya, pembawaan-nya yang menyenangkan serta pikiran dan rasa keingin-tahuan mereka yang tinggi.

Wartawan yang baik hatinya jujur. Prinsip menghalalkan segala cara tak ada dalam kamus reportasenya. Dia berani independen, dianggap pariah dan dimusuhi orang karena tugasnya. Dia sadar akan kewajibannya meng-umpulkan dan menerbitkan informasi untuk kha-layak. Dia tak pernah mencuri-curi omongan dan bukan tipe orang yang gemar publisitas. Perkataan dan perbuatan-nya sama dan sejalan. Dia suka akurasi dan selalu mengecek fakta lebih dari sekali. Dia selalu berusaha melihat dua sisi dari sebuah kejadian.
Wartawan yang handal punya ketajaman akan berita. Dia tahu kapan dan dimana mencari berita, siapa yang akan diwawancarai, pertanyaan seperti apa yang mesti ditanyakan, bagaimana mengajukannya, dan bagai-mana memverifikasi hasilnya. Dia tahu bagai-mana mengerahkan indra pengamatannya; bisa melihat dan mendengar apa-apa yang didengar orang-orang di jalanan. Dia tahu, dalam sekali pandang, apakah orang di hadapannya bercerita apa adanya atau, sebaliknya, menyembunyikan sesuatu. Dia tahu cara menelusuri dokumen, membongkar file dan melacak setiap berkas. Dia tahu apa dan bagaimana melakukan investigasi, di bidang apapun. Dia telah menyerap keterampilan jurnalistik tertinggi: kemampuan belajar bagaimana untuk belajar. Dia seorang generalis dengan satu spesialisi: rasa ingin tahu.
Wartawan yang baik bekerja lebih dari sekadar melaporkan berita. Dia bisa menggambarkan, menjelaskan dan mengintrepertasikan keja-dian-kejadian kompleks dan persoalan pelik menyangkut orang per orang dan masyarakat secara keseluruhan. Dia, misalnya, bisa me-mahami persoalan hukum superpelik, mengerti detil teknis di bidang sains dan pertahanan militer, dan bisa menggunakan pan-dangan para ahli dan pakar untuk menjawab persoalan ekonomi dan politik – dan melakukan semua itu dengan cepat.
Wartawan yang baik tahu bahwa nyawa sebuah berita – tak peduli apapun mediumnya – terletak pada kejelasan tulisan: pendek dan kata-kata yang akrab, kalimat yang sederhana dan bahasa yang elok. Wartawan yang baik orangnya aktif. Dia terus membuka mata dan telinga Anda untuk berita. Dia gemar bepergian dan berkenalan dengan atau lingkungan baru. Andai saja dia berjas, orang mungkin menganggap dia seorang diplomat karena pembawaannya yang supel. Wartawan yang baik orangnya teguh dan menjunjung tinggi fakta. Ideologinya bisa dibaca dari tulisan-tulisannya: pembelaan terhadap kepentingan publik dan perlawanan atas segala bentuk ketidakadilan.
Dia tak mudah patah semangat dan mundur karena gangguan atau kesulitan selama bekerja. Dia selalu berhasil melawan gondaan untuk mencampurkan fakta dan opini sedemikian hingga dia bisa melaporkan sebuah kejadian sekalipun orang yang diliputnya itu dibencinya sampai liang kubur.
Wartawan yang baik tahu hukum. Dia tahu soal pencemaran nama baik, penghinaan persidangan, hak-hak parlementer dan keten-traman publik. Dia akrab dengan ruang persidangan dan senang memotret drama dan ketegangan yang terjadi di situ. Dia tahu aturan kepolisian sedemikian hingga dia bisa bekerja seperti detektif dan provos. Dia mewakili kepentingan publik dengan melaporkan hal-hal yang hanya ada kaitannya dengan kepentingan masyarakat kebanyakan.
Wartawan yang baik cinta bahasa dan gemar membuka kamus. Dia hemat dalam kata — meyakini bahwa ketika akal meningkat, kata-kata menyingkat — dan suka hal-hal detail. Dia berani berperang melawan jargon dan kata sifat. Baginya, kata kerja, ibarat jendela; supaya pembaca bisa melihat, mendengar dan bahkan seolah hadir di tempat kejadian.
Tapi semua kualitas super itu, sejatinya, bukan eksklusif milik para jurnalis. Jurnalis bukan satu-satunya profesi yang secara konstan berhadapan dengan tenggat waktu. Jurnalis juga tidak memonopoli sifat teguh, berimbang dan objektif. Ada banyak profesi yang memerlukan kejelasan pemikiran dan tulisan. Jika semua kata-kata bijak jurnalis senior dan semua aturan reportase dan penulisan dapat disarikan dalam diktum untuk jurnalis, yaitu: laporkan berita dengan akurat dan tulis secara jelas.
Read More......

Wartawan, Makhluk Apa Itu?

ABAD ini, kerap disebut sebagai abad teknologi infor-masi. Itu sebabnya, komunikasi dan jurnalistik menjadi penting. Sejak lama kita mendengar, siapa yang menguasai informasi, menguasai dunia. Nah, wartawan berada dalam dunia pers atau jurnalistik itu.


Sejak berkembangnya pers menjadi sebuah industri dekade 80-an, telah mengubah wajah pers nasional. Selain modal, teknologi canggih agar lebih cepat menyajikan informasi, perusahaan pers juga dituntut mempercanggih sistem manajemennya. Termasuk memikirkan peningkatan kualitas sumber daya wartawannya.
Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia
Pers berfungsi sebagai, media informasi, media pendidikan, media hiburan, sebagai kontrol sosial dan juga sebagai lembaga ekonomi. Peran pers memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan, mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar, melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Alangkah hebat dan mulianya seorang wartawan. Orang yang menjalankan kerja jurnalistik, disebut reporter, jurnalis atau yang paling umum adalah seorang wartawan. Nah, makhluk apa wartawan itu?

Wartawan pilihan bebas
Tidak ada alasan wartawan bersungut-sungut; pendidikan rendah, pendapatannya rendah. Sebab, wartawan adalah pilihan bebas dan tidak ada paksaan sese-orang jadi wartawan. Wartawan bukan profesi ‘pelarian’ atau ‘pekerjaan antara’ sebelum meloncat ke pekerjaan lain. Artinya, wartawan adalah medan pengabdian, panggilan, profesi sehingga dalam pekerjaan tidak dianggap sebagai beban. Sudah pasti, di dalam pilihan bebas terdapat sebuah risiko, baik atau buruk, sejahtera atau menderita. Wartawan sebagai pilihan bebas siap menghadapi risiko, bahkan menempatkan risiko yang bakal dihadapi sebagai tan tangan. Wartawan adalah sebuah profesi. Mereka yang ahli dalam sebuah profesi disebut (kaum) profesional.

Dihargai karena karya
Seorang wartawan dikenal dan dihargai masyarakat karena karya jurnalistiknya. Seorang wartawan bukan terkenal karena dia pemimpin di sebuah surat kabar, bukan karena pintar melobi, cari muka, atau pintar berpidato. Seorang wartawan akan dikenal, dihargai dan ber-martabat di mata masyarakat karena tulisan-tulisannya, berita-beritanya, karya jurnalistiknya.
Karya jurnalistik dapat berupa straight news, investigative reporting, indept news, reportase, human inte-rest news, artikel, foto, dan grafis. Sebagai wartawan profesional seharusnya dikenal dan dihargai orang lewat berbagai bentuk dan jenis karya jurnalistik itu, bukan karena hal lain.

Paham Profesi
Sudah pasti menjadi seorang profesional harus memahami pekerjaannya. Wartawan paham apa straight news, investigative reporting, indept news, reportase, human interest news, artikel, foto berita, dan grafis yang bernilai berita. Sebuah berita standar harus memenuhi syarat-syarat jurnalistik (5W + 1H), tujuan jurnalistik (memikat untuk dibaca), dan laku dijual (me-rangsang orang untuk membeli).

Paham Kebebasan Pers
Kebebasan pers ’beribu demokrasi berbapak’ kebe-basan berekspresi, mengeluarkan pendapat lisan mau-pun tulisan’’. Sulit membayangkan pemberantasan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) tanpa adanya kebebasan pers. Sulit menegakkan prinsip-prinsip good governance dan clean government jika kebebasan pers dihambat. Sulit menegakkan hukum, memperjuangkan keadilan dan kesetaraan, serta melindungi hak-hak kaum minoritas tanpa kebebasan pers. Kebebasan pers bukan untuk orang pers, tetapi untuk masyarakat, untuk kelangsungan kehidupan yang bebas pada masyarakat yang demokratis.

Paham Berita
Berita bukan fiksi. Berita selalu berdasarkan fakta. Fakta terdiri dari fakta pribadi dan fakta publik. Berita selalu menyangkut fakta publik, bukan fakta pribadi. Fakta publik mencakup fakta empirik dan fakta psikologis.
Fakta empirik itu peristiwa riil terjadi; kebakaran, banjir, longsor, mati lampu, penggusuran, bencana alam, angin topan, pembunuhan, diskusi, seminar, lokakarya, de-monstrasi, atau gantung diri. Wartawan ‘haram’ me-ngabaikan atau tidak meliput fakta empirik, walau bukan pos liputannya. Wartawan ’haram’ menulis berita fakta empirik jika tak datang langsung ke Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Orientasi pada Masyarakat
Wartawan doyan berita ’kantor pemerintah sentris’ selalu mengutip pernyataan pejabat sebagai berita uta-ma, lebih cocok ’humas’ bukan wartawan. Wartawan harus mengetahui masalah kemasyarakatan, pemerintahan, pembangunan, politik, dan aspek-aspek ke-pentingan publik lainnya. Wartawan bukan pendengar setia semua ‘ocehannya’ tetapi harus selalu kritis, skeptis, dan terdorong untuk terus ingin tahu fakta di balik sebuah berita agar dapat mengem-bangkan ‘ocehannya’ menjadi sebuah berita yang bernilai jual tinggi.

Utamakan Data, Investigasi dan Analisis
Wartawan malu jika beritanya hanya berkisar pada ’talking news’. Harus lebih banyak menyajikan data, doyan melakukan investigasi dan akurat dalam menyajikan analisis sebuah persoalan.
Sudah bukan zamannya sebuah berita sekadar mem-beri informasi. Sebuah berita sudah selayaknya kaya informasi sekaligus memberi motivasi dan inspirasi, bahkan dapat menimbulkan empati bagi para pem-baca. Hanya dengan demikian karya jurnalistik men-jadi menarik, punya karakter, dan mampu membentuk fanatisme pembaca terhadap media. Jika hanya berkutat pada berita ‘’talking news’’, itu hanyalah ’wartawan kelas majalah dinding’.

Wajib Edit Ulang
Membaca dan mengedit kembali tulisan/berita yang sudah dibuat adalah keharusan. Ini untuk memastikan apakah berita yang ditulis sudah sesuai penugasan, memenuhi syarat-syarat jurnalistik, tujuan jurnalistik, dan laku dijual. Tidak mengedit ulang dan salah dalam pe-nulisan adalah wartawan ceroboh, pemalas dan suka mencelakakan diri sendiri.

Rajin Rapat dan Diskusi
Dunia liputan jurnalistik, kepentingan publik yang digali wartawan dan publik itu sendiri terus berkembang setiap saat. Rapat dan diskusi adalah wahana yang terbaik, murah dan cepat bagi wartawan untuk memahami dina-mika tersebut, selain itu harus pula rajin, rajin, rajin, dan rajin membaca buku.
Mereka yang malas melakukan rapat liputan, evaluasi dan proyeksi berita, tak suka berdiskusi untuk memperdalam sebuah liputan, ter-golong ‘’wartawan yang mati suri.’’ Mereka sesungguhnya adalah wartawan yang tidak mencintai pekerjaannya dan ‘’anti kemajuan’’.

Paham UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik
Harus memahami UU Pers dan KEJ beserta penafsi-rannya. UU Pers, KEJ dan penafsirannya harus menjadi ’buku saku yang Wartawan bawa kemanapun pergi. Lebih baik berita Wartawan agak ketinggalan dari pada tidak cover both side. Tetapi yang paling baik, Wartawan harus melakukan cover both side dan menebusnya dengan liputan yang lebih heboh dan lengkap pada edisi berikut. Wartawan harus menunjukkan kepada pembaca bahwa karena ‘’alasan profesional’’ Wartawan harus menggarap berita tersebut dari berbagai sisi, lengkap, tuntas, dan terpercaya.

Tak Pernah Puas
Dunia, realitas berita, sumber berita, iptek dan seni terus berkembang, tak pernah berhenti. Teknik liputan, penulisan dan peng-garapan berita juga terus berkembang. Tata letak, perwajahan, gra-fis, teknologi foto, percetakan dan manajemen penerbitan terus berkem-bang, tak pernah berhenti sedetik pun.
Wartawan akan sangat gampang ketinggalan, ’kuper’ (kurang pergaulan), ’telmi’ (telat mikir) jika menjadi war-tawan yang gampang puas. Dalam posisi apapun Wartawan sebagai wartawan tidak boleh gampang puas. Se-bab, gampang puas merupakan ‘’penyakit kronis’’ dalam profesi wartawan. Wartawan akan dilindas atau terlindas jika mengidap penyakit ini.

Tahan Banting
Menjadi wartawan banyak godaan. Yang paling berat adalah ujian untuk mehanan dari jerat kemiskinan. Wartawan boleh miskin materi tapi harus kaya, secara moril. Wartawan harus mempunyai kesa-baran yang tinggi, tahan banting untuk urusan ini. Wartawan harus menghargai dirinya sendiri, bahkan wajib memberi nilai harga yang tinggi. Tak gampang tergoda, sehingga ma-syarakat akan memberi hormat dan respek yang tinggi. Wartawan mendapatkan segala sesuatu, terutama uang, secara bermartabat.

Berpandangan Positif
Wartawan setiap hari berinterkasi dengan berbagai macam orang dari berbagai lapisan, status sosial, latar belakang, dan kepentingan. Harus melihat siapa saja dari perspektif positif. Wartawan tidak boleh meng-anggap remeh seseorang, meskipun jelas-jelas dia ada-lah seorang koruptor, misalnya, atau tersangka narkoba.

Berpikir Kritis
Wartawan tak boleh berhenti berpikir kritis. Ini adalah senjata utama untuk menjadi wartawan. Jika tentara bersenjatakan bedil, wartawan bersenjatakan pikiran kritis (pena, taperecorder, dan kom-puter hanyalah alat). Wartawan yang tidak mampu berpikir kritis, atau tidak terus melatih berpikir kritis, sebenarnya tidak mempu-nyai bekal yang cukup untuk menjadi wartawan profe-sional. Wartawan harus membiasakan diri dan mental untuk selalu berpikir kritis, mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, tergerak untuk selalu menyelidiki segala se-suatu yang meragukan, sangsi terhadap segala sesuatu yang mencurigakan, tetapi wartawan tak boleh apriori terhadap sumber berita.
Suka Tantangan
Pekerjaan wartawan penuh tantangan, berlika-liku, penuh warna, juga gampang menjenuhkan. Wartawan harus melihat segala kemungkinan yang dilakukan wartawan sebagai sebuah tantangan. Banyak tuntutan untuk bisa menjadi seorang wartawan profesional, lebih banyak lagi tuntutan bagi seorang wartawan profesional yang tetap ingin eksis dan tak ketinggalan. Banyak konsekuensi dan tuntutan agar Wartawan tetap dapat menghasilkan karya jurnalistik yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat. Untuk bisa menggapai hal itu, kuncinya: Wartawan harus suka pada tantangan.
Bangga Jadi Wartawan
Menjalani profesi apapun, wartawan harus bangga. Tetapi kebanggaan sebagai wartawan bukan itu. Juga bukan karena menjadi warta-wan terbuka kemungkinan bertemu dengan gembel hingga presiden, juga bukan karena terbuka peluang untuk bisa keliling dunia seraya berjumpa dengan selebriti dunia atau ratu kecantikan sejagat. Kebanggaan seorang wartawan harus lahir atas pengakuan, respek dan penghargaan’’ masyarakat terhadap profesi dan karya jurnalistik kita. Wartawan bangga karena karya jurnalistiknya dapat menjadi faktor penting bagi terjadinya perubahan yang membawa kemajuan bagi kemanusiaan dan peradaban. Wartawan akan dikenang oleh banyak orang karena karya jurnalistik Wartawan telah memberi andil atau telah mengubah sejarah. Nah, Anda berminat menjadi wartawan?

Read More......

Jurus Ampuh Jurnalis Tangguh

Tulisan ini, sebelumnya disiapkan dalam bentuk buku. Sejak menjadi wartawan, saya senang mengumpulkan tulisan yang berkaitan dengan jurnalistik. Ya, seperti pemulung. Kebetulan, teman saya Hasan Aspahani, juga punya koleksi tulisan jurnalistik yang lumayan. Siapa tahu, tulisan ini berguna buat Anda, terutama para jurnalis. Tulisan ini dikumpulkan dari berbagai sumber, baik melalui pelatihan yang saya ikuti maupun diambil dari berbagai penulis lainnya, serta diterjemahkan Hasan dari internet. Semoga bermanfaat.



KATA PENGANTAR

BUKU adalah brevet kehormatan dan mahkota seorang wartawan. Ada pula yang menyebutkan, jangan menyebut diri sebagai wartawan senior kalau belum pernah menulis buku. Kalau belum menulis buku, istilah yang lebih tepat adalah 'wartawan tua'.
Wartawan generasi awal, cukup produktif menulis buku pengantar jurnalistik. Namun belakangan, buku-buku yang ditulis para wartawan, lebih banyak berkisah tentang liputan di daerah konflik dan perang. Mulai dari kemelut di Filipina, Sarajevo, Afghanistan, konflik di Yerusalem hingga perang Irak.
Buku ini bukanlah sesuatu yang baru. Sebab, isinya hanya berupa catatan, malakah dan tulisan tentang jurnalistik yang dihimpun dari berbagai sumber. Jumlah media, baik media cetak maupun elektronik, bertambah banyak. Begitu pula jumlah wartawannya. Namun, pertambahan jumlah media dan wartawan tersebut, tidak sebanding dengan terbitnya buku-buku jurnalistik.
Gagasan menulis buku ini, tepatnya mengumpulkan tulisan yang berkaitan dengan jurnalistik, sederhana saja. Konon, jurnalistik lebih mudah ditularkan daripada diajarkan.Tulisan-tulisan, tips, makalah yang diberikan kepada wartawan sebagai upaya pencerahan dan in-house training, tidak terkumpul menjadi satu dan berserakan.
Paling tidak, buku lebih awet daripada kertas-kertas fotokopi tentang seluk beluk jurnalistik. Selain itu, perkembangan baru dalam dunia jurnalistik bisa dibandingkan dengan isi buku yang mungkin saja akan segera ketinggalan.
Read More......

Program Saya Jadi Wali Kota (2)

PERENCANAAN itu penting. Sebab, tanpa rencana, segala kegiatan yang dilakukan, tentu juga akan tanpa arah. Orang yang sudah punya rencananya, bisa saja dalam prakteknya tidak bagus. Apalagi kalau tidak punya rencana. Seumpama saya wali kota, jauh-jauh hari saya sudah menyusun rencana dan program kerja.

Program saya yang lain adalah menata kota. Batam yang sudah menjadi kota ruko, memang tidak artisitik dan terkesan kaku. Seluruh pemilik ruko atau penyewa, saya wajibkan mengecat ulang ruko. Sehingga tidak ada lagi kesan suram dan kusam.
Kalau perlu, saya bikin lomba. Ruko yang paling cantik dengan kombinasi warna paling menarik, dapat hadiah berupa uang pengganti seluruh biaya mengecat rukonya. Ruko tidak boleh dibiarkan terlantar pemiliknya sehingga merusak wajah kota.
Saya akan menindak warga yang melanggar Izin Mendirikan Bangunan. Juga akan mengecek, apakah ada tangga darurat, racun api dan hal-hal yang membahayakan jiwa warga saya terhadap bencana kebakaran.
Gorong-gorong dan drainase kota harus bersih sehingga saat hujan turun, air tidak meluber ke jalan. Parkir diatur dan tertib. Batam harus bebas sampah. Jalan memutar yang bikin macet ditutup agar pengemudi tidak belok sembarangan.
Meski sudah sulit mencari lahan kosong di tengah kota, saya akan bikin mini garden agar kota tidak terasa kaku dan gersang. Bisa jadi hanya berupa penataan beberapa tanaman di beberapa sudut strategis, dilengkapi bangku dan meja serta lampu hias untuk orang rehat sejenak dari rutinitas.
Pedagang kaki lima, yang selama ini dinilai membuat pemerintah sakit kepala, ditata sungguh-sungguh. Artinya, hukum akan ditegakkan tanpa pandang bulu. Pasar disediakan buat mereka dan tidak boleh berjualan di pinggir jalan. Buktinya, pasar pagi yang dinilai ilegal, saban pagi tetap ramai.
Para pedagang kecil itu, akan disediakan gerobak dengan desain khusus yang menimbulkan daya tarik tersendiri.Mereka boleh membayar dengan cara mencicil dan setelah itu, bisa menjadi milik mereka sendiri. Jadi, tidak ada lagi tempat berdagang yang dibuat sembarangan.
Para pedagang kaki lima ini, dibina dan dipantau setiap hari. Termasuk diberikan bimbingan untuk memperbesar skala usahanya. Termasuk mengenalkan mereka kepada perbankan untuk mendapatkan pinjaman modal usaha.
Meski akan berhadapan dengan berbagai pihak yang tidak suka dengan kebijakan saya, law enforcement akan saya tegakkan, sesuai ketentuan yang berlaku. Warga kota Batam harus disiplin. Sebab, dengan disiplin akan membuat warga menghargai waktu, menaati peraturan, tahu dan taat hukum serta menghormati hak orang lain.
Warga Batam haus hiburan, terutama untuk keluarga. Saya akan mendukung pengusaha swasta yang perduli dengan bisnis yang menyentuh segmen keluarga. Bisa taman safari, wisata alam dan pantai, water boom dan lain sebagainya. Meski investasinya besar, bisa berkembang untuk jangka panjang karena struktur penduduk Batam berusia produktif dan punya satu atau dua anak.
Saya juga akan membentuk tim dari beberapa karyawan kreatif yang merancang berbagai even baik domestik,regional maupun internasional. Sebab, dengan even akan menarik minat orang berkunjung ke Batam. Toh, selama ini Batam sudah punya nama dan menempati urutan ketiga nasional kedatangan wisatawan di republik ini.
Agar berbagai kegiatan tersebut waktunya tidak berbenturan, saya akan mengumpulkan semua pihak termasuk sponsor, agar memberikan jadwal kegiatannya, selama setahun ke depan. Kegiatan tersebut, akan dipajang di billboard utama kota agar bisa diketahui publik.
Semua partai politik, LSM, organisasi kemasyarakatan, akan saya kumpulkan dan membuat kesepakatan bersama, saat memasang atribut partai, spanduk, umbul-umbul tidak boleh merusak keindahan kota. Mereka tinggal menyerahkan atribut dan bendera ke Pemko yang akan membantu memasang dan membuka kembali secara teratur dan rapi.
Program lain yang akan menjadi perhatian saya tentu saja pendidikan. Sebab, Batam tidak mampu menampung ledakan murid setiap tahun. Bisa saja, ruko-ruko kosong, dimanfaatkan sementara untuk ruang kelas, agar tidak ada yang tidak bisa sekolah. Daripada kosong dan akhirnya rusak?
Saya tidak akan menjanjikan pendidikan dan kesehatan gratis. Lebih baik saya meningkatkan kesejahteraan guru dan paramedis dulu dan meminta mereka meningkatkan kualitas pelayanannya. Namun, pemberian beasiswa akan saya tingkatkan tiga kali lipat untuk mendorong siswa berprestasi. Saya tidak mau terjebak dengan janji-janji muluk, teryata hanya pepesan kosong belaka. Toh, belum tentu juga saya jadi wali kota kan?
Bisa jadi, Anda mengejek dan mencemooh saya sebagai orang yang terlalu percaya diri dan narsis. Tapi, biar sajalah. Toh, Anda juga tidak menunjukkan tanda-tanda mau memimpin Batam sebagai wali kota. Atau, bisa jadi ada anggapan ini hanya khayalan belaka. Soalnya, jangankan jadi wali kota, Anda kan belum pernah menjadi Ketua RT sekalipun.
Saya mengutip enam sikap orang yang paliung tidak efektif dari milis di internet. Yakni, kehilangan sikap. Orang-orang biasanya mendapatkan apa yang mereka harapkan dari hidup mereka. Harapkan yang terburuk, dan itulah yang akan Anda peroleh. Kedua, berhenti berkembang. Orang-orang adalah apa mereka adanya, dan ke mana mereka menuju disebabkan oleh apa yang ada di dalam pikiran mereka.
Ketiga, tidak memiliki rencana dalam hidup. Sebagaimana yang dikatakan oleh William Feather, penulis dari The Business of Life,"Ada dua jenis kegagalan: orang yang mempunyai rencana tanpa bertindak apa-apa, dan orang yang bertindak tanpa rencana apa-apa."
Keempat, tidak bersedia berubah. Beberapa orang memilih lebih baik berpegangan pada
apa yang mereka benci daripada memeluk apa yang mungkin lebih baik karena mereka takut memperoleh sesuatu yang lebih buruk.
Ketiga, gagal dalam berhubungan dengan orang lain. Orang-orang yang tidak dapat bergaul dengan orang lain mungkin tidak akan pernah bergerak maju dalam hidupnya. Keempat, tidak mau membayar harga kesuksesan. Jalan menuju sukses selalu menanjak. Setiap orang yang ingin memperoleh harus mengorbankan banyak. Dan yang keenam, penghargaan yang tertinggi untuk pekerjaan Anda bukanlah apa yang Anda dapat karenanya, tapi siapakah Anda jadinya olehnya. ***
Read More......

Program Wali Kota Masa Depan

Sebagai warga kota, saya memimpikan Batam menjadi kota yang hebat. Kota ini berpotensi jadi kota megapolitan dan dikenal secara global. Masyarakatnya dinamis. Kota ini diisi oleh orang-orang profesional, sejahtera dan modern. Inilah beberapa program saya, seandainya suatu saat saya menjadi wali kota Batam.

Sadar atau tidak, selama ini di Batam terjadi survival of fittes atau seleksi alam. Bagi yang kuat, bertahan dan berhasil meningkatkan taraf hidupnya. Sebaliknya, tak sedikit pula yang kalah, bangkrut dan akhirnya pergi meninggalkan Batam.
Biasanya, seorang calon wali kota wajib menyusun program yang akan dijualnya kepada pemilihnya. Programnya hebat-hebat. Ini untuk meyakinkan orang, agar memilih dia. Saya juga menyusun program, seandainya suatu saat saya terpilih sebagai wali kota.
Bedanya, program ini sederhana saja, tapi fokus. Kalaupun saya gagal jadi wali kota, calon-calon lain, atau wali kota terpilih, bisa mengadopsi program saya ini. Tidak apa-apa. Demi kebaikan kita bersama sebagai warga Batam. Jika calon lain itu jujur dan tidak plagiator, ia akan bicara dengan saya, bahwa ia menyadur gagasan saya. Jika tidak? Ya tidak apa-apa.
Apa saja program saya sebagai wali kota Batam? Pertama, membangun jalan raya. Sebab, jalan raya adalah urat nadi perekonomian. Jalan raya di Batam adalah wajah Indonesia yang menjadi etalase ke negara jiran. Bandingkanlah jalan di Singapura dan Malaysia dengan Batam. Sungguh kualitasnya beda jauh.
Lihatlah kualitas jalan protokol, dari bandara Hang Nadim sampai ke Nagoya. Penuh lubang, bekas tambalan dan bergelombang. Padahal, baru beberapa bulan diaspal ulang. Jalan yang tidak berkualitas, tidak hanya membuat ekonomi tersendat, juga menyebabkan banyak nyawa melayang.
Yang dituduh penyebab jalan rusak gara-gara hujan dan banjir menggenangi bahu jalan. Atau, alasan klasik minimnya anggaran. Sementara, banyak jalan dibangun tanpa gorong-gorong dan kendaraan berat bebas melenggang.
Jika saya jadi wali kota, saya akan bangun ulang jalan raya yang bersifat permanen dan memenuhi kebutuhan jangka panjang. Kendaraan dengan tonase yang melebihi daya dukung jalan, tidak boleh melintas sembarangan. Harus lewat jalur alternatif atau jalan tanah, agar tanah yang diangkut tidak berceceran di jalan.
Kedua, program lingkungan dan pengijauan total. Saya merindukan Batam yang nyaman, asri dan tertata. Banyak warga yang mengeluh, udara kota ini panas sekali dan membuat orang tidak betah berlama-lama di kota ini.
Selama ini, pemerintah--siapapun dia, baik Otorita maupun Pemko--tak perduli dan main babat saja. Tidak hanya menebangi pohon, hutan lindung dan bukit pun dibabat. Kalau saya jadi wali kota, stop semua tindakan yang tidak bersahabat dengan lingkungan.
Pernahkah Anda perhatikan tangan supir taksi. Banyak yang tangannya hitam sebelah. Kebiasaan para supir itu, menyetir sambil mengeluarkan tangan kanannya. Akibatnya, tangannya hitam dan belang diterjang terik matahari.
Saya akan keras dengan developer yang seenaknya menebang hutan dan mengambil tanah
perbukitan untuk timbunan. Yang melanggar, akan saya umumkan secara terbuka dan masuk daftar hitam pengusaha tak ramah lingkungan. Ini agar publik tahu dan tidak tertarik membeli rumahnya.
Janji-janji membuat fasilitas umum dan sosial, wajib dipatuhi. Drainase dan gorong-gorong, harus mereka bangun, agar kota ini tidak menjadi langganan banjir.Para pengembang, melalui REI harus menyisihkan sedikit keuntungan untuk program penataan kota.
Saya juga akan mengawasi pemotongan bukit dan penimbunan daerah rendah, lantaran kontur tanah di Batam yang berbukit-bukit. Termasuk reklamasi yang dilakukan pengembang. Sebab, reklamasi yang sembarangan malah mengakibatkan banjir lantaran buangan air ke laut makin jauh dan dataran rendah dan genangan air disulap jadi perumahan dan ruko.
Selain itu, setiap pasangan yang mau menikah, wajib menanam sepuluh pohon. Ini akan menjadi kado perkawinan mereka, melihat seberapa besar pohon itu tumbuh, sampai ke anak cucunya. Bisa dibayangkan, Batam menjadi hijau dan bersih. Kita tidak perlu khawatir global warning karena Batam sudah mengantisipasi sejak dini.
Saya akan menggandengn petani bunga, dan membiarkan mereka memanfaatkan row jalan dan buffer zone agar ditata sedemikian rupa sehingga Batam menjadi kota taman. Ini bukan karena saya sejak setahun lalu saya juga menjadi petani bunga di depan rumah saya. Setidaknya, saya membuka sedikit lapangan kerja, memperindah lingkungan dan warga pun senang.
Ketiga, program penataan pasar. Pasar induk, akan saya bongkar karena pedagang tidak memerlukan pasar seperti museum, cukup los-los untuk menggelar dagangan dan parkir yang cukup. Padahal, pasar yang dikelola swasta, cukup berhasil menarik pengunjung. Tentu ada yang salah dengan pasar-pasar yang sudah dibangun tapi gagal menjalankan fungsi tempat bertemunya pedagang dan pembeli. Nah, cukup tiga program dulu, setelah itu akan saya sampaikan kepada Anda program lainnya. ***
Read More......

Wali Kota dan Rumus 5=2+2+1

Tidak mudah jadi wali kota di era reformasi dan Pilkada langsung ini. Selain modal uang dan tampang, juga harus punya perahu partai politik. Saat seseorang maju jadi calon, ia sudah didekati dan mendekati berbagai elemen masyarakat. Sehingga, kini dikenal rumus: 5 = 2 + 2 + 1. Dan saya tidak mau jadi wali kota seperti pola itu.

Artinya, lima tahun berkuasa, dua tahun balas budi, dua tahun cari uang agar balik modal dan setahun siap-siap untuk maju lagi. Pertanyaannya, apakah sang wali kota masih memikirkan dan berbuat untuk rakyat yang memilihnya?

SAAT seseorang maju jadi calon wali kota, ada dua arus yang akan mengapungkannya, dan bisa jadi akan menenggelamkannya. Yang pertama, investor politik. Mulai dari partai politik, tim sukses, tim kampanye, sampai ke tokoh-tokoh masyarakat seperti RT dan RW yang akan menjadi mesin pendulang suara.
Kedua, investor ekonomi. Mulai dari pengusaha, simpatisan, broker dan calo politik, hingga keluarga yang punya dana. Nah, pada saat ia menjadi wali kota, kedua arus besar tadi akan menagih janji, meminta imbalan proyek, serta berbagai keuntungan finansial berlipat ganda.
Jadi, jangan heran. Ketika wali kota baru dilantik, antrian panjang kedua arus ini segera mendaftar. Alasan klasik, menghadap pak wali kota. Lihatlah daftar tamu di kantor wali kota. Wacana calon independen, setidaknya bisa meminimalisir keharusan berhadapan dengan kedua arus besar itu tadi.
Saat menjelang pemilihan wali kota tiba, kasak-kusuk tim sukses dan kelompok-kelompok kepentingan, segera meruap. Beberapa calon yang tadinya berminat maju ke bursa pemilihan, banyak yang kandas di tengah jalan dengan berbagai alasan. Yang paling sering menjadi sandungan adalah keterbatasan uang dan tidak punya perahu partai politik yang mengusungnya.
Saat-saat terakhir, calon potensial itu tadi harus menyingkir lantaran tak punya cukup uang menyetor untuk mengisi pundi-pundi pentolan partai. Atau karena tidak menemukan pasangan yang tepat karena kartu truf di tangan partai. Apalagi, energinya sudah terkuras menjelang babak penentuan siapa calon yang akan diusung.
Beberapa hari ini, saya berdiskusi dan berdebat dengan beberapa teman di Graha Pena, soal keinginan saya mencalonkan diri sebagai wali kota. Seperti Senin (21/4) sore, saya berdebat dengan Ngaliman, calon anggota KPUD Batam, Taman Tamba aktivis Angkatan Muda Partai Golkar, dan Jamil yang pernah menjadi rekdaktur opini dan menyusun buku soal pencalonan wali kota.
''Saya dukung Anda sekarang, tapi nanti belum tentu,'' kata Tamba. Secara politis, ia ingin menegaskan, begitulah politik. Ia menyarankan agar saya mendekati partai tertentu. Itulah masalahnya. Saya tak pernah aktif di partai. Tamba termasuk yang sangat percaya kekuatan partai sebagai mesin politik.
Ngaliman lain lagi. Ia menganjurkan agar saya membangun akses yang luas dan nanti akan menjadi kendaraan saya mendulang dukungan. Ia menekankan, perlunya nilai jual seseorang agar dilirik partai. Sedangkan Jamin, lebih memposisikan diri sebagai penhamat dan melihat kemana arah pembicaraan mengalir.
Mungkin saya terlalu percaya diri. Belum apa-apa sudah mencalonkan diri. Tapi, itu lebih baik agar orang lain tahu, apa yang ada dalam pikiran saya. Jika orang lain memilih menahan diri agar tidak menjadi sasaran tembak, sebaliknya, penolakan terhadap keinginan saya menjadi wali kota, akan menjadi latihan jangka panjang. Sekecil apapun penolakan itu.
Yang meragukan kemampuan saya, sudah terbaca dari usulan agar saya cukup jadi wakil saja. Saya tidak mau. Saya mau jadi wali kota, satu periode saja. Waktu lima tahun cukuplah untuk berbuat sesuatu untuk masyarakat Batam. Hasan Aspahani membesarkan hati saya. ''Dulu, kita tahulah siapa orang-orang yang maju ke bursa pemilihan itu. Tapi, ternyata mereka bisa. Malah, George Bush punya blog sehingga orang bisa membaca pikiran dan gagasannya,'' katanya.
Politik memang pas dilambangkan dengan Dewa Janus, dewa bermuka dua yang menghadap ke kiri dan ke kanan. Artinya, politik memang ibarat dua sisi mata uang dan sama dengan sifat manusia. Ada benci, ada cinta. Ada konflik, ada kerjasama. Ada rindu dan ada dendam.
Mereka yang benci politik, sering mengatakan bahwa politik itu kotor. Tapi, mereka yang lain mengatakan, dengan politik mengatur negara dan mencapai tujuan bersama. Politik memang paradoksal.
Partai bisa digunakan untuk mesin untuk mencari dan menjalankan kekuasaan, bisa pula dipakai untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Tidak heran, ada yang memilih berada di luar partai, ada pula yang masuk ke dalamnya. Jabatan wali kota adalah jabatan politis. Sehingga, untuk menggapainya, diperlukan langkah-langkah politik. Misalnya, mencari dukungan sebanyak mungkin, menggunakan kekuatan partai, membentuk tim sukses dan sebagainya.
Saya, sejauh ini tidak melakukan apa-apa. Keinginan menjadin wali kota, baru sebatas melontarkan gagasan kepada Anda di blog ini.
Secara akademis, saya paham politik. Sebab, saya memilih mendalami sosiologi politik. Secara teori dan analisis, saya menggunakan pendekatan para pakar dan kepekaan terhadap data dan fakta di lapangan. Sampai saat ini, saya belum tertarik masuk ke partai politik.
Artinya, keinginan saya menjadi wali kota, hanya keinginan berbuat sesuatu untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat di Batam. Yang jelas, saya sudah menyatakan keinginan saya. Setuju atau tidak, mendukung atau tidak mendukung, bahkan abstain sekalipun, terserah Anda....***
Read More......

Wali Kota Masa Depan


Tulis Ringkasan Postingan Anda

Tulis Akhir Postingan Anda
Read More......

Wajah Wali Kota




Tulis Ringkasan Postingan Anda

Tulis Akhir Postingan Anda
Read More......

Saya Mau Jadi Wali Kota (2)

Kita lahir, hidup dan mati dalam organisasi. Jika tidak memahami organisasi, akan tersesat dalam hutan rimba yang membingungkan. Itulah kata-kata seorang pakar politik dan organisasi sosial. Saat lahir, Anda sudah harus punya akte kelahiran, lalu mengurus KTP, surat izin usaha, sampai akhirnya mendapat surat keterangan kematian. Organisasi itu bernama negara.
Seperti Anda, saya mulai berorganisasi dengan menjadi ketua kelas, punya geng dan teman sepermainan. Saya suka menjadi pemimpin dan mau dipimpin. Kemampuan organisasi saya, baru terasah saat kuliah. Saya menjadi ketua kesenian, pimred buletin kampus, ketua Unit Kegiatan Olahraga tingkat universitas dan sering menjadi team manager saat kejuaraan nasional berbagai cabang olahraga.
Memang, saya hanya aktif di organisasi intra kampus. Namun, pergaulan dengan teman-teman dari Himpunan Mahasiswa Islam, saya belajar memimpin rapat dan sidang-sidang organisasi mahasiswa. Setelah bekerja, saya menjadi Ketua PWI Perwakilan Batam, lalu memimpin PWI Cabang Kepri. Ternyata, saya ketua PWI Cabang termuda se Indonesia. Saya juga aktif di Indonesian Marketing Association.
Di lingkungan rumah, saya dipercaya menjadi ketua Rukun Warga selama tiga tahun. Padahal, saya tidak pernah menjadi ketua RT. Saya juga diminta menjadi ketua mesjid di lingkungan perumahan kami. Mungkin tak terlalu banyak organisasi yang saya cemplungi, saya berusaha untuk fokus.
Pengalaman berorganisasi, tentu akan berguna kalau saya jadi wali kota. Sebab, memimpin rapat, mendelegasikan tugas, koordinasi, evaluasi didapat dari berorganisasi itulah. Termasuk kesediaan berbeda pendapat, dan mendengarkan orang lain. ''Saya sepakat untuk tidak sepakat'' idiom yang sering terdengar dari seseorang yang menghargai perbedaan pendapat.
Maka, jangan heran kalau ada orang yang egois, mau menang sendiri dan memaksakan kehendak dan pikirannya dipenuhi prasangka negatif. Orang seperti ini, lebih mengandalkan kata hati. Padahal, kita juga dianugerahi otak dan logika.
Ada orang yang asyik berdialog dengan dirinya sendiri. Ia mungkin seorang peragu, tapi tak mengakui kondisi itu. Ketika mendengar ada masukan dari seseorang, dianggapnya sebagai sebuah kebenaran. Kekuasaan yang dipamerkannya, sebenarnya lebih untuk menutupi kelemahannya sendiri.
Bangsa kita memang sering tidak jujur. Sering terjadi, sadar atau tidak sadar, kita sulit memuji kelebihan orang lain. Yang dilihat, adalah kekurangannya. Akibat ketidakjujuran itu, ia merasa iri dengan keberhasilan orang lain. Ini tipe SMS alias Senang Melihat orang Susah.
Saya kerap memakai filosofi telunjuk. Ketika kita menunjuk kelemahan seseorang, dua jari kita kepada orang itu. Padahal, tiga jari lainnya mengarah kepada diri kita. Atau, kita diberi dua daun telinga dan satu mulut, agar kita mendengar lebih banyak daripada bicara. Alam terkembang, jadikan guru.
Setiap manusia, tentu memiliki kelebihan dan kelemahan. Selama ini, saya sering lebih berorientasi melihat kelebihan seseorang dan dari situ, saya belajar banyak. Kadang-kadang, saya berpikir, apakah saya orang yang sombong dan meremehkan orang lain?
Seorang teman peneliti pernah mengatakan, mental kita adalah mental orang jajahan dan minder. Apa bedanya orang yang sombong dengan orang yang percaya diri? Orang sombong hanya berkata besar, tapi tak punya bukti. Tapi sebaliknya orang percaya diri, ia sanggup membuktikan omongannya.
Karena dengan kepercayaan diri itulah, saya mengajukan diri sebagai calon wali kota. Dale Carnegi berkata, kalau kamu ingin berhasil, berbuatlah seolah-olah keberhasilan itu sudah di depan mata. Tak ada salahnya kalau saya mengikuti jalan pikiran seperti itu. Siapa tahu, saya benar-benar akan terpilih menjadi wali kota.
Saya orang yang optimis, aktif, kreatif dan dinamis. Meski terkesan terlalu percaya diri, saya percaya dengan kekuatan tim dalam sebuah organisasi, termasuk organisasi pemerintahan. Latar belakang saya yang penuh warna, akan membantu tugas saya sebagai seorang wali kota yang memimpin kota metropolis yang sangat heterogen ini.
Selain organisasi, birokrasi akan jadi fokus perhatian saya berikutnya. Sebab, pada dasarnya birokrasi tujuannya untuk memudahkan urusan, bukan mempersulit. Namun, yang terjadi adalah birokrasi memerangkap para pegawai seperti labirin dan mematikan kreativitas. Yang terjadi adalah pola hubungan atasan-bawahan atau patron-klien.
Nah, apa yang akan saya lakukan seandainya saya terpilih menjadi wali kota Batam. Nantikan posting berikutnya, (bersambung)

Read More......

Saya Mau Jadi Wali Kota (1)

Tiba-tiba, saya mau jadi wali kota Batam. Keinginan itu saya sampaikan kepada beberapa teman. Ada yang pura-pura mendukung, ada yang tertawa mengejek, ada pula yang menganggap hanya main-main. Hanya satu orang yang kirim SMS mendukung. Kenapa muncul keinginan gila itu dan apa modal saya?

SEJAK jadi kota, Batam sudah dipimpin empat walikota dan dua Pelaksana Tugas Walikota. Yakni, Usman Draman, RA Aziz, Nazief Soesila Dharma, Nyat Kadir, Manan Sasmita dan Ahmad Dahlan.
Namun, peran wali kota baru agak terasa saat dipimpin Nyat Kadir dan Ahmad Dahlan yang akan menjabat hingga 2011 nanti. Sebab, perannya didukung oleh undang-undang otonomi daerah. Wali Kota sebelumnya, perannya dikebiri lantaran Otorita Batam begitu powerfull dan berkuasa.
Nah, siapa wali kota Batam ke lima? Bisa jadi, saya orangnya. Saya sudah menjadi warga Batam sejak sebelas tahun yang lalu, saat Batam dipimpin wali kota kedua. Saya menyaksikan kota ini tumbuh menjadi kota metropolis, serta beragam masalah yang dihadapinya.
Batam membutuhkan pemimpin yang cakap dan cerdas. Punya akses nasional dan internasional. Egaliter dan diterima masyarakat yang heterogen. Berpikir dan mampu memahami cara kerja mafia. Tegas dan berani mengambil tindakan yang tidak populer. Komunikatif dan cekatan bertindak.
Saya berasal dari keluarga menengah. Artinya, tidak kaya, tidak pula miskin. Bapak saya seorang pengusaha angkutan antar kota. Ibu saya seorang perawat bidan dan membuka apotik. Meski pribumi, keluarga saya tinggal di kawasan Pecinan, di kota Payakumbuh.
Bapak dan ibu saya, punya banyak teman orang Cina. Saya anak ketiga dari empat saudara. Sekolah Dasar kami semua di SD Pius, sekolah terbaik dan berbaur dengan anak-anak Tionghoa. Hanya saya sendiri yang melanjutkan ke sekolah menengah negeri. Keluarga kami kemudian pindah ke Labuh Basilang, kawasan strategis di kota kami.
Daerah ini terkenal dengan premannya. Saya bergaul dengan mereka. Nongkrong sambil main gitar, begadang, berkelahi, mencuri buah-buahan, cari uang dengan membongkar pasir, saya ikut. Yang perlu dicatat, dalam dunia preman terkenal dengan kesetiakawanan.
Karena nakal dan tinggal kelas, saya pindah sekolah ke INS Kayutanam, sekolah yang didirikan sejak tahun 1926. Muridnya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Berbaur dan tinggal di asrama, tanpa sadar memupuk toleransi dan kemampuan menyesuaikan diri.
INS adalah sekolah unik. Menggabungkan akademik seperti SMA dengan ketrampilan kerja seperti STM. Saya bergaul dengan anak-anak dari Riau, Medan, Jawa sampai dari Aceh serta berbagai kota di Sumatera Barat. Motto sekolah ini sederhana. Dari pohon mangga, jangan harapkan buah rambutan, tapi harapkanlah mangga yang paling manis.
Kami diajar mandiri. Hidup teratur dan disiplin serta bertanggungjawab. Di asrama, murid SMA digabung dengan SMP, empat orang sekamar. Makan siang dan malam, di ruang makan. Pagi sekolah, dan siangnya praktek kerja ketrampilan. Mulai dari pertukangan, besi, otomotif, keramik dan anyaman.
Tamat dari INS, kalau tak bisa menyambung kuliah, bisa wiraswasta. Guru-guru, sebagian tinggal di lingkungan sekolah. Luas sekolah itu 18 hektar. Memang, cap negatif INS sekolah anak nakal. Tapi, saya tahu teman-teman saya anak pintar yang kurang perhatian dan umumnya anak orang kaya.
Kebersamaan, rasa senasib sepenanggungan, itulah yang terasa di INS dan berbeda dengan sekolah lain. Kalau tanggal tua, sebatang rokok bisa diisap bertiga. Jangan coba-coba jadi orang pelit di asrama. Selain dikucilkan, dikerjai anak-anak lain.
Kalau ada yang berkelahi, dilakukan secara sportif, di asrama kosong. Setelah berkelahi, berdamai dan berteman lagi. Sulit melupakan kenangan di INS selama tiga tahun. Saya satu-satunya di angkatan saya yang lulus Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru dan diterima di jurusan Sosiologi FISIP Universitas Andalas.
Sejak jadi mahasiswa, kesulitan ekonomi menghadang. Bapak saya stroke dan lumpuh. Ibu menjadi tumpuan dan tiang ekonomi. Ibu saya wanita yang mandiri dan kuat. ''Kalau orang makan ayam, ya kita makan bayam,'' katanya, memberi semangat.
Saya berusaha kuliah sambil bekerja. Mulai dari jaga toko, jual stiker di kampus dan sejak semester tiga, menulis di surat kabar sejak tahun 1989. Saya juga aktif di kampus. Mulai dari bikin acara kesenian, diskusi dan seminar hingga kegiatan olahraga. Saya sempat jadi pimpinan redaksi buletin kampus. Terbit empat edisi, kemudian mati.
Nilai akademis saya tidak jelek-jelek amat. Meski tamatnya lama (7 tahun) Indeks Prestasi saya 3,2. Saya tiga kali dapat beasiswa. Dari 47 mahasiswa di angkatan saya, hanya saya sendiri yang mengambil mata kuliah spesialisasi sosiologi politik. Skripsi saya malah tentang Kamar Dagang dan Industri.
Saat kuliah, saya punya empat cita-cita. Jadi konsultan di perusahaan asing, peneliti, dosen dan jadi wartawan. Saya melakukan sembilan penelitian di luar skripsi. Mulai dari jadi surveyor, menulis tesis hingga asisten peneliti penulisan disertasi mahasiswa S3 Flinders University Australia. Namanya DR Syarif Hidayat, peneliti LIPI.
Selama dua tahun, saya Ketua UKM Olahraga di tingkat Universitas. setiap ada kejuaran nasional olahraga, saya selalu menjadi team manager kampus saya. Padahal, saya tak mengerti olahraga. Saya hanya bisa --bukan pandai-- main pandai, main pingpong dan catur.
Sebelum tamat, saya sempat bekerja di sebuah tabloid lokal. Setamat kuliah, saya diterima bekerja sebagai wartawan. Karir saya tergolong cepat. Baru delapan bulan bekerja, saya ditunjuk jadi kepala perwakilan. Secara bertahap, naik jadi redaktur, lalu koordinator liputan, redaktur pelaksana, pimpinan redaksi dan meloncat lagi menjadi pimpinan umum dan perusahaan. Saya tidak pernah jadi wakil atau asisten.
Nah, pembaca yang budiman. Apa gunanya saya sampaikan cerita ini? Sedang menyombongkan dirikah saya kepada Anda? Mungkin saya terlalu percaya diri. Tapi, saya memang sedang mempromosikan diri. Saya juga sedang menguji kekuatan blog ini.

Saya ingin mengatakan, latar belakang saya yang dinamis, cukup layak menjadi seorang wali kota. Siapa tahu, gagasan saya membuat Anda tertarik mendukung saya, ketika saatnya tiba dan saya berkata: Inilah calon wali Kota Batam. Dalam postingan berikut, akan saya sampaikan gagasan saya tentang masa depan Batam. Kalau ada calon lain yang mengungkapkan hal ini, bisa diduga ia membaca blog ini. Terima kasih atas kesabaran Anda mengikuti cerita ini.(bersambung)
Read More......

Jika Saya Wali Kota Batam

TIBA-TIBA orang -orang mengelu-elukan saya sebagai walikota Batam. Saya berhasil mengumpulkan suara terbanyak setelah terjadi voting yang menegangkan. Sekaligus mengalahkan lawan-lawan politik saya selama ini. Ucapan selamat berdatangan. Ada karangan bunga, ada pula iklan satu halaman. Astaga? Saya kini jadi walikota..!


Rasanya, saya boleh bangga. Sebab, sayalah walikota pertama yang dipilih berdasarkan aspirasi masyarakat Batam. Dua walikota sebelumnya, hanya seorang pejabat karir yang ditunjuk atasan. Yang satu dinilai suka melawan instansi lain, sedangkan yang satu koordinasi hanya di tingkat elit birokrasi.
Perjalanan saya menjadi walikota memang tidak gampang. Betapa berat perjuangan saya sebelum ini. Modal saya hanya kejujuran, antusiasme, semangat kemasyarakatan, akal sehat serta kemampuan memimpin. Tetapi, itu saja tidak cukup.
Saya tahu betul, rival-rival saya sesama kandidat walikota, selain terkenal, juga punya uang. Mereka sering bicara di koran sehingga warga pulau ini tahu siapa calon mereka. Kadang ada fotonya. Begitu namanya disebut, orang segera tahu siapa dia.
Apalagi, kabarnya mereka punya tim sukses. Tugasnya hanya satu. Bagaimana mengegolkan calonnya menjadi walikota. Mereka inilah yang kasak-kusuk melobi ke sana kemari agar orang-orang, baik secara pribadi maupun kelompok memberikan dukungannya terhadap bakal calon walikota.
Sedangkan saya? Ah, pusing kepala saya memikirkannya. Konon, di luar negeri orang punya kekayaan dulu, baru menjadi pejabat. Tapi di negeri saya, terbalik. Jadi pejabat dulu, baru mengumpulkan kekayaan. Saya tidaklah kaya dan juga bukan pejabat. Makanya, saya jadi bingung begitu ada yang mencalonkan saya.
Tapi, sudahlah. Kini saya seorang walikota. Saya mulai bekerja semampu saya. Tugas pertama saya memimpin rapat di kantor walikota. Saya panggil asisten, kepala-kepala dinas serta kabag-kabag. Saya tanyakan, apa masalah yang dihadapi. Dengan mendengarkan anak buah saya, sekaligus saya belajar menutupi kebodohan saya sebagai orang baru.
Ternyata, jadi walikota tidak semudah yang saya duga. Masalah utama adalah, selama ini tidak ada komitmen jangka panjang dan investasi kepada masyarakat kota ini. Orientasi pembangunan hanya ke soal fisik dan bisnis belaka. Namun masalah sosial kemasyarakatan terlupakan dan jadi tumpang tindih.
Penduduknya bertambah tak terkendali. Harapan orang terhadap pulau ini bertambah tinggi. Padahal, kemampuannya menerima pendatang makin melemah. Akibatnya, banyak yang nganggur. Kriminalitas tinggi dan membuat warga kota kehilangan rasa aman. Sebagian besar warga saya tinggal di ruli.
Kesenjangan sosial makin menjadi-jadi. Ini bisa dilihat dari disparitas penda-patan yang menganga lebar. Seperti syair lagu dangdut, yang kaya makin kaya, yang miskin tambah melarat. Bisnis dikendalikan orang-orang tertentu, yang bisa berkolusi dengan pejabat dan memberi upeti serta tidak mengungkit-ungkit kekuasaan mereka.
Saya kini jadi tahu, partisipasi warga kota sangat rendah. Siapa lu, siapa gue. Budaya yang berkembang adalah ketidakpastian dari kaum urban. Hukum tak jelas kemana berpihak. Siapa yang kuat, itu yang menang. Primordialisme menjadi-jadi.
Kesempatan buat warga tidak sama. Ketidakadilan ada dimana-mana. Akibatnya, warga kota saya gampang marah. Mereka frustrasi karena setelah jauh-jauh merantau ke sini, belum juga berhasil. Mau kembali ke daerah asal, malu sama orang sekampung. Saya pening memikirkan semua ini. Seperti lingkaran yang tak berujung.
Sebagai walikota, saya harus bekerja keras mengurus masyarakat saya. Saya merasa antusias, kota ini akan maju seperti Singapura. Saya punya keberanian dan bekerja sesuai prioritas tanpa kompromi dengan mengembangkan keya-kinan dan membuat komitmen. Badan saya memang tidak tinggi besar, tapi se-mangat saya menyala-nyala
Saya menginginkan warga Batam punya antusiasme, akal sehat, kerja keras, semangat kemasyarakatan serta komitmen untuk maju dalam zaman yang penuh persaingan ini. Dengan begitu, saya yakin bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat secara dramatis.
Masalah-masalah di kota pulau ini, tanpa saya sadari membuat saya menjadi lebih sabar. Sabar menghasilkan kegigihan, kegigihan menghasilkan watak, watak menghasilkan harapan dan harapan menghasilkan kekuatan.
Sebagai walikota, saya sering datang ke pasar-pasar, pusat keramaian dan juga ke pemukiman liar. Saya berdialog dengan mereka. Mencoba memahami warga saya dari kaca mata mereka. Ternyata, selain miskin, warga saya yang tinggal di rumah beratap getah dan dinding seadanya itu, merasa betah-betah saja.
Mereka datang ke pulau ini menyeberangi lautan dengan harapan merubah nasib dan masa depan. Dan, mereka hanya berniat tinggal sementara. Namun, sadar atau tidak, mereka sudah bertahun-tahun berlidung dari panas dan terik matahari di ruli. Dan sudah beranak pinak pula.
Di pasar-pasar, warga saya berdagang kaki lima. Sebab, mereka tak sanggup menyewa ruko pakai dolar Singapura. Jangankan punya dolar, mengumpulkan rupiah demi rupiah saja, mereka sudah bekerja mati-matian. Apalagi, tak ada tempat bagi mereka di los pasar yang sempit. Pasar Rakyat yang dijanjikan, entah kapan selesainya.
Saya temui buruh-buruh yang bekerja di pabrik-pabrik. Saya bercakap-cakap dengan supir taksi gelap dan yang terang. Saya bertemu dengan pemulung, penjaga malam, kuli bangunan, sampai pengangguran dan wanita yang menjajakan cinta sesaat. Pokoknya, saya ingin menyerap secara langsung aspirasi masyarakat saya.
Saya tidak mau dan tidak betah duduk berlama-lama di kantor yang ber-AC, menerima tamu dari pagi sampai petang, atau keliling-keliling kota dengan alasan urusan dinas. Yang saya lakukan, mengurus masyarakat kota saya dan menjadi kepala pelayan bagi mereka. Toh, karena merekalah saya bisa duduk di kursi empuk ini sebagai wali kota.
Sebagai orang nomor satu di Batam, saya sedang menunggu dengan penuh harap pelaksanaan otonomi daerah. Apalagi, sudah terlalu lama daerah dihisap pusat seperti lintah. Pendapatan Asli Daerah saya ini, dulu harus disetor ke pusat. Setelah itu, kami tidak tahu kemana uang itu. Entah masuk kas negara yang makin bangkrut, atau masuk ke kantong bapak-bapak semalam.
Kini, sayalah yang menentukan penggunaan lahan. Sebab, tidak ada artinya saya jadi walikota, tapi semua diatur oleh Otorita Batam. Kalau masih seperti dulu juga, itu berarti saya hanya sebagai walikota boneka. Saya tidak mau, ah...
Sebagai walikota di zaman otonomi ini, saya akan mewujudkan persamaan hak politik (political equalitiy) untuk berpartisipasi bagi warga saya. Sebab, saya menyadari, masyarakat Batam sangat heterogen, yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial dan masing-masing akan memperjuangkan kepentingannya.
Saya juga akan membuka kran kebebasan berpolitik (political liberty) bagi warga Batam. Pemda bisa mengambil kebijakan tanpa campur tangan pusat, tidak seperti selama ini. Setiap kebijakan saya, sesuai dengan tuntutan masyarakat. Dan yang lebih penting, saya mengembangkan apa yang disebut local responsiveness dimana Pemda akan lebih responsif terhadap komunitas masyarakat Batam.
Saya sadar benar, saya mesti bersedia berbeda pendapat dan dikritik masyarakat serta mengorbankan kepetingan saya dan kelompok saya demi orang banyak. Klise memang. Tapi, walikota sebagai bos di Pemda, prilaku walikotanya akan mempengaruhi pemerintahnya. Itulah sebabnya, yang pertama kali saya benahi adalah jajaran birokasi sebagai pelayan masyarakat.
Pelan tapi pasti, saya berhasil membangun ekonomi rakyat Batam. Memang tidak sehebat Singapura, tapi lumayanlah. Sebab, selama ini sudah dimotori oleh Otorita Batam. Kerja keras saya mulai menampakkan hasil dengan tumbuhnya rasa memiliki warga kota terhadap pulau ini.
Konflik-konflik sosial, bisa ditangani berkat kerjasama yang harmonis antara komponen masyarakat. Sebab, saya menyadari betul, konflik dan integrasi ibarat dua sisi mata uang, tergantung kita memeneejnya. Saya juga mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan Otorita Batam yang kini mengurusi investasi yang mengalir ke pulau ini. Tapi, soal masyarakat, itu urusan saya.
Sebagai pemimpin yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting, saya merasa dicintai masyarakat saya. Mereka menyampaikan dukungannya agar saya kembali mencalonkan diri untuk periode kedua sebagai walikota. Tapi saya menolak. Sudah cukuplah rasanya. Yang penting, saya sudah meletakkan tatanan hidup bermasyarakat dalam pulau ini.
Tiba-tiba saya terbangun. Hari sudah hampir pagi. Mata saya mengerjap-ngerjap, lalu saya gosok dengan punggung tangan. Tak ada siapa-siapa, selain istri saya di tempat tidur kami. Astaga? Ternyata saya bermimpi menjadi walikota.
Lama saya merenung. Ternyata saya hanya bermimpi panjang. Tapi saya tak habis pikir, kenapa mimpi seperti itu yang datang. Lalu saya teringat, sorenya saya membaca berita tentang penjaringan aspirasi masyarakat tentang walikota. Sampai-sampai terbawa dalam mimpi.
Saya teringat satu hal. Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik. Saya memang bukan walikota, saya hanya seorang wartawan. ***
Read More......

Berhenti Merokok

Hari ini, sudah tiga hari saya berhenti merokok. Ternyata, saya hebat juga. Bisa menyetop kebiasaan buruk bertahun-tahun itu. Karena tidak ada yang memuji, bolehlah saya puji keberhasilan saya ini. Padahal, saya mengantongi resep dokter untuk berhenti merokok. Tapi, ternyata bukan karena resep itu...


SAYA mulai belajar merokok kelas II SMP atau pada usia 15 tahun. Saat itu tahun 1981. Baru terasa kecanduan pada kelas I SMA. Saya masuk SMA tahun 1983 dan tamat tahun 1987. Lho, kok empat tahun. Ya iyalah, karena pakai tinggal kelas, saat kelas satu, he..he.
Nah, anggaplah saya merokok sejak tahun 1983 berarti, saya sudah menjadi perokok selama 25 tahun! Itu berarti lebih separuh dari usia saya saat ini. Kalau rata-rata saya merokok sebungkus per hari atau 20 batang x 365 hari x 25 tahun berarti saya sudah mengisap 182.500 batang rokok.
Itu baru jumlah rokoknya. Kalau hitung-hitungan duit yang sudah 'terbakar' selama ini? Taruhlah sebungkus Rp7.500 saja maka uang yang sudah terbuang percuma Rp7.500 x 365 x 25 tahun berarti Rp68.437.500. Lumayan besar, bukan?
Tapi, ya begitulah. Namanya juga kecanduan. Saat SMP saya pernah kabur dari rumah. Agar tetap bisa merokok, saya bekerja setengah hari di pabrik tas, memasang paku yang diketok palu ke tas-tas itu. Sorenya, langsung dapat gaji. Saya belikan rokok, dan asap pun mengepul.
Setelah tinggal kelas, saya masuk INS Kayutanam, sekolah dengan areal 18 hektar, lengkap dengan asrama, ruang makan, kolam renang dan lapangan sepakbolanya. Merokok tetap dilarang dan kami lakukan sembunyi-sembunyi. Kalau tanggal tua, malah sebatang rokok bisa diisap tiga orang!
Pernah saya melihat ada teman yang mengumpulkan puntung rokok, lalu dilinting dan dibungkus kertas tipis, dan diisap lagi. Persis seperti orang melinting ganja. Itu karena kiriman uang dari orangtuanya belum datang-datang dan di kantin tak dikasih ngutang lagi.
Saat di asrama, saya jadi punya teman akrab karena rokoknya sama-sama Bentoel Biru. Saat kuliah, saya lama sekali mengisap rokok putih Dunhill. Lumayan mahal, tapi saya terdorong untuk cari uang agar bisa beli rokok. Saya kuliah sambil bekerja serabutan. Sehingga, beli rokok sudah tak masalah.
Pada tahun 2003 saya pernah berhasil berhenti merokok selama empat bulan. Saya tidak ingat karena apa. Yang jelas, saya ingin berhenti. Tapi, suatu sore, rumah kontrakan saya dilalap api karena korsleting. Saya stres, lalu merokok lagi. Rokok pun gonta-ganti. Marlboro, lalu Sampoerna, pindah ke LA Light, balik lagi ke Marlboro dan Sampoerna lagi.
Keinginan berhenti merokok tetap ada. Tapi, bagaimana caranya dan kapan memulainya? Saya pernah membeli CD untuk menghipnotis orang agar berhenti merokok. Saya putar sebentar, lalu saya merokok lagi.
Pernah pula saya beli buku saku.Ukuran dan disainnya seperti kotak rokok. Judulnya, baca buku ini dan berhenti merokok.Saya tidak sempat baca semuanya, bukunya saya simpan saja. Dalam beberapa tahun terakhir, saya termasuk rajin check-up kesehatan.
Termasuk memeriksa darah dan jantung. Saya pernah treathmill selama 12 menit. Kata dokter, tak ada masalah. Begitu pula rekam jantung. Hanya saja, belakangan ulu hati terasa sesak, perut kembung dan dada nyeri. Ternyata, itu karena naiknya asam lambung.
Nah, terakhir saya konsultasi dengan dokter Afdalun, spesialis jantung. Saya bertanya cara berhenti merokok. Dokter itu tersenyum. Lalu, ia memberi saya resep. ''Kalau coba obat ini, lama-lama rokok terasa tidak enak,'' katanya. Resep itu saya simpan dan tidak jadi saya tebus. Saya merasa, sehebat apapun obatnya, kalau kita tidak mau berhenti, ya susah.
Malam tanggal 13 April itu, dua bungkus rokok di ruang tamu, berikut korek apinya, saya remas sampai setengah hancur, lalu saya buang jauh-jauh. Saya berhenti merokok,'' kata saya dalam hati. Saat kisah ini saya posting, sudah tiga hari saya berhenti merokok.

Ini lelucon tentang rokok. Seorang lelaki berusia 50 tahun pergi ke dokter. Terjadi dialog seperti berikut:
Dokter: Anda merokok?
Pasien: Oh, tidak, dok.
Dokter: Minum minuman keras?
Pasien: Ah, juga tidak, dok.
Dokter: Main perempuan?
Pasien: Wah, apalagi itu dokter. Nggaklah!
Dokter: Jadi, buat apa lagi Bapak hidup. Tiga itulah kenikmatan dunia.

Lalu, ada kisah seorang lelaki yang batuk-batuk dan sesak nafas, datang berobat ke dokter penyakit dalam. Sambil menulis resep, dokter berkata. ''Bapak tidak boleh merokok lagi,'' katanya. Sebatang rokok terselip di bibirnya dan asapnya berkepulan. Pasien itu heran, lalu bertanya,'' Dokter, Anda melarang saya merokok, tapi Anda sendiri merokok,''sergahnya.
''Nah, itulah beda dokter dan pasien,'' jawab dokter itu kalem.
Saat istri saya melahirkan, saya melihat dokter spesialis kandungan juga merokok sebelum melaksanakan operasi caesar. Alasannya, ia tegang dan stres sehingga merokok.
Jadi, kalau saya berhenti merokok, itu sudah hebat. Kalau saya nanti merokok lagi, maklum sajalah! Yang jelas, saya sudah merasakan salah satu kenikmatan dunia. Bagi yang tidak merokok, cobalah, lalu berhentilah. ***





















Read More......

Doa Wartawan Tua

Inilah salam dan doa dari seorang Rosihan Anwar, wartawan tua yang masih tetap energik, aktif dan tetap menulis. Saya mengutip tulisannya agar menjadi bahan renungan bagi wartawan-wartawan muda, seperti Anda. Selamat membaca.

BERKAITAN dengan telah tiba saatnya kita memasuki Tahun Baru 2008,terimalah salam hormat dari seorang wartawan tua beserta doa. Saya doakan wartawan Indonesia, baik yang sudah memenuhi standardisasi profesional dan kompetensi, maupun yang belum memperolehnya, baik yang sudah mantap maupun yang masih susah agar tetap bekerja sesuai dengan tradisi pers pergerakan nasional pada awal abad ke-20 yaitu melindungi golongan yang lemah dan terjajah, membela rakyat yang dizalimi oleh penguasa, atau dalam bahasa kaum muda sosdem (sosial demokrasi) sekarang agar memihak kaum miskin atau pro-poor.
Dengan begitu, wartawan Indonesia tetap jujur pada dirinya, berbuat benar menaati jati diri dan idealismenya. Kepada sesama anak bangsa, saya sampaikan salam silaturahmi disertai doa semoga kita semua mampu menjaga agar Indonesia tetap jujur terhadap dirinya, mampu menegakkan martabat dan harga dirinya, tidak terombang-ambing di tengah pergolakan globalisasi dunia dan tersihir oleh pengaruh neokapitalisme dan neoliberalisme yang tidak berperikemanusiaan.
Betapa pun sulitnya dirasakan beban tekanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, betapa pun suramnya masa depan, betapa besarnya kekecewaan akibat ketertingggalan Indonesia dari negeri-negeri lain di kawasan Asia Tenggara, namun janganlah lupa berterima kasih tiap hari kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Jika di negara lain di benua lain terdapat peperangan, pengeboman,
pembunuhan, kita di Indonesia relatif masih aman. Oleh karena itu, marilah kita bersyukur tiap kali bangun pagi kepada Tuhan Yang Maha Pelindung.
Banyak generasi muda, kendati telah menyelesaikan studi dan meraih
gelar kesarjanaan, amat sulit memperoleh pekerjaan. Banyak rakyat kita mengalami pengangguran, menghadapi kesukaran di bidang pendidikan, kesehatan dan mereka tidak bisa keluar dari keterpurukan karena pemimpin yang tanpa visi dan tanpa peduli, karena elite dan oligarki politik dan bisnis lebih sibuk dengan kepentingan dan kekuasaannya sendiri ketimbang menolong rakyat yang mayoritas.
Dalam keadaan sulit demikian, kita makin terdorong mendoakan dan mengharapkan supaya anak bangsa mengubah kehidupannya, mentransformasi sikap dan wataknya. Mereka yang terimpit dalam kesakitan agar berusaha bangkit berdiri menjadi insan yang kreatif dan bekerja walaupun di bidang terbatas dan sekecil-kecilnya. Namun, mereka yang di atas memegang kekuasaan berubah menjadi insan yang menaruh welas-asih dan memberikan perhatian kepada keadilan dan kesejahteraan sosial bagi rakyat ini yang telah begitu lama menderita.
Saya doakan agar kita semua punya sikap membantu orang-orang lain. Jangan lupa memuliakan kaum ibu kita, usahakan memberdayakan kaum perempuan supaya mereka lebih tangguh berfungsi sebagai pendidik anak bangsa. Ingat selalu ibu-ibu kita yang selama sembilan bulan mengandung anak mereka, kemudian membesarkan dan mengasuh anak dengan kasih sayang. Kita berutang budi pada mereka. Bantulah mereka.
Saya doakan agar dalam keadaan bagaimanapun juga kita tetap bersikap
positif. Tidak terus mengomel dan mengkritik. Berusaha mengurangi kesenjangan sosial dan melenyapkan kecemburuan sosial. Berusaha bersama-sama mencari cahaya terang di ujung terowongan gelap. Berusaha memperbaiki lingkungan hidup.
Tidak ada yang orisinal, tidak ada yang luar biasa dalam salam dan doa di atas tadi. Saya hanya mengutip filsafat Oprah Winfrey, tokoh media televisi ternama di Amerika, seorang Afro-America, talkshow hostess yang berpengaruh dan berwibawa. Filsafat Oprah dirumuskan dalam kata-katanya sendiri adalah (1) Be true yourself, (2) Be grateful every day, (3) Transform your life, (4) Help others, (5) Stay positive.
Mungkin biasa-biasa saja kedengarannya, tetapi bagi saya cukup mengesankan justru karena biasa-biasa itu, namun mengandung suatu kebenaran yang mendalam. Dengan pengharapan agar bangsa Indonesia dalam tahun 2008 akan lebih baik keadaannya, sekali lagi bersama ini terimalah salam dan doa akhir tahun dari seorang wartawan tua. Semoga Tuhan memberkati kita semua.***

Read More......

Wartawan dan Buku

Amarzan Loebis, wartawan kawakan di mingguan Tempo, pernah berucap,"Jangan menyebut diri sebagai wartawan senior kalau belum pernah menulis buku. Kalau belum menulis buku, istilah yang lebih tepat adalah 'wartawan tua'."

Menulis buku adalah mahkota buat wartawan, begitu Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama pernah mengatakan untuk menyemangati para jurnalis muda. Wartawan senior Kompas JB Kristanto pernah mengatakan lain lagi, "Karier wartawan itu bukan meninggi, tapi meluas dan mendalam."
Mengacu pada ungkapan ini, maka pencapaian seorang jurnalis bukan untuk mengejar posisi sebagai redaktur pelaksana atau pemimpin redaksi, tetapi dari pencapaian jurnalistik untuk suatu bidang tertentu yang dikuasai oleh si wartawan tersebut.
Pernyataan-pernyataan ini patutlah dicamkan dalam-dalam karena dunia jurnalistik sebagai suatu profesi juga harus menunjukkan bahwa memang ada pencapaian tertentu yang bisa menjadi bukti bagaimana para profesionalnya menunjukkan keunggulannya. Kita bisa melihat ada banyak wartawan yang telah puluhan tahun menekuni dunia jurnalistik ini, tetapi sayang, ketika mereka pensiun, tak banyak jejak pengalaman yang
ditinggalkan dalam rupa buku.
Untuk menunjukkan "meluas dan mendalam" wawasan seorang wartawan, maka buku adalah ujud yang paling sah. Wartawan kawakan di Amerika berkaliber pemenang Pulitzer seperti Bob Woodward ataupun David Halberstam tak perlu menjadi seorang pemimpin redaksi atau redaktur pelaksana koran mana pun untuk membuktikan karier jurnalistiknya.Buku-buku yang dihasilkan dua jurnalis ini telah menunjukkan luas dan
dalamnya pengetahuan mereka. Woodward hingga tahun 2004 tercatat telah menulis 12 buku, sementara Halberstam telah menulis 18 buku!
Para jurnalis di Indonesia jangan berkecil hati karena wartawan dari generasi sebelumnya, seperti Adinegoro atau Abdul Rivai, juga telah menorehkan pengetahuan dan pengalamannya dalam rupa buku yang mereka tulis. Adinegoro, misalnya, menulis dua jilid buku Melawat ke Barat (Balai Pustaka, 1931, 1950) yang mungkin menjadi salah satu buku tulisan generasi awal pers Indonesia, atau juga tulisan dari Abdul
Rivai, yang menulis tentang para mahasiswa Indonesia di Belanda.
Para wartawan Indonesia generasi awal umumnya banyak menulis buku, dan utamanya adalah buku-buku pengantar tentang dunia jurnalistik, kewartawanan, ataupun publisistik. Generasi wartawan seperti Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, BM Diah, Wonohito, Djawoto telah menghasilkan karya-karya yang menandai awal mula perkembangan dunia jurnalistik di Indonesia yang mereka pelajari secara otodidak—kecuali Adinegoro yang mungkin menjadi orang Indonesia pertama yang mendapatkan pendidikan
jurnalistik di luar negeri, Jerman.
Sekolah jurnalistik di Indonesia baru muncul tahun 1953, dan wartawan generasi berikut barulah "orang-orang sekolahan", yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Baru pada pertengahan tahun 1980-an perusahaan media mencantumkan syarat "lulus sarjana" kepada para calon reporter baru.
Dalam deretan wartawan masa kini yang menulis buku, kita bisa menyebut di antaranya adalah Bondan Winarno, PK Ojong, Trias Kuncahyono, dan JB Kristanto. Trias Kuncahyono, Redaktur Pelaksana Harian Kompas, misalnya, pada bulan Agustus ini telah mengeluarkan buku ketiganya yang merupakan bagian dari liputannya atas negara-negara di Timur Tengah.
Sementara itu, JB Kristanto menulis sebuah buku sumber berjudul Katalog Film Indonesia 1926-2005 (Nalar, 2005) yang juga menandai suatu pencapaian dari seorang wartawan terhadap bidang liputan yang ia tekuni selama puluhan tahun. Buku ini pertama kali terbit sepuluh tahun lalu, dan kini edisi kedua buku tersebut memperluas serta mengaktualkan data tentang film Indonesia yang terus berkembang.
Secara khusus ada juga daftar para wartawan yang menuliskan perjalanannya ke wilayah-wilayah konflik. Daftar yang pendek itu mencakup karya Kustigar Nadeak & Atmadji (Revolusi Damai, Rekaman Kemelut di Filipina, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta: 1986), Farid Gaban dan Zaim Uchrowi, (Dor! Sarajevo, Sebuah Rekaman Jurnalistik
Nestapa Muslim Bosnia, Mizan, 1993), Satrio Arismunandar (Di Bawah Langit Jerusalem, Yayasan Abu Dzarr Al-Giffari, 1995; Catatan Harian dari Baghdad, Gramedia Pustaka Utama, 1991), Hendro Subroto (Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor-Timur, Sinar Harapan, 1997), Nasir Tamara (Revolusi Iran, Pustaka Sinar Harapan, 1980), Nasir Tamara dan Agnes Samsuri (Perang Iran Perang Irak, 1981), juga Mustafa Abd Rahman, koresponden Kompas yang banyak meliput di wilayah Timur Tengah, dan telah menulis di antaranya, Afganistan di Tengah Arus Perubahan, Laporan Dari Lapangan, 2002.
Sayangnya, wartawati perang Indonesia, Yuli Ismartono, walaupun telah banyak meliput wilayah perang pada dekade 1980-an, tetapi belum menuliskan bukunya sendiri meski ia telah kerap diwawancarai tentang pengalaman perangnya, mulai dari Jurnal Perempuan, majalah Harper's Bazaar, dan juga stasiun televisi CNN. Bagaimanapun, wartawan yang meliput wilayah konflik memiliki banyak cerita yang menarik tentang
negara dan bangsa lain, yang memiliki permasalahan unik di daerah
tersebut.
Bagaimanapun, menulis dalam bentuk buku lebih awet daripada menulis laporan dalam bentuk harian atau mingguan. Buku lebih memberi ruang untuk detail tentang peristiwa yang dilihat dan dialami wartawan, unsur perasaan si wartawan juga kerap muncul dalam tulisan di buku. Semakin banyak wartawan menulis buku, semakin tinggilah prestasi para jurnalis tersebut, dan semakin tinggi pula kredibilitas medianya.

Oleh Ignatius Haryanto Peneliti di LSPP




Read More......

Tuhan Sembilan Senti


* Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok. Dimana-mana, orang merokok. Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok. Dimana-mana, orang merokok. Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok, Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena, Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola “futsal” sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok, Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita, Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Read More......

Tuhan, Malaikat dan Wartawan

SEMUA orang mempunyai pengetahuan tentang hidup.Tapi yang paling tahu hanya tiga, yakni Tuhan, malaikat dan wartawan. Tuhan dan malaikat, mau apa saja biarkan.Tapi
para wartawan, sesekali bolehlah kita perbincangkan. Supaya imbang. Jangan mereka
saja yang tiap hari mempergunjingkan dan menggosipkan orang.


Tetapi perbincangan kita tentang wartawan akan saya bikin sedemikian rupa sehingga timbul kesan bahwa wartawan itu baik, jujur dan pekerja keras. Soalnya Saya sendiri seorang wartawan. Kalau ditengah perbincangan nanti ada perkembangan yang bisa merugikan wartawan, tentu akan saya coba belokkan, atau bahkan saya stop sama sekali. Hanya orang tolol yang memamerkan boroknya sendiri. Hanya manusia dungu yang membuka-buka auratnya di depan orang lain.
Tuhan mengetahui apa saja, malaikat mencatat segala peristiwa, dan wartawan bukan
hanya sekedar tahu ada peristiwa pengguntingan pita. Wartawan bukan hanya sekedar mengerti teknik wawancara yang terencana. Lebih dari itu, wartawan tahu persis jumlah korupsi seorang pejabat.Wartawan tahu tanah yang dikosongkan penduduk itu akan dikapling untuk proyek apa.Wartawan tahu berapa korban yang sebenarnya dalam sebuah letusan peristiwa.Wartawan tahu skneario-skenario apa saja yang disembunyikan dari mata masyarakat.Wartawan tahu berapa lama lagi akan terjadi devaluasi atau kapan persisnya seorang raja akan turun takhta.Dan yang terpenting dari semua itu, wartawan tahu secara mendetail setiap pori tubuh bintang-bintang film tertentu-saya ulangi, bintang-bintang film tertentu-dalam keadaan sangat jujur dan penuh keterbukaan. Foto-foto tubuh yang inocent, tanpa tedeng aling-aling. Baik yang diambil di lokasi alam, di ranjang kamar, diatas wastafel, atau sedang bercengkerama dengan kuda.
Saya buka rahasia yang sebenarnya bukan rahasia ini dengan maksud agar para bintang film lain yang serius berpikir untuk membersihkan citra korps bintang film dari ideologi buka aurat yang makin merajalela. Kalau kelak tak ada lagi wanita yang bersedia difoto dengan pose penuh kejujuran tubuh, terus terang mata pencarian
saya akan jauh berkurang.Tidak apa-apa.Demi masyarakat kita yang beradab, saya rela berkorban. Jer basuki mawabea.Toh saya sudah punya banyak koleksi foto-foto jujur.
Dan lagi aslinya saya bukanlah wartawan porno.
Saya ini wartawan politik. Dulunya, waktu belajar, saya ini wartawan kesenian.Itu paling gampang.Kemudian saya beralih menjadi wartawan bidang kriminal dan hukum.Ada tahun-tahun saya mengkhususkan diri sebagai wartawan KB dan kelompencapir,
namun kemudian saya memilih jadi wartawan politik saja.
Kenapa? Karena dunia politik selalu amat penuh kesopanan dan tata krama. Sangat menyenangkan. Sopa, artinya politik selalu berpakaian rapih, pakai parfum, dan
segala macam kosmetik. Kalau mulut bau karena jarang sikatan bisa pakai alat tertentu sehingga mulut jadi harum. Kalau tubuh berpanu atau berkadas, bisa dilulur sedemikian rupa sehingga kulit menjadi semulus kulit Meryl Streep atau Ida
Iasha. Pokoknya segala cacat bisa ditutupi. Bau mulut politik, bibir politik, telah ditampilkan dengan berbagai macam parfum dan kosmetika politik sehingga lebih indah dari warna aslinya.
Kalau pada suatu hari ada bisul yang meletus, wartawan akan diberi tugas-lewat telepon-untuk menutupi bisul itu dengan block tinta hitam.Kalau tidak, saya akan
kehilangan eksistensi sebagai wartawan, dan sekian ribu karyawan perusahaan kami juga kehilangan kekaryawanannya. Dan anehnya, kalau kita kehilangan pekerjaan, asap dapu kita jadi terancam.Mbok ya ya kalau tidak kerja itu tetap punya duit gitu loch.Ternyata saya ini pada hakikatnya memang kurang sanggup menghargai kesopanan.Oleh semua itu saya tidak kerasan. Saya ingin menjelalajahi dunia yang penuh dengan kejujuran, keterbukaan tanpa tabir, tanpa tedeng aling-aling. Dan itu saya jumpai dalam dunia glamor sebagai artis-artis. Sebagian lho...sebagaian. Dunia dimana kain menjadi sangat mahal, sehingga ada bintang yang hanya mampu membeli celana dalam
dan bra atau bahkan ada yang tidak bisa membeli apa-apa sama sekali.
Memang di negeri yang ber-KeTuhanan Yang Maha Esa ini kita tak mungkin menerbitkan majalah macam Penthouse atau Playboy. Tapi dalang tak pernah kekurangan lakon. Kita tahu bagaimana mem-playboy- kan media massa dengan cara yang lebih canggih. Cover tak usah telanjang betul, asal merangsang, langsung kita bikin judul yang mlayboy: Bukan panjang pendeknya tapi teknik mainnya. " Ternyata, masyarakat umum juga amat mendambakan keterbukaan. Masyarakat benci kemunafikan. Maka media massa yang penuh rahasia-rahasia, laku keras. Ditambah dengan maki bodohnya masyarakat modern, buku dan majalah pun harus mengajari mereka bagaimana cara bersenggama yang baik, bagaimana caranya supaya tidak kecelakaan, bagaimana
melakukan penyelewengan secara canggih dan terjaga efek-efeknya, atau memberi keyakinan kepada pemuda-pemudi bahwa keperawanan bukanlah sesuatu yang mutlak.Dalam
hal ini saya telah mewawancarai sejumlah dokter, psikiater, pedagog, pastor dan Kiai.Orang bahkan penasaran terhadap suatu teori yang menyarankan agar lelaki jangan tergantun pada orgasme. Seorang pakar memberi contoh ada seorang nabi yang sanggup melakukan dua belas kali persenggamaan secara runtut tanpa mengalami orgasme.
Teori ini mengatakan bahwa lelaki harus menang melawan kebutuhan orgasme.lelaki bisa lebih besar dibandingkan dengan orgasme.
Akan tetapi di hari-hari terakhir ini saya di bikin pusing oleh sesuatu hal. liputan-liputan gaya play boy melayu sudah hampir mencapai titik jenuh pasar.Maka pemimpin redaksi saya memberi instruksi agar saya melakukan wawancara langsung dengan mahluk yang bernama seks.Ya, seks itu sendiri.Bukan seorang lelaki bukan seorang wanita.
Kalau mewawancarai presiden atau gubernur, jelas birokrasinya. tapi mewawancarai
seks? Dimana gerangan seks berada? Sudah tiga bulan terus menerus saya melacaknya. Saya sudah capek, sehingga tinggal sisa tenaga sedikit saja untuk melaporkan kepada Anda. Seks itu mahluk ciptaan Tuhan. Sudah pasti.tapi apakah untuk mengetahui seks, saya mesti mempelajari filsafat seks atau seks filosofi? Saya tidak mau dibikin puyeng oleh agama seks atau seks yang religius.Tapi kata para wali dulu, seks
itu memang religius, karena merupakan sendi utama regenerasi sejarah, merupakan
manifestasi dari kerinduan Tuhan itu sendiri.Tuhan menciptakan manusia agar
dipandang, didekati dan dicintai oleh manusia ciptaan-Nya. Seks yang tidak religius hanya terjadi pada manusia yang melakukan seks hanya demi dan untuk kepuasan hewaninya belaka.
Itu betul semua. Tapi mana ada koran bisa laku kalau isinya filsafat dan agama? tidak. Saya tak bakalan mewawancarai seorang filsuf atau pakar agama.Saya, dalam rangka melacak seks, langsung saja berangkat ke lokasi pelacuran. Bursa seks.
Namun, ketika saya tanya tentang seks, pelacur itu menjawab, Wah, saya tidak tahu Mas. Disini saya mencari makan. "Dan para lelaki hidung belang itupun menjawab secara kurang memuaskan."saya memang mencarinya terus dengan jalan bersenggama disini hampir tiap hari.Tapi yang saya jumpai hanya orgasme. Hanya ekstase.Kalau saya ketemu sama seks, untuk apa saya terus-terusan ke pelacur begini??
Kemudian di losmen-losmen penyelewengan alias wisma skandal, dimana mahasiswa-mahasiswi atau pegawai pria dan wanita berseragam suka menyewa kamar satu dua
jam, saya juga memperoleh jawaban yang mengecewakan, "Gini loh, Mas.Kalau Saya sedang sendiri, saya begitu tergoda oleh seks.Tapi kalau sudah berdua di kamar, paling jauh yang saya jumpai adalah diri kami kami sendiri yang berubah
menjelma menjadi kuda atau kera yang bergumul telanjang. Selebihnya, rasa dosa yang kami simpan diam-diam.
Akhirnya, saya pulang dengan putus asa. Saya katakan kepada pemred saya, "Pak, jawaban mereka sangat lucu. Mereka bersenggama, tapi mengaku tak tahu seks.Lha
apa beda antara bersenggama dengan seks?" "Lho sangat berbeda," kata pemred
saya,"Persenggamaan itu sekedar alat, atau cara, atau tarekat, untuk mencari
dan menemukan seks.Seks itu suci. Seks itu tinggi derajatnya.Dan derajat kesucian seks tidak mungkin kamu jumpai di kopel-kopel pelacuran, di losmen penyelewengan
atau wisma skandal, juga tidak di kamar-kamar kost kumpul kebo."
"Ruwet,Pak! kata saya "Karena kamu sukanya bersenggama, tapi salah
paham terhadaps seks. Kamu menyamakan persenggamaan dengan seks seperti menyamakan sembahyang dengan Tuhan, atau perkawinan dengan kebahagian, atau nasi dengan rasa
kenyang. Kalau kamu sudah tiba di kebahagiaan, perkawinan tak dibutuhkan. Kalau
kamu sudah tinggal di Tuhan, kendaraan sembahyang tak diperlukan. Kalau kamu sudah bersemayam di dalam seks, persenggamaan tak dibutuhkan.
"Kalau begitu," kata saya jengkel, "biarlah saya tak pernah tiba pada seks...!"

Cinta kepada harta artinya baqhil,
cinta kepada perempuan artinya alami,
cinta kepada diri artinya bijaksana,
cinta kepada mati artinya hidup
dan cinta kepada Tuhan artinya Taqwa.

Oleh: Emha Ainun Nadjib
Read More......

Wartawan Bodong

CUKUP banyak cap negatif seorang wartawan. Mulai dari wartawan bodrek (bisa bikin sakit kepala?) wartawan tanpa surat kabar (WTS) wartawan gadungan, wartawan bodong, wartawan CNN (cuma nengok-nengok) wartawan tempo (tempo-tempo terbit, tempo-tempo tidak) dan wartawan amplop.

Ada lagi? Kini berkembang pula julukan wartawan copy paste dan wartawan kloning. Atau fotografer bingkai dot.com, yakni setelah jepret sana sini, lalu menjual foto tersebut kepada pengusaha atau pejabat yang terekam dalam foto tersebut.
Kalau di jakarta ada wartawan infotainment, di Batam ada wartawan antar pulau. Maksudnya, ngaku-ngaku wartawan, bikin ulah di Batam, lalu menyeberang ke Tanjungpinang atau Tanjungbalai Karimun. Mereka keliling pulau-pulau di Kepulauan Riau.
Sejak reformasi, koran, majalah dan tabloid serta televisi, tumbuh bak jamur di musim hujan. Akibatnya bisa ditebak. Jumlah wartawan bodong makin banyak. Muncul lebih 2.000 penerbitan. Lalu, satu persatu mati. Tahun 2007, tinggal 826 media cetak. Itupun,hanya 30 persen yang sehat secara bisnis.
Organisasi wartawan pun marak. Sebelumnya hanya ada Persatuan Wartawan Indonesia sebagai wadah tunggal, muncul lebih 40 organisasi wartawan. Sebab,orang bebas bikin koran dan membentuk organisasi wartawan. Tahun 2006, hanya tiga organisasi yang lolos verifikasi Dewan Pers, yakni PWI,AJI dan IJTI.
Jadi, wartawan jadi banyak. Bukan hanya dua seperti Nagabonar. Nah, yang banyak itulah sebagian jadi bodong. Ada karena korannya tutup, tapi masih punya kartu pers, ya ngakunya wartawan. Ada yang dulunya loper, agen, preman, bahkan supir, ngakunya wartawan. Para bodong itu, tidak hanya muncul dari Batam, juga berdatangan dari kota lain. Modalnya, kartu pers dan kartu nama. Kadang dilengkapi dengan surat tugas segala. Kalau ada berita kasus, mereka datang ''menggarap'' narasumber. Muncullah istilah: kapal pecah, hiu kenyang. Wartawan bodong sudah menjadi ikan hiu.
Maraknya wartawan bodong lantaran Batam memang kota ''basah'' dan banyak penyimpangan. Sejumlah pejabat korup, pengusaha hitam jadi sasaran empuk mereka. Malah, mafia-mafia judi, bos-bos hiburan malam dan bisnis lendir, memelihara wartawan bodong dengan cara memberi jatah tiap bulan.
Dengan modal gertak, datang ramai-ramai, mereka bisa dapat uang dengan mudah. Seorang pengusaha Singapura yang marah lantaran difoto tanpa izin, dijadikan bulan-bulanan. Uang yang diberikan pengusaha itu, dibagi ramai-ramai.
Begitu pula pejabat yang dianggap sumber uang. Mereka menyebutnya ''kapal gula.''
Berita sebuah karaoke di Sekupang membuat bosnya resah. Ia minta pada seorang wartawan agar mempertemukan dengan yang menulis berita. Ternyata, lain yang menulis, lain yang dibawa kesana. Keduanya ditraktir habis. Disuguhi minuman, uang dan wanita. Keesokan harinya, datang wartawan yang menulis berita itu. Pengusaha itu pening. Yang mana satu wartawannya?
Ada pula wartawan yang memboking cewek diskotek. Setelah dipakai, wartawan itu tak mau bayar. Malah, ia menakut-nakuti wanita muda itu dan mengeluarkan kartu nama. Jabatannya: Redaktur Pelaksana. Si perempuan,ternyata punya kenalan polisi. Ia melapor dan wartawan itu ditangkap dan dituduh memperkosa.
Di kota seperti Batam, siapa menyangka tercatat 526 orang wartawan. Baik yang beneran maupun yang bodong. Ketika judi ditutup, tempat hiburan makin sepi, wartawan bodong itu secara perlahan, hilang dari peredaran. Apakah yang bukan bodong tidak bermasalah?
Tidak juga. Ada wartawan yang punya media jelas, juga bertindak seperti wartawan bodong. Malah, sawerannya lebih besar. Jadi, ada wartawan baik, tapi bekerja di media yang tidak jelas. Ada media yang mapan, tapi mental wartawannya bobrok. Ya, sama saja.
Alasan klasik minta uang, mau pulang kampung, istri melahirkan, bikin buku, proposal kegiatan, atau menagih uang dari berita yang dikatakan advertorial. ''Dapat untung Rp2 juta sampai Rp5 juta sekali bikin koran, kan lumayan. Pendapatannya dari iklan tembak. Pokoknya, pasang saja, setelah terbit ditagih. Korannya? dibagikan gratis saja.
Namun, meski bodong daya penciuman dan jelajah wartawan bodong ini, hebat juga. Mereka tahu kasus-kasus dan berita panas tentang pejabat dan pengusaha. Masalahnya, borok pejabat seperti korupsi dan punya wanita simpanan, menjadi makanan empuk wartawan bodong.
Wartawan bodong ini sungguh bikin stres. Seorang pejabat humas, sampai mencret tiga hari lantaran ulah wartawan. Saat ia mau turun lift, dicegat empat orang wartawan bodong dan terang-terangan minta uang.
''Saya buka dompet dan bilang, uang saya hanya Rp180 ribu. Eh, bukannya kasihan, mereka malah merampas semua uang saya,'' cerita pejabat humas itu. Ia kapok berurusan dengan wartawan. Ada pejabat yang ketika tahu dipindahkan ke bagian humas, langsung menepuk keningnya sambil berkata,'' Alamak!.''
Biasanya, wartawan bodong ini, bangga jadi wartawan. Kemana-mana, pakai topi atau rompi bertuliskan: PERS dan mangkal berkelompok. Kadang di sebuah warung di Nagoya yang mereka sebut DPR (Di bawah Pohon Rindang) atau di kedai kopi, membahas berbagai isu dan masalah.
Kenapa mereka senang jadi wartawan, meski bodong? Mungkin karena dapat kemudahan tertentu, gampang dapat uang atau amplop, dan bisa dekat dengan pejabat atau pengusaha. Wartawan memang dikenal punya powerfull dan terkesan arogan.
Kadang, sedih juga dengan berbagai julukan miring terhadap wartawan. Padahal, konon dulu wartawan dihormati dan disegani serta dijuluki Ratu Dunia. Selain pintar, mereka berasal dari golongan menengah ke atas. Sekarang, masyarakat malah lebih pintar dari wartawan. Langganan beberapa majalah dan koran, punya uang dan akses terhadap informasi global dan berpendidikan.
Lalu, kita mau bilang apa? Tidak hanya wartawan yang menerima suap dan itupun nilainya relatif kecil. Anggota dewan yang terhormat,jaksa, pejabat juga terlibat korupsi. Benarlah kata proklamator kita. Korupsi di negeri ini sudah membudaya. ***
Read More......

Wartawan dan Perempuan


Ini kisah nyata seorang wartawan. Betapa seorang perempuan, nyaris menghancurkan karirnya, menipunya bertahun-tahun, dengan modus yang langka. Kisah ini ditulis atas seizin wartawan bersangkutan. Namanya disamarkan. Sebut saja sang wartawan Fahri, dan perempuannya Aisha, seperti tokoh dalam film Ayat-Ayat Cinta.


Fahri memulai karirnya di Batam sebagai wartawan. Ia cukup bisa diandalkan. Beritanya sering menjadi headline. Dua tahun bekerja, ia berkenalan dengan seorang gadis di atas kapal, saat ia mudik dan kembali ke Batam. Aisha yang baru berkenalan dengan Fahri, mengaku kecopetan dan kehilangan uang. Fahri datang sebagai dewa penolong.
Singkat cerita, sampai di Batam mereka berpacaran, lalu beberapa bulan kemudian menikah. Sebelumnya, Aisha tinggal bersama orangtuanya di sebuah perkampungan nelayan. Setelah menikah, mereka mengontrak rumah. Berbulan-bulan kemudian, Aisha belum juga hamil. Sementara, Fahri sering pulang malam karena tugas liputan.
Agaknya, Aisha tidak siap menghadapi hari-hari sebagai istri wartawan. Beberapa kali mereka bertengkar. Aisha pergi ke rumah temannya, malah pernah kos di tempat lain.
Mereka sempat pisah ranjang beberapa bulan.
''Ia kembali lagi pada saya. Ternyata, istri saya mengaku hamil tiga bulan,'' kata Fahri. Ia tidak tega menyia-nyiakan sang istri yang sedang mengandung anaknya. Ia menerima istrinya kembali kepadanya. Fahri makin sayang kepada istrinya. Kadang-kadang, ia ikut ke dokter memeriksa kandungan istrinya dan di USG. Tapi, Fahri tidak ikut masuk ke ruang periksa karena ia harus ke kantor.
Karena saya dan Fahri bertetangga, suatu malam istri saya bercerita, ia heran melihat Aisha yang menolak saat ingin mengelus perutnya yang sedang hamil. ''Bang, kok istri Fahri mengelak saat saya mengelus perutnya yang hamil, ya? kata istri saya. Saya langsung menegur,''Ah, tak usahlah ikut campur urusan orang lain,''kata saya.
Fahri dan Aisha yang belakangan juga pindah dan menjadi tetangga saya, akhirnya punya anak perempuan. Di rumah mereka, juga ikut tinggal dua saudara Fahri, satu perempuan dan satunya lelaki. Seperti biasa, karena tuntutan pekerjaan, Fahri sering pergi pagi pulang malam.
Nah, anak pertama mereka lahir saat Fahri sedang di rumah, usai makan sahur. Dengan alasan mau jalan-jalan pagi, Aisha pergi sendiri keluar rumah. Eh, paginya ternyata Aisha mengaku sudah melahirkan dan pergi sendirian ke rumah seorang bidan, sekitar 800 meter dari rumahnya.
Aisha pulang ke rumah membawa bayi yang masih merah, serta pakaian yang masih berlumur darah. Aisha bilang, ia diantar bidan dan bidannya langsung pergi. Fahri percaya saja dengan apa yang disampaikan istrinya. Beberapa hari kemudian, Aisha memperlihatkan akte kelahiran anak itu. ''Saat itu, saya yakin, itu anak saya,''kata Fahri, kepada saya.
Sampai anak tersebut berusia dua tahun, tidak ada masalah. Fahri amat sayang pada anaknya. Setahun kemudian, Aisha kembali melahirkan anak yang kedua. Lagi-lagi, ia melahirkan saat Fahri sedang bekerja dan tidak di rumah. Seperti wanita hamil lainnya, perut Aisha makin lama makin membesar.
Saat acara potong rambut memperingati kelahiran anak keduanya, tetangga di komplek
diundang ke musala. Seperti biasa, Fahri sedang tak di rumah. Aisha menyiapkan nasi kotak, dan keningnya dibubuhi parem, dan perutnya dililit stagen. Acara syukuran itu berjalan lancar, dan tak ada yang curiga, ada yang aneh dengan Aisha.
Sebenarnya, sejak kelahiran anak kedua, Fahri mulai curiga. Sebab, pada hari tertentu, anak tersebut dibawa pergi entah kemana. Aisha beralasan, dibawa ke rumah saudaranya. ''Saya mulai curiga, tapi tidak punya bukti,''kata Fahri.
Kecurigaan Fahri makin bertambah. Sebagai warga di komplek itu, ibu-ibu setiap bulan mengadakan arisan. Setiap bulan, Aisha selalu minta uang Rp500 ribu kepada Fahri untuk bayar arisan. Suatu hari, iseng-iseng Fahri bertanya, berapa uang arisan kepada ibu ketua arisan di komplek itu.
Fahri terkejut, saat diberitahu bahwa arisan hanya Rp50 ribu sebulan, dan itupun sudah berakhir. Ternyata, selama ini istrinya berbohong kepadanya. Bagai dibukakan mata hatinya, kecurigaan Fahri makin menjadi-jadi.
Malam itu juga, ia pergi ke rumah bidan tempat anak pertamanya dilahirkan.
''Jangan-jangan, itu bukan anak saya,'' katanya. Mukanya pucat pasi, saat bidan yang ditanyainya mengaku, anak pertama Fahri yang sudah berusia dua tahun, bukan anak yang dilahirkan istrinya, tapi anak wanita lain!
Anak itu diberikan kepada istrinya, lalu wanita itu pulang ke Jawa. Kepada bidan itu, Aisha beralasan, ia ingin memiliki anak itu, agar Fahri tidak meninggalkannya. ''Saya kira, bapak tahu bahwa anak itu bukan anak bapak,'' kata bidan itu.
Ternyata, anak kedua yang ''dilahirkan'' Aisha, juga bukan anak Fahri. Sukses menipu dengan anak pertama, Aisha kembali menipu Fahri untuk kedua kalinya! Uang arisan dan macam-macam permintaan Aisha kepadanya, diduga dikirimkan kepada orang tua anak itu dan sebagai imbalan setelah anaknya diambil Aisha.
Hebatnya, selama dua kali pura-pura hamil itu, diam-diam Aisha mengganjal perutnya dengan bantal! Itu juga yang dilakukan saat menipu suaminya pada kelahiran pertama. Pantas ia mengelak saat istri saya mau mengelus perutnya, lazimnya wanita hamil.
Pertanyaan yang menggelitik, kenapa Fahri bisa tidak tahu kehamilan istrinya palsu? Apakah mereka tidak berhubungan sebagai suami istri? ''Kami tetap berhubungan saat ia masih hamil muda. Tapi, setelah itu, istri saya seperti sengaja menciptakan konflik sehingga kami tidak jadi berhubungan,'' cerita Fahri.
Ada saja yang dipersoalkan. Mulai dari uang belanja, sampai ke soal pekerjaan Fahri yang menyita waktunya. Belakangan, Fahri baru menyadari, istrinya sengaja menjaga jarak agar mereka tidak berhubungan sebagai suami istri, agar kedoknya tidak terbongkar.

Setelah kebohongan istrinya selama ini terungkap, Fahri marah besar. Sampai hati istrinya sendiri menipunya punya anak dua kali. Pertengkaran pun tak terlelakkan. Saking geramnya, Fahri melaporkan istrinya ke polisi dengan tuduhan penipuan. Aisha masuk penjara. Dengan berbagai rayuan, Aisha memohon-mohon agar dibebaskan dari tahanan. Ia dan keluarganya minta penangguhan penahanan.
Selain kasihan dan permintaan keluarga Aisha, akhirnya Fahri mencabut laporannya ke polisi. Ia berharap, masalahnya selesai dan Aisha tidak lagi mengganggunya. Namun, apa yang terjadi? Aisha melaporkan Fahri kemana-mana. Ia melaporkan Fahri menyia-nyiakannya kepada bosnya di kantor. Tidak itu saja. Aisha juga melapor ke Lembaga Swadaya Masyarakat dan ke Komnas Perempuan, seolah-olah ia wanita yang teraniaya.
Setelah semuanya terungkap, bidan yang menolong persalinan palsu Aisha, juga ketakutan lantaran Fahri mengancam akan melaporkan keterlibatanya ke polisi karena mengeluarkan akte kelahiran palsu. Karena saya Ketua RW, bidan itu juga melaporkan masalah tersebut kepada saya.
Ia meminta, agar saya membantu memberi pengertian kepada Fahri, agar jangan melibatkannya dalam kasus itu. ''Tapi, bagaimanapun secara hukum Anda salah, karena mengeluarkan akte kelahiran palsu,''kata saya.
Tak mau memperpanjang masalah, Fahri akhirnya mencabut laporan ke polisi. Aisha tetap berusaha merongrong dan mengganggu ketenangan Fahri. Ia akhirnya menceraikan istrinya yang tega menipunya selama empat tahun pernikahan mereka.
Dalam sidang, Fahri membeberkan semua kelakuan istrinya. Bagaimana dengan anak mereka? Lantaran terlanjur sayang, Fahri meminta kepada hakim agar anak itu diasuhnya sebagai anaknya sendiri, meski ia tahu, anak itu bukan darah dagingnya. Namun, karena usianya baru dua tahun lebih, hakim menyerahkan anak itu dibawah asuhan Aisha, sampai berusia 18 tahun.
Setelah beberapa kali sidang, hakim memutuskan perceraian mereka. Namun, Fahri masih khawatir, mantan istrinya masih mengganggunya. Ia sempat mengajukan minta pindah tugas ke kota lain. ''Mata hati saya baru terbuka, setelah saya ikut ESQ dan rasanya saat ini saya menjadi lebih tenang,''katanya, setelah bertahun-tahun dibohongi istrinya. Tidak hanya soal dua anak, ternyata istrinya juga berbohong soal pembayaran cicilan uang muka rumah mereka, serta berbagai biaya yang dimintanya selama ini.
Setahun kemudian, Fahri menemukan gadis tambatan hatinya. Mereka kemudian menikah, dan kini dikaruniai seorang bayi perempuan. Bagaimana tanggapan istrinya soal kisah istri pertamanya? ''Dia bilang, kok bisa ya ada wanita yang berbohong dan merekayasa menipu suaminya,'' kata Fahri, mengutip istrinya. Kini, Fahri memetik hikmah dari peristiwa pahit selama empat tahun perkawinannya. ''Mudah-mudahan, kisah saya ini tidak terulang pada orang lain,''katanya. Bagaimana tanggapan Anda? ***
Read More......

Keliling Batam dengan Boat Pancung


Keliling Batam melalui jalan darat naik mobil, atau menyaksikan pulau ini dari pesawat terbang, mungkin sudah biasa. Tapi, mengelilingi dan menjelajah Batam naik boat pancung? Ini mungkin tidak biasa. Itulah yang dilakukan fotografer Batam Pos dan anggota klub fotografi Batam Photo Club. Bagaimana kisahnya?

Seperti apa melihat Batam dari laut dan mengelilingi pulau ini, bagaimana kondisi pantai, hutan bakau dan sebagainya? Pertanyaan itu sudah menggoda saya sejak beberapa tahun lalu. Bak gayung bersambut, ketika Hasan yang biasa membawa koran Batam Pos ke Karimun setiap dinihari,
siap berkeliling Batam dengan boat pancung. Keliling Batam itu dilakukan Sabtu, (5/4) pekan lalu dengan pancung berukuran 7x2 meter.
Beberapa fotografer ikut. Yang lain terpaksa harus jaga gawang di Batam. Ide keliling Batam ini, segera disambut anggota BPC. Tapi, kapasitas boat pancung terbatas. Dari Batam Pos ada Imanuel, Socrates, Yusuf dan Iman Wahyudi. Dari BPC ada Ida Bagus G Mardawa, Ivan Siregar, Norman, Didit, Kim Sun, Melani, Dewi dan Eva serta Khairul dari Kediri. Dua lagi, Hasan pemilik boat dan ABK-nya Ibrahim. Total, 15 orang.
Pukul 07.45 pancung mulai membelah lautan dari pelabuhan Sekupang. Penasaran bercampur rasa ingin tahu, campur aduk. Tak seorangpun tahu, berapa lama perjalanan itu. Kamera disiapkan. Sesekali, pancung bergoyang diterpa gelombang. Kadang memercik dan membasahi penumpang.
Beberapa pengemudi pancung tampak heran menyaksikan rombongan ini. Barangkali dikira turis atau kelompok ekspedisi dari luar negeri. Maklum, semua menenteng kamera dan mengenakan topi lebar. Pancung dengan dua mesin masing-masing 40 PK itu, melewati Tanjungpinggir, Pulau Dongas dan Bakur. Di sebelah kiri, gedung-gedung di Singapura tampak berjejer. Pemandangan alam dan resort, tertata apik di atas bukit di antara rimbunan pepohonan dan hutan bakau.
Satu jam kemudian, pancung berhenti di restoran kosong di Batumerah karena ada tangga dari laut. Peta pun dibuka. Ternyata, tidak satu pun dari kami yang pernah mengelilingi Batam naik boat pancung. Termasuk Hasan dan Ibrahim, meski sudah belasan tahun mengemudi pancung.
Pantas saja, sebelum berangkat, Hasan yang berasal dari Pulau Terong itu minta agar bawa peta. Ia juga menganjurkan bawa jeruk agar tak mabuk laut. Kami juga tidak tahu, berapa lama waktu tempuh mengelilingi Batam.
Dari peta berskala 1:72.000 itu, diperkirakan baru sore hari pulau ini bisa dikelilingi. Garis karvak dibentuk, lalu dikalikan dengan waktu yang sudah dilalui. ''Wah, tampaknya tak cukup satu hari keliling Batam,'' kata seorang fotografer.
Sebuah kapal kecil sandar dekat lampu suar kapal tampak sedang mengevakuasi kapal. ''Di tengah kita ini lokasi kapal tenggelam. Ukurannya cukup besar. Lihat saja luas garis tambang yang melintang memagari lokasi,'' ujar Hasan, pengemudi pancung. Di perairan Tanjungsengkuang, tampak kerusakan pesisir pantai. Pohon bakau tumbuh enggan di antara pemukiman nelayan. Air laut keruh dan berlumpur. Dua alat berat berada di ujung timbunan tanah yang menjorok ke laut.
Terik matahari mulai terasa menyengat. Tiba-tiba, sebuah perahu beratap dikayuh seorang wanita, melintas. ''Suku Laut,'' cetus seorang fotografer. Pancung kami minta berputar, agar bisa memotret. Suaminya keluar dari balik atap dan tampak kurang senang. ''Hei, mana boleh sembarangan?''katanya. Pancung pun segera pergi.
Namun, tak lama kemudian, di sebuah pulau karang, kami melihat ada beberapa perahu suku Laut yang sedang berlabuh. Dari balik pohon, beberapa fotografer membidikkan kamera. Mereka sekeluarga dan berasal dari Pulau Karas.
Pakaian dijemur di atap perahu. Anak-anak mereka bermain dalam perahu, sementara kepala keluarga, pergi ke pulau terdekat mengambil air bersih. Di lambung perahu, tempuling atau tombak ikan terikat kuat. Perahu ini biasanya diikat berantai dengan perahu lainnya. Menandakan suatu kelompok atau keluarga. Beberapa perahu ada juga yang dilengkapi motor tempel.
Motor ini digunakan dalam situasi tertentu, cuaca buruk atau menarik ikan berukuran besar. Konon, suku laut ini paling mahir berburu ikan hiu dan penyu raksasa. ''Kami cuma mau foto-foto,'' kata Hasan kepada kepala keluarga Suku Laut yang datang membawa air. ''Begini pak, kalau mau foto harus bayar asuransi dulu,''katanya. Kami tercengang. Ternyata, asuransi yang dimaksudnya adalah, harus bayar sejumlah uang dulu, baru boleh memotret mereka.
Saat ditanya mereka memasak dan tidur dimana, salah seorang menjawab,''Tidur di perahu,kan tidak mungkin kami tidur di atas air,''katanya. Kami tergelak. Puas memotret, kami pun bergerak.
Menelusuri sepanjang pantai Nongsa, selain sejumlah resort, airnya jernih dan dasar laut tampak jelas. Kawasan ini memang cocok untuk snorkling dan scuba diving. Dua jetski berputar-putar di tengah laut.
Dari Teluk Mata Ikan, pancung terus melewati Batu Besar. Pancung kami minta berlayar 500 meter dari pantai, agar memudahkan memotret kondisi Pulau Batam. Selain nyiur di sepanjang pantai, kami menemukan aktivitas reklamasi yang menjorok ke tengah laut.
Ibrahim yang berada di haluan pancung, memberi tanda dengan lambaian tangan kepada Hasan sebagai tekong, agar mesin pancung tidak menyentuh batu di perairan dangkal. Kami menyaksikan aktivitas PT Citra Tubindo dari laut, melewati Kabil dan masuk ke pelabuhan Telagapunggur.
Rombongan berhenti makan siang di restoran Riverside, Telagapunggur. Ternyata, restoran seafood itu ada dalam peta. Tak terasa, kami sudah mengelilingi separuh Pulau Batam. Semangat yang sempat kendor bangkit lagi. Sudah empat jam kami di laut.
Meski kulit mulai memerah, pancung terus menuju Bagan dan terus ke Tanjungpiayu. Melewati perkampungan nelayan. ''Inilah wajah Batam sesungguhnya,'' kata Ivan Siregar. Air laut yang tenang, kadang-kadang berputar dekat batu karang sehingga pengemudi pancung harus waspada.
Hampir satu jam kemudian, dari kejauhan tampak Jembatan Barelang berdiri kokoh. Beberapa fotografer berdiri sehingga pancung agak oleng. Kalau selama ini memotret jembatan kebanggaan warga Batam itu dari atas, kini kami bisa merekamnya dengan kamera dari bawah.
Kami terus melewati Pulau Akar, Tanjung Gundap dan Dapur Duabelas. Mendekati wilayah Sagulung, pemandangan terasa berbeda lantaran bisa melihat pembuatan kapal tongkang dan perusahaan shipyar. ''Oh, ternyata begini perusahaan perkapalan dilihat dari laut. Selama ini, saya tidak tahu seperti apa di dalamnya,'' kata Dewi, yang bekerja di kawasan industri Tanjunguncang.
Beberapa pekerja perkapalan, melambaikan tangan. Dari Tanjunguncang, pancung terus melaju dengan kekuatan dua mesin menuju Tanjungriau. Kami memang tidak mengitari rangkaian pulau-pulau di Pulau Janda Berhias. Tak terasa, pancung tiba kembali di pelabuhan Sekupang. Enam jam lamanya kami di laut dan merapat pukul 02.00 siang.
Akhirnya, kami berhasil mengelilingi Pulau Batam yang berbentuk kalajengking itu. Ada enam tanjung dan empat teluk yang sudah dilewati. ''Kita berhasil keliling Batam,''cetus Mardawa, senang. Selain mendapatkan berbagai obyek foto, ada kepuasan tersendiri kembali ke titik pemberangkatan dengan selamat.
Rasa senang dan bangga membuncah dalam dada. Bagi sebagian orang mungkin perjalanan ini tampak mudah dan sederhana. Tapi bagi pekerja kantoran yang hobi memotret dan wartawan yang ingin tahu, perjalanan ini sungguh berkesan. Jangan-jangan, kami yang pertama keliling Batam naik boat pancung.
Ada yang mengusulkan, perjalanan berikutnya, selain mengelilingi pulau, juga kemping dan bermalam di sana. Petualangan keliling pulau ini, bisa saja dijadikan obyek wisata seperti Batam explorer atau Batam adventure. Selain memberdayakan obyek wisata pulau, melihat perkampungan nelayan, restoran dan kelong di pinggir laut, Batam akan mendapat pengunjung baru dari wisatawan yang tertarik dengan petualangan tersebut. ***
Read More......

Wartawan dan Amplop


ENTAH sejak kapan, ada istilah wartawan amplop. Padahal, yang satu sebuah profesi, dan satunya kertas pembungkus surat dan kadang-kadang pembungkus uang. Wartawan dan amplop mengindikasikan betapa praktek suap sudah membudaya di negeri ini.
Dulu, saat kuliah saya tidak pernah menerima amplop--maksudnya amplop berisi uang-- malah saya memberi amplop. Saat saya mengurus surat veteran bapak saya agar bisa bebas biaya kuliah, saya lihat orang-orang memberi amplop, setelah suratnya ditandatangani dan distempel.

Saya tidak tahu, berapa saya harus memberi uang bapak petugas administrasi itu. Saya masukkan uang lembaran kertas Rp100 yang berwarna merah itu, lalu saya masukkan ke dalam amplop.Saya agak ragu memberikannya. Sebab, isinya hanya Rp1.000.
Lalu, amplop itu saya lem rapat-rapat. Saya yakin, bapak itu tidak akan membuka amplop di depan saya. Ternyata benar. Urusan saya jadi lancar, saat saya menyodorkan amplop yang kelihatan agak tebal itu kepadanya. Saya tertawa dalam hati, dan menebak apa yang terjadi ketika ia membuka amplop tersebut. Mungkin bapak tua itu menyumpah-nyumpah.
Saya baru menerima amplop setelah jadi wartawan yang diberikan seorang humas. Saya menolak menerimanya. Tapi, ia terus memaksa. Dengan ragu, saya terima amplop itu, lalu saya simpan di bawah tumpukan pakaian di lemari plastik di kamar saya.
Beberapa bulan kemudian, humas itu lagi-lagi memberi saya amplop. Padahal, amplop pertama belum saya buka. Tapi, saya sudah menduga, isinya sejumlah uang. ''Hanya sekedar uang transpor,'' katanya, saat saya menolak. Saat kedua amplop itu saya buka, isinya masing-masing Rp50 ribu. Bagi saya, saat itu nilainya besar, karena honor (gaji?) saya hanya Rp150 ribu.
Dari situ, saya jadi tahu, wartawan menerima amplop. Tak lama kemudian, saya pindah tugas ke Bukittinggi. Saya tidak pernah menerima amplop. Malah, pernah kami diajak meliput ke kota lain dari pagi sampai sore, tidak ada amplop yang dibagikan. Hanya ucapan terima kasih dari humasnya. Saya tidak tahu wartawan lain. Entah karena wartawan baru, atau karena medianya tak begitu berpengaruh, hanya sekali saya menerima amplop. Saat itu, ada konferensi pers bersama Kapolres.
Teman saya, saat membuka amplop tersebut, spontan berkata,''Ha? sudah tiga bulan aku disini, hanya dapat Rp10 ribu,'' katanya. Memang, isi amplop itu masing-masing Rp10 ribu.
Setelah itu, tak pernah lagi saya menerima amplop.
Saat pindah tugas ke Batam, ternyata amplop sudah menjadi sesuatu yang biasa. Baru tiga bulan bertugas, seorang pengusaha bercerita, bahwa ia sudah tak percaya lagi dengan wartawan. Pasalnya, ia pernah dikerjai wartawan lantaran berita yang tidak berimbang. Saya hanya bisa bilang, tidak semua wartawan seperti yang dikiranya.
Ia menyodorkan keputusan pengadilan, soal perseteruannya dengan seorang pengusaha. Sebuah amplop warna coklat yang cukup tebal, juga diberikan kepada saya. Saya menolak amplop itu dan berkata,'' Anda bilang tidak percaya sama wartawan, tapi Anda beri amplop,''kata saya menolak.
Putusan itu saya pelajari. Lalu, karena saya tidak tahu telepon pengusaha lawannya, saya cari alamatnya di buku telepon. Saya disuruh datang. Begitu saya sampai di kantornya, ia meminta tunggu sebentar. Saat ia kembali, pengusaha itu meletakkan segepok uang di atas meja. ''Ini, ambil dan jangan beritakan,''katanya.
Terus terang, saya tergoda. Tapi saya melihat, pengusaha ini terbiasa memberi uang kepada wartawan. ''Terima kasih atas perhatian Anda, tapi saya kesini untuk wawancara,''kata saya.
Mukanya merah padam. ''Jadi, mau diberitakan juga?,''katanya. Ia lalu menyampaikan bantahan soal putusan pengadilan itu.
Lagi-lagi, saat saya pamit, ia memberikan segepok uang itu. Saya bersikukuh menolak. Perseteruan dua pengusaha itu, tetap saya beritakan. Saya merasa, karena saya menulisnya berimbang, mereka tidak menyalahkan saya. Malah, kedua pengusaha itu sampai saat ini menjadi teman saya.
Godaan menjadi wartawan di Batam memang hebat. Apalagi, biaya hidup di kota pulau ini sangat mahal. Tapi, itu bukan alasan wartawan menerima amplop. Ada yang menerima, tentu karena ada yang memberi. Malah, bagi sebagian wartawan, ada istilah ''kapal pecah, hiu kenyang.'' Maksudnya, kalau ada berita miring tentang seorang pengusaha, setelah diberitakan media, mereka beramai-ramai mendatangi pengusaha atau narasumber tersebut.
Tujuannya, meminta uang. Ada yang berpura-pura wawancara mau melanjutkan dan memblow-up kasusnya, ada pula yang menawarkan diri menjadi penghubung atau makelar dengan wartawan dan media yang menulis kasus itu. ''Bapak tenang saja, nanti wartawan itu saya yang ngatur,''katanya. Kapal pecah artinya berita yang meledak dan wartawan bodrek atau bodong itulah hiunya.
Pengalaman saya, saya mendapatkan sesuatu yang lebih tinggi nilainya daripada isi amplop. Misalnya, setelah saya menolak amplop, orang tersebut jadi makin dekat dan jadi sahabat. Ada pula yang selalu rajin memberi informasi, setelah ia tahu, saya bukan wartawan yang mau menggadaikan profesi saya.
Cukup lama saya menjadi wartawan kriminal. Bagi sebagian wartawan, pos kriminal dianggap ''kering'' dari amplop. Apalagi, saban hari memberitakan soal kejahatan. Mana ada penjahat memberi wartawan uang? Berita pejabat pun yang berkasus. Apalagi, bagi wartawan kriminal, kasus adalah berita.
Pernah saya katakan, zaman sekarang orang makin tak tulus dan berpamrih. Kita memberi uang pengemis seratus perak, berharap masuk surga. Apalagi kalau ada yang memberi uang, tentu ia akan berharap sesuatu pula. Kalau pada wartawan, ya agar jangan diberitakan boroknya.
Jika kita kategorikan, setidaknya ada tiga jenis wartawan yang berkaitan dengan amplop. Pertama, wartawan yang mencari amplop. Artinya, ia sengaja mencari korban, pengusaha hitam, pejabat korup dan siapa saja yang bisa digarap sehingga ia memperoleh uang dalam amplop. Biasanya, wartawan bodrek, wartawan tanpa suratkabar (WTS) wartawan bodong, masuk kategori ini.
Kedua, wartawan setengah amplop.Kalau diberi amplop diterima, kalau tidak pun tidak masalah. Kadang-kadang, amplop tersebut tidak berkaitan langsung dengan berita, tapi diberikan pada saat tertentu seperti, menjelang lebaran, atau angpau saat tahun baru.
Ketiga, wartawan yang pernah menerima amplop, lalu bertobat tidak mau lagi menerima amplop. Artinya, pada saat ia menjadi reporter yang harus keluar banyak biaya dengan mobilitas yang tinggi, gaji kecil dan terpaksa ngutang kiri kanan, setelah karirnya meningkat, ia tobat tak mau lagi menerima amplop.
Dan yang keempat, yang tidak menerima amplop. Kode Etik Jurnalistik pasal 6 berbunyi: Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Artinya, segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum. Dan suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau
fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.
Bagi wartawan yang menerima amplop, pembenaran yang dilakukan dengan alasan gaji kecil. Sementara, yang memberi amplop merupakan budaya korup dan mencoba menutupi aib dengan membungkam pers dengan cara ''berbuat baik'' kepada wartawan. Wartawan dan perusahaan media harus diyakinkan bahwa menerima amplop adalah meracuni pikiran. Sebab, dampak amplop itu sendiri, selain sang wartawan ketagihan amplop dan menganggap sebagai sesuatu yang wajar. Independensinya akan melorot dan kualitas media akan menurun karena berita berisi pesan sponsor, corong penguasa dan pengusaha, menurunnya kebenaran universal dan pada akhirnya membohongi pembacanya dengan berita sampah.
Terakhir saya menerima amplop pada saat menjelang Tahun Baru Imlek lalu. Amplop warna putih yang diberikan dua orang wartawan kepada saya, saya buka. Isinya bukan uang. Tapi beberapa amplop kecil berwarna merah yang biasa dijadikan pembungkus angpao. Saya tertegun. Teman pengusaha yang memberi amplop kosong itu seperti meminta saya, agar saya memberi angpau.
Saya ambil kertas, lalu saya masukkan ke amplop merah itu, lalu saya berikan lagi kepada seorang wartawan. Di kertas itu tertulis: Anda belum beruntung! ***
Read More......

Warga Batam Keranjingan Money Game

Ketika bunga deposito turun, ekonomi lesu darah, apa saja bisnis yang bisa berkembang dan menguntungkan? Inilah pertanyaan yang sering menge-muka di kalangan pelaku bisnis di Batam, setelah wait and see menunggu ekonomi membaik. Belakangan, beberapa di antaranya dan warga Batam terjun ke money game, internet marketing atau multi level marketing (MLM). Apa dan bagaimana bisnis money game?

SETUMPUK brosur fotokopian itu, menumpuk di atas mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) sebuah bank di Batam Centre. Isinya, mengajak ber-bisnis dengan mengirim uang ke beberapa nomor rekening tertentu. Tentu saja disertai kisah sukses mereka yang pernah ikut program tersebut dan ha-sil spektakuler yang didapatkan.
Namun, beberapa hari kemudian, tumpukan brosur di mesin ATM itu su-dah tidak ada lagi. Beberapa orang warga yang terpengaruh, mulai mengirim uang ke rekening yang tertera di brosur tersebut, masing-masing Rp80 ribu. Lalu, ia menunggu, saldo di rekeningnya sendiri membengkak secara ajaib. Diduga, ini merupakan praktik money game yang merambah Batam.
Apa itu money game? Bisnis seperti ini juga disebut bisnis piramid atau bisnis penggandaan uang. Agar orang tertarik (siapa yang tidak tertarik dapat uang dalam jumlah besar dalam tempo singkat?) mereka yang bergelut de-ngan bisnis ini menyebut sebagai bisnis MLM. Padahal, ini hanya sebagai kedok agar orang tertarik bergabung.
Pada bisnis MLM biasanya peserta hanya membayar uang pendaftaran reltif kecil atau sekitar Rp150 ribu dan mendapat keuntungan dari penjualan produk. Namun, bisnis money game uang pendaftaran bisa ratusan ribu yang digunakan untuk membayar bonus penghasilan orang yang sudah lebih dulu bergabung. Satu lagi, bisnis money game biasanya tidak memiliki produk yang dijual kepada konsumen. Kalaupun ada, mutunya asal-asalan dan hanya sebagai kedok belaka.
Menurut Safir Senduk, bisnis money game tampaknya bagus bagi mereka yang baru bergabung, tapi tidak bagi yang bergabung belakangan. Biasanya, Anda diminta mencari dua orang untuk disponsori, dan dua orang itu men-cari dua orang lagi, begitu seterusnya. Sebelumnya, Anda diminta menyetor sejumlah uang. Namun, dalam bisnis ini, tidak ada barang yang dijual seperti halnya multi level marketing (MLM).
Bagaimana asal muasal bisnis money game alias bisnis piramid ini ber-kembang? Penemunya disebut-sebut Chaels K Ponzi, seorang imigran Italia yang menetap di Kanada tahun 1903 dan dua kali masuk penjara karena ka-sus pemalsuan dan penipuan.
Tahun 1920 Ponzi mendirikan perusahaan jasa ’’kupon pos’’ di Boston. Dia berhasil meraup 9,5 juta dollar dari 10.000 investor dalam waktu sing-kat, dengan menjual surat perjanjian (promissory notes) “Bayar 55 sen untuk setiap sen, hanya dalam waktu 45 hari.”.
Ponzi kemudian disidangkan dengan tuduhan melakukan penipuan finan-sial. Metodanya dia namakan “buble burst”, dan kemudian kita kenal men-jadi “skema Ponzi”. Ponzi kabur ke Italia menjelang diadili, namun ia di-tangkap lagi dan setelah diekstradisi, ia meninggal tahun 1949. Biaya penguburannya pun dibiayai pemerintah Brasil.
Cerita Ponzi di atas adalah asal mula bisnis money game dan saat ini di-haramkan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri terjadi banyak kasus serupa, dengan mengelabui calon investor bahwa mereka perlu modal untuk bisnis mereka dan menjanjikan keuntungan yang besar dalam waktu singkat.
Di sisi lain, skema Piramid dari sistem Ponzi ini ternyata menarik para pebisnis untuk mengadopsi cara bisnis piramid ini dan kemudian kita kenal dengan Multi Level Marketing. Ini skema piramid yang dimodifikasi, lebih lunak, lebih merata dan diberi aturan, untuk menjadi alat marketing pro-duk/jasa. Skema piramida ini terbukti cukup ampuh untuk memasarkan produk/jasa yang tadinya tidak terkenal sama sekali, untuk langsung meraih pasar dalam waktu singkat, tanpa harus bersusah payah dan keluar biaya iklan di media massa.
Masih ingat kasus PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) enam tahun lalu? Inilah salah satu kasus money game yang mengaku bergerak di bidang agrobisnis (menanam cabai, tomat, jamur, beternak sapi, kambing, cacing, dll) dan mengundang para investor untuk menanamkan modal dengan sistem bagi hasil.
Hebatnya, bisnis money game ini mampu memperdaya 6.800 korban dan menyedot uang mereka Rp500 Miliar. Inilah mega money game yang berhasil mengelabui; mulai dari orang-orang kecil sampai pejabat penting di Indonesia. Tawaran hasil investasinya benar-benar menggiurkan, sebesar 10 % per bulan dari jumlah uang yang ditanamkan. PT QSAR juga mengklaim telah membuka berhektar-hektar perkebunan di Sukabumi dan beberapa tempat lainnya (Bengkulu dan Makasar) serta mempekerjakan 10.000 lebih petani penggarap dan karyawan. Kedok PT QSAR akhirnya terbongkar.
Masih di Jawa Barat, sejumlah investor di Bandung tahun menderita ke-rugian antara Rp400-800 Miliar, setelah tertipu praktek money game ber-kedok bisnis BBM. Kasus yang terungkap sekitar bulan Oktober 2005 ini memiliki pola operasi yang sama serta tipikal korban yang sama seperti kasus-kasus money game sebelumnya.
Praktek money game yang dilakukan PT Cita Hidayat Komunikaputra ini, menjanjikan keuntungan berlipat ganda melebihi batas kewajaran. Kedoknya dengan menjalankan bisnis BBM, penjualan oli berbagai merek serta SPBU.
Kasus money game di Medan lebih gila lagi dan menelan dana triliunan. Adalah PT Banyumas Mulia Abadi (BMA) yang berkedok perusahaan pen-jual celana jins dan kaos. Selain di Medan, perusahaan ini juga bero-perasi di Aceh, Riau, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Saban hari, ratusan orang keluar masuk kantor perusahaan itu. Bagi para nasabah, bukan paket ka-osnya yang dibeli, tapi tawaran kompensasinya yang diincar.
Sekitar 70 paket ditawarkan, di antaranya paket istimewa dengan setoran pertama Rp3,7 juta (pokok Rp3,25 juta plus PPN 12 persen atau Rp390 ribu). Untuk setoran itu peserta mendapat kompensasi 13 kaos @ Rp7.500 (total Rp97,5 ribu), yang bisa diminta barang atau uangnya. Tiap member biasa dikenakan iuran Rp500 ribu sekali masuk, plus wajib membeli minimal empat paket per transaksi. Lalu 23 hari kemudian setoran mereka akan membengkak dan dikembalikan Rp6,5 juta per paket (belum termasuk kaos dan diskon 4 persen).
Berikutnya, paket standar terendah seharga Rp5,04 juta yang akan menjadi Suzuki Tornado GX atau uang sebesar Rp7,7 juta dalam 39 hari kerja. Lalu ada paket termahal seharga Rp565,6 juta untuk mendapatkan Mercedes Benz Elegance atau uang sebesar Rp878 juta.
Dengan kata lain, nasabah dibuat ‘hijau’ matanya dengan tingkat peng-embalian uang sebesar 400-500 persen per tahun! Bandingkan dengan bunga deposito atau tabungan. Tak pelak, tawaran menggiurkan dan digabung de-ngan sistem member get member itu dengan cepat menyebar ke masyarakat.
Apa yang terjadi kemudian? Ratusan nasabah BMA tertipu dan menuntut uang mereka dikembalikan. Dari pendataan komputer, uang nasabah yang tersedot dalam pembelian berbagai paket total mencapai Rp790 Miliar lebih. Untuk pembelanjaan tersebut seharusnya PT BMA menyediakan kompen-sasi laba kepada nasabah sebesar Rp1,3 Triliun. Namun dari hasil pendataan manual (karena tidak semua dana nasabah terinput di komputer), ternyata total pembelian paket oleh para nasabah mencapai Rp2,9 triliun dengan kewajiban kompensasi laba sebesar Rp5,7 triliun!
Money game atau skema piramid bisa berkedok bisnis apa saja. Mulai dari MLM, investasi, agrobisnis, perdagangan barang koleksi, internet mar-keting dan sebagainya. Siapa sih yang tidak tergiur ketika ditawari sebuah peluang bisnis yang dapat memberikan imbal hasil antara 15-20 persen per bulan atau 180-240 persen per tahun?
Apalagi bila pada saat yang sama bank-bank resmi hanya memberikan bunga pada kisaran 5-8 persen per tahun. Sementara, bank yang hanya memberikan bunga sangat kecil dan masih dipotong pajak lagi.
Lalu, bagaimana dengan bisnis piramid online, internet marketing dan sejenisnya yang juga mulai marak belakangan ini? Mari kita periksa sebentar. Seorang warga Batam yang menolak ditulis namanya, kini punya ’’mainan’’ baru yang menghasilkan uang. Ia ikut program investasi swiss-cash.com yang menjanjikan persentase pengembalian bunga menggiurkan. Ia kini asyik berinvestasi melalui situs Swisscash.com. Info ini didapatnya dari temannya di Malaysia. ’’Awalnya saya ragu, apakah ini tipu-tipu atau benar. Malah ada yang menanyakan ke kedutaan Swiss, ternyata perusahaan itu benar-benar ada,’’ katanya berkisah.
Caranya, uang sebesar 1000 Dolar AS dimasukkan ke rekening swisscash melalui bank tertentu. Syaratnya antara lain nomor paspor, alamat email dan nomor handphone.
’’Kita bisa mengecek di email yang sudah diberi ID dan password, baru buka situsnya. Dari situlah tahu kita sudah jadi member. Keuntungan yang diberikan, 3 bulan pertama return (keuntungan) 10 persen. Tiga bulan kedua dapat 15 persen dan tiga bulan ketiga dapat 20 persen dan tiga bulan keempat 25 persen dan tiga bulan kelima 30 persen. Ini karena dihitung lima hari kerja,’’ paparnya.
Keuntungan itu bisa diambil kapan saja, melalui bank mana saja. Namun, setiap transaksi dikenakan biaya 30 dolar AS. ’’Nah, caranya mengambil kontak dulu kawan-kawan lain sehingga biaya administrasi bank bisa dibagi-bagi,’’ujarnya seraya menyebutkan sudah dapat 2000 dolar AS dan duit investasi yang sebelumnya masih ada.
Bisnis online ini juga memberlakukan sistem member get member. Dari satu orang member yang berhasil diperoleh, ia akan langsung mendapat 10 persen dari nilai investasi yang ditanamkan. Namun, ia mengaku, kalaun uang yang ditanamnya melalui internet lenyap lantaran tidak tahu perusahaannya, itu resiko. ’’Ya nggak apa-apa. Kan yang kena tidak hanya saya,’’ katanya, enteng.
Belakangan, bisnis piramid online juga bermunculan di dunia maya alias internet. Setiap anggota atau member diminta membayar 67 dolar AS. Setelah itu, ia berhak merekrut anggota baru, memanfaatkan perpustakaan online, kursus program pensiun dini, memanfaatkan software kalkulator finansial, serta konsultasi melalui internet.
Anggota bisnis ini diiming-iming meraih penghasilan 6.569 dolar AS atau sekitar Rp65 juta sebulan. Dalam sistem ini, member diberi training e-marketing via internet selama 30 hari dan wajib merekrut minimal 4 anggota baru alias downline. Tiap bulan, anggota wajib membayar sekitar Rp1,1 juta selama 18 bulan tanpa berhenti. Biaya tersebut untuk biaya keanggotaan, autoresponder (software penjawab email, dan iklan di internet.
Nah, apabila berhasil merekrut seorang member baru (yang membayar 60 dollar), member ETI langsung mendapat head hunting bonus sebesar 41,50 dollar atau hampir 125 dollar untuk tiga member. Semakin banyak anggota direkrut, semakin besar pula bonus rekrutnya, atau semakin dekat ke arah penghasilan Rp65 juta per bulan yang dibayar melalui kartu ATM (Visa Pay Card).
Alhasil, dalam waktu singkat internet dipenuhi oleh puluhan website yang mengiklankan cara cepat menjadi kaya. Karena internet marketer kede-ngarannya baru dan canggih, tak pelak cukup banyak yang mencoba dan keranjingan.
Di internet, kini juga bertaburan berbagai peluang bisnis, dengan janji memberi penghasilan tak terbatas. ’’Program yang kami tawarkan bukanlah program money game, mlm atau program cepat kaya lainnya, diperlukan usaha dan proses pembelajaran,’’ begitu tertulis di pengantar websitenya.
Materi internet marketing yang diajarkan antara lain, prospek bisnis online, bagaimana menghasilkan uang lewat affiliate marketing dan google adsense, ezine publishing dan sebagainya. Juga diajarkan cara membuat website bagi pemula, panduan meng-upload file ke server, cara membuat Blog yang dilengkapi video training berbahasa indonesia dan lainnya.
Pada akhir penawarannya, ada pesan begini: Tidak ada keharusan untuk bergabung dengan peluang bisnis internet yang kami tawarkan, tetapi jika anda memutuskan - Anda bisa memulai hari ini sekarang juga dengan garansi 10 hari uang kembali 100 % apabila anda tidak puas dengan apa yang kami tawarkan.
Tapi waspadalah! Sifat manusia pada umumnya, yang menginginkan hasil sebesar-besarnya dengan usaha sekecil-kecilnya, atau tanpa usaha sama sekali, selalu dimanfaatkan oleh para penipu. Akibatnya, kekurang waspadaan seperti itu hanya akan membuat orang yang bersangkutan menderita kerugian besar dan menyesal berkepanjangan. Namun, semuanya terserah Anda, sebelum mengambil keputusan. Sebab, dalam bisnis, ada tipi-kal konservatif yang selalu berhati-hati, tipe moderat dan tipe risk taker alias berani mengambil resiko. Anda termasuk yang mana? ***

Read More......

Tragedi Kota Tambang yang Terbuang

''Tanah air tinggal airnya,
Kolong berserakan.
Singapura Timbul
Singkep tenggelam....''

KALIMAT di atas bukan puisi. Tetapi jeritan hati warga Pulau Singkep. Dampak ekologi, sosial ekonomi dan perubahan yang terjadi pulau Singkep memang luar biasa. Socrates menuliskan reportasenya setelah menyusuri pulau paling ujung di Selatan Kepulauan Riau itu.

Pulau Singkep dalam pelajaran ilmu bumi anak sekolah dasar dulunya, namanya memang kesohor sebagai daerah penghasil timah. Sebab, di Indonesia hanya ada tiga pulau penghasil timah yaitu Bangka, Belitung dan Singkep.
Tapi, kini pelajaran itu harus diganti. Sebab, Pulau Singkep kini, bukan lagi penghasil timah. Pulau itu kini terlantar dan sudah ditinggalkan, dengan mengalami kerusakan lingkungan yang hebat dan perubahan sosial yang dashyat. Pulau yang berbentuk teko itu, yang dikuras isi perutnya lebih dari 150 tahun, kini menjadi pulau yang paling baik untuk bahan studi tentang ekologi, atau bahan renungan tentang tragedi sebuah kota tambang.
Tidak percaya? Silakan datang ke pulau ini. Akan segera dapat disaksikan bagaimana Singkep seolah tercabik-cabik dan terkoyak-koyak. Ratusan lubang bekas tambang timah menganga. Dan kini masih ditambah dengan lubang-lubang baru, bekas kerukan penambangan pasir untuk ekspor.(boleh dicatat: Kalau tambang timah, timahnya diambil, tapi pasirnya ditinggalkan, sehingga dapat menimbun kembali lubang yang
menganga. Tapi kalau penambangan pasir untuk ekspor, yang tinggal hanya kolong yang menganga seperti mulut singa-- walau pun kemudian ada upaya untuk menimbunnya kembali melalui program reklamasi).
Sementara hutan-hutannya sudah hampir gundul. Bahkan hutan lindung pun digasak oleh belasan kilang papan dan perusahaan penambangan pasir. Kondisi Singkep hari-hari ini, sebagai akibat kealpaan dan ketidakacuhan semua pihak dalam menangani jatuh bangunnya sebuah daerah pertambangan. ''Kami semua terlena. Tak ingat
bahwa timah itu bisa habis dan tanah itu bisa dijual ke luar negeri,'' keluh dan sesal seorang tokoh masyarakat di sana.
Ya, terlena, karena sejarah timah di Singkep,memang bukan sejarah pendek. Sekitar dua abad lalu, masa Sultan Lingga di Kota Daik berkuasa, timah sudah didulang secara tradisional. Perusahaan Belanda Singkep Tin Maatschaappij(SITEM) pada tahun 1934 menggarapnya secara besar-besaran. Tahun 1959, penambangan timah pun diambil alih pemerintah sampai akhirnya pulau itu ditinggalkan di awal tahun 90-an.
Sejarah panjang ini, membuat warga Singkep sudah sehati dengan timah. Biji timah membuat mereka hidup penuh kelimpahmewahan. Kota Dabo menjadi salah satu kota paling maju di Riau, bahkan lebih maju dari Tanjung Pinang, ibukota kabupatennya. Belum lagi kehidupan warga yang dapat menikmati langsung rezeki timah sebagai karyawan. ''Semua orangtua ingin bermenantu karyawan UPTS,'' kenang seorang pemuka Singkep.
Tapi, kini timah pula yang membuat mereka terpuruk dalam penderitaan berkepanjangan. Apalagi setelah era timah berakhir, ternyata perusahaan penambangan pasir ekspor dan kayu, juga membuat hati mereka luka dan berdarah.
''Lihatlah Singkep, seperti negeri dilanggar burung Garuda,'' kata mereka pahit.
Tahun 1985, merupakan tahun dimulainya kepedihan itu. Ketika itu terjadilah apa yang disebut tin crash atau malapetaka timah, yang ditandai dengan ambruknya harga timah di pasaran dunia. Harga timah anjlok dari 16.000 Dolar AS menjadi 8.000 Dolar AS per metrik ton.
Kemerosotan harga itu, membuat usaha penambangan, khususnya di Singkep menjadi lesu. Eksplorasi berkurang, laba menurun, dan mulailah dampak atas karyawan terasa. Pemutusan hubungan kerja dan lainnya. Seiring itu pula, penambangan timah di Singkep yang diusahakan. Semua akitifitas dipindahkannya ke Karimun dan Kundur.
Perubahan drastis langsung menerpa mereka yang mengantungkan hidupnya pada PT Timah. Berangsur-angsur, 2.400 karyawannya diberhentikan dan diberi ''uang tolak'' alias pesangon. Sebagian yang diberhentikan, pindah dari sana. Yang tak di-pehaka, pindah ke lokasi tambang lain di Bangka, Tanjung Batu dan Tanjungbalai, Karimun. Pulau Singkep, dan khususnya Kota Dabo mulai terjerembab.
Warganya mulai hengkang, terutama kalangan usahawan, banyak yang pindah ke Tanjungpinang atau Batam. Anak-anak mudanya berhamburan merantau, mencari pekerjaan. Akibatnya, Dabo Singkep jadi sepi. Wajah pulau seluas 829 km2 pun kusut masai dan porak poranda. Ratusan lubang yang menganga bekas tambang timah yang bertebaran di seantero Pulau Singkep yang dalamnya belasan meter, seperti nyanyian bisu dan pedih. Kolong-kolong yang menyerupai danau itu menjadi sarang empuk nyamuk anopheles,
penyebar malaria. Dan jika melihat Singkep dari udara, seakan pulau ini telah disayat-sayat dan dikoyak-koyak.
Rumah berarsitektur khas Belanda yang dulu ditempati para petinggi UPTS (Unit Penambangan Timah Singkep) yang menjadi ciri khas dan kebanggaan kota itu (karena terletak indah di atas bukit dilindungi pohon pisang kipas dan pohon rindang), kini sebagian sudah dijual dengan harga murah kepada yang mau membeli, dan kebanyakan eks karyawan UPTS dan pejabat setempat.
Sebuah bank dengan kantor lumayan megah, kini sudah tutup. Memang ada bank, tetapi statusnya berganti dengan kantor unit. Kantor-kantor bekas PT Timah kosong melompong. Gudang-gudang bengkel yang terlantar, ditumbuhi semak belukar. Lapangan terbang hanya sesekali disinggahi pesawat udara. Ruko-ruko yang berjejer di jalan
utamanya, boleh dihitung dengan jari yang masih buka dan diusahakan. Pukul lima sore, semuanya sudah tutup.
Sebuah rumah sakit yang cukup besar, yang dulunya punya perlengkapan yang canggih, kini tinggal mimpi. Bangunannya kini ditempati untuk puskesmas, namun peralatan kedokteran, seperti alat deteksi jantung dan perangkat operasi lainnya, tak ada lagi. Akibatnya, kalau ada pasien yang sakit berat terpaksa dikirim ke Tanjungpinang. Banyak yang tak mampu, karena jauh dan mahal biaya perjalanannya. ''Banyak yang mati di perjalanan,'' kata beberapa warga setempat.
Maka, tidak heran, kalau penduduk pelan-pelan menyusut. Pada tahun 1990, penduduk Singkep masih tercatat 39.000 jiwa. Lima tahun kemudian, tinggal 21.000 jiwa saja. Meskipun sekarang ada kecenderungan naik kembali, tetapi statistik tahun 1997 baru sekitar 35.000 jiwa.
Murjani Lelek, mantan pejabat Lingkungan Hidup PT Timah, yang kini menjadi ketua
persatuan mantan karyawan UPTS mengakui bahwa sendi-sendi sosial ekonomi warga terimbas langsung akibat perginya PT Timah dari Singkep. Terjadi kejutan kultural yang cukup keras pada warga. ''Mereka yang dulu berkehidupan serba wah, kini dihadapkan dengan kenyataan hidup yang keras. Karena terbiasa manja, warga kaget dengan perubahan itu,'' ujarnya.
Achmad Saleh (54) pegawai negeri sipil (PNS) di Dabo Singkep mengatakan, di masa jayanya, banyak PNS yang minder. Soalnya selain gaji besar, karyawan PT Timah mendapat segudang fasilitas. ''Kini mereka gigit jari,'' katanya sambil memasukkan telunjuknya di sela-sela giginya.
Sedangkan Erwin (24) putra Singkep mahasiswa Akademi Maritim di Yogyakarta mengatakan, banyak anak muda yang putus sekolah lantaran orang tuanya ''terpelanting'' dari PT Timah. ''Yang tak tahan dengan perubahan, keluarganya
berantakan. Ada yang bermabuk-mabukan, stres dan main judi sie jie,'' tuturnya miris.
Saat malam merambat, Dabo Singkep sunyi senyap. Pukul delapan, jalanan sudah sunyi senyap. Lampu jalan yang dulu gemerlapan dengan neon berwarna kuning, kini malap. Taman seni kebanggaan warga setempat, kini jadi tempat buang air seni. Wisma PT Timah yang lumayan megah, disulap jadi tempat karaoke. ''Kalau malam Minggu, kami turun (ajojing) sampai pagi,'' ungkap seorang cewek berpakaian seksi. Kini, tak sulit memboking cewek, karena banyak yang ingin cepat dapat uang. ''Boleh
pesan pak,'' bisik seorang tukang ojek yang mangkal di dekat Wisma Gapura Singkep, sebuah hotel kecil dengan tarif paling mahal Rp50.000 (konon inilah hotel terbaik di sana saat itu).
Pantai Batu Berdaun, yang dulu jadi pantai wisata, kini terlantar. Restoran makan lautnya sudah roboh dan tenggelam ke dalam danau. Jalan-jalan berlobang dan berdebu. ''Mobil penumpangnya mobil tahun 60-an. Pintunya saja tak bisa ditutup,'' sebut seorang tamu hotel.
Tragis, memang. Tapi inilah tragedi sebuah kota tambang yang kemudian nyaris terbuang.


Daun pun Berubah Jadi Putih Kelabu

Tambang timah tak ada lagi. Dabo Singkep seolah terjaga dari mimpi. Mimpi itu jadi kenyataan buruk setelah tak lama kemudian, pasir pun dikeruk. Pulau Singkep seperti dikelupas dan diobrak -abrik. Kolong-kolong makin menganga. Tanah menjadi danau yang sambung menyambung. Berikut lanjutan laporan Socrates yang meninjau pulau tersebut ini.
Di Dusun Pengambil Desa Kuala Raya, pasirnya diambil dan membuat pengusaha kaya raya. Sedikitnya, ada enam perusahaan pengeruk pasir beroperasi di sini. Truk-truk pengangkut pasir menderu-deru menyisakan abu berwarna kelabu.
Guratan kemiskinan sangat kentara dalam kehidupan warga Pengambil. Rumah semi permanen hanya satu-satu. Selebihnya, didominasi rumah panggung beratap rumbia dan berdinding papan seadanya. Tak tampak warga menikmati kekayaan negerinya berupa timah, kayu dan pasir. Mayoritas warga bekerja sebagai nelayan.
Berkubik-kubik pasir digali setiap hari. Caranya, dengan sistem bor yang disebut warga dengan ''tembak''. Dengan menggunakan mesin press dan alat yang disebut monitor, pasir diisap dan dialirkan ke bak pencucian. ''Katanya kedalamannya hanya 4-6 meter, kadang bisa lebih,'' ungkap seorang warga.
Danau-danau atau kolong makin menganga lebar. Daun pepohonan berubah warna menjadi putih kelabu tersiram debu. ''Kalau ada pejabat yang datang, debu di jalan disirami,'' ujar warga tersebut. Sisa pencurian pasir yang bercampur lumpur, mengalir lewat sungai ke muara. Akibatnya, pantai menjadi kian dangkal. ''Dulu
lumpurnya hanya semata kaki, kini sudah mencapai sepinggang orang dewasa. Jangankan mendapat kepah (kerang), kulitnya saja tak ada lagi,'' kata Rahman, warga desa Pengambil.
Bahkan dampak limbah lumpur itu menghantam jauh ke tengahlaut, dan menerpa laut tempat kelong-kelong (bagan) nelayan yang ada tak jauh di perairan itu, seperti di sekitar Pulau Berlas. Hasil tangkapan nelayan terus menyusut.
Meski beroperasi di dusun mereka, tidak mudah bagi warga setempat bekerja di sana. Sebab, selain tidak banyak butuh tenaga, perusahaan pasir itu lebih memprioritaskan orang sendiri. ''Melamar menjadi supir saja susahnya setengah
mati. Malah, ada yang dipecat dengan alasan proyek selesai. Ternyata mereka pindah ke lokasi lain,'' ujar Julizar, pemuda setempat.
Menurut warga yang bekerja di perusahaan pasir itu, pasir yang dikeruk dan
dijual ke Singapura memang tidak tanggung-tanggung. Sebuah perusahaan tambang
pasir mendapat lahan 50 hektar. Maka, tidak heran kalau lubang bekas galian pasir menganga lebar. Ganti rugi tanah penduduk yang digarap perusahaan penambangan pasir hanya Rp200 per meter. ''Kami disuruh tandatangani surat pernyataan ganti rugi tanah,'' tutur warga Pengambil.
Hitung-hitung, satu buah kapal tongkang yang mengangkut pasir untuk dijual di Singapura, bermuatan 320 sampai 350 truk pasir. dalam satu truk, berisi 7 m3 pasir. dalam sebulan, ada sekitar 14 trip tug boat yang berlayar mengangkuti pasir. ''Manifes pelayaran pengangkutan pasir hanya 12.000 m3. Namun yang diangkut mencapai 20.000 m3,'' ujar warga tersebut.
Warga menduga, meskipun kecil, pasir yang dikeruk masih mengandung timah. tambang terbuka tak bisa ditutup seluruhnya. PT Timah menggunakan pola gali tiga, tutup dua. Kalau tambang pasir, dengan apa mau ditutup lubangnya. ''Dengan kedalaman 10-15 meter timahnya terbawa, Singapura kan nggak bodoh,'' kata Murjani, mantan karyawan timah yang banyak pengalaman menangani lingkungan penambangan timah.
Laut dan muara sungai tercemar oleh limbah pasir. Pantai menjadi dangkal, dampak paling teruk dirasakan oleh nelayan. Padahal, hanya pada musim Selatan nelayan bisa melaut. Di Dusun Pasir putih Desa Marok Tua, bakal berdiri pula perusahaan penambangan pasir. Di sekitar perairan desa paling ujung di Singkep itu, sudah
diberi pembatas dan akan dikeruk untuk memudahkan dilewati tug boat.
Pulau Lalang merupakan ''lumbung ikan'' bagi nelayan. Kini, pulau tersebut terancam akan ditinggalkan ikan, jika limbah tambang pasir akan menyebar ke sana. Tetap saja nelayan yang merasakan akibatnya. Namun mereka tak tahu harus berbuat apa.
Konon, industri pasir dilakukan sebagai industri pemancing di Singkep paska timah. Maksudnya, agar kelak ada investor lain yang mau masuk ke sana. Misalnya, kelak bekas kolong yang menganga itu dapat dijadikan tempat memancing dan disekitarnya akan dibangun hotel. Namun sampai saat ini, baru sebatas rencana. ''Yang terjadi, umpan habis ikan pun tak dapat,'' kata Mustafa, seorang pengusaha di sana.
Tak hanya pasir, kayu-kayu pun dirambah. Belasan kilang papan beroperasi di Pulau
Singkep. Tersebar di berbagai desa. Dua di antara kilang papan itu bermarkas di hulu sungai Marok Tua. Diduga, kayu-kayu di hutan lindung Gunung Lanjut dan Gunung Muncung, ikut dibabat. ''Padahal, di situ ada sumber air minum yang bernama Air Gemuruh,'' papar Murjani, prihatin. Jadi, tidak aneh kalau warga mulai kesulitan air
bersih.
Masyarakat di sekitar lokasi penambangan pasir bukan tidak berusaha memaksa perusahaan untuk memperhatikan pencemaran. Bahkan di Desa Pengambil dan Raya, mereka pernah berunjuk rasa. Ratusan orang datang mendesak perusahaan agar menghentikan penambangan yang merusak sumber usaha mereka. Pihak perusahaan menanggapi, dengan antara lain memberi uang kompensasi. Tiap warga yang ada di sekitar lokasi mendapat dana sekitar Rp250.000 sebagai uang prihatin. Tetapi, uang secuil itu kemudian habis. Singkep kini, memang bak kata pepatah. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Sikap Apatis dan Mendua

Meratapi dampak kerusakan lingkungan dan perubahan sosial yang terjadi di Pulau Singkep, boleh dikata tak ada gunanya. yang diperlukan saat ini adalah solusi untuk memberdayakan masyarakatnya. Perlu kesungguhan untuk menyuguhkan sesuatu
pada warga yang sudah terpuruk dan apatis itu, untuk mengangkat derajat kehidupan mereka, menggairahkan kembali semangat dan harapan mereka. ''Agar kami ini merasa seperti daerah yang terlantar dan ditinggalkan,'' kata mereka.
Memang berat. Sebab, sekalipun penduduknya masih di bawah 50 ribu jiwa, namun Singkep mempunyai wilayah yang cukup luas. Di kecamatan ini, sekarang terdapat satu kelurahan dan sembilan desa. Kelurahan Dabo, Desa Kuala Raya, Bakong, Sungai Buluh, Posek, Marok Kecil, Kota Marok Tua, lanjut dan Desa Berindat. Dengan Desa Kuala Raya sebagai kecamatan persiapan dan di sini terdapat kantor Perwakilan Kecamatan
Singkep.
Sekarang ini, selain Dabo Singkep yang relatif maju, kemiskinan, kertepencilan, begitu akrab di desa-desa lainnya. Tampaknya, tidak terlalu banyak desa yang secara langsung kecipratan rezekitimah selama masa eksploitasi lebih dari 150 tahun itu, kecuali desa Kuala raya, Lanjut , Berindat. Apalagi, dari rezeki penambangan pasir dan kayu, serta hasil alamnya.
Tampaknya, setelah PT Timah angkat kaki, Singkep memang benar-benar terpuruk, dan berkembang secara apa adanya. Tanpa pola pembangunan yang jelas, tanpa landasan pembangunan yang jelas tanpa landasan ekonomi yang kukuh. Istilah warga dan pemuka di sana, Singkep menjadi daerah yang meraba-raba. Perikanan potensial, tetapi laut
sekitarnya sudah punah ranah, Baik oleh akibat polusi penambangan pasir maupun akibat penghancuran batu karang oleh ratusan masyarakat.
Hutan dan industri ikutannya juga demikian. Singkep sudah menjadi belukar dan sumber kayunya sudah ditebang dengan serampangan sehingga menjadi sumber kerusakan air dan pendangkalan sungai-sungainya. Tanaman keras, seperti karet dan kelapa, sejak lama ditinggalkan, karena hempasan harga. Sedangkan jenis tanaman lain seperti kelapa sawit, coklat, atau merica. ''Baru kabar anginnya saja, realisasinya entah
kapan,'' keluh warga.
Ungkapan apatis ini, bisa dimaklumi. Sebab setelah dulu merasa dimanja oleh rahmat timah, dan dapat menikmati kehidupan modern jauh lebih cepat dari daerah lain di Riau, seperti melimpah ruahnya listrik, air bersih, bahan makanan, fasilitas kesehatan dan penidikan, serta kemajuan olahraga (siapa di Riau yang tak gentar
dengan tim tenis Singkep atau sepak bolanya, atau tim bola volinya) tiba-tiba kini menjadi daerah yang nyaris terbelakang, maka luapan rasa tak puas itu mengepul begitu deras.
Lihat, bagaimana respon mereka terhadap peran serta para pengusaha penambangan pasir atau hutan. Di desa Pengambil misalnya, nada marah dan geram nyaris muncul dari tiap mulut warganya. ''Tak usahkan seperti PT Timah mau membangun sekolah atau rumah sakit. Membantu membangun masjid saja mereka tak mau. Tak usahkan masjid, minyak untuk bahan bakar lampu colok di malam-malam Ramadan saja, mereka tak
mau membantu!'' hujat beberapa warga Desa Pengambil. Para pengusaha itu baru
terbirit-birit berbuat baik kalau ada kunjungan pejabat tingkat I atau anggota DPRD, atau pejabat lain. Setelah itu, kanal-kanal limbah mereka buka kembali, dan sungai Gelema (salah satu anak sungai di sana) pun butek bagai susu dan membunuh semua biota laut yang ada di dalamnya.
Itu baru soal lingkungan, soal sosial. Belum lagi kesempatan kerja untuk masyarakat setempat. ''Bayangkan saja Pak,'' cerita mereka, ''Supir truk saja mereka datangkan dari Bangka dan Belitung,''keluh warga Pengambil itu lagi. Menurut mereka, perusahaan penambangan pasir di sana, namanya saja milik pengusaha Indonesia yang berkedudukan di Tanjungpinang atau Pekanbaru. ''Tapi semua diatur oleh pemilik
modalnya orang Singapura, melalui kaki tangannya yang ada di lokasi,'' lanjut mereka.
Untunglah, setahun terakhir ini ada gairah baru di sana. terutama untuk mobilitas usaha masyarakat. Ini tidak lain berkat adanya upaya membuka isolasi antar desa di sana dengan membangun jaringan jalan aspal yang baru (harap dicatat: jalan aspal buat warga Singkep sudah dikenal 100 tahun lalu di zaman rahmat Timah. Cuma setelah timah pergi, jalannya jadi compang camping dan bagai kubangan kerbau).
Seperti dari Jagoh, pelabuhan kapal feri, ke Sungai Buluh, Pengambil, Kuala Raya, terus ke Dabo. Atau jalan lama dari Jagoh ke kota, Lanjut dan terus ke Dabo, sehingga urat nadi ekonomi mulai berdenyut. Para pedagang ikan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari mulai mudah ke mana-mana, dan harga tidak lagi terlalu
mencekik leher masyarakat. ''Sekarang ini, di tengah krisis ekonomi, kami bisa hidup dari hasil penjualan ikan dan bahan pangan tidak terlalu tinggi,''kata beberapa warga desa Kuala Raya.
Tetapi, kehidupan masayrakat secara umum, benar-benar masih banyak yang terpuruk.
Tampaknya kebijakan Pemda yang membiarkan usaha merobek-robek punggung Singkep untuk penambangan pasir dan merambah hutan untuk industri kayu,bukan merupakan solusi yang tepat. Bahkan cenderung makin menghancurkan hari depan pulau itu. Lalu, bagaimana?
Jauh hari sebelum PT Timah angkat kaki, semasa Ir AE Batubara menjabat sebagai Kepala Unit Penambangan Timah Singkep, pernah ada gagasan untuk mengembangkan Singkep sebagai sentra perkebunan. AE Batubara seakan menyampaikan pesan penuh isyarat, kemungkinan cadangan timah habis atau stop sama sekali lantaran harganya anjlok, dan menawarkan alternatif perkebunan sebagai jalan keluar. ''Kalau timah habis, ada sawit atau tanaman keras lainnya sebagai alternatif.''
Seperti yang diceritakan Murjani Lelek, seorang mantan karyawan UPTS mengutip Batubara, kemudian merancang satu paket proyek perkebunan sawit yang dianggarkan akan menelan biaya sekitar Rp15 miliar yang dananya dari PT Timah sendiri. Pulau Singkep dinilai selain cocok untuk kebun kelapa sawit, juga untuk coklat, cengkih, dan merica (lada hitam), di samping tanaman keras tradisional yang sudah dikenal di
sana yaitu karet dan kelapa. Namun proyek senilai Rp15 miliar itu gagal menyusul
ditariknya Batubara. ''Penanaman kelapa sawit sudah dimulai di Marinip dan Suar Bandung, tapi gagal lantaran kesulitan pupuk,'' kenang Murjani.
Batubara juga mencoba gagasan lain, yaitu upaya pemulihan lahan bekas penambangan dengan melakukan reklamasi. Reklamasi lahan, ujar Murjani, pernah dilakukan melalui kebun percobaan bekerjasama dengan Litbang Departemen pertanian Bogor. hasil survei menunjukkan, tanah di Pulau Singkep yang berjenis Alluvial, Regasal, Hydromorp kelabu dan Podsolik merah kuning dapat dipulihkan melalui program tanaman perkebunan.
Memang, kebun percobaan itu tidak terlalu berhasil, karena memang tidak ada yang
mengurusnya. Tetapi, program pemulihan lingkungan oleh masyarakat sendiri, dengan
mengambil konsep kebun percobaan, dengan membuat pemukiman baru dan menanaminya ternyata berhasil. Seperti di Bukit Kabung, Sergang, Tanah Putih, Pasir Kuning dan lainnya. Upaya Batubara, kabarnya juga dilakukan untuk pemanfaatan bekas kolong-kolong untuk budi daya ikan, seperti sepat, nila, dan lainnya dengan kerjasama Universitas Riau (Unri), meskipun hasilnya hampir sama. Secara teknis berhasil,
tetapi kemudian tidak terurus dan tidak pernah dikembangkan lagi.
Itulah sebabnya, ketika PT Timah angkat kaki dan kemudian menghibahkan dana sekitar Rp1 miliar untuk memperbaiki kehidupan pulau itu yang oleh warga Dabo Singkep disebut ''dana pampasan'' banyak pihak yang menyarankan agar dana itu dikonsentrasikan ke pembangunan sektor perkebunan dalam skala kecil, tetapi melibatkan banyak masyarakat. ''Paling tidak Rp1 miliar itu bisa jadi modal selebihnya diusahakan dana dari perbankan,'' kata mereka yang disuarakan melalui beberapa tokoh LSM (lembaga swadaya masyarakat) Singkep.
Tapi, tampaknya para pejabat daerah di Tanjungpinang dan Pekanbaru lebih suka berpikir pendek dan menggunakan dana itu untuk membangun berbagai prasarana, seperti pelabuhan atau lainnya. Bahkan konon dibeli juga untuk tempat-tempat sampah. Memang ada dampak positifnya, seperti pelabuhan Jagoh yang kini menjadi pelabuhan andalan karena pelabuhan Dabo dalam pembangunan baru. Tetapi tak mampu memberi arah kepada kehidupan pulau itu di masa depan.
Belakangan, kabarnya muncul kembali upaya untuk menjadikan Singkep sebagai daerah
perkebunan, khususnya sawit dan coklat. ''Kabarnya grup Surya Dumai sudah berminat dan survey,'' cerita seorang kepala desa gembira. Kalau benar, katanya lagi, dan kelak dengan pola PIR misalnya ini akan memberi harapan. ''Paling tidak, mau jadi apa Singkep ini, lebih jelas,'' tukasnya.
Namun bersamaan dengan itu, berhembus kabar bahwa Surya Dumai dan juga beberapa pengusaha lain yang ingin menanam modal di sana (termasuk kabarnya membangun pabrik kertas dengan bahan baku kayu sengon), kesulitan mmeperoleh lahan usaha karena tak ada lagi lahan yang bisa diperoleh dengan mudah untuk perkebunan dan usaha industri lainnya. ''Sudah habis dibagi-bagi dan dikapling-kapling,'' papar warga. Oleh siapa?. ''Tanyalah sendiri ke Tanjungpinang atau Pekanbaru, pak!,'' sergah seorang pemuka masyarakat Dabo dengan nada marah.
Sayang memang, padahal ini merupakan solusi yang jauh lebih baik ketimbang terus diberi izin penambangan pasir yang akan menghancurkan pulau itu dan kehidupan perikanan di sana. Solusi lainnya adalah bekas kompleks perkantoran dan pergudangan PT Timah di sana untuk industri, seperti moulding atau garmen. Dan inilah dulu yang kabarnya menjadi salah satu pilihan jika program pembangunan pulau ini disejalankan
dengan pembangunan Batam dan Bintan, untuk menyambung gagasan Barelang (Batam, Rempang dan Galang) sebagai salah satu relokasi industri Singapura yang harus out dari sana.
Memang, mengubah orientasi warga dari pertambangan dan nelayan, tidaklah mudah. Sebab, kalau dari tambang timah, pasir dan kilang kayu serta melaut, warga tinggal memetik hasilnya. Sedangkan di sektor pertanian, perlu proses waktu samapi panen. Bagi warga yang dalam kondisi sulit dan apatis itu, memang harus ada usaha perantara. Pilihannya tak lain adalah budidaya perikanan laut dan air tawar, serta
tanaman pangan, seperti padi yang untuk pulau ini juga sudah pernah dilakukan penduduk. ''Tapi siapa yang mau peduli,'' ungkap seorang pemuka masyarakat di sana.
Itu sebabnya, sangat kentara sikap warga yang terus apatis dan mendua. Di satu sisi, mereka rela lahan yang ada digarap sedemikian rupa. Baik untuk pengerukan pasir maupun kayu-kayu yang dirambah. Namun, kalau berurusan dengan uang ganti rugi mereka oke-oke saja. ''Karakter masyarakat Singkep mudah dibaca. Kalau mereka sudah mendapatkan apa yang diinginkan mereka akan diam. Dan ini dimanfaatkan oleh pengusaha,'' kata Murjani pula.
Hal ini diakui oleh sebagian warga. ''Kalau dikasih duit untuk ganti rugi pembebasan lahan, tentu warga akan menerima,'' sebut mereka. Sebab, belitan kemiskinan membuat warga mau saja tanahnya diuruk dan dikeruk. Tapi kalau uang ganti rugi sudah habis, kemudian melihat sumber perikanan mereka punah dan pulau terkoyak-koyak, maka mereka pun kembali teriak.
Artinya, melihat Singkep yang terkoyak-koyak dan tanahnya bolong-bolong warga tak rela. Walau akhirnya mereka pasrah karena mereka tidak tahu harus berbuat apa. ''Kalau saya masih muda, mau rasanya angkat kaki dari sini lantaran tidak tahan melihat eksploitasi yang terjadi,'' tutur seorang di antara warga. Tapi siapa yang peduli dengan keluhan mereka, kalau ternyata menjual pasir lebih banyak menghasilkan untung dan devisa?
Kasarnya, biarlah Singkep buntung asal pengusaha untung. Atau dalam nyanyian pedih warga di sana : Singkep tenggelam, Singapura timbul. (socrates)


Read More......

Wartawan dan Tukang Pijat (3)

Sejak berusia belasan tahun sampai sekarang saya suka dipijit. Seperti hobi dan menjadi kebutuhan. Segala macam jenis pijat, saya coba. Selain menghilangkan pegal, saya menganggap pijat bisa memperlancar peredaran darah.
Dulu, saya hanya dipijat tradisional. Tapi di Batam, saya coba pijat Thailand, pijat refleksi, Okub Medan, pijat Shiatsu, hingga pijat listrik. Banyak cerita unik soal pijat memijat ini. Mau tahu ceritanya?

Tukang pijat di kampung saya, mengurut dengan minyak makan, dicampur bawang dan balsem. Tapi kini, pijat pakai krim, hand body hingga baby oil alias minyak bayi. Hobi pijat saya, tetap jalan saat jadi wartawan. Banyak juga rekan wartawan yang punya hobi sama dengan saya. Tapi, mungkin ia malu bercerita.
Seorang rekan wartawan saat tugas di Bukittinggi, suka pijat ''cuci kolong''terutama di bagian kaki dan paha. Saat saya ajak ia menulis berita soal tukang pijat ini, ia menolak. ''Nanti kita juga yang susah cari tukang pijat,'' katanya.
Suatu hari, saya mendapat informasi, ada panti pijat mesum baru buka di Batam. Saya datang untuk wawancara. Saya lalu dibawa bos pijat itu ke ruangan kecil, lalu memperlihatkan surat perjanjian dengan para tukang pijat, dilarang berbuat tak senonoh. Sampai saat ini, saya langganan pijat di sana. Ternyata, isu itu sengaja ditiupkan saingannya.
Suatu ketika, saya mendapat informasi, ada tukang pijat tuna netra yang kepergok selingkuh dengan seorang wanita separo baya. Ini dilakukannya lantaran suaminya jarang pulang. Toh, tukang pijatnya buta dan memakai kaca mata hitam. Kisah ini saya tulis di koran.
Keesokan harinya, seorang pemijat tuna netra datang ke kantor menyatakan keberatan dengan tulisan itu. ''Saya tak pernah berbuat seperti itu,'' katanya. Rupanya, kisah itu dibacakan seorang pengojek kepadanya. Maklum, ia buta. ''Hah, sejak kapan orang buta bisa baca koran,'' kata bos saya, sambil menahan tawa.
Saat pijat Thailand baru buka di sebuah hotel di Batam, beberapa teman saya mencobanya. Di kantor, mereka bercerita soal kehebatan pijat itu. Saya penasaran. Lalu, saya datang ke sana. Ternyata, pijat Thailand tubuh ditarik, ditekuk, dan hanya titik tertentu yang dipijat dengan dengkul atau kaki. Orang yang tak biasa dipijat, bisa-bisa kesakitan.
Pulang dari sana, saya tulis pengalaman pijat ala Thailand itu. Karena tak ada foto, saya minta seorang wartawan membuat karikaturnya. Ia menggambar seekor gajah yang sedang menginjak manusia. Begitu tulisan itu terbit, tiba-tiba saya ditelepon bos pijat Thailand itu. ''Pak, Anda bisa kesini, nggak?,'' katanya di telepon.
Saya agak khawatir juga. Jangan-jangan dia marah karena tulisan saya. Saya beranikan diri datang kesana. Ternyata, oala..dia mengucapkan terima kasih lantaran tulisan itu. Saya diberi amplop. Isinya bukan uang, tapi voucher pijat gratis sepuluh kali! Jadilah saya pijat gratis dan sebagian saya bagikan ke wartawan lain. Tulisan saya itu, juga ditranslet ke bahasa Inggris dan dijadikan brosur yang disebar di Singapura.
Karena keranjingan dipijat, saya jadi tahu suka duka tukang pijat. Di beberapa panti pijat, mereka hanya dibayar Rp6.000 per jam, sementara tarif pijatnya Rp40 ribu. Ada yang disediakan mess, ada yang tidak. Namun, tarif pijat di tempat tertentu, terbilang mahal.
Pijatnya bervariasi. Ada pijat kombinasi tradisional dan Thai, mandi susu, spa dan luluran. Harganya pun unik. Satu jam Rp188 ribu. Tempatnya pun bagus. Kamar VIP-nya selain kasur tempat pijat, dilengkapi dengan bath-tub, televisi dan lampu remang-remang. Tapi pijat tradisional, cukup kasur dan pembatas ruangan dari kain.
Selama mencoba berbagai jenis pijat ini, yang agak unik adalah pijat ala Madura dan pijat listrik. Pijat Madura pemijatnya wanita separo baya dan mengenakan kebaya lengkap. Karena agak gelap, saya melihat sosoknya seperti ibu kita Kartini, he..he..
Pijat listrik lain lagi. Namanya ATFG. Pijatan menggunakan alat dari besi yang dialiri listrik tegangan rendah. Lalu, tubuh digosok-gosok dengan gelondongan besi dan terasa panas. Biasanya, setelah dipijat badan terasa lemas dan dianjurkan memakan pepaya mengkal untuk memperlancar peredaran darah.
Meski penghasilannya kecil, tukang pijat umumnya mengharapkan tips dari tamu. Mereka harus bergiliran agar semua kebagian tamu. Lain halnya kalau pemijatnya dipesan tamu. Rata-rata, mereka memijat 3-5 orang tamu sehari.Namun, ada juga kisah sukses para pemijat ini.
Selain bisa mengirim uang ke kampung halaman, hasil keringat dari memijat orang, ada yang akhirnya bisa punya rumah dan motor, serta menyekolahkan anak-anaknya. Misalnya, seperti kisah Tono, seorang pemijat asal Jakarta. Lelaki bertubuh gempal ini, kini dikenal menjadi pemijat pejabat penting dan pengusaha terkenal.
Awalnya, ia bekerja di panti pijat refleksi Sin Cung Kok. Tak sampai setahun, tutup. Padahal, Tono terkenal bagus pijatannya dan telaten. Ia memutuskan jalan sendiri. Kepiawaiannya memijat, beredar dari mulut ke mulut. Saya termasuk yang ikut mempromosikannya.
Kini, ia menjadi langganan pijat mantan Kapolda, jaksa, polisi, hingga pengusaha ternama. Tono biasa memijat malam hari dan bersedia dipanggil ke rumah. Rata-rata, ia memijat orang dua jam.
Persaingan bisnis pijat di Batam makin meningkat. Malah, ada hotel yang menyediakan sampai 50 orang pemijat. Sebab, langganannya adalah para turis yang datang berombongan. Turis asal Korea, paling senang dengan pijat. Di berbagai sudut kota, bermunculan bisnis pijat. Saingan tukang pijat kini tidak hanya sesama pemijat, tapi juga kursi pijat yang dipajang di mal-mal. ***
Read More......

Wartawan dan Kekerasan (2)

SEJAK menjadi wartawan, saya tidak penah punya pos liputan. Jadi, ya meliput apa saja dijadikan berita. Satu yang saya catat, dunia wartawan adalah dunia yang keras. Butuh ketangguhan fisik, kekuatan mental dan kecerdasan otak sekaligus dalam menjalankan tugas.
Wartawan juga dekat dengan kekerasan. Baik melihat dan meliput kekerasan, maupun terkadang menjadi korban kekerasan. Pengalaman saya menyaksikan korban kekerasan ketika seorang wanita dibunuh dan mayatnya dibuang ke jurang. Saat tubuhnya dibalikkan polisi, ulat berloncatan dari perutnya.

Di Batam, saya menyaksikan bentrok antar suku yang menelan belasan korban jiwa. Padahal, pemicunya masalah sepele. Korban luka bacok dan darah berceceran, membuat saya bergidik.
Pernah terjadi kecelakaan maut korbannya seorang pelajar. Foto yang dibawa wartawan dan masuk ke komputer saya, korbannya digotong berlumur darah. Malamnya, saya tak bisa tidur. Terbayang korban yang akhirnya tewas. Keluar masuk ruang gawat darurat, ke kamar mayat akhirnya membuat saya terbiasa.
Saat pertikaian antar kelompok itu berakhir dengan acara perdamaian, saya memotret dan berdesakan dengan seorang fotografer asing. Ada acara pemotongan kerbau, babi dan kambing. Kerbau dipotong seperti biasa, namun kambing itu kepalanya ditebas! Saya merasa, jika foto tersebut dimuat di media luar negeri, bisa saja mereka menilai, betapa tak beradabnya bangsa kita.
Tindak kekerasan, teror dan intimidasi yang saya alami pernah terjadi beberapa kali. Mulai dari oknum tentara, pejabat, pengusaha hitam hingga warga biasa. Misalnya, saat saya dikejar-kejar beberapa oknum tentara yang disuruh pemilik cafe setelah saya menulis kisah pelayan yang nyambi jadi pelacur.
Yang paling seru, saat saya disuruh menghadap oknum pejabat militer yang marah karena pemberitaan mobil yang dikirim ke luar Batam. Dua rekan wartawan menemukan ada puluhan mobil dicat ulang dan siap dikirim ke Batam. Temuan itu, lalu dikonfirmasikan kepada petinggi militer yang datang ke Batam.
Keesokan harinya, ada orang tak saya kenal mencari saya ke kantor. Karena tak bertemu, ia mencari wartawan yang menulis berita itu, lalu mengajak ke kantornya. ''Bawa pimpinanmu kesini, kalau tidak kamu tidak boleh membawa motormu pulang,'' katanya kepada wartawan saya. Begitu informasi itu disampaikan kepada saya, sebagai bentuk tanggungjawab, saya pergi ke kantor orang tersebut. Lalu, kami disuruh ke ruang VIP bandara.
Saat itu pukul 16.00 WIB. Oknum pejabat militer itu lalu mengamuk. Ia memecahkah vas bunga. Lalu, tiga gelas kopi dilemparkan ke kaki kami. Melihat teman saya memandangnya, ia merasa ditantang. Ia lalu menyeret teman saya ke landasan pacu, sambil membuka baju. Teman saya ditempeleng dan di lehernya, ada bekas kuku setelah krah bajunya diangkat.
Jujur saja, kami ketakutan lantaran oknum pejabat itu sangat emosi. Semua nama di kebun binatang dilontarkan kepada kami. Tensinya baru agak reda setelah anak buahnya memberi tahu bahwa saya Ketua PWI. Lebih dua jam kami diteror dan diintimidasi di ruangan itu.
Setelah itu, seperti tak terjadi apa-apa, ia membolehkan kami pergi. Keesokan harinya, saya dipanggil ke Jakarta melaporkan kasus itu ke PWI Pusat. Masalahnya sampai ke DPR RI yang meminta penjelasan soal mobil-mobil tersebut. Untunglah, saya tidak terpancing untuk membeberkan masalah tersebut ke media. Padahal, ada beberapa wartawan yang juga pernah diancam dan diteror. Masalah ini baru selesai setelah beberapa wartawan mengadakan pertemuan dengan oknum pejabat tersebut.
Tindak kekerasan lain yang pernah saya hadapi adalah kekerasan massa yang dipicu oleh berita. Seorang tersangka penanam ganja kepada polisi mengaku di rumahnya ada beberapa orang yang terlibat menanam tanaman memabukkan itu. Siangnya, beberapa orang lelaki tak dikenal dengan tampang sangar, mengamuk di kantor saya. Tanpa ba, bi bu, langsung menggebrak meja dan memecahkan pintu kaca. Tujuh orang pelaku ditangkap polisi dan salah seorang mantan wartawan.
Kasus lainnya adalah ketika seorang wartawan yang mewawancarai anggota Komisi Pemilihan Umum menanyakan jumlah pemantau pemilu. Meski sudah disebutkan jumlahnya 150 orang, karena ditanya beberapa kali, anggota KPU itu menjawab,'' Jumlahnya 150 ekor,'' katanya, bercanda. Entah mengapa, dalam berita tersebut dari alinia pertama hingga berikutnya, tertulis 150 orang. Namun, di alinia terakhir, tertulis 150 ekor. Satu kata yang salah ini, memicu kemarahan massa.
Tanpa saya duga, sekitar pukul 20.30 malam, belasan orang datang mengamuk ke kantor. Masalahnya, ya satu kata yang salah itu. Ternyata, ucapan bercanda itu masuk ke benak si wartawan dan dia salah menulisnya. Dengan menyusun kedua belah tangan, saya meminta maaf. ''Ini tidak kami sengaja. Kalau disengaja, pasti semuanya menggunakan kata ekor. Ini hanya satu kata yang salah,'' kata saya meminta maaf dan pengertian massa yang marah. Satu hal yang saya khawatirkan, mereka merusak kantor saya. Untunglah, mereka mau menerima permintaan maaf saya dan saya berjanji menindak wartawan yang teledor dan gegabah itu.
Selain itu, entah berapa kali teror, ancaman bunuh dan intimidasi saya terima. Mulai dari yang halus, sampai yang kasar. Bisa berupa SMS gelap, maupun kemarahan dalam bentuk kata-kata. ''Tak selamanya ketajaman ujung pena bisa mengatasi masalah keamanan hidup Anda,'' kiriman SMS gelap yang pernah saya terima. Anda mungkin tak akan menyangka, seorang pejabat penting berkata kepada saya. ''Kenapa Anda tulis berita itu? Kan sudah saya bilang, jangan dimuat. Ternyata, benarlah kata orang Anda tidak suka pada saya,'' katanya dengan nada tinggi, lalu mematikan telepon.
Sebuah surat kaleng yang dikirim ke kantor, nyaris menghancurkan karir saya. Saat itu, saya menulis berkali-kali kasus mobil bodong di Batam. Kalau tidak salah, saya menulis sebanyak 14 kali. Suatu hari, saya diundang beberapa importir kakap ke sebuah hotel. Mereka bilang, gara-gara berita Anda, 160 mobil saya tertahan di Singapura. Saya jawab, saya tidak punya pretensi apa-apa dalam berita itu. Yang saya tahu, Anda melanggar peraturan. Mobil yang masuk ke Batam mestinya baru (brand new) tetapi teryata masuk yang bekas. Peraturan itu sudah dilanggar selama 10 tahun!
Ketika mereka berbisik-bisik dan saya menangkap mereka akan memberi sesuatu, agar saya berhenti menulis berita itu, saya berkata,'' Jangankan punya mobil, menyetir mobil pun saya tidak bisa. Jadi, kalau Anda mau memberi saya uang, saya minta Rp2 Miliar, setelah itu saya berhenti jadi wartawan,'' kata saya.
Mereka terdiam, lalu bertanya, bagaimana jalan keluarnya. Saya menyarankan, agar diadakan dialog terbuka dan mengundang semua pihak yang terkait. Mereka setuju dan meminta saya membuat proposalnya. Beberapa hari kemudian, tanpa saya duga sama sekali, ada surat kaleng yang dikirim melalui faks ke kantor saya.
Isinya, saya dituduh menerima uang dua kali dengan alasan uang itu saya bagikan kepada redaktur yang memegang halaman tersebut. Surat itu, juga dikirim ke bos saya di Pekanbaru. Saya kemudian membuat laporan tertulis dan menceritakan kronologis kenapa berita itu dibuat, siapa yang terlibat dan saya bersumpah tidak pernah menerima suap.
Saya juga menegaskan, jika saya terbukti menerima suap, saya siap dipecat sebagai wartawan. Bos saya menelepon dan menasehati saya agar saya berhati-hati menulis kasus tersebut. Saat ia masih menjadi reporter, bos saya juga pernah menulis kasus penyeludupan mobil.
Surat kaleng tersebut --sampai sekarang masih saya simpan-- saya baca berulang-ulang. Saya yakin, yang menulisnya pasti seorang wartawan, karena ada beberapa istilah yang hanya dimengerti orang-orang media. Beberapa tahun kemudian, keyakinan saya terbukti. Yang menulis surat itu seorang wartawan yang sudah menerima suap dan mencoba menghentikan saya menulis kasus tersebut.
Satu hal yang membuat saya sedih dan marah. Secara tidak sengaja, surat kaleng itu dibaca istri saya. Ia menangis berurai air mata. Saya merasa dituduh melakukan perbuatan tak terpuji itu, walaupun ia tidak bicara sepatahpun. Saya marah. ''Kalau saya seperti itu, kita tidak akan mengontrak rumah bertahun-tahun dan kemana-mana naik sepeda motor,'' kata saya, dengan nada keras.
Saya memang meniti karir dari bawah. Baru setelah tugas di Batam saya bisa menabung. Saat baru pindah, saya malah tujuh bulan tinggal di kantor, agar bisa hemat uang kos. Saya punya rumah tahun ke tujuh saya di Batam dan punya rumah tahun ke delapan. Syukurlah, mobil saya tidak bodong. Toyota Altis merah maron tahun 2001.
Kembali ke topik awal, kekerasan memang ada di sekitar wartawan. Berapa banyak wartawan yang tewas di medan perang, dibunuh dan kasusnya tak terungkap, diculik dan disiksa. Saya teringat kata-kata bijak. Bunyinya begini. ''Kebencian terhadap kritik, sama besarnya kehausan terhadap pujian.'' Dan, mana ada orang yang suka dikritik. Sementara, wartawan adalah tukang kontrol dan tukang kritik. Tapi, bukankah, kalau takut diterpa ombak, jangan berumah di tepi pantai? ***
























Read More......
Forex Trading, Top Games, Garden Zone, Healthy Blog, Jobs Find, Love Share, Mortgages Blog, Success Career, Women All