Warga Batam Keranjingan Money Game

Posted by Jammes 4/05/2008 0 comments
Ketika bunga deposito turun, ekonomi lesu darah, apa saja bisnis yang bisa berkembang dan menguntungkan? Inilah pertanyaan yang sering menge-muka di kalangan pelaku bisnis di Batam, setelah wait and see menunggu ekonomi membaik. Belakangan, beberapa di antaranya dan warga Batam terjun ke money game, internet marketing atau multi level marketing (MLM). Apa dan bagaimana bisnis money game?

SETUMPUK brosur fotokopian itu, menumpuk di atas mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) sebuah bank di Batam Centre. Isinya, mengajak ber-bisnis dengan mengirim uang ke beberapa nomor rekening tertentu. Tentu saja disertai kisah sukses mereka yang pernah ikut program tersebut dan ha-sil spektakuler yang didapatkan.
Namun, beberapa hari kemudian, tumpukan brosur di mesin ATM itu su-dah tidak ada lagi. Beberapa orang warga yang terpengaruh, mulai mengirim uang ke rekening yang tertera di brosur tersebut, masing-masing Rp80 ribu. Lalu, ia menunggu, saldo di rekeningnya sendiri membengkak secara ajaib. Diduga, ini merupakan praktik money game yang merambah Batam.
Apa itu money game? Bisnis seperti ini juga disebut bisnis piramid atau bisnis penggandaan uang. Agar orang tertarik (siapa yang tidak tertarik dapat uang dalam jumlah besar dalam tempo singkat?) mereka yang bergelut de-ngan bisnis ini menyebut sebagai bisnis MLM. Padahal, ini hanya sebagai kedok agar orang tertarik bergabung.
Pada bisnis MLM biasanya peserta hanya membayar uang pendaftaran reltif kecil atau sekitar Rp150 ribu dan mendapat keuntungan dari penjualan produk. Namun, bisnis money game uang pendaftaran bisa ratusan ribu yang digunakan untuk membayar bonus penghasilan orang yang sudah lebih dulu bergabung. Satu lagi, bisnis money game biasanya tidak memiliki produk yang dijual kepada konsumen. Kalaupun ada, mutunya asal-asalan dan hanya sebagai kedok belaka.
Menurut Safir Senduk, bisnis money game tampaknya bagus bagi mereka yang baru bergabung, tapi tidak bagi yang bergabung belakangan. Biasanya, Anda diminta mencari dua orang untuk disponsori, dan dua orang itu men-cari dua orang lagi, begitu seterusnya. Sebelumnya, Anda diminta menyetor sejumlah uang. Namun, dalam bisnis ini, tidak ada barang yang dijual seperti halnya multi level marketing (MLM).
Bagaimana asal muasal bisnis money game alias bisnis piramid ini ber-kembang? Penemunya disebut-sebut Chaels K Ponzi, seorang imigran Italia yang menetap di Kanada tahun 1903 dan dua kali masuk penjara karena ka-sus pemalsuan dan penipuan.
Tahun 1920 Ponzi mendirikan perusahaan jasa ’’kupon pos’’ di Boston. Dia berhasil meraup 9,5 juta dollar dari 10.000 investor dalam waktu sing-kat, dengan menjual surat perjanjian (promissory notes) “Bayar 55 sen untuk setiap sen, hanya dalam waktu 45 hari.”.
Ponzi kemudian disidangkan dengan tuduhan melakukan penipuan finan-sial. Metodanya dia namakan “buble burst”, dan kemudian kita kenal men-jadi “skema Ponzi”. Ponzi kabur ke Italia menjelang diadili, namun ia di-tangkap lagi dan setelah diekstradisi, ia meninggal tahun 1949. Biaya penguburannya pun dibiayai pemerintah Brasil.
Cerita Ponzi di atas adalah asal mula bisnis money game dan saat ini di-haramkan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri terjadi banyak kasus serupa, dengan mengelabui calon investor bahwa mereka perlu modal untuk bisnis mereka dan menjanjikan keuntungan yang besar dalam waktu singkat.
Di sisi lain, skema Piramid dari sistem Ponzi ini ternyata menarik para pebisnis untuk mengadopsi cara bisnis piramid ini dan kemudian kita kenal dengan Multi Level Marketing. Ini skema piramid yang dimodifikasi, lebih lunak, lebih merata dan diberi aturan, untuk menjadi alat marketing pro-duk/jasa. Skema piramida ini terbukti cukup ampuh untuk memasarkan produk/jasa yang tadinya tidak terkenal sama sekali, untuk langsung meraih pasar dalam waktu singkat, tanpa harus bersusah payah dan keluar biaya iklan di media massa.
Masih ingat kasus PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) enam tahun lalu? Inilah salah satu kasus money game yang mengaku bergerak di bidang agrobisnis (menanam cabai, tomat, jamur, beternak sapi, kambing, cacing, dll) dan mengundang para investor untuk menanamkan modal dengan sistem bagi hasil.
Hebatnya, bisnis money game ini mampu memperdaya 6.800 korban dan menyedot uang mereka Rp500 Miliar. Inilah mega money game yang berhasil mengelabui; mulai dari orang-orang kecil sampai pejabat penting di Indonesia. Tawaran hasil investasinya benar-benar menggiurkan, sebesar 10 % per bulan dari jumlah uang yang ditanamkan. PT QSAR juga mengklaim telah membuka berhektar-hektar perkebunan di Sukabumi dan beberapa tempat lainnya (Bengkulu dan Makasar) serta mempekerjakan 10.000 lebih petani penggarap dan karyawan. Kedok PT QSAR akhirnya terbongkar.
Masih di Jawa Barat, sejumlah investor di Bandung tahun menderita ke-rugian antara Rp400-800 Miliar, setelah tertipu praktek money game ber-kedok bisnis BBM. Kasus yang terungkap sekitar bulan Oktober 2005 ini memiliki pola operasi yang sama serta tipikal korban yang sama seperti kasus-kasus money game sebelumnya.
Praktek money game yang dilakukan PT Cita Hidayat Komunikaputra ini, menjanjikan keuntungan berlipat ganda melebihi batas kewajaran. Kedoknya dengan menjalankan bisnis BBM, penjualan oli berbagai merek serta SPBU.
Kasus money game di Medan lebih gila lagi dan menelan dana triliunan. Adalah PT Banyumas Mulia Abadi (BMA) yang berkedok perusahaan pen-jual celana jins dan kaos. Selain di Medan, perusahaan ini juga bero-perasi di Aceh, Riau, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Saban hari, ratusan orang keluar masuk kantor perusahaan itu. Bagi para nasabah, bukan paket ka-osnya yang dibeli, tapi tawaran kompensasinya yang diincar.
Sekitar 70 paket ditawarkan, di antaranya paket istimewa dengan setoran pertama Rp3,7 juta (pokok Rp3,25 juta plus PPN 12 persen atau Rp390 ribu). Untuk setoran itu peserta mendapat kompensasi 13 kaos @ Rp7.500 (total Rp97,5 ribu), yang bisa diminta barang atau uangnya. Tiap member biasa dikenakan iuran Rp500 ribu sekali masuk, plus wajib membeli minimal empat paket per transaksi. Lalu 23 hari kemudian setoran mereka akan membengkak dan dikembalikan Rp6,5 juta per paket (belum termasuk kaos dan diskon 4 persen).
Berikutnya, paket standar terendah seharga Rp5,04 juta yang akan menjadi Suzuki Tornado GX atau uang sebesar Rp7,7 juta dalam 39 hari kerja. Lalu ada paket termahal seharga Rp565,6 juta untuk mendapatkan Mercedes Benz Elegance atau uang sebesar Rp878 juta.
Dengan kata lain, nasabah dibuat ‘hijau’ matanya dengan tingkat peng-embalian uang sebesar 400-500 persen per tahun! Bandingkan dengan bunga deposito atau tabungan. Tak pelak, tawaran menggiurkan dan digabung de-ngan sistem member get member itu dengan cepat menyebar ke masyarakat.
Apa yang terjadi kemudian? Ratusan nasabah BMA tertipu dan menuntut uang mereka dikembalikan. Dari pendataan komputer, uang nasabah yang tersedot dalam pembelian berbagai paket total mencapai Rp790 Miliar lebih. Untuk pembelanjaan tersebut seharusnya PT BMA menyediakan kompen-sasi laba kepada nasabah sebesar Rp1,3 Triliun. Namun dari hasil pendataan manual (karena tidak semua dana nasabah terinput di komputer), ternyata total pembelian paket oleh para nasabah mencapai Rp2,9 triliun dengan kewajiban kompensasi laba sebesar Rp5,7 triliun!
Money game atau skema piramid bisa berkedok bisnis apa saja. Mulai dari MLM, investasi, agrobisnis, perdagangan barang koleksi, internet mar-keting dan sebagainya. Siapa sih yang tidak tergiur ketika ditawari sebuah peluang bisnis yang dapat memberikan imbal hasil antara 15-20 persen per bulan atau 180-240 persen per tahun?
Apalagi bila pada saat yang sama bank-bank resmi hanya memberikan bunga pada kisaran 5-8 persen per tahun. Sementara, bank yang hanya memberikan bunga sangat kecil dan masih dipotong pajak lagi.
Lalu, bagaimana dengan bisnis piramid online, internet marketing dan sejenisnya yang juga mulai marak belakangan ini? Mari kita periksa sebentar. Seorang warga Batam yang menolak ditulis namanya, kini punya ’’mainan’’ baru yang menghasilkan uang. Ia ikut program investasi swiss-cash.com yang menjanjikan persentase pengembalian bunga menggiurkan. Ia kini asyik berinvestasi melalui situs Swisscash.com. Info ini didapatnya dari temannya di Malaysia. ’’Awalnya saya ragu, apakah ini tipu-tipu atau benar. Malah ada yang menanyakan ke kedutaan Swiss, ternyata perusahaan itu benar-benar ada,’’ katanya berkisah.
Caranya, uang sebesar 1000 Dolar AS dimasukkan ke rekening swisscash melalui bank tertentu. Syaratnya antara lain nomor paspor, alamat email dan nomor handphone.
’’Kita bisa mengecek di email yang sudah diberi ID dan password, baru buka situsnya. Dari situlah tahu kita sudah jadi member. Keuntungan yang diberikan, 3 bulan pertama return (keuntungan) 10 persen. Tiga bulan kedua dapat 15 persen dan tiga bulan ketiga dapat 20 persen dan tiga bulan keempat 25 persen dan tiga bulan kelima 30 persen. Ini karena dihitung lima hari kerja,’’ paparnya.
Keuntungan itu bisa diambil kapan saja, melalui bank mana saja. Namun, setiap transaksi dikenakan biaya 30 dolar AS. ’’Nah, caranya mengambil kontak dulu kawan-kawan lain sehingga biaya administrasi bank bisa dibagi-bagi,’’ujarnya seraya menyebutkan sudah dapat 2000 dolar AS dan duit investasi yang sebelumnya masih ada.
Bisnis online ini juga memberlakukan sistem member get member. Dari satu orang member yang berhasil diperoleh, ia akan langsung mendapat 10 persen dari nilai investasi yang ditanamkan. Namun, ia mengaku, kalaun uang yang ditanamnya melalui internet lenyap lantaran tidak tahu perusahaannya, itu resiko. ’’Ya nggak apa-apa. Kan yang kena tidak hanya saya,’’ katanya, enteng.
Belakangan, bisnis piramid online juga bermunculan di dunia maya alias internet. Setiap anggota atau member diminta membayar 67 dolar AS. Setelah itu, ia berhak merekrut anggota baru, memanfaatkan perpustakaan online, kursus program pensiun dini, memanfaatkan software kalkulator finansial, serta konsultasi melalui internet.
Anggota bisnis ini diiming-iming meraih penghasilan 6.569 dolar AS atau sekitar Rp65 juta sebulan. Dalam sistem ini, member diberi training e-marketing via internet selama 30 hari dan wajib merekrut minimal 4 anggota baru alias downline. Tiap bulan, anggota wajib membayar sekitar Rp1,1 juta selama 18 bulan tanpa berhenti. Biaya tersebut untuk biaya keanggotaan, autoresponder (software penjawab email, dan iklan di internet.
Nah, apabila berhasil merekrut seorang member baru (yang membayar 60 dollar), member ETI langsung mendapat head hunting bonus sebesar 41,50 dollar atau hampir 125 dollar untuk tiga member. Semakin banyak anggota direkrut, semakin besar pula bonus rekrutnya, atau semakin dekat ke arah penghasilan Rp65 juta per bulan yang dibayar melalui kartu ATM (Visa Pay Card).
Alhasil, dalam waktu singkat internet dipenuhi oleh puluhan website yang mengiklankan cara cepat menjadi kaya. Karena internet marketer kede-ngarannya baru dan canggih, tak pelak cukup banyak yang mencoba dan keranjingan.
Di internet, kini juga bertaburan berbagai peluang bisnis, dengan janji memberi penghasilan tak terbatas. ’’Program yang kami tawarkan bukanlah program money game, mlm atau program cepat kaya lainnya, diperlukan usaha dan proses pembelajaran,’’ begitu tertulis di pengantar websitenya.
Materi internet marketing yang diajarkan antara lain, prospek bisnis online, bagaimana menghasilkan uang lewat affiliate marketing dan google adsense, ezine publishing dan sebagainya. Juga diajarkan cara membuat website bagi pemula, panduan meng-upload file ke server, cara membuat Blog yang dilengkapi video training berbahasa indonesia dan lainnya.
Pada akhir penawarannya, ada pesan begini: Tidak ada keharusan untuk bergabung dengan peluang bisnis internet yang kami tawarkan, tetapi jika anda memutuskan - Anda bisa memulai hari ini sekarang juga dengan garansi 10 hari uang kembali 100 % apabila anda tidak puas dengan apa yang kami tawarkan.
Tapi waspadalah! Sifat manusia pada umumnya, yang menginginkan hasil sebesar-besarnya dengan usaha sekecil-kecilnya, atau tanpa usaha sama sekali, selalu dimanfaatkan oleh para penipu. Akibatnya, kekurang waspadaan seperti itu hanya akan membuat orang yang bersangkutan menderita kerugian besar dan menyesal berkepanjangan. Namun, semuanya terserah Anda, sebelum mengambil keputusan. Sebab, dalam bisnis, ada tipi-kal konservatif yang selalu berhati-hati, tipe moderat dan tipe risk taker alias berani mengambil resiko. Anda termasuk yang mana? ***

Tragedi Kota Tambang yang Terbuang

Posted by Jammes 0 comments
''Tanah air tinggal airnya,
Kolong berserakan.
Singapura Timbul
Singkep tenggelam....''

KALIMAT di atas bukan puisi. Tetapi jeritan hati warga Pulau Singkep. Dampak ekologi, sosial ekonomi dan perubahan yang terjadi pulau Singkep memang luar biasa. Socrates menuliskan reportasenya setelah menyusuri pulau paling ujung di Selatan Kepulauan Riau itu.

Pulau Singkep dalam pelajaran ilmu bumi anak sekolah dasar dulunya, namanya memang kesohor sebagai daerah penghasil timah. Sebab, di Indonesia hanya ada tiga pulau penghasil timah yaitu Bangka, Belitung dan Singkep.
Tapi, kini pelajaran itu harus diganti. Sebab, Pulau Singkep kini, bukan lagi penghasil timah. Pulau itu kini terlantar dan sudah ditinggalkan, dengan mengalami kerusakan lingkungan yang hebat dan perubahan sosial yang dashyat. Pulau yang berbentuk teko itu, yang dikuras isi perutnya lebih dari 150 tahun, kini menjadi pulau yang paling baik untuk bahan studi tentang ekologi, atau bahan renungan tentang tragedi sebuah kota tambang.
Tidak percaya? Silakan datang ke pulau ini. Akan segera dapat disaksikan bagaimana Singkep seolah tercabik-cabik dan terkoyak-koyak. Ratusan lubang bekas tambang timah menganga. Dan kini masih ditambah dengan lubang-lubang baru, bekas kerukan penambangan pasir untuk ekspor.(boleh dicatat: Kalau tambang timah, timahnya diambil, tapi pasirnya ditinggalkan, sehingga dapat menimbun kembali lubang yang
menganga. Tapi kalau penambangan pasir untuk ekspor, yang tinggal hanya kolong yang menganga seperti mulut singa-- walau pun kemudian ada upaya untuk menimbunnya kembali melalui program reklamasi).
Sementara hutan-hutannya sudah hampir gundul. Bahkan hutan lindung pun digasak oleh belasan kilang papan dan perusahaan penambangan pasir. Kondisi Singkep hari-hari ini, sebagai akibat kealpaan dan ketidakacuhan semua pihak dalam menangani jatuh bangunnya sebuah daerah pertambangan. ''Kami semua terlena. Tak ingat
bahwa timah itu bisa habis dan tanah itu bisa dijual ke luar negeri,'' keluh dan sesal seorang tokoh masyarakat di sana.
Ya, terlena, karena sejarah timah di Singkep,memang bukan sejarah pendek. Sekitar dua abad lalu, masa Sultan Lingga di Kota Daik berkuasa, timah sudah didulang secara tradisional. Perusahaan Belanda Singkep Tin Maatschaappij(SITEM) pada tahun 1934 menggarapnya secara besar-besaran. Tahun 1959, penambangan timah pun diambil alih pemerintah sampai akhirnya pulau itu ditinggalkan di awal tahun 90-an.
Sejarah panjang ini, membuat warga Singkep sudah sehati dengan timah. Biji timah membuat mereka hidup penuh kelimpahmewahan. Kota Dabo menjadi salah satu kota paling maju di Riau, bahkan lebih maju dari Tanjung Pinang, ibukota kabupatennya. Belum lagi kehidupan warga yang dapat menikmati langsung rezeki timah sebagai karyawan. ''Semua orangtua ingin bermenantu karyawan UPTS,'' kenang seorang pemuka Singkep.
Tapi, kini timah pula yang membuat mereka terpuruk dalam penderitaan berkepanjangan. Apalagi setelah era timah berakhir, ternyata perusahaan penambangan pasir ekspor dan kayu, juga membuat hati mereka luka dan berdarah.
''Lihatlah Singkep, seperti negeri dilanggar burung Garuda,'' kata mereka pahit.
Tahun 1985, merupakan tahun dimulainya kepedihan itu. Ketika itu terjadilah apa yang disebut tin crash atau malapetaka timah, yang ditandai dengan ambruknya harga timah di pasaran dunia. Harga timah anjlok dari 16.000 Dolar AS menjadi 8.000 Dolar AS per metrik ton.
Kemerosotan harga itu, membuat usaha penambangan, khususnya di Singkep menjadi lesu. Eksplorasi berkurang, laba menurun, dan mulailah dampak atas karyawan terasa. Pemutusan hubungan kerja dan lainnya. Seiring itu pula, penambangan timah di Singkep yang diusahakan. Semua akitifitas dipindahkannya ke Karimun dan Kundur.
Perubahan drastis langsung menerpa mereka yang mengantungkan hidupnya pada PT Timah. Berangsur-angsur, 2.400 karyawannya diberhentikan dan diberi ''uang tolak'' alias pesangon. Sebagian yang diberhentikan, pindah dari sana. Yang tak di-pehaka, pindah ke lokasi tambang lain di Bangka, Tanjung Batu dan Tanjungbalai, Karimun. Pulau Singkep, dan khususnya Kota Dabo mulai terjerembab.
Warganya mulai hengkang, terutama kalangan usahawan, banyak yang pindah ke Tanjungpinang atau Batam. Anak-anak mudanya berhamburan merantau, mencari pekerjaan. Akibatnya, Dabo Singkep jadi sepi. Wajah pulau seluas 829 km2 pun kusut masai dan porak poranda. Ratusan lubang yang menganga bekas tambang timah yang bertebaran di seantero Pulau Singkep yang dalamnya belasan meter, seperti nyanyian bisu dan pedih. Kolong-kolong yang menyerupai danau itu menjadi sarang empuk nyamuk anopheles,
penyebar malaria. Dan jika melihat Singkep dari udara, seakan pulau ini telah disayat-sayat dan dikoyak-koyak.
Rumah berarsitektur khas Belanda yang dulu ditempati para petinggi UPTS (Unit Penambangan Timah Singkep) yang menjadi ciri khas dan kebanggaan kota itu (karena terletak indah di atas bukit dilindungi pohon pisang kipas dan pohon rindang), kini sebagian sudah dijual dengan harga murah kepada yang mau membeli, dan kebanyakan eks karyawan UPTS dan pejabat setempat.
Sebuah bank dengan kantor lumayan megah, kini sudah tutup. Memang ada bank, tetapi statusnya berganti dengan kantor unit. Kantor-kantor bekas PT Timah kosong melompong. Gudang-gudang bengkel yang terlantar, ditumbuhi semak belukar. Lapangan terbang hanya sesekali disinggahi pesawat udara. Ruko-ruko yang berjejer di jalan
utamanya, boleh dihitung dengan jari yang masih buka dan diusahakan. Pukul lima sore, semuanya sudah tutup.
Sebuah rumah sakit yang cukup besar, yang dulunya punya perlengkapan yang canggih, kini tinggal mimpi. Bangunannya kini ditempati untuk puskesmas, namun peralatan kedokteran, seperti alat deteksi jantung dan perangkat operasi lainnya, tak ada lagi. Akibatnya, kalau ada pasien yang sakit berat terpaksa dikirim ke Tanjungpinang. Banyak yang tak mampu, karena jauh dan mahal biaya perjalanannya. ''Banyak yang mati di perjalanan,'' kata beberapa warga setempat.
Maka, tidak heran, kalau penduduk pelan-pelan menyusut. Pada tahun 1990, penduduk Singkep masih tercatat 39.000 jiwa. Lima tahun kemudian, tinggal 21.000 jiwa saja. Meskipun sekarang ada kecenderungan naik kembali, tetapi statistik tahun 1997 baru sekitar 35.000 jiwa.
Murjani Lelek, mantan pejabat Lingkungan Hidup PT Timah, yang kini menjadi ketua
persatuan mantan karyawan UPTS mengakui bahwa sendi-sendi sosial ekonomi warga terimbas langsung akibat perginya PT Timah dari Singkep. Terjadi kejutan kultural yang cukup keras pada warga. ''Mereka yang dulu berkehidupan serba wah, kini dihadapkan dengan kenyataan hidup yang keras. Karena terbiasa manja, warga kaget dengan perubahan itu,'' ujarnya.
Achmad Saleh (54) pegawai negeri sipil (PNS) di Dabo Singkep mengatakan, di masa jayanya, banyak PNS yang minder. Soalnya selain gaji besar, karyawan PT Timah mendapat segudang fasilitas. ''Kini mereka gigit jari,'' katanya sambil memasukkan telunjuknya di sela-sela giginya.
Sedangkan Erwin (24) putra Singkep mahasiswa Akademi Maritim di Yogyakarta mengatakan, banyak anak muda yang putus sekolah lantaran orang tuanya ''terpelanting'' dari PT Timah. ''Yang tak tahan dengan perubahan, keluarganya
berantakan. Ada yang bermabuk-mabukan, stres dan main judi sie jie,'' tuturnya miris.
Saat malam merambat, Dabo Singkep sunyi senyap. Pukul delapan, jalanan sudah sunyi senyap. Lampu jalan yang dulu gemerlapan dengan neon berwarna kuning, kini malap. Taman seni kebanggaan warga setempat, kini jadi tempat buang air seni. Wisma PT Timah yang lumayan megah, disulap jadi tempat karaoke. ''Kalau malam Minggu, kami turun (ajojing) sampai pagi,'' ungkap seorang cewek berpakaian seksi. Kini, tak sulit memboking cewek, karena banyak yang ingin cepat dapat uang. ''Boleh
pesan pak,'' bisik seorang tukang ojek yang mangkal di dekat Wisma Gapura Singkep, sebuah hotel kecil dengan tarif paling mahal Rp50.000 (konon inilah hotel terbaik di sana saat itu).
Pantai Batu Berdaun, yang dulu jadi pantai wisata, kini terlantar. Restoran makan lautnya sudah roboh dan tenggelam ke dalam danau. Jalan-jalan berlobang dan berdebu. ''Mobil penumpangnya mobil tahun 60-an. Pintunya saja tak bisa ditutup,'' sebut seorang tamu hotel.
Tragis, memang. Tapi inilah tragedi sebuah kota tambang yang kemudian nyaris terbuang.


Daun pun Berubah Jadi Putih Kelabu

Tambang timah tak ada lagi. Dabo Singkep seolah terjaga dari mimpi. Mimpi itu jadi kenyataan buruk setelah tak lama kemudian, pasir pun dikeruk. Pulau Singkep seperti dikelupas dan diobrak -abrik. Kolong-kolong makin menganga. Tanah menjadi danau yang sambung menyambung. Berikut lanjutan laporan Socrates yang meninjau pulau tersebut ini.
Di Dusun Pengambil Desa Kuala Raya, pasirnya diambil dan membuat pengusaha kaya raya. Sedikitnya, ada enam perusahaan pengeruk pasir beroperasi di sini. Truk-truk pengangkut pasir menderu-deru menyisakan abu berwarna kelabu.
Guratan kemiskinan sangat kentara dalam kehidupan warga Pengambil. Rumah semi permanen hanya satu-satu. Selebihnya, didominasi rumah panggung beratap rumbia dan berdinding papan seadanya. Tak tampak warga menikmati kekayaan negerinya berupa timah, kayu dan pasir. Mayoritas warga bekerja sebagai nelayan.
Berkubik-kubik pasir digali setiap hari. Caranya, dengan sistem bor yang disebut warga dengan ''tembak''. Dengan menggunakan mesin press dan alat yang disebut monitor, pasir diisap dan dialirkan ke bak pencucian. ''Katanya kedalamannya hanya 4-6 meter, kadang bisa lebih,'' ungkap seorang warga.
Danau-danau atau kolong makin menganga lebar. Daun pepohonan berubah warna menjadi putih kelabu tersiram debu. ''Kalau ada pejabat yang datang, debu di jalan disirami,'' ujar warga tersebut. Sisa pencurian pasir yang bercampur lumpur, mengalir lewat sungai ke muara. Akibatnya, pantai menjadi kian dangkal. ''Dulu
lumpurnya hanya semata kaki, kini sudah mencapai sepinggang orang dewasa. Jangankan mendapat kepah (kerang), kulitnya saja tak ada lagi,'' kata Rahman, warga desa Pengambil.
Bahkan dampak limbah lumpur itu menghantam jauh ke tengahlaut, dan menerpa laut tempat kelong-kelong (bagan) nelayan yang ada tak jauh di perairan itu, seperti di sekitar Pulau Berlas. Hasil tangkapan nelayan terus menyusut.
Meski beroperasi di dusun mereka, tidak mudah bagi warga setempat bekerja di sana. Sebab, selain tidak banyak butuh tenaga, perusahaan pasir itu lebih memprioritaskan orang sendiri. ''Melamar menjadi supir saja susahnya setengah
mati. Malah, ada yang dipecat dengan alasan proyek selesai. Ternyata mereka pindah ke lokasi lain,'' ujar Julizar, pemuda setempat.
Menurut warga yang bekerja di perusahaan pasir itu, pasir yang dikeruk dan
dijual ke Singapura memang tidak tanggung-tanggung. Sebuah perusahaan tambang
pasir mendapat lahan 50 hektar. Maka, tidak heran kalau lubang bekas galian pasir menganga lebar. Ganti rugi tanah penduduk yang digarap perusahaan penambangan pasir hanya Rp200 per meter. ''Kami disuruh tandatangani surat pernyataan ganti rugi tanah,'' tutur warga Pengambil.
Hitung-hitung, satu buah kapal tongkang yang mengangkut pasir untuk dijual di Singapura, bermuatan 320 sampai 350 truk pasir. dalam satu truk, berisi 7 m3 pasir. dalam sebulan, ada sekitar 14 trip tug boat yang berlayar mengangkuti pasir. ''Manifes pelayaran pengangkutan pasir hanya 12.000 m3. Namun yang diangkut mencapai 20.000 m3,'' ujar warga tersebut.
Warga menduga, meskipun kecil, pasir yang dikeruk masih mengandung timah. tambang terbuka tak bisa ditutup seluruhnya. PT Timah menggunakan pola gali tiga, tutup dua. Kalau tambang pasir, dengan apa mau ditutup lubangnya. ''Dengan kedalaman 10-15 meter timahnya terbawa, Singapura kan nggak bodoh,'' kata Murjani, mantan karyawan timah yang banyak pengalaman menangani lingkungan penambangan timah.
Laut dan muara sungai tercemar oleh limbah pasir. Pantai menjadi dangkal, dampak paling teruk dirasakan oleh nelayan. Padahal, hanya pada musim Selatan nelayan bisa melaut. Di Dusun Pasir putih Desa Marok Tua, bakal berdiri pula perusahaan penambangan pasir. Di sekitar perairan desa paling ujung di Singkep itu, sudah
diberi pembatas dan akan dikeruk untuk memudahkan dilewati tug boat.
Pulau Lalang merupakan ''lumbung ikan'' bagi nelayan. Kini, pulau tersebut terancam akan ditinggalkan ikan, jika limbah tambang pasir akan menyebar ke sana. Tetap saja nelayan yang merasakan akibatnya. Namun mereka tak tahu harus berbuat apa.
Konon, industri pasir dilakukan sebagai industri pemancing di Singkep paska timah. Maksudnya, agar kelak ada investor lain yang mau masuk ke sana. Misalnya, kelak bekas kolong yang menganga itu dapat dijadikan tempat memancing dan disekitarnya akan dibangun hotel. Namun sampai saat ini, baru sebatas rencana. ''Yang terjadi, umpan habis ikan pun tak dapat,'' kata Mustafa, seorang pengusaha di sana.
Tak hanya pasir, kayu-kayu pun dirambah. Belasan kilang papan beroperasi di Pulau
Singkep. Tersebar di berbagai desa. Dua di antara kilang papan itu bermarkas di hulu sungai Marok Tua. Diduga, kayu-kayu di hutan lindung Gunung Lanjut dan Gunung Muncung, ikut dibabat. ''Padahal, di situ ada sumber air minum yang bernama Air Gemuruh,'' papar Murjani, prihatin. Jadi, tidak aneh kalau warga mulai kesulitan air
bersih.
Masyarakat di sekitar lokasi penambangan pasir bukan tidak berusaha memaksa perusahaan untuk memperhatikan pencemaran. Bahkan di Desa Pengambil dan Raya, mereka pernah berunjuk rasa. Ratusan orang datang mendesak perusahaan agar menghentikan penambangan yang merusak sumber usaha mereka. Pihak perusahaan menanggapi, dengan antara lain memberi uang kompensasi. Tiap warga yang ada di sekitar lokasi mendapat dana sekitar Rp250.000 sebagai uang prihatin. Tetapi, uang secuil itu kemudian habis. Singkep kini, memang bak kata pepatah. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Sikap Apatis dan Mendua

Meratapi dampak kerusakan lingkungan dan perubahan sosial yang terjadi di Pulau Singkep, boleh dikata tak ada gunanya. yang diperlukan saat ini adalah solusi untuk memberdayakan masyarakatnya. Perlu kesungguhan untuk menyuguhkan sesuatu
pada warga yang sudah terpuruk dan apatis itu, untuk mengangkat derajat kehidupan mereka, menggairahkan kembali semangat dan harapan mereka. ''Agar kami ini merasa seperti daerah yang terlantar dan ditinggalkan,'' kata mereka.
Memang berat. Sebab, sekalipun penduduknya masih di bawah 50 ribu jiwa, namun Singkep mempunyai wilayah yang cukup luas. Di kecamatan ini, sekarang terdapat satu kelurahan dan sembilan desa. Kelurahan Dabo, Desa Kuala Raya, Bakong, Sungai Buluh, Posek, Marok Kecil, Kota Marok Tua, lanjut dan Desa Berindat. Dengan Desa Kuala Raya sebagai kecamatan persiapan dan di sini terdapat kantor Perwakilan Kecamatan
Singkep.
Sekarang ini, selain Dabo Singkep yang relatif maju, kemiskinan, kertepencilan, begitu akrab di desa-desa lainnya. Tampaknya, tidak terlalu banyak desa yang secara langsung kecipratan rezekitimah selama masa eksploitasi lebih dari 150 tahun itu, kecuali desa Kuala raya, Lanjut , Berindat. Apalagi, dari rezeki penambangan pasir dan kayu, serta hasil alamnya.
Tampaknya, setelah PT Timah angkat kaki, Singkep memang benar-benar terpuruk, dan berkembang secara apa adanya. Tanpa pola pembangunan yang jelas, tanpa landasan pembangunan yang jelas tanpa landasan ekonomi yang kukuh. Istilah warga dan pemuka di sana, Singkep menjadi daerah yang meraba-raba. Perikanan potensial, tetapi laut
sekitarnya sudah punah ranah, Baik oleh akibat polusi penambangan pasir maupun akibat penghancuran batu karang oleh ratusan masyarakat.
Hutan dan industri ikutannya juga demikian. Singkep sudah menjadi belukar dan sumber kayunya sudah ditebang dengan serampangan sehingga menjadi sumber kerusakan air dan pendangkalan sungai-sungainya. Tanaman keras, seperti karet dan kelapa, sejak lama ditinggalkan, karena hempasan harga. Sedangkan jenis tanaman lain seperti kelapa sawit, coklat, atau merica. ''Baru kabar anginnya saja, realisasinya entah
kapan,'' keluh warga.
Ungkapan apatis ini, bisa dimaklumi. Sebab setelah dulu merasa dimanja oleh rahmat timah, dan dapat menikmati kehidupan modern jauh lebih cepat dari daerah lain di Riau, seperti melimpah ruahnya listrik, air bersih, bahan makanan, fasilitas kesehatan dan penidikan, serta kemajuan olahraga (siapa di Riau yang tak gentar
dengan tim tenis Singkep atau sepak bolanya, atau tim bola volinya) tiba-tiba kini menjadi daerah yang nyaris terbelakang, maka luapan rasa tak puas itu mengepul begitu deras.
Lihat, bagaimana respon mereka terhadap peran serta para pengusaha penambangan pasir atau hutan. Di desa Pengambil misalnya, nada marah dan geram nyaris muncul dari tiap mulut warganya. ''Tak usahkan seperti PT Timah mau membangun sekolah atau rumah sakit. Membantu membangun masjid saja mereka tak mau. Tak usahkan masjid, minyak untuk bahan bakar lampu colok di malam-malam Ramadan saja, mereka tak
mau membantu!'' hujat beberapa warga Desa Pengambil. Para pengusaha itu baru
terbirit-birit berbuat baik kalau ada kunjungan pejabat tingkat I atau anggota DPRD, atau pejabat lain. Setelah itu, kanal-kanal limbah mereka buka kembali, dan sungai Gelema (salah satu anak sungai di sana) pun butek bagai susu dan membunuh semua biota laut yang ada di dalamnya.
Itu baru soal lingkungan, soal sosial. Belum lagi kesempatan kerja untuk masyarakat setempat. ''Bayangkan saja Pak,'' cerita mereka, ''Supir truk saja mereka datangkan dari Bangka dan Belitung,''keluh warga Pengambil itu lagi. Menurut mereka, perusahaan penambangan pasir di sana, namanya saja milik pengusaha Indonesia yang berkedudukan di Tanjungpinang atau Pekanbaru. ''Tapi semua diatur oleh pemilik
modalnya orang Singapura, melalui kaki tangannya yang ada di lokasi,'' lanjut mereka.
Untunglah, setahun terakhir ini ada gairah baru di sana. terutama untuk mobilitas usaha masyarakat. Ini tidak lain berkat adanya upaya membuka isolasi antar desa di sana dengan membangun jaringan jalan aspal yang baru (harap dicatat: jalan aspal buat warga Singkep sudah dikenal 100 tahun lalu di zaman rahmat Timah. Cuma setelah timah pergi, jalannya jadi compang camping dan bagai kubangan kerbau).
Seperti dari Jagoh, pelabuhan kapal feri, ke Sungai Buluh, Pengambil, Kuala Raya, terus ke Dabo. Atau jalan lama dari Jagoh ke kota, Lanjut dan terus ke Dabo, sehingga urat nadi ekonomi mulai berdenyut. Para pedagang ikan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari mulai mudah ke mana-mana, dan harga tidak lagi terlalu
mencekik leher masyarakat. ''Sekarang ini, di tengah krisis ekonomi, kami bisa hidup dari hasil penjualan ikan dan bahan pangan tidak terlalu tinggi,''kata beberapa warga desa Kuala Raya.
Tetapi, kehidupan masayrakat secara umum, benar-benar masih banyak yang terpuruk.
Tampaknya kebijakan Pemda yang membiarkan usaha merobek-robek punggung Singkep untuk penambangan pasir dan merambah hutan untuk industri kayu,bukan merupakan solusi yang tepat. Bahkan cenderung makin menghancurkan hari depan pulau itu. Lalu, bagaimana?
Jauh hari sebelum PT Timah angkat kaki, semasa Ir AE Batubara menjabat sebagai Kepala Unit Penambangan Timah Singkep, pernah ada gagasan untuk mengembangkan Singkep sebagai sentra perkebunan. AE Batubara seakan menyampaikan pesan penuh isyarat, kemungkinan cadangan timah habis atau stop sama sekali lantaran harganya anjlok, dan menawarkan alternatif perkebunan sebagai jalan keluar. ''Kalau timah habis, ada sawit atau tanaman keras lainnya sebagai alternatif.''
Seperti yang diceritakan Murjani Lelek, seorang mantan karyawan UPTS mengutip Batubara, kemudian merancang satu paket proyek perkebunan sawit yang dianggarkan akan menelan biaya sekitar Rp15 miliar yang dananya dari PT Timah sendiri. Pulau Singkep dinilai selain cocok untuk kebun kelapa sawit, juga untuk coklat, cengkih, dan merica (lada hitam), di samping tanaman keras tradisional yang sudah dikenal di
sana yaitu karet dan kelapa. Namun proyek senilai Rp15 miliar itu gagal menyusul
ditariknya Batubara. ''Penanaman kelapa sawit sudah dimulai di Marinip dan Suar Bandung, tapi gagal lantaran kesulitan pupuk,'' kenang Murjani.
Batubara juga mencoba gagasan lain, yaitu upaya pemulihan lahan bekas penambangan dengan melakukan reklamasi. Reklamasi lahan, ujar Murjani, pernah dilakukan melalui kebun percobaan bekerjasama dengan Litbang Departemen pertanian Bogor. hasil survei menunjukkan, tanah di Pulau Singkep yang berjenis Alluvial, Regasal, Hydromorp kelabu dan Podsolik merah kuning dapat dipulihkan melalui program tanaman perkebunan.
Memang, kebun percobaan itu tidak terlalu berhasil, karena memang tidak ada yang
mengurusnya. Tetapi, program pemulihan lingkungan oleh masyarakat sendiri, dengan
mengambil konsep kebun percobaan, dengan membuat pemukiman baru dan menanaminya ternyata berhasil. Seperti di Bukit Kabung, Sergang, Tanah Putih, Pasir Kuning dan lainnya. Upaya Batubara, kabarnya juga dilakukan untuk pemanfaatan bekas kolong-kolong untuk budi daya ikan, seperti sepat, nila, dan lainnya dengan kerjasama Universitas Riau (Unri), meskipun hasilnya hampir sama. Secara teknis berhasil,
tetapi kemudian tidak terurus dan tidak pernah dikembangkan lagi.
Itulah sebabnya, ketika PT Timah angkat kaki dan kemudian menghibahkan dana sekitar Rp1 miliar untuk memperbaiki kehidupan pulau itu yang oleh warga Dabo Singkep disebut ''dana pampasan'' banyak pihak yang menyarankan agar dana itu dikonsentrasikan ke pembangunan sektor perkebunan dalam skala kecil, tetapi melibatkan banyak masyarakat. ''Paling tidak Rp1 miliar itu bisa jadi modal selebihnya diusahakan dana dari perbankan,'' kata mereka yang disuarakan melalui beberapa tokoh LSM (lembaga swadaya masyarakat) Singkep.
Tapi, tampaknya para pejabat daerah di Tanjungpinang dan Pekanbaru lebih suka berpikir pendek dan menggunakan dana itu untuk membangun berbagai prasarana, seperti pelabuhan atau lainnya. Bahkan konon dibeli juga untuk tempat-tempat sampah. Memang ada dampak positifnya, seperti pelabuhan Jagoh yang kini menjadi pelabuhan andalan karena pelabuhan Dabo dalam pembangunan baru. Tetapi tak mampu memberi arah kepada kehidupan pulau itu di masa depan.
Belakangan, kabarnya muncul kembali upaya untuk menjadikan Singkep sebagai daerah
perkebunan, khususnya sawit dan coklat. ''Kabarnya grup Surya Dumai sudah berminat dan survey,'' cerita seorang kepala desa gembira. Kalau benar, katanya lagi, dan kelak dengan pola PIR misalnya ini akan memberi harapan. ''Paling tidak, mau jadi apa Singkep ini, lebih jelas,'' tukasnya.
Namun bersamaan dengan itu, berhembus kabar bahwa Surya Dumai dan juga beberapa pengusaha lain yang ingin menanam modal di sana (termasuk kabarnya membangun pabrik kertas dengan bahan baku kayu sengon), kesulitan mmeperoleh lahan usaha karena tak ada lagi lahan yang bisa diperoleh dengan mudah untuk perkebunan dan usaha industri lainnya. ''Sudah habis dibagi-bagi dan dikapling-kapling,'' papar warga. Oleh siapa?. ''Tanyalah sendiri ke Tanjungpinang atau Pekanbaru, pak!,'' sergah seorang pemuka masyarakat Dabo dengan nada marah.
Sayang memang, padahal ini merupakan solusi yang jauh lebih baik ketimbang terus diberi izin penambangan pasir yang akan menghancurkan pulau itu dan kehidupan perikanan di sana. Solusi lainnya adalah bekas kompleks perkantoran dan pergudangan PT Timah di sana untuk industri, seperti moulding atau garmen. Dan inilah dulu yang kabarnya menjadi salah satu pilihan jika program pembangunan pulau ini disejalankan
dengan pembangunan Batam dan Bintan, untuk menyambung gagasan Barelang (Batam, Rempang dan Galang) sebagai salah satu relokasi industri Singapura yang harus out dari sana.
Memang, mengubah orientasi warga dari pertambangan dan nelayan, tidaklah mudah. Sebab, kalau dari tambang timah, pasir dan kilang kayu serta melaut, warga tinggal memetik hasilnya. Sedangkan di sektor pertanian, perlu proses waktu samapi panen. Bagi warga yang dalam kondisi sulit dan apatis itu, memang harus ada usaha perantara. Pilihannya tak lain adalah budidaya perikanan laut dan air tawar, serta
tanaman pangan, seperti padi yang untuk pulau ini juga sudah pernah dilakukan penduduk. ''Tapi siapa yang mau peduli,'' ungkap seorang pemuka masyarakat di sana.
Itu sebabnya, sangat kentara sikap warga yang terus apatis dan mendua. Di satu sisi, mereka rela lahan yang ada digarap sedemikian rupa. Baik untuk pengerukan pasir maupun kayu-kayu yang dirambah. Namun, kalau berurusan dengan uang ganti rugi mereka oke-oke saja. ''Karakter masyarakat Singkep mudah dibaca. Kalau mereka sudah mendapatkan apa yang diinginkan mereka akan diam. Dan ini dimanfaatkan oleh pengusaha,'' kata Murjani pula.
Hal ini diakui oleh sebagian warga. ''Kalau dikasih duit untuk ganti rugi pembebasan lahan, tentu warga akan menerima,'' sebut mereka. Sebab, belitan kemiskinan membuat warga mau saja tanahnya diuruk dan dikeruk. Tapi kalau uang ganti rugi sudah habis, kemudian melihat sumber perikanan mereka punah dan pulau terkoyak-koyak, maka mereka pun kembali teriak.
Artinya, melihat Singkep yang terkoyak-koyak dan tanahnya bolong-bolong warga tak rela. Walau akhirnya mereka pasrah karena mereka tidak tahu harus berbuat apa. ''Kalau saya masih muda, mau rasanya angkat kaki dari sini lantaran tidak tahan melihat eksploitasi yang terjadi,'' tutur seorang di antara warga. Tapi siapa yang peduli dengan keluhan mereka, kalau ternyata menjual pasir lebih banyak menghasilkan untung dan devisa?
Kasarnya, biarlah Singkep buntung asal pengusaha untung. Atau dalam nyanyian pedih warga di sana : Singkep tenggelam, Singapura timbul. (socrates)


Wartawan dan Tukang Pijat (3)

Posted by Jammes 4/04/2008 2 comments
Sejak berusia belasan tahun sampai sekarang saya suka dipijit. Seperti hobi dan menjadi kebutuhan. Segala macam jenis pijat, saya coba. Selain menghilangkan pegal, saya menganggap pijat bisa memperlancar peredaran darah.
Dulu, saya hanya dipijat tradisional. Tapi di Batam, saya coba pijat Thailand, pijat refleksi, Okub Medan, pijat Shiatsu, hingga pijat listrik. Banyak cerita unik soal pijat memijat ini. Mau tahu ceritanya?

Tukang pijat di kampung saya, mengurut dengan minyak makan, dicampur bawang dan balsem. Tapi kini, pijat pakai krim, hand body hingga baby oil alias minyak bayi. Hobi pijat saya, tetap jalan saat jadi wartawan. Banyak juga rekan wartawan yang punya hobi sama dengan saya. Tapi, mungkin ia malu bercerita.
Seorang rekan wartawan saat tugas di Bukittinggi, suka pijat ''cuci kolong''terutama di bagian kaki dan paha. Saat saya ajak ia menulis berita soal tukang pijat ini, ia menolak. ''Nanti kita juga yang susah cari tukang pijat,'' katanya.
Suatu hari, saya mendapat informasi, ada panti pijat mesum baru buka di Batam. Saya datang untuk wawancara. Saya lalu dibawa bos pijat itu ke ruangan kecil, lalu memperlihatkan surat perjanjian dengan para tukang pijat, dilarang berbuat tak senonoh. Sampai saat ini, saya langganan pijat di sana. Ternyata, isu itu sengaja ditiupkan saingannya.
Suatu ketika, saya mendapat informasi, ada tukang pijat tuna netra yang kepergok selingkuh dengan seorang wanita separo baya. Ini dilakukannya lantaran suaminya jarang pulang. Toh, tukang pijatnya buta dan memakai kaca mata hitam. Kisah ini saya tulis di koran.
Keesokan harinya, seorang pemijat tuna netra datang ke kantor menyatakan keberatan dengan tulisan itu. ''Saya tak pernah berbuat seperti itu,'' katanya. Rupanya, kisah itu dibacakan seorang pengojek kepadanya. Maklum, ia buta. ''Hah, sejak kapan orang buta bisa baca koran,'' kata bos saya, sambil menahan tawa.
Saat pijat Thailand baru buka di sebuah hotel di Batam, beberapa teman saya mencobanya. Di kantor, mereka bercerita soal kehebatan pijat itu. Saya penasaran. Lalu, saya datang ke sana. Ternyata, pijat Thailand tubuh ditarik, ditekuk, dan hanya titik tertentu yang dipijat dengan dengkul atau kaki. Orang yang tak biasa dipijat, bisa-bisa kesakitan.
Pulang dari sana, saya tulis pengalaman pijat ala Thailand itu. Karena tak ada foto, saya minta seorang wartawan membuat karikaturnya. Ia menggambar seekor gajah yang sedang menginjak manusia. Begitu tulisan itu terbit, tiba-tiba saya ditelepon bos pijat Thailand itu. ''Pak, Anda bisa kesini, nggak?,'' katanya di telepon.
Saya agak khawatir juga. Jangan-jangan dia marah karena tulisan saya. Saya beranikan diri datang kesana. Ternyata, oala..dia mengucapkan terima kasih lantaran tulisan itu. Saya diberi amplop. Isinya bukan uang, tapi voucher pijat gratis sepuluh kali! Jadilah saya pijat gratis dan sebagian saya bagikan ke wartawan lain. Tulisan saya itu, juga ditranslet ke bahasa Inggris dan dijadikan brosur yang disebar di Singapura.
Karena keranjingan dipijat, saya jadi tahu suka duka tukang pijat. Di beberapa panti pijat, mereka hanya dibayar Rp6.000 per jam, sementara tarif pijatnya Rp40 ribu. Ada yang disediakan mess, ada yang tidak. Namun, tarif pijat di tempat tertentu, terbilang mahal.
Pijatnya bervariasi. Ada pijat kombinasi tradisional dan Thai, mandi susu, spa dan luluran. Harganya pun unik. Satu jam Rp188 ribu. Tempatnya pun bagus. Kamar VIP-nya selain kasur tempat pijat, dilengkapi dengan bath-tub, televisi dan lampu remang-remang. Tapi pijat tradisional, cukup kasur dan pembatas ruangan dari kain.
Selama mencoba berbagai jenis pijat ini, yang agak unik adalah pijat ala Madura dan pijat listrik. Pijat Madura pemijatnya wanita separo baya dan mengenakan kebaya lengkap. Karena agak gelap, saya melihat sosoknya seperti ibu kita Kartini, he..he..
Pijat listrik lain lagi. Namanya ATFG. Pijatan menggunakan alat dari besi yang dialiri listrik tegangan rendah. Lalu, tubuh digosok-gosok dengan gelondongan besi dan terasa panas. Biasanya, setelah dipijat badan terasa lemas dan dianjurkan memakan pepaya mengkal untuk memperlancar peredaran darah.
Meski penghasilannya kecil, tukang pijat umumnya mengharapkan tips dari tamu. Mereka harus bergiliran agar semua kebagian tamu. Lain halnya kalau pemijatnya dipesan tamu. Rata-rata, mereka memijat 3-5 orang tamu sehari.Namun, ada juga kisah sukses para pemijat ini.
Selain bisa mengirim uang ke kampung halaman, hasil keringat dari memijat orang, ada yang akhirnya bisa punya rumah dan motor, serta menyekolahkan anak-anaknya. Misalnya, seperti kisah Tono, seorang pemijat asal Jakarta. Lelaki bertubuh gempal ini, kini dikenal menjadi pemijat pejabat penting dan pengusaha terkenal.
Awalnya, ia bekerja di panti pijat refleksi Sin Cung Kok. Tak sampai setahun, tutup. Padahal, Tono terkenal bagus pijatannya dan telaten. Ia memutuskan jalan sendiri. Kepiawaiannya memijat, beredar dari mulut ke mulut. Saya termasuk yang ikut mempromosikannya.
Kini, ia menjadi langganan pijat mantan Kapolda, jaksa, polisi, hingga pengusaha ternama. Tono biasa memijat malam hari dan bersedia dipanggil ke rumah. Rata-rata, ia memijat orang dua jam.
Persaingan bisnis pijat di Batam makin meningkat. Malah, ada hotel yang menyediakan sampai 50 orang pemijat. Sebab, langganannya adalah para turis yang datang berombongan. Turis asal Korea, paling senang dengan pijat. Di berbagai sudut kota, bermunculan bisnis pijat. Saingan tukang pijat kini tidak hanya sesama pemijat, tapi juga kursi pijat yang dipajang di mal-mal. ***

Wartawan dan Kekerasan (2)

Posted by Jammes 4/03/2008 0 comments
SEJAK menjadi wartawan, saya tidak penah punya pos liputan. Jadi, ya meliput apa saja dijadikan berita. Satu yang saya catat, dunia wartawan adalah dunia yang keras. Butuh ketangguhan fisik, kekuatan mental dan kecerdasan otak sekaligus dalam menjalankan tugas.
Wartawan juga dekat dengan kekerasan. Baik melihat dan meliput kekerasan, maupun terkadang menjadi korban kekerasan. Pengalaman saya menyaksikan korban kekerasan ketika seorang wanita dibunuh dan mayatnya dibuang ke jurang. Saat tubuhnya dibalikkan polisi, ulat berloncatan dari perutnya.

Di Batam, saya menyaksikan bentrok antar suku yang menelan belasan korban jiwa. Padahal, pemicunya masalah sepele. Korban luka bacok dan darah berceceran, membuat saya bergidik.
Pernah terjadi kecelakaan maut korbannya seorang pelajar. Foto yang dibawa wartawan dan masuk ke komputer saya, korbannya digotong berlumur darah. Malamnya, saya tak bisa tidur. Terbayang korban yang akhirnya tewas. Keluar masuk ruang gawat darurat, ke kamar mayat akhirnya membuat saya terbiasa.
Saat pertikaian antar kelompok itu berakhir dengan acara perdamaian, saya memotret dan berdesakan dengan seorang fotografer asing. Ada acara pemotongan kerbau, babi dan kambing. Kerbau dipotong seperti biasa, namun kambing itu kepalanya ditebas! Saya merasa, jika foto tersebut dimuat di media luar negeri, bisa saja mereka menilai, betapa tak beradabnya bangsa kita.
Tindak kekerasan, teror dan intimidasi yang saya alami pernah terjadi beberapa kali. Mulai dari oknum tentara, pejabat, pengusaha hitam hingga warga biasa. Misalnya, saat saya dikejar-kejar beberapa oknum tentara yang disuruh pemilik cafe setelah saya menulis kisah pelayan yang nyambi jadi pelacur.
Yang paling seru, saat saya disuruh menghadap oknum pejabat militer yang marah karena pemberitaan mobil yang dikirim ke luar Batam. Dua rekan wartawan menemukan ada puluhan mobil dicat ulang dan siap dikirim ke Batam. Temuan itu, lalu dikonfirmasikan kepada petinggi militer yang datang ke Batam.
Keesokan harinya, ada orang tak saya kenal mencari saya ke kantor. Karena tak bertemu, ia mencari wartawan yang menulis berita itu, lalu mengajak ke kantornya. ''Bawa pimpinanmu kesini, kalau tidak kamu tidak boleh membawa motormu pulang,'' katanya kepada wartawan saya. Begitu informasi itu disampaikan kepada saya, sebagai bentuk tanggungjawab, saya pergi ke kantor orang tersebut. Lalu, kami disuruh ke ruang VIP bandara.
Saat itu pukul 16.00 WIB. Oknum pejabat militer itu lalu mengamuk. Ia memecahkah vas bunga. Lalu, tiga gelas kopi dilemparkan ke kaki kami. Melihat teman saya memandangnya, ia merasa ditantang. Ia lalu menyeret teman saya ke landasan pacu, sambil membuka baju. Teman saya ditempeleng dan di lehernya, ada bekas kuku setelah krah bajunya diangkat.
Jujur saja, kami ketakutan lantaran oknum pejabat itu sangat emosi. Semua nama di kebun binatang dilontarkan kepada kami. Tensinya baru agak reda setelah anak buahnya memberi tahu bahwa saya Ketua PWI. Lebih dua jam kami diteror dan diintimidasi di ruangan itu.
Setelah itu, seperti tak terjadi apa-apa, ia membolehkan kami pergi. Keesokan harinya, saya dipanggil ke Jakarta melaporkan kasus itu ke PWI Pusat. Masalahnya sampai ke DPR RI yang meminta penjelasan soal mobil-mobil tersebut. Untunglah, saya tidak terpancing untuk membeberkan masalah tersebut ke media. Padahal, ada beberapa wartawan yang juga pernah diancam dan diteror. Masalah ini baru selesai setelah beberapa wartawan mengadakan pertemuan dengan oknum pejabat tersebut.
Tindak kekerasan lain yang pernah saya hadapi adalah kekerasan massa yang dipicu oleh berita. Seorang tersangka penanam ganja kepada polisi mengaku di rumahnya ada beberapa orang yang terlibat menanam tanaman memabukkan itu. Siangnya, beberapa orang lelaki tak dikenal dengan tampang sangar, mengamuk di kantor saya. Tanpa ba, bi bu, langsung menggebrak meja dan memecahkan pintu kaca. Tujuh orang pelaku ditangkap polisi dan salah seorang mantan wartawan.
Kasus lainnya adalah ketika seorang wartawan yang mewawancarai anggota Komisi Pemilihan Umum menanyakan jumlah pemantau pemilu. Meski sudah disebutkan jumlahnya 150 orang, karena ditanya beberapa kali, anggota KPU itu menjawab,'' Jumlahnya 150 ekor,'' katanya, bercanda. Entah mengapa, dalam berita tersebut dari alinia pertama hingga berikutnya, tertulis 150 orang. Namun, di alinia terakhir, tertulis 150 ekor. Satu kata yang salah ini, memicu kemarahan massa.
Tanpa saya duga, sekitar pukul 20.30 malam, belasan orang datang mengamuk ke kantor. Masalahnya, ya satu kata yang salah itu. Ternyata, ucapan bercanda itu masuk ke benak si wartawan dan dia salah menulisnya. Dengan menyusun kedua belah tangan, saya meminta maaf. ''Ini tidak kami sengaja. Kalau disengaja, pasti semuanya menggunakan kata ekor. Ini hanya satu kata yang salah,'' kata saya meminta maaf dan pengertian massa yang marah. Satu hal yang saya khawatirkan, mereka merusak kantor saya. Untunglah, mereka mau menerima permintaan maaf saya dan saya berjanji menindak wartawan yang teledor dan gegabah itu.
Selain itu, entah berapa kali teror, ancaman bunuh dan intimidasi saya terima. Mulai dari yang halus, sampai yang kasar. Bisa berupa SMS gelap, maupun kemarahan dalam bentuk kata-kata. ''Tak selamanya ketajaman ujung pena bisa mengatasi masalah keamanan hidup Anda,'' kiriman SMS gelap yang pernah saya terima. Anda mungkin tak akan menyangka, seorang pejabat penting berkata kepada saya. ''Kenapa Anda tulis berita itu? Kan sudah saya bilang, jangan dimuat. Ternyata, benarlah kata orang Anda tidak suka pada saya,'' katanya dengan nada tinggi, lalu mematikan telepon.
Sebuah surat kaleng yang dikirim ke kantor, nyaris menghancurkan karir saya. Saat itu, saya menulis berkali-kali kasus mobil bodong di Batam. Kalau tidak salah, saya menulis sebanyak 14 kali. Suatu hari, saya diundang beberapa importir kakap ke sebuah hotel. Mereka bilang, gara-gara berita Anda, 160 mobil saya tertahan di Singapura. Saya jawab, saya tidak punya pretensi apa-apa dalam berita itu. Yang saya tahu, Anda melanggar peraturan. Mobil yang masuk ke Batam mestinya baru (brand new) tetapi teryata masuk yang bekas. Peraturan itu sudah dilanggar selama 10 tahun!
Ketika mereka berbisik-bisik dan saya menangkap mereka akan memberi sesuatu, agar saya berhenti menulis berita itu, saya berkata,'' Jangankan punya mobil, menyetir mobil pun saya tidak bisa. Jadi, kalau Anda mau memberi saya uang, saya minta Rp2 Miliar, setelah itu saya berhenti jadi wartawan,'' kata saya.
Mereka terdiam, lalu bertanya, bagaimana jalan keluarnya. Saya menyarankan, agar diadakan dialog terbuka dan mengundang semua pihak yang terkait. Mereka setuju dan meminta saya membuat proposalnya. Beberapa hari kemudian, tanpa saya duga sama sekali, ada surat kaleng yang dikirim melalui faks ke kantor saya.
Isinya, saya dituduh menerima uang dua kali dengan alasan uang itu saya bagikan kepada redaktur yang memegang halaman tersebut. Surat itu, juga dikirim ke bos saya di Pekanbaru. Saya kemudian membuat laporan tertulis dan menceritakan kronologis kenapa berita itu dibuat, siapa yang terlibat dan saya bersumpah tidak pernah menerima suap.
Saya juga menegaskan, jika saya terbukti menerima suap, saya siap dipecat sebagai wartawan. Bos saya menelepon dan menasehati saya agar saya berhati-hati menulis kasus tersebut. Saat ia masih menjadi reporter, bos saya juga pernah menulis kasus penyeludupan mobil.
Surat kaleng tersebut --sampai sekarang masih saya simpan-- saya baca berulang-ulang. Saya yakin, yang menulisnya pasti seorang wartawan, karena ada beberapa istilah yang hanya dimengerti orang-orang media. Beberapa tahun kemudian, keyakinan saya terbukti. Yang menulis surat itu seorang wartawan yang sudah menerima suap dan mencoba menghentikan saya menulis kasus tersebut.
Satu hal yang membuat saya sedih dan marah. Secara tidak sengaja, surat kaleng itu dibaca istri saya. Ia menangis berurai air mata. Saya merasa dituduh melakukan perbuatan tak terpuji itu, walaupun ia tidak bicara sepatahpun. Saya marah. ''Kalau saya seperti itu, kita tidak akan mengontrak rumah bertahun-tahun dan kemana-mana naik sepeda motor,'' kata saya, dengan nada keras.
Saya memang meniti karir dari bawah. Baru setelah tugas di Batam saya bisa menabung. Saat baru pindah, saya malah tujuh bulan tinggal di kantor, agar bisa hemat uang kos. Saya punya rumah tahun ke tujuh saya di Batam dan punya rumah tahun ke delapan. Syukurlah, mobil saya tidak bodong. Toyota Altis merah maron tahun 2001.
Kembali ke topik awal, kekerasan memang ada di sekitar wartawan. Berapa banyak wartawan yang tewas di medan perang, dibunuh dan kasusnya tak terungkap, diculik dan disiksa. Saya teringat kata-kata bijak. Bunyinya begini. ''Kebencian terhadap kritik, sama besarnya kehausan terhadap pujian.'' Dan, mana ada orang yang suka dikritik. Sementara, wartawan adalah tukang kontrol dan tukang kritik. Tapi, bukankah, kalau takut diterpa ombak, jangan berumah di tepi pantai? ***