Investigative Reporting

Posted by Jammes 6/08/2008 0 comments

Apakah semua wartawan menjalankan fungsi investigasi? Jawabnya bisa ya bisa tidak. Sebagian wartawan mengatakan setiap reporter juga seorang investigator. Namun ada yang mengatakan tidak setiap wartawan me-lakukan investigasi. Wartawan yang ikut pertemuan pers, menyodorkan tape recorder dan sekali-kali menerima amplop, pasti bukan seorang investigator.

Namun ada juga yang berpendapat setiap wartawan seyogyanya menjadi seorang investigator. Atau di-pertajam lagi, ada yang mengatakan bahwa setiap war-tawan harus bisa menjadi seorang investigator. Entah itu wartawan di kota atau reporter bisnis. Bahkan warta-wan yang bertugas meliput pakaian mode baru juga bisa menjadi investigator. Logikanya, kejahatan tak mengenal bidang-bidang liputan. Di mana-mana bisa terjadi keja-hatan.
Sebagian wartawan juga mengatakan bahwa inves-tigasi adalah pekerjaan jurnalisme yang dikaitkan dengan upaya membongkar apa-apa yang salah dan diraha-siakan. Namun apakah membongkar skandal antara se-orang manajer dengan mantan sekretarisnya juga dika-tegorikan investigasi? Apakah membong-kar skandal seorang politikus dan seorang aktivis perempuan bisa dikategorikan investigasi? Berhakkah media masuk hingga ke ruang pribadi ini? Apa beda investigative re-porting dan in-depth reporting?

Dari Muckraking hingga investigative Reporting
Sebelum masuk ke perdebatan-perdebatan tersebut, ada baiknya kita melihat apa yang terjadi di negara-negara lain yang tradisi persnya, setidaknya di bidang investigasi, lebih tua dari Indonesia. Di Amerika Serikat istilah investigative reporting mulai populer pada tahun 1975 ketika di Columbia didirikan Investigative Reporters and Editors Inc. Tapi ini bukan berarti sesuatu yang baru sama sekali. Sebelumnya ada istilah muc-kraking journalism, antara tahun 1902 hingga 1912, ketika majalah McClure’s menerbitkan laporan-laporan yang membongkar politik uang elit Washington. Sekarang IRE jadi salah satu organisasi terkemuka dalam masalah investigasi dengan anggaran $800,000 per tahun.
Setiap tahun IRE mengadakan seminar teknik-teknik baru dalam investigasi, baik dalam pengelolaan data-base maupun spesialisasi tertentu (lingkungan hidup mi-salnya), serta memberikan hadiah buat karya-karya in-vestigasi yang bagus di seluruh Amerika Serikat. Ia memperkenalkan sistem riset lewat internet maupun pe-makaian penginderaan jarak jauh.
Di Asia Filipina yang pertama kali memiliki organisasi semacam Philippines Center for Investigative Journalism ketika sekelompok wartawan muda pada tahun 1989 mendirikan lembaga itu sesaat setelah diktator Fer-di-nand Marcos melarikan diri dari Filipina. Direktur PCIJ Sheila Coronel datang ke Indonesia dan memberikan ceramah di Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta dan Ujungpandang pada 1-11 Oktober 1999.
Menurut Coronel, mereka mendirikan PCIJ karena me-dia di mana mereka bekerja tak menyediakan suasana yang memungkinkan bagi wartawan-wartawan muda itu untuk membuat in-depth reporting maupun investigative reporting. Budaya newsroom di Filipina lebih banyak di-habiskan meliput breaking news daripada analisa yang mendalam.
Pada November 1998 di Cambridge, Amerika Serikat, juga diadakan pertemuan perdana dari International Consortium of Investigative Journalists yang memberi-kan penghargaan buat wartawan-wartawan dari seluruh dunia yang berkarya dengan baik di bidang investigasi. Untuk pertama kali penghargaan ini diberikan kepada Nate Thayer dari mingguan Far Eastern Economic Review yang berpangkalan di Hongkong atas jerih-payah dan prestasi Thayer dalam mewa-wancarai tokoh Khmer Merah Pol Pot.
Di Indonesia sendiri kurang jelas mulai kapan istilah li-putan investigasi mulai menjadi populer. Namun setidak-nya ada beberapa majalah yang secara eksplisit pada tahun 1990-an menggunakan kata “investigasi” dalam liputan mereka. Dwi-mingguan Tajuk yang didirikan tahun 1996 memposisikan dirinya sebagai majalah “berita, investigasi dan entertainmen”. Majalah Tempo juga me-nambahkan satu rubrik “Investigasi” ketika terbit kembali 6 Oktober 1998.
Namun apa yang dinilai sebagai “investigasi” yang mungkin paling terkenal di Indonesia adalah liputan ha-rian Indonesia Raya atas kasus korupsi di Pertamina dan Badan Logistik antara 1969 dan 1972. Harian itu melaporkan dugaan ko-rupsi besar-besaran di Perta-mina dengan memanfaatkan sumber-sumber anonim dari dalam perusahaan negara tersebut. Pertamina mau-pun pemerintahan Presiden Suharto menolak adanya korupsi. Walaupun Indonesia Raya terkesan agak cru-sading dalam liputannya namun beberapa tahun ke-mudian terbukti bahwa Pertamina memang penuh de-ngan korupsi hingga hampir membangkrutkan peme-rintahan Suharto.
Dalam lima tahun terakhir ini, saya pikir liputan in-vestigasi skala internasional yang dilakukan oleh war-tawan Indonesia adalah investigasi tentang skandal e-mas Busang yang dibuat oleh wartawan lepas Bondan Winarno. Ia melanglang buana, pergi ke Calgary dan Toronto di Kanada, Manila di Filipina serta hutan rimba Busang di Kalimantan untuk menelusuri investigasinya yang dituangkan dalam bentuk sebuah buku. Bondan juga menelusuri berbagai dokumen tentang pertambangan mineral dan cara-cara untuk “meracuni” mata bor dengan “emas luar” sedemikian rupa sehingga dibuat kesim-pulan ada cebakan emas yang luar biasa besarnya di bawah permukaan hutan Busang.
Intinya Bondan menganggap Michael de Guzman, geolog senior Bre-X, “meracuni” sample hasil pemboran mereka dan melakukan kejahatan canggih untuk mem-perkaya diri mereka. Bondan secara mengejutkan juga memperkirakan bahwa de Guzman masih hidup, tidak mati bunuh diri seperti diberitakan. Bondan melaporkan bahwa mayat yang ditemukan di tengah hutan Busang itu tidak memiliki gigi palsu di rahang atasnya seperti yang dimiliki de Guzman. Geolog Filipina ini juga mem-punyai gaya hidup mewah, suka berfoya-foya, main pe-rempuan, yang tidak cocok dengan tipe orang yang me-miliki kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Aneh juga bahwa de Gusman tidak duduk di samping pilot he-likopter namun di belakang. Bondan mewawancarai dua orang dokter yang melakukan autopsi terhadap jasad tersebut serta seorang dari empat isteri de Guzman.
Dari gambaran sekilas atas pekerjaan Bondan mau-pun Nate Thayer sudah bisa kita ketahui bahwa inves-tigative reporting memang lebih berat dari rata-rata pe-kerjaan jurnalisme sehari-hari. Bondan butuh waktu dua bulan penuh untuk mengerjakan investigasinya. Thayer bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyakinkan Khmer Merah bahwa ia layak untuk mewa-wancarai Pol Pot.
Goenawan Mohamad dari majalah Tempo menyebut investigative reporting sebagai jurnalisme “membongkar kejahatan.” Ada suatu kejahatan yang biasanya ditutup-tutupi. Wartawan yang baik akan mencoba mempelajari dokumen-dokumen bersangkutan dan membongkar keberadaan tindak kejahatan di belakangnya.
Namun pemahaman ini perlu dibedakan antara inves-tigasi yang dikerjakan oleh seorang wartawan atau se-buah tim wartawan dengan liputan media atas hasil inves-tigasi pihak lain. Ketika mingguan Panji Masyarakat me-muat rekaman pembicaraan antara Presiden B.J. Habi-bie and Jaksa Agung Andi M. Ghalib pada pertengahan Februari 1999, banyak dosen komunikasi yang mengata-kan bahwa itulah investigative reporting. Ahli hukum me-dia Abdul Muis dari Universitas Hasanuddin mengatakan secara etis Panji tidak bisa disalahkan karena pemuatan itu bagian dari investigative reporting. Muis mengatakan bahwa Panji melakukan investigasi. Terlepas dari kebe-ranian Panji dalam menu-runkan pembicaraan itu de-ngan pertimbangan adanya public interest dalam perbin-cangan tersebut, Prof. Muis lupa bahwa rekaman ter-sebut bukan dikerjakan Panji sendiri. Yang melakukan investigasi bukan Panji karena majalah itu hanya menda-patkan kaset rekamannya saja. Bukan menyadap pembi-caraan telpon itu sendiri.
Robert Greene dari Newsday —beberapa kali disebut sebagai “Bapak Jurnalisme Investigasi Modern”— mem-batasi liputan investigasi sebagai karya seorang atau beberapa wartawan atas suatu hal yang penting buat ke-pentingan masyarakat namun dirahasiakan oleh mereka yang terlibat. Liputan investigasi ini minimal memiliki tiga elemen dasar: bahwa liputan itu adalah ide orisinil dari wartawan, bukan hasil investigasi pihak lain yang ditin-daklanjuti oleh media; bahwa subyek investigasi me-rupakan kepentingan bersama yang cukup masuk akal untuk mempengaruhi kehidupan sosial mayoritas pembaca suratkabar atau pemirsa televisi bersangkutan; bahwa ada pihak-pihak yang mencoba menyembunyikan kejahatan ini dari hadapan publik.

Dua Bagian Proses Investigasi
Mula-mula seorang wartawan investigator adalah war-tawan yang tidak menerima mentah-mentah pernyataan sumber-sumber resmi. Seorang wartawan yang mau me-lakukan pekerjaan riset yang dalam, tekun mere-konstruksi suatu kejahatan dan tidak kenal lelah untuk mengejar sumber-sumber yang penting, kira-kira itulah bayangan pekerjaan dalam jurnalisme investigasi.
Sumber-sumbernya banyak. Dokumen-dokumennya bertumpuk. Jelas bahwa sebuah karya investigasi tidak bisa dibuat hanya dengan mengandalkan sebuah lapo-ran pemeriksaan polisi atau keterangan pers sebuah lembaga swadaya masyarakat. Walaupun ukuran waktu bersifat sangat nisbi, namun sebuah laporan investigasi biasanya makan waktu cukup lama. Bisa setengah tahun namun bisa juga setahun tergantung pada ukuran dan cakupan investigasi tersebut.
Menyelidiki perdagangan senjata antar-negara dan penggunaannya oleh para serdadu bayaran tentu lebih lama daripada investigasi penyalahgunaan dana pemba-ngunan Pasar Pagi di kota Tegal. Perdagangan senjata biasanya melibatkan kejahatan terorganisasir di bebe-rapa negara. Serdadu bayaran juga beroperasi lintas batas. Namun ukuran waktu memang nisbi. Kalau me-reka yang dianggap melakukan penyalahgunaan reno-vasi Pasar Pagi ternyata sudah melarikan diri ke luar negeri, tentu waktu yang dibutuhkan lebih lama daripada sekedar mengejar sumber-sumber antara Tegal dan Ja-karta (dalam negeri).
Dalam skala internasional, investigasi memang keba-nyakan berkaitan dengan perdagangan senjata, operasi militer rahasia, operasi kelompok-kelompok bisnis rak-sasa berbau korupsi-kolusi, penyelundupan obat bius maupun penyelundupan tenaga manusia secara global (baik dalam bisnis pelacuran maupun perbudakan mo-dern). Bondan menyelidiki manipulasi contoh emas Bus-ang hingga ke kantor Bre-X di Calgary maupun situs Busang di dalam hutan-hutan Kalimantan Timur. Bondan juga pergi ke Manila untuk menemui saudara perempuan Michael de Guzman untuk mencari jejak ke arah dental record geolog Bre-X tersebut. Thayer harus mondar-mandir antara Bangkok, Phnom Penh dan hutan-hutan perbatasan Thailand-Kamboja untuk mengejar sumber-sumbernya di kalangan Khmer Merah.
Coronel secara singkat membagi proses investigasi ke dalam dua kali tujuh bagian. Pembagian ini untuk mempermudah seorang investigator dalam mengatur sistematika pekerjaannya. Bagian pertama merupakan bagian penjajakan dan pekerjaan dasar. Sedangkan ba-gian kedua sudah berupa penajaman dan penyelesaian investigasi:

Bagian Pertama
· Petunjuk awal (first lead)
· Investigasi pendahuluan (initial investigation)
· Pembentukan hipotesis (forming an investigative hypothesis)
· Pencarian dan pendalaman literatur (literature search)
· Wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli (interviewing experts)
· Penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail)
· Wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi (interviewing key informants and sources)
Petunjuk awal bisa berupa apa saja. Ia bisa berupa sebuah berita pendek di suratkabar. Ia juga bisa berupa sebuah surat kaleng yang menunjuk adanya ketidak-beresan dalam suatu lembaga tertentu. Ia juga bisa be-rupa telpon dari seseorang tak dikenal. Atau petunjuk ini juga bisa berupa suatu peristiwa besar yang sudah ba-nyak diberitakan media namun masih menyimpan teka-teki yang kelihatannya menarik untuk dikejar. Teka-teki ini bakal menarik kalau si investigator menemukan sum-ber penting yang bisa membuka ke arah terbongkarnya teka-teki tersebut.
Indonesia memiliki banyak sekali peristiwa-peristiwa menarik untuk diselidiki. Katakanlah mulai dari isu ke-terlibatan oknum-oknum berseragam dalam huru-hara 14-16 Mei 1998. Sebuah petunjuk bisa saja muncul dari berbagai arah yang bisa dipakai untuk menyelidiki peris-tiwa tragis tersebut. Atau pembunuhan mereka yang ditu-duh sebagai dukun santet di daerah Banyuwangi dan Jember. Mengapa tiba-tiba bupati yang memerintahkan pendaftaran para dukun santet diganti sebelum masa jabatannya berakhir? Huru-hara juga meledak di mana-mana. Dari Ketapang di Jakarta hingga Karawang hing-ga Kupang dan Ambon. Benarkah ada provokator dan kejahatan terorganisir di balik huru-hara tersebut? Seo-rang investigator seyogyanya sudah mengetahui latar belakang suatu kasus sebelum bisa mencium adanya petunjuk yang berharga.
Investigasi pendahuluan bisa berupa penggalian data lebih jauh, wawancara maupun peninjauan lapangan. Ri-set dikerjakan dengan teliti sebelum hipotesis ditetapkan. Pekerjaan yang terarah dan tajam praktis baru diker-jakan setelah hipotesis terbentuk. Bondan Winarno menggunakan metode deduksi untuk mencari data dan membuktikan hipotesisnya. Mula-mula dengan penca-rian dan pendalaman literatur. Lantas dikombinasi de-ngan wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli agar si investigator mendapatkan latar-belakang teknik yang memadai sebelum melangkah lebih jauh.
Coronel menekankan pentingnya pencarian dokumen-dokumen maupun wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi. Dokumen ini penting karena di sanalah bia-sanya ketentuan-ketentuan yang mengikat bisa dijadikan barang bukti. Dokumen juga bisa dipakai untuk mem-pertentangkan pernyataan-pernyataan nara sumber yang berbohong. Di Indonesia banyak sekali pejabat atau pe-mimpin perusahaan yang setengahnya “berbohong” de-ngan cara menjawab pertanyaan wartawan secara diplo-matis atau bahkan dengan memutar-balikkan logika. Dokumen tertulis akan membantah semua kebohongan.
Pekerjaan terakhir dalam tahap pertama ini adalah wawancara dengan orang-orang kunci. Pekerjaan ini se-ringkali makan waktu lama karena jarak maupun waktu. Orang-orang kunci tidak harus orang-orang dengan jabatan tinggi. Seorang tukang perahu dekat Samarinda bisa menjadi sumber penting dalam investigasi Bre-X untuk membuktikan bahwa “peracunan emas” tidak dila-kukan di gudang Loa Duri (seperti dilaporkan Asian Wall Street Journal). Atau seorang isteri yang bisa mene-gaskan bahwa suaminya memiliki gigi palsu di rahang atas. Memang sumber-sumber kunci dalam Bre-X juga termasuk John Felderhof, geolog senior yang juga atasan Michael de Guzman, namun yang sering terjadi orang macam ini keberatan untuk bicara dengan wartawan.

Bagian Kedua
· Pengamatan langsung di lapangan (first hand observation)
· Pengorganisasian file (organizing files)
· Wawancara lebih lanjut (more interviews)
· Analisa dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data)
· Penulisan (writing)
· Pengecekan fakta (fact checking)
· Pengecekan pencemaran nama baik (libel check)
Pengamatan langsung di lapangan seyogyanya dilaku-kan dengan berbekal peta geografis dari lokasi di mana investigasi dipusatkan. Wartawan seringkali melupakan tinjauan dari aspek geografis. Padahal banyak keputusan militer maupun dagang yang dibuat berdasarkan pertim-bangan geografis. Ahli penginderaan jarak jauh Christo-pher Simpson dari American University berpendapat bahwa 80 persen keputusan bisnis maupun dagang di-tentukan oleh pertimbangan geografis.
Pengorganisasian file akan mempermudah investigator untuk menganalisai dan mencari benang merah atau pola dari berbagai data temuannya. Investigasi akan pembu-nuhan dukun santet, misalnya, akan lebih mudah bila di-buat matriks yang mencatat kecenderungan-kecende-rungan korban pembunuhan. Entah lokasinya, metode pembunuhan atau pola penyebaran desas-desus. Dalam kasus korupsi yang canggih yang melibatkan banyak orang juga akan terbentuk suatu pola bisa semua data yang ada dimasukkan dalam database dengan rapi.
Penulisan laporan merupakan teknik tersendiri yang tentu tidak meninggalkan teknik pembuatan angle, focus dan outline. Data yang sedemikian banyaknya tentu me-merlukan seleksi yang ketat untuk memilih mana yang perlu dan mana yang kurang perlu. Walaupun media elek-tronik di Indonesia belum pernah punya reputasi harum dalam hal investigasi, namun ini lebih disebabkan ma-salah sejarah dan kepemilikan media elektronik. Cepat atau lambat, investigasi juga akan masuk ke media yang pengaruhnya luas sekali ini. Alat-alatnya pun men-jadi lebih rumit. Entah dalam bentuk kamera tersem-bunyi atau alat rekam ultra sensitif.
Pengecekan fakta (fact checking) sangat penting wa-lau banyak diremehkan wartawan. Apalah arti kerja ke-ras berbulan-bulan bila seorang sumber dengan enteng mengatakan, “Investigasi apa itu? Menulis ejaan nama saya saja salah!” Banyak sekali kesalahan yang keliha-tannya remeh namun bisa merusak penilaian orang akan laporan tertentu. Nama orang, tanggal kejadian, hubungan darah antar satu sumber dengan yang lain, jumlah anak, nilai transaksi dan sejuta data lain, harus disisir satu demi satu agar semua data akurat.
Wartawan Richard Lloyd Parry dari harian Inde-pen-dent (London) membuat laporan yang luar biasa soal terjadinya pembunuhan orang-orang Madura oleh o-rang Dayak di Kalimantan Barat antara Desember 1996 hingga Januari 1997. Parry menulis laporan se-panjang 40 halaman pada majalah Granta terbitan Lon-don. Data-datanya luar biasa. Peristiwa penjagalan manusia digambarkan dengan detail. Kuburan-kuburan dibongkar dan tengkorak-tengkorak dihitung. Namun pada halaman awal karangannya, Parry mem-buat ke-salahan kecil: Partai Demokrasi Indonesia dise-butnya sebagai partai dengan nomor kontestan dua sedang-kan Golongan Karya nomor tiga!
Pengecekan fakta ternyata tidak cukup. Dalam jaman di mana kebebasan pers makin terbuka, anca-man seringkali datang dari tuntutan dengan dasar pen-cemaran nama baik (libel check). Bondan mengatakan bahwa ia digugat pencemaran nama baik masing-masing Rp 1 triliun oleh mantan menteri pertambangan Ida Bagus Sudjana dan putranya Dharma Yoga Sudjana. Hingga kini kasus itu masih ada dalam proses hukum. Kedua belah pihak tidak mau mundur atau melakukan penyelesaian di luar hukum. Bondan harus membayar pengacara untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Namun ongkos pengacara tidak murah bukan? Bahkan menurut Bondan, biaya untuk melalang buana ke Kanada dan Filipina masih lebih murah di-banding biaya yang sudah dikeluarkannya untuk mem-bayar pengacara. Sebuah penerbitan bisa bangkrut bila tuntutan pencemaran nama baik terbukti benar. Se-mentara buat wartawan semacam Bondan, mundur berarti membiarkan reputasinya sebagai wartawan dipertanyakan.
Kesimpulannya, tidak ada cara lain yang bisa dila-kukan seorang wartawan daripada melakukan konsul-tasi hukum dengan ahli hukum perdata secara benar sebelum laporannya naik cetak atau disiarkan. Editor juga banyak berperan untuk mengantisipasi kemung-kinan munculnya gugatan pencemaran nama baik. Prin-sip cover both side seringkali sangat membantu untuk menghindar dari jeratan tuntutan pencemaran nama baik. Dalam kasus Bondan, ia memang beberapa kali men-coba mewawacarai Sudjana, namun kurang berhasil hingga naik cetak.

Hipotesis dan Teknik
Salah satu hal yang banyak membedakan antara in-depth reporting dan investigative reporting adalah ada atau tidaknya hipotesis dalam penelusuran tersebut. Saya berpendapat bahwa dalam batasan tertentu inves-tigative reporting adalah fase kelanjutan dari in-depth reporting. Majalah Panji Masyarakat jelas tidak memiliki hipotesis ketika mereka menurunkan laporan pembicaraan telpon Habibie-Ghalib. Namun keadaan ini akan berbeda bila Panji memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan itu dan melakukan investigasi sendiri. Dalam melakukan in-depth reporting seorang wartawan bisa be-rangkat praktis dari nol atau dari sekedar membaca kliping-kliping koran. Ketika wartawan itu sudah jauh lebih banyak mengetahui duduk persoalan sebenarnya —se-telah melakukan banyak wawancara, membaca tum-pukan dokumen serta mendatangi tempat-tempat yang berhubungan dengan liputannya— saat itulah ia pada titik hendak melakukan kegiatan lanjutan atau tidak. Liputan lanjutan inilah yang lebih bersifat investigatif. Membongkar kejahatan. Mencari tokoh-tokoh jahat dan merekonstruksi kejahatan-kejahatan mereka. Hipotesis sangatlah penting untuk membantuk wartawan mem-fokuskan dirinya dalam suatu investigasi.
Jakob Oetama dari harian Kompas mengatakan ke-pada saya bahwa salah satu halangan kegiatan inves-tigasi di harian tempatnya bekerja adalah iklim ewuh-pekewuh terhadap mereka yang dianggapnya terlibat da-lam kejahatan tersebut. Keadaan ini yang membuat ha-rian terbesar di Indonesia ini mengalami kesulitan untuk mengejar dan menyelidiki hipotesis-hipotesis yang me-reka pikirkan.
Bondan Winarno dalam investigasinya soal Busang mengajukan hipotesis bahwa kematian Michael de Guz-man tidak wajar dan aneh. Ia juga curiga bahwa de Guzman adalah otak dari “peracunan” sample emas Busang sehingga harga-harga saham Bre-X naik ber-kali-kali lipat di mana de Guzman juga sangat diuntung-kan. Bondan curiga bahwa mayat yang ditemukan di hutan Busang itu bukanlah mayat de Guzman. Bagaimana mungkin mayat orang yang jatuh dari ke-tinggian 800 kaki masih utuh?
Untuk membuktikan hipotesis tersebut, Bondan mula-mula bicara dengan dokter-dokter yang memeriksa ja-sad tersebut. Ia menemukan bahwa para dokter Indo-nesia yang mengatakan bahwa mayat itu mayat de Guz-man hanya mendasarkan pengamatannya dari pakaian yang dilaporkan dikenakan oleh de Guzman. Sementara itu dari salah seorang isteri maupun teman-temannya, Bondan menemukan bahwa de Guzman memiliki gigi palsu. Sementara mayat itu tidak ada gigi palsunya.
Bondan juga terbang ke Filipina untuk mencari sau-dara-saudara de Guzman maupun mantan pembantu-pembantunya di Busang —Cesar M. Puspos dan Jerome Alo— yang semuanya menolak menemui Bondan. Ke-luarga de Guzman bahkan menolak untuk memberikan alamat dokter gigi yang biasa merawat Michael. Semen-tara pembantu-pembantunya seolah-olah raib tertelan bumi. Tidakkah ini indikasi bahwa ada yang aneh de-ngan “kematian” Michael de Guzman?
Bondan tentu memakai seperangkat teknik untuk mem-buktikan hipotesisnya. Selain wawancara panjang lebar di beberapa sudut dunia, ia juga mengadakan riset yang panjang, bahkan belajar tentang teknik pertambangan, untuk mendukung investigasinya. Salah satu kelebihan Bondan adalah sikapnya yang sopan. “Sikap santun itu penting. Ini sikap yang penting dalam investigasi,” ujar-nya. Dengan modal sopan-santun ini pula Bondan mene-gaskan prinsipnya bahwa ia tidak mau mencuri.
Soal mencuri atau tidak memang jadi isu yang sulit se-kali. Banyak wartawan yang berpendapat bahwa dalam investigasi, segala cara dibenarkan, termasuk mencuri dana, mencuri pembicaraan orang maupun mencuri infor-masi. Panda Nababan, wartawan senior majalah Forum Keadilan, berada pada kubu yang membenarkan pencurian data. Nababan memakai teknik apa saja untuk mendapatkan data. Ia pernah “menipu” petugas bandara Jakarta dengan mengaku dirinya sebagai seorang peja-bat tinggi militer dalam kasus pembajakan pesawat Ga-ruda Woyla. Dalam kesempatan lain Nababan juga per-nah mencuri dokumen di mobil seorang pejabat tinggi yang hendak menyerahkan dokumen itu kepada Presi-den Suharto.
Perdebatan antara boleh tidaknya mencuri data ini me-mang sangat erat terkait dengan masalah etika dan hu-kum. Namun secara umum ada beberapa teknik yang biasanya dipakai seorang investigator:
· Riset dan reportase yang mendalam dan berjangka waktu panjang untuk membuktikan kebenaran atau kesa-lahan hipotesis;
· Paper trail (pencarian jejak dokumen) yang berupa upaya pelacakan dokumen, publik maupun pribadi, untuk mencari kebenaran-kebenaran untuk mendukung hipotesis;
· Wawancara yang mendalam dengan pihak-pihak yang terkait dengan investigasi, baik para pemain langsung maupun mereka yang bisa memberikan background ter-hadap topik investigasi;
· Pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti-kriminalitas. Metode ini termasuk melakukan penya-maran. Sedangkan alat-alat bisa termasuk kamera ter-sembunyi atau alat-alat komunikasi elektronik untuk me-rekam pembicaraan pihak-pihak yang dianggap tahu persoalan tersebut. Ini memang mirip kerja detektif;
· Pembongkaran informasi yang tidak diketahui publik maupun informasi yang sengaja disembunyikan oleh pi-hak-pihak yang melakukan atau terlibat dalam kejahatan.
Hipotesis biasanya disusun dengan beberapa perta-nyaan dasar. Pertama-tama adalah pertanyaan tentang aktor pelaku kejahatan. Siapa yang bertang-gungjawab atas penyalahgunaan dana masyarakat tersebut? Siapa yang memicu huru-hara? Siapa yang mula-mula menye-barkan sentimen anti-etnik atau anti-agama tertentu? Siapa yang melakukan insider trading? Siapa yang mula-mula berkepentingan agar dukun-dukun santet dibunuh?
Dalam investigasi Bondan, ia berteori bahwa kasus Bre-X itu dilakukan oleh Michael de Guzman dan anak-anak buahnya yang dari Filipina. Bukan oleh al-marhum David Walsh, orang nomor satu Bre-X, maupun John Fel-derhof, geolog senior Bre-X yang juga atasan de Guz-man. Walaupun kedua orang itu juga diuntungkan oleh ulah de Guzman, namun mereka tidak terlibat dalam skandal ini. Felderhof boleh jadi mengetahuinya namun tidak mencegahnya. Bondan mendapatkan jawaban tertulis dari Felderhof.
Selain hipotesis tentang aktor pelaku, juga perlu ditanyakan cara-cara suatu kejahatan dilakukan. Bagaimana penyalahgunaan itu dilakukan? Bagaimana cara sample mata bor lubang-lubang Busang dicampur dengan emas luar agar ada kesan temuannya memang besar sekali? Bagaimana cara Michael de Guzman menipu sekian ba-nyak konsultan independen yang memperkuat hasil temuan Bre-X? Apa konsekuensi dari penyalahgunaan tersebut? Apa yang bisa dilakukan untuk memper-baikinya?
Hipotesis ini yang terus-menerus diteliti, diuji dan di-simpulkan benar-tidaknya. Kalau kemudian terbukti bah-wa hipotesis itu salah, seorang investigator harus de-ngan besar hati mengakui bahwa tidak terjadi kejahatan di sana. Kasus ditutup. Setiap investigasi memang me-ngandung kemungkinan bahwa hasilnya ternyata tidak sedramatis yang diperkirakan. Dan hasil yang negatif ini juga seringkali disertai dengan keputusan bahwa hasil investigasi tersebut tidak layak diteruskan.
Kesannya memang sia-sia. Mungkin biaya besar dan waktu lama juga sudah dikeluarkan. Selain itu, seringkali pekerjaan investigasi ini memancing mereka yang diru-gikan untuk mengajukan tuntutan hukum. Alasannya pen-cemaran nama baik. Hipotesis Bondan, misalnya, bisa saja salah kalau suatu saat ia mene-mukan bukti baru bahwa mayat itu ternyata benar mayat de Guzman. Bon-dan tentu tidak bisa dibenarkan bila salahnya hipotesis itu tidak diungkapkan namun fakta-fakta yang menye-satkan yang justru dipakai. Padahal ia sudah bekerja keras dan mengeluarkan uang cukup banyak untuk mela-kukan investigasi itu. Ironisnya, dalam kasus buku “Se-bungkah Emas di Kaki Langit” ini Bondan justru tidak mendapat gugatan hukum dari keluarga de Guzman. Ia justru mendapat gugatan pencemaran nama baik dari keluarga Ida Bagus Sudjana. Bondan masih beruntung! Dalam banyak kasus, taruhannya bahkan nyawa.

Penulisan dalam Sistem Memo
Investigasi yang baik perlu didukung oleh sistem pela-poran yang baik pula. Apalah artinya investigasi yang mahal dan makan waktu bila hasil akhirnya disajikan dengan buruk? Penulisan perlu dibuat menarik. Untuk itu metode penulisan dari pekerjaan besar ini harus didukung oleh sebuah sistem memo.
Sistem ini pada dasarnya adalah sebuah alat bantu buat wartawan untuk meng-atur pekerjaan mereka seca-ra lebih sistematis. Sistem ini membantu reporter be-kerja lebih mudah dan lebih cepat untuk mencari data dan menyusun arsip. Sistem memo terutama sangat berguna untuk membantu sebuah tim (bahkan seorang wartawan) untuk bekerja sama secara rapi dalam mengerjakan proyek mereka.
Seorang koordinator tim juga bisa memetik keuntungan dari sistem ini. Ia bisa mengetahui setiap perkembangan dari proyek yang sedang dipimpinnya. Ia misalnya dengan teratur bisa membaca laporan-laporan dari anggota-anggota timnya dan dengan cepat bisa memutuskan materi apa yang harus dikembangkan.
Sistem memo ini juga mempermudah penulisan draft final. Alasannya sederhana saja. Dengan secara teratur dan disiplin membuat memo, proses penulisan jadi sebu-ah proses yang dinamis. Penulisan laporan final, entah dalam bentuk buku atau artikel, menjadi sebuah proses kerja yang lebih sederhana karena semua bahan sudah tersedia dan secara teratur diperbarui terus-menerus. Pekerjaan final hanya tinggal dilakukan dengan menyu-sun blok demi blok sesuai dengan outline laporan yang hendak dibuat.
Sistem memo lagi-lagi diperkenalkan oleh Bob Greene dari Newsday. Ia pada mulanya membuat sistem ini untuk keperluan investigasi di mana pengecekan data-data dibuat dengan sangat hati-hati dan menyeluruh. Sistem memo yang diperkenalkannya sekarang diadopsi oleh banyak organisasi berita di seluruh dunia termasuk International Consortium of Investigative Journalists.
Pertama-tama, ada dua tip yang diperkenalkan oleh Greene. Nama orang senantiasa diketik dengan huruf besar. Hal ini akan mempermudah editor, koordinator tim atau reporter dalam membaca memo-memo yang berdatangan setiap hari. Seperti tertera dalam artikel ini, penyebutan nama pertama kalinya senantiasa ditam-bah dengan date of birth (dob). Ini penting karena sebuah sumber boleh jadi baru berumur 68 tahun ketika diwawancarai. Namun ketika naskah diterbitkan umurnya sudah 69 tahun.
Memo ini pada dasarnya adalah produk kerja seorang wartawan; ia merupakan kompilasi dari apa yang dilihat sang wartawan, didengarnya, dibacanya, dibauinya, dira-sakannya dan dicicipinya. Seorang wartawan harian atau wire service tidak memakai memo. Laporan harian itu sendiri sudah merupakan kumpulan memo. Mereka yang pernah bekerja di Reuters atau Associated Press tentu mengetahui bagaimana rasanya membuat berita yang diturunkan hampir setiap hari kalau tidak setiap jam.
Memo hanya dipakai untuk mereka yang bekerja dalam periode waktu yang panjang. Bisa mingguan dan yang penting yang terlibat dalam penulisan buku atau investigasi skala besar. Cara tradisional untuk meng-gunakan jolt note sebelum seorang wartawan menulis laporannya jelas tidak efisien. Ini cara yang kuno. Berapa dari kita yang masih bisa membaca tulisan tangan kita sendiri setelah seminggu? Dan berapa banyak orang yang bisa mengerti tulisan tangan kita? Apabila seorang koordinator membutuhkan jolt note anggotanya, seberapa besar kemungkian bagi si koordinator untuk memahami semua coretan tangan reporternya?
Kalau anggota tim hanya dua orang, dengan mudah keduanya bisa duduk berdua dan membandingkan jolt note. Namun kalau anggota lebih dari empat dan tinggal di tempat-tempat yang berbeda?
Sekedar contoh. Investigasi huru-hara Kebumen. Ada cukup banyak reporter yang bekerja dari Kebumen. Na-mun mereka merasa tidak cukup. Perlu ada pekerjaan yang dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Semarang dan Ambarawa. Bahkan mereka membutuhkan bantuan tenaga luar untuk terjun di Kebumen. Berapa dana yang harus dikeluarkan bila setiap kali semua anggota tim harus rapat dan diskusi bersama? Greene membagi memo dalam dua macam: “copy ready” dan “procedural.”
Memo copy ready meliputi semua fakta yang sudah diverifikasi dan bisa diatribusikan dengan jelas (beda-kan antara ‘off the record’ atau ‘background’ dengan ‘at-tribution’ and ‘not to be quoted’ dan beri kotak dalam jolt note). Memo jenis ini disusun dalam blok-blok yang kelak bisa dipakai dengan mudah dalam sebuah laporan.
Memo ini jelas bukan cerita. Ia bukan cerita jadi karena blok-blok tersebut masih harus diatur dalam komposisi yang siap untuk publikasi. Ia belum memiliki jembatan, lead atau detail lain. Namun memo juga tidak perlu me-ngikuti aturan ‘awal, tengah dan akhir.’ Memo ini secara sederhana hanya sekumpulan blok-blok yang dibuat berdasarkan perkembangan harian atau dua harian untuk dipakai dalam konstruksi laporan lebih lanjut.
Memo prosedural meliputi semua fakta yang belum diverifikasi. Teori, spekulasi dan tip termasuk dalam ka-tegori ini. Sebuah sumber bisa menghasilkan dua ma-cam memo. Dalam kasus Kebumen misalnya. Seorang perwira militer mengatakan bahwa Prabowo Subianto ada di Kebumen pada saat yang hampir bersamaan de-ngan terjadinya huru-hara untuk menengok kuburan ka-keknya. Ini fakta yang sudah diverifikasi. Namun ketika perwira ini berspekulasi bahwa Prabowo terlibat keru-suhan, kita harus memasukkannya dalam memo pro-sedural.
Semua memo ini disentralisasikan pada suatu lokasi yang disepakati bersama. Karena ini sudah jaman internet, memo sebaiknya dikirimkan lewat internet ke-pada koordinator tim bersangkutan. Ia akan menge-ditnya menjadi memo ‘copy ready’ yang lebih baik dan nantinya akan menyimpannya di database.
Pengiriman memo harus memenuhi jadwal yang telah ditentukan bersama. Bersama dengan datangnya me-mo-memo ini, koordinator tim bisa melakukan diskusi dengan anggota-anggota timnya. Kalau perlu ada perba-ikan atau pengejaran hal tertentu bisa segera diputuskan. Syukur bila database memo ini bisa diletakkan dalam web server yang dilengkapi dengan password. Server ini sebaiknya dilengkapi dengan search engine sehingga bisa diakses oleh semua anggota tim tanpa harus mene-rima email setiap hari.
Bila semua bahan sudah lengkap dan penulisan final sudah siap dilakukan, wartawan yang bertugas menulis dengan mudah bisa memanfaatkan memo-memo ter-sebut. Kalau ia harus menulis laporan sepanjang 10,000 kata, katakanlah, ia harus membaca memo-memo se-panjang 100,000 kata. Sistem ini juga dengan mudah bisa mengatasi proyek yang terbengkalai gara-gara reporternya mengundurkan diri. Database ini sebaiknya disimpan. Database ini jangan dibuang setelah proyek berakhir. Greene memiliki database sejak tahun 1972. Dan dalam banyak hal, blok-blok yang semula tidak kita pakai, lima atau sepuluh tahun lagi, ternyata menjadi sangat berguna.
Investigasi memang akhirnya menjadi sebuah pekerjaan yang bukan saja makan waktu, sulit, penuh disiplin tapi juga berbahaya. Namun resiko besar ini yang tam-paknya justru membuat investigasi makin diminati oleh wartawan yang suka tantangan, maupun masyarakat pembaca suratkabar, pendengar radio maupun pemirsa televisi. Kompetisi media yang makin ketat membuat ke-mungkinan untuk membuat investigasi makin meningkat. Namun kompetisi ini bisa jadi lunak apabila pola kepemilikan media justru didominasi kelompok-ke-lompok bisnis yang lebih cenderung mengejar hardnews daripada analisa dan kedalaman suatu berita. Apapun yang terjadi, investigative reporting adalah salah satu pengembangan jurnalisme yang paling memikat, paling menantang, paling mahal dan paling tinggi resikonya. Singkat kata, selamat berpetualang dan bersenang-senang dengan investigasi!

Merajut Fakta dengan Feature

Posted by Jammes 0 comments

ADA berita, ada feature. Sebenarnya, apakah beda antara keduanya? Feature adalah juga berita. Unsur-unsur 5 W + 1 H harus ada padanya. Tetapi, Feature adalah berita yang sudah dikreasikan sedemikian rupa, sehingga fungsinya tidak sekadar menyampaikan informasi.

Ketika seorang tokoh meninggal dunia, berita biasa hanya akan memuat data dimana dia meninggal, pada usia berapa, apa penyebabnya, apa yang membuat dia jadi tokoh, dimakamkan di mana, dan seterusnya. Te-tapi, pada sebuah feature, ketokohannya bisa digali lagi lebih dalam. Kisah-kisah hidupnya, yang unik, menarik dan bisa memberikan iktibar bagi pembaca diceritakan lagi. Komentar kerabat dekatnya diberi tempat.
Itulah fungsi feature. Bentuk tulisan ini leluasa menam-pilkan sosok manusia, menampilkan warna-warni hidup, memberi pencerahan, sekaligus menghibur. Fungsi ini terlalu berat kalau harus diemban oleh berita yang sudah dikenali perangainya sebagai sesuatu yang harus hadir dengan cepat.
Feature juga pas ketika dipakai untuk menulis hal-hal yang kecil, tetapi menarik, yang tak akan pernah jadi berita besar kalau ditulis dalam bentuk berita. Misalnya, minuman ringan paling populer saat ini, yaitu Coca Cola, ternyata lahir setelah John Pemberton, si peraciknya, sakit kepala. Sejarah lahirnya es krim, juga menarik ditu-lis dalam bentuk Feature. Tulisan ilmiah populer sering-kali – atau bahkan selalu – ditulis dalam bentuk feature.
Karena itu, dalam persaingan berbagai bentuk media sekarang, terutam dengan televisi, maka media cetak mau tak mau harus menampilkan kedua bentuk tulisan ini: berita dan feature. Lalu bagaimana menuliskan feature itu?

Jauhi piramida terbalik
Feature, jarang sekali ditulis dalam bentuk piramida terbalik. Feature kebanyakan ditulis dalam bentuk naratif yang kronologis dan berakhir pada klimaks di akhirnya. Atau bisa juga dipakai bentuk penulisan jam pasir.

Pilih Tema.
Pertanyaan yang harus diajukan sebelum memilih dan memutuskan tema feature kita adalah: Apakah tema ini sudah pernah ditulis orang lain sebelumnya? Apakah ceritanya menarik bagi sebagian besar pembaca? Apakah ceritanya bisa menarik emosi pembaca? Apa yang membuat cerita itu menjadi berharga untuk ditu-liskan?

Lead yang menohok.
Tulislah lead yang mengundang pembaca. Sebuah le-ad ringkasan atau rangkuman bukan pilihan yang ter-baik. Lead sebuah feature fungsinya memang sepe-nuhnya untuk menggoda pembaca, maka hindari me-nempatkan unsur-unsur berita yang kering di lead itu. Hingga paragraf ketiga pada sebuah feature yang baik, pembaca harus benar-benar dipikat untuk terus tergoda membaca hingga tulisan selesai. Nah, barulah pada pa-ragraf keempat, apa yang ingin kita kisahkan mulai dima-inkan.

Isi Berita
Informasi penting dalam sebuah feature disajikan sese-dap-sedapnya dalam isi berita. Kelihaian menyusun ka-ta, menghibur dan memainkan emosi pembaca berda-sarkan fakta-fakta yang sudah kita kumpulkan diperta-ruhkan disini. Itulah sebabnya, maka kadang, seorang penulis terjebak memasukkan opininya di sini. Ketimbang beropini, kita bisa mendukung tema feature kita dengan kutipan, data, dialog, dan informasi pendu-kung lainnya.

Penutup Istimewa.
Akhirilah feature kita dengan penutup yang istimewa. Itu bisa dilakukan dengan merujuk ke lead, sehingga pembaca diberi kejutan atau bisa menyimpulkan sen-diri. Penutup feature bisa juga berupa klimaks dari kro-nologi yang sudah dikisahkan sebelumnya.
Seperti Rajutan
Karena feature biasanya ditulis panjang, maka buat-lah tulisan kita seperti rajutan: saling bersambung tak putus! Karena itu penting dilatih keterampilan meng-hu-bungkan lead, isi dan akhir cerita dengan kalimat-kalimat transisi yang tidak kaku. Selang seling antara kutipan ucapan dalam kalimat langsung dengan paraf-rase bisa sangat membantu. Juga kalau kita lengkapi feature kita dengan dialog antara tokoh-tokoh yang men-jadi tema tulisan kita.

Feature, Enaknya Pakai Contoh

Misalnya kita pulang dari peliputan di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Hari itu dibahas Laporan Pertanggungjawaban Wali Kota. Salah satu yang menjadi sorotan anggota DPRD adalah pening-katan jumlah penduduk miskin. Jika kita memberitakan itu apa adanya sesuai dengan apa yang kita dapatkan dalam sidang DPRD itu, kita mendapatkan sebuah berita yang bagus dan menarik perhatian. Bisa jadi ma-salah itu akan jadi pembicaraan selama berhar-hari.
Mestinya kita tidak berhenti pada data saja. Kita bisa membuat berita lain dari isu kemiskinan itu dengan tuli-san yang lebih menyentuh perasaan pembaca. Kita perlu menuliskan beritanya dalam bentuk feature. Istilah ini dipakai untuk tulisan khas di surat kabar atau maja-lah yang bentuknya bukan berita biasa. Bukan straigth news. Tulisan yang disusun seperti kisah. Karena itu, tulisan ini kerap kali mengambil tema yang menyentuh hati manusia, human interest.
Untuk contoh isu kemiskinan tadi, apabila kita ingin membuatnya jadi feature, kita bisa melengkapi bahan-bahan tulisan dengan mengamati, mewawancarai, men-deskripsikan salah satu penduduk kota atau salah satu keluarga yang miskin atau kalau bisa yang paling miskin. Berapa kali dia makan sehari, bagaimana mereka men-cari nafkah, dari mana asalnya, dll. Lalu yakinlah kisah keluarga miskin tadi menjadi contoh yang pasti lebih me-nyentuh ketimbang sekadar berita yang memuat angka-angka statistik tentang kemiskinan yang kita dapatkan dari rapat di kantor DPRD. Apalagi kalau isinya cuma ungkapan-ungkapan keprihatinan dari pejabat.
Tak ada cara lain yang lebih manjur untuk melatih ben-tuk tulisan ini selain mencoba dan mencoba. Apa yang dilakukan Sultan Yohana berikut ini bisa jadi contoh. Baca juga bahasan Farid Gaban, moderator milis jurnalisme atas feature itu. Banyak hal bisa dipelajari. Ini Beritanya:
Saat Perang Aceh Terus Berkecamuk
(Derita Suami Istri Pengedar Ganja)
Wajah Yusnidar (34 th) begitu kentara menyiratkan ketakutan luar biasa. Saat beberapa kamera beserta mikrophone disodorkan tepat di wajahnya, oleh beberapa reporter televisi.”Sudahlah mas, saya mohon, cukup-cukup,” katanya sambil mencoba menyembunyi-kan wajahnya di tubuh suaminya, Hendra (37 th).
Suami istri itu Jumat (1/8) sekitar pukul 15.00 WIB, ditangkap jajaran Satuan Narkoba Poltabes Barelang, di depan Supermarket Kawi Jaya Nagoya Batam. Dugaan awal, keduanya adalah pengedar ‘daun surga’. Dari tangan wanita asal Aceh tersebut, polisi berhasil menyita 10 paket hemat ganja, yang masing-masing dijualnya dengan harga Rp5 ribu.
Bahkan, saking takutnya saat proses penankapan diri dan suaminya, celana warna hijau sepanjang lutut yang dikenakannya itu, basah oleh air kencing. Sesaat sete-lah digeladang ke kantor polisi, keduanya duduk di lan-tai keramik putih pojok ruang tamu. Sementara anak-nya, Putri (3,5) mulutnya sibuk mengemot susu botol, erat berada di dekapan sang ayah. Tak tahu bahwa ke-dua orang tuanya sedang menghadapi masalah besar.
Sesekali gadis berpipi montok itu ikut nangis, melihat bapak dan ibunya menangis,” Sudahlah pak jangan menangis,” kata Yusnidar sambil mengusap air mata suaminya dengan telapak tangan kanannya, se-men-tara tangan kirinya berusaha meraih sang buah
hati dari dekapan sang suami.
Namun masih saja beberapa kamera televisi menga-rahkan lensanya ke wajah ketiga orang itu. Sambil tak henti-hentinya mencecar berbagai pertanyaan dan ber-usaha mengambil gambar yang paling menjual . Meli-hat itu, tak pelak, tangis Hendra semakin berderai. Dibi-arkan saja air mata meleleh dengan deras dari kedua matanya yang memerah. Hendra hanya bisa melawan situasi yang demikian dengan menutupi wajahnya de-ngan kedua telapak tangan.
Yusnidar mengaku terpaksa menerima profesi se-bagai pengedar ganja, saat Ali (tersangka yang meni-tipkan ganja untuk mereka jual,red) menawari keluar-ga yang baru dua bulan datang ke Batam. ‘’ Kami tak ada pekerjaan lagi mas,” kata wanita yang kelihatan berusia lebih tua dari aslinya.
Mereka terpaksa datang ke pulau ini, karena merasa di tempat asalnya, sudah tak lagi mempunyai masa depan yang menjanjikan. Perang saudara terus saja bergejolak di bumi rencong itu. ‘’Di sana tak henti-hen-tinya perang,” tambah Yusnidar sambil terus mem-bu-juk suaminya agar berhenti menangis.
Dari penjualan ganja mereka mengaku, tiap hari ber-hasil menjual kurang lebih 10 paket. Per paket mereka mendapatkan untung sebesar Rp3 ribu. ‘’Semuanya itu untuk makan kami dan membeli susu anak saya,” timpalnya lagi.
Profesi kepepet itu, dilakukan baru satu bulan, Nidar, demikian wanita dipanggil, tahu bahwa apa yang dila-kukan ini adalah hal yang melanggar hukum. Namun bagaimana lagi, sang suami yang berbekal tamatan sekolah dasar, sudah berusaha semampunya untuk mencari kerja yang layak. Karena apa yang diharap-kan ketika datang ke Batam ini, tak menjadi kenya-taan, dan akhirnya terpaksa menjadi pengedar ganja, keduanya memutuskan dia untuk kembali ke Aceh.
‘’Rencananya besok kami pulang. Lebih baik di kampung halaman dari pada menjadi pengedar seperti ini. Kami terpaksa berjualan itu, juga untuk mencari ongkos pulang,” kali ini tangisnya bertambah deras. ‘’ Mas bisakah polisi melepas kami kalau kami langsung pulang,” tanyanya lagi kepada wartawan koran ini dengan wajah polosnya. [sultan]
Berikut ini pembahasan Farid Gaban.
Tema Tulisan
“Pasangan muda yang terpaksa mengungsi dari pe-rang di Aceh dan menjadi pengedar ganja di Batam ka-rena mengganggur.” Kisah seperti ini sangat sarat de-ngan nuansa “human interest”. Tak salah jika Sultan me-milihnya sebagai tema feature, ketimbang sekadar berita langsung (straight-news). Ada perang. Ada pengungsian. Ada pengangguran/kemiskinan.

Pentingnya Feature
Tidak sekadar kisah “human interest”, tulisan seperti ini sangat kuat mengajak pembaca merenungkan beta-pa perang memiliki implikasi yang luas dan mendalam, terutama bagi kehidupan orang per orang. Tulisan seperti ini sangat menggugah dan potensial mempengaruhi perubahan kebijakan [misalnya mengilhami gerakan perdamaian dan bahkan perundingan damai].
Kita mungkin masih mengingat Perang Vietnam. Ra-tusan ribu tewas dalam perang itu, namun salah satu a-degan powerfull yang diingat banyak orang tentang ke-jamnya perang ini adalah sebuah foto yang menggam-barkan seorang anak perempuan telanjang menangis meninggalkan ledakan di latar belakangnya, atau seo-rang polisi tengah menembakkan peluru ke kepala kor-bannya. Dua foto itu bicara tentang manusia bukan ten-tang perang yang impersonal, dan sangat berpe-ngaruh pada munculnya gerakan anti-perang di Amerika.
Ketimbang hanya memfokuskan diri pada berita dan statistik perang, Sultan di sini mencoba menyodorkan “wajah manusia”—bukan sekadar angka. [Masih ingat kata Lenin: “Seratus ribu orang tewas adalah statistik, satu tewas adalah tragedi.”?]
Hal yang sama saya coba dalam liputan Perang Bos-nia [Dor! Sarajevo, Mizan, 1994]. Membaca ulang kumpulan tulisan itu, saya harus katakan tidak seluruh eksperimen tadi berhasil. Namun, yang ingin saya tun-jukkan, saya tidak sekadar meliput dar-der-dor, tapi me-rekam kehidupan sehari-hari penduduk Sarajevo yang selama setahun lebih terkepung oleh blokade—lengkap dengan ketakutan dan kegilaannya.Meski memakai pendekatan feature, Sultan belum mengerahkan semua elemen feature dalam tulisan ini, dan terutama dalam penggalian bahannya.

Kedalaman
Berita ini hanya bersumber pada adegan di kantor po-lisi. Sultan di sini bahkan tidak melakukan wawancara sendiri terhadap obyek tulisannya. Dia hanya melihat dan mendengar. Dia tidak bertanya.Jika kita ingin mem-buat feature yang bagus, wawancara yang lebih menda-lam merupakan keharusan.

Personal.
Jika Sultan bisa melakukan wawancara yang lebih pan-jang, pembaca mungkin akan mengetahui secara lebih lengkap profil keluarga yang malang ini, termasuk menguji fakta benarkah mereka hanya “pengedar yang terpaksa” atau “pengedar profesional”.
Dari Aceh bagian mana mereka datang? Kenapa me-reka memutuskan mengungsi? Kapan mereka meng-ungsi ke Batam? Apa pekerjaan mereka di Aceh sebe-lum operasi militer? Bagaimana pula gambaran hidup sehari-hari mereka di sana? Dengan cara bagaimana mereka datang dan hidup di Batam? Seperti apa kesu-litan sehari-hari yang mereka hadapi di Batam?

Konteks dan Signifikansi
Tulisan yang bagus adalah seperti kerja kamera tele-visi yang bagus. Kamera bergerak hidup dari narasi, close-up, kutipan dan wide-angle. Kisah tentang Yus-nindar dan Hendra adalah “close-up”. Sultan perlu me-lengkapinya dengan “wide-angle”, menempatkan kisah mereka dalam latar yang lebih luas; untuk memper-lihatkan betapa kasus mereka ini memang signifikan (penting) untuk ditulis. Di sini Sultan perlu menambahkan informasi dasar tentang konflik di Aceh dan implikasinya (meski tidak perlu berpanjang lebar):
— Sedikit kilas balik tentang operasi militer terakhir.
— Data pengungsi Aceh (versi pemerintah atau LSM).
— Berapa banyak kira-kira pengungsi Aceh di Batam?
— Bagaimana hidup rata-rata mereka?
— Apakah Batam menjadi tujuan utama?
— Bagaimana pengungsi di Batam diurus pemerintah?
Masih menyangkut konteks, Sultan mungkin perlu sedikit menambahkan data yang bisa menunjukkan apakah menjual 10 bungkus ganja sehari itu merupakan kejaha-tan kecil-kecilan atau kejahatan besar, terutama dalam lingkup Batam. Sultan bisa tanya polisi, berapa banyak penjahat yang ditangkap basah mengedarkan ganja; apakah ada kecenderungan meningkat; dan berapa ra-ta-rata ganja yang berhasil dirampas dari seorang penjahat di sana?
Show it, don’t tell it. Jangan katakan! Tunjukkan! Dalam feature sebaiknya kita menghindari kata sifat (bagus, cantik, luar biasa, marah). Jangan katakan mereka me-ngalami “ketakutan luar biasa”. Tunjukkan betapa mereka memang benar-benar takut (“kencing di celana” adalah ilustrasi yang kuat untuk menunjukkannya).
Lead tulisan ini bahkan lebih kuat jika Sultan memakai ilustrasi tadi, dibanding memakai narasi subyektif (“ken-tara menyiratkan ketakutan luar biasa”). Tapi, di sini mesti hati-hati; bagaimana Sultan tahu celana itu basah karena air kencing, bukan karena tumpahan air?
Sultan telah membuat deskripsi dan kutipan secara efektif. Ini merupakan modal penulis feature yang bagus.
“Setelah digelandang, pasangan suami-istri itu dibi-arkan duduk di lantai keramik ruang tamu kantor polisi. Celana hijau Yusnindar sepanjang lutut nampak ba-sah. Bau pesing menguap ke udara. Hendra, sang su-ami, menangis berurai air mata, sambil mendekap bayi mereka yang baru berusia tiga tahun, yang sesekali merengek dan menyedot botol susu. Beberapa kali Hendra menutup wajahnya dengan dua telapak tangan untuk menghindari terkaman kamera televisi.”Semu-anya itu untuk makan kami dan membeli susu anak saya,” kata Yusnindar. “Kami juga terpaksa ber-jualan [ganja] untuk mencari ongkos pulang [ke Aceh].” kuti-pan yang sangat menyentuh.

Penulisan Nama
Meski ada orang Indonesia yang punya nama dengan satu kata (Soeharto, Slamet), kebanyakan nama mereka terdiri atas dua kata (nama depan dan nama belakang/nama keluarga). Bagaimana dengan Yusnindar dan Hendra ini? Saya khawatir Sultan tidak menanyakan dan mencatat nama lengkap mereka.
Apakah itu penting? Penting. Menanyakan nama leng-kap tidak hanya menunjukkan sikap teliti sebagai warta-wan, tapi juga menunjukkan kepedulian. Banyak warta-wan tidak terlalu peduli pada orang miskin (atau penjahat kecil-kecilan), sehingga berpikir nama mereka tidaklah penting. Jika soal nama kita tak peduli, bisakah diharap kita peduli dengan nasib mereka (termasuk kemungki-nan tersangka itu tidak bersalah)?

Angka dan Ukuran
Sultan menulis: “...polisi berhasil menyita 10 paket he-mat ganja, yang masing-masing dijualnya dengan harga Rp 5 ribu.” Istilah “paket hemat” perlu penjelasan lebih lanjut. Apa yang dimaksud? Berapa gram? Adakah “pa-ket yang tidak hemat”? Apakah Rp 5 ribu itu murah, atau mahal untuk ukuran Batam?

Ending Tulisan
Kalimat ini tidak terlalu jelas bagi saya [‘’Mas, bisakah polisi melepas kami kalau kami langsung pulang?” ta-nyanya.] Sultan bisa menemukan kutipan yang lebih bagus untuk mengakhiri tulisan ini secara meyakinkan jika, seperti awal sudah dikemukakan, Sultan lebih banyak menggali pertanyaan dari obyek tulisannya.

Tulisan Khas Bernama Feature

Posted by Jammes 6/06/2008 0 comments

Feature adalah arti-kel yang kreatif, kadang kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi in-formasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan. Feature memungkinkan reporter ‘’menciptakan’’ sebuah cerita. Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat karangan fiktif dan khayalan tidak boleh, reporter bisa mencari feature dalam pikirannya, setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.

Secara kasar karya jurnalistik bisa dibagi menjadi tiga, pertama stright/spot News berisi materi penting yang harus segera dilaporkan kepada publik (sering pula disebut breaking news)
Kedua, news feature, memanfaatkan materi penting pada spot news, umumnya dengan memberikan unsur human/manusiawi di balik peristiwa yang hangat terjadi atau dengan memberikan latarbelakang (konteks dan perspektif) melalui interpretasi.Dan ketiga, feature bertu-juan untuk menghibur melalui penggunaan materi yang menarik tapi tidak selalu penting.
Dalam persaingan media yang kian ketat tak hanya antar media cetak tapi juga antara media cetak dengan televisi, straight/spot news seringkali tak terlalu me-mu-askan. Spot news cenderung hanya berumur sehari untuk kemudian dibuang, atau bahkan beberapa jam di te-levisi. Spot news juga cenderung menekankan seka-dar unsur elementer dalam berita, namun melupakan back-ground. Kita memerlukan news feature, perkawinan an-tara spot news dan feature. Karena tradisi ini relatif baru, kita perlu terlebih dulu memahami apa unsur-unsur dan aspek mendasar dari feature.

Subyektifitas
Beberapa feature ditulis dalam bentuk ‘’aku’’, sehingga memungkinkan reporter memasukkan emosi dan piki-rannya sendiri. Meskipun banyak reporter, yang dididik dalam reporting obyektif, hanya memakai teknik ini bila tidak ada pilihan lain, hasilnya enak dibaca.
Tapi, reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu. Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk menonjolkan diri sendiri lewat pe-nulisan dengan gaya ‘’aku’’. Kebanyakan wartawan ka-wakan memakai pedoman ini: ‘’Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda.’’

Informatif
Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penu-lisan berita biasa di koran. Misalnya tentang sebuah Mu-seum atau Kebun Binatang yang terancam tutup. Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang enteng-enteng saja, tapi bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan perubahan konstruktif.

Menghibur
Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi surat-kabar untuk bersaing dengan media elektronika. Reporter suratkabar mengakui bahwa me-reka tidak akan bias ‘’mengalahkan’’ wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke masyarakat. War-tawan radio dan TV bias mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah mereka tahu. Se-mentara itu wartawan koran sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa tahu sesuatu kejadian — setelah koran diantar.
Wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan radio dan TV, dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (in depth) menge-nai cerita yang didengar pembacanya dari radio.
Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter selalu mencari feature, terhadap berita-berita yang paling hangat. Cerita feature biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan dikalahkan oleh radio dan TV atau koran lain.
Feature memberikan variasi terhadap berita-berita ru-tin seperti pembunuhan, skandal, bencana dan perten-tangan yang selalu menghiasi kolom-kolom berita, feature bias membuat pembaca tertawa tertahan.
Seorang reporter bisa menulis ‘’cerita berwarna-warni’’ untuk menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya hal-hal yang baru dan segar.

Awet
Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk bungkus kacang. Unsur berita yang se-muanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali ‘’punah’’, tapi feature bisa disimpan berhari, ber-minggu, atau berulan bulan. Koran-koran kecil sering membuat simpanan ‘’naskah berlebih’’ – kebanyakan feature. Feature ini diset dan disimpan di ruang tata mu-ka, karena editor tahu bahwa nilai cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu.
Dalam kacamata reporter, feature seperti itu mem-punyai keuntungan lain. Tekanan deadline jarang, sehi-ngga ia bisa punya waktu cukup untuk mengadakan riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai mem-punyai mutu yang tertinggi.
Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu cu-kup. Profil seorang kepala polisi mungkin baru bisa dipe-roleh setelah wawan-cara dengan kawan-kawan seker-janya, keluarga, musuh-musuhnya dan kepala polisi itu sendiri. Diperlukan waktu juga untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap keadaan tertentu perwira itu.
Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature memberikan penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting, fakta-fakta yang mungkin merang-sang emosi (menghibur, memunculkan empati, disampil tetap tidak meninggalkan unsure informatifnya). Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah hu-man interest atau kisah yang berwarna (colourful).

Teknik penulisan feature
Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pe-ngaturan fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik ‘’mengisahkan sebuah cerita’’. Memang itulah kunci perbedaan anta-ra berita ‘’keras’’ (spot news) dan feature. Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah.
Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia meng-hidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.
Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggu-nakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelinca-hannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu. ‘’Piramida terbalik’’ (susunan tulisan yang meletakkan informasi-informasi pokok di bagian atas, dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah – hingga mu-dah untuk dibuang bila tulisan itu perlu diperpendek) se-ring ditinggalkan.
Jenis-jenis Feature

Feature kepribadian
Profil mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang seseorang yang secara dra-matik, melalui ber-bagai liku-liku, kemudian mencapai ka-rir yang istimewa dan sukses atau menjadi terkenal ka-rena kepribadian mereka yang penuh warna. Agar efektif, profil seperti ini harus lebih dari sekadar daftar pen-capaian dan tanggal tanggal penting dari kehidupan si individu. Profil harus bisa mengung-kap karakter manusia itu.
Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, penulis feature tentang pribadi seperti ini seringkali harus meng-amati subyek mereka ketika bekerja; mengunjungi ru-mah mereka dan mewawancara teman-teman, kerabat dan kawan bisnis mereka. Profil yang komplit sebaiknya disertai kutipan-kutipan si subyek yang bisa menggam-barkan dengan pas karakternya. Profil yang baik juga bisa memberikan kesan pada pembacanya bahwa me-reka telah bertemu dan berbicara dengan sang tokoh.
Banyak sumber yang diwawancara mungkin mengungkap rahasia pribadi atau anekdot tentang si subyek. Tapi, banyak sumber lebih suka meminta agar identitasnya dirahasiakan. Informasi sumber-sumber itu penting untuk emberikan balans dalam penggambaran si tokoh.
Feature sejarah
Feature sejarah memperingati tanggal-tanggal dari pe-ristiwa penting, seperti proklamasi kemerdekaan, pem-boman Hiroshima atau pem-bunuhan jenderal-jenderal revolusi. Koran juga sering menerbitkan feature peri-ngatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh.
Kisah feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiawa mutakhir yang memangkitkan minat dalam topik mereka. Jika musibah gunung api terjadi, koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu. Feature sejarah juga sering melukiskan landmark (monumen/gedung) terkenal, pionir, filosof, fasilitas hiburan dan me-dis, perubahan dalam komposisi rasial, pola perumahan, makanan, industri, agama dan kemakmuran.

Feature petualangan
Feature petualangan melukiskan pengalaman-pe-ngalaman istimewa dan mencengangkan — mungkin pengalaman seseorang yang selamat dari sebuah ke-celakaan pesawat terbang, mendaki gunung, berlayar keliling dunia pengalaman ikut dalam peperangan.

Feature musiman
Reporter seringkali ditugasi untuk menulis feature tentang musim dan liburan, tentang Hari Raya, Natal, dan musim kemarau. Kisah seperti itu sangat sulit ditulis, karena agar tetap menarik, reporter harus menemukan angle atau sudut pandang yang segar.

Feature Interpretatif
Feature dari jenis ini mencoba memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detil terhadap topik-topik yang telah diberitakan. Feature interpretatif bisa menyajikan sebu-ah organisasi, aktifitas, trend atau gagasan tertentu. Mi-salnya, setelah kisah berita menggambarkan aksi tero-risme, feature interpretatif mungkin mengkaji identitas, taktik dan tujuan terorisme. Berita memberikan gagasan bagi ribuan feature semacam ini. Setelah perampokan bank, feature interpretatif bisa saja menyajikan tentang latihan yang diberikan bank kepada pegawai untuk me-nangkal perampokan.

Feature kiat (how-to-do-it feature)
Feature ini berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu hal: bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, bertanam di kebun, mereparasi mobil atau mempererat tali perkawinan.
Kisah seperti ini seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit dalam penulisannya. Re-porter yang belum berpengalaman akan cenderung men-ceramahi atau mendikte pembaca — memberikan opini mereka sendiri — bukannya mewawancara sumber ahli dan memberikan advis detil dan faktual. ***

Dia Tak Mau Menyusahkan Orang

Posted by Jammes 0 comments

Kolom Kamisan yang ditulis Hasan Aspahani, Pimred Batam Pos tanggal 6 Juni lalu punya kesan tersendiri buat saya. Sebab, orang yang dipanggilnya Mama itu, adalah mamaku Emmywarsih yang melahirkan aku 41 tahun yang lalu. Ini hanya sekelumit kisah ketegaran dan kemandiriannya. Tulisan Hasan membuat aku bangga punya ibu seperti dia yang telah memberiku nama Socrates. Terima kasih yang tulus buat Hasan. Semoga tulisan itu tidak karena aku bosnya.


BULAN Agustus nanti umurnya sudah 65. Saya memanggilnya Mama, sebagaimana sebutan dia ketika meng-aku-kan diri kepada orang-orang muda seperti saya. Selasa kemarin, saya bertemu dia. Itulah pertama kalinya saya singgah di rumah yang ia bangun sendiri di Batubesar. Ya, ia bangun sendiri. Ia beli sendiri tanahnya. Ia rancang sendiri bangunannya. Bangunan yang amat sederhana, tapi tampak sekali ia sangat bangga dengan rumah itu. Di depan dan di belakang rumah itu ia tanami berbagai jenis tanaman obat. Ia beberapa kali menyebut kumis kucing.
"Saya sudah pelajari, obat-obat hasil pabrik farmasi itu kebanyakan bahan bakunya kumis kucing," katanya.
Ingatannya masih sangat baik untuk seorang seumur dia. Dia masih sangat sehat. Kemarin ketika saya telepon lagi, dia bercerita baru saja mencari buku untuk hadiah ulang tahun menantu perempuannya. Kepada anak-anaknya pun dia selalu memberi hadiah ulang tahun buku. Dia memang suka membaca. Amat suka. Mungkin karena itu ingatannya tak menumpul.
Ia bahkan mengingat jam ia dilahirkan. "Jam 12, hari Minggu. Di Batusangkar. Sekarang tinggal di Batubesar," dia lantas tertawa. Kalau bertemu dengannya saya tak pernah tidak menjumpainya sebagai seorang yang periang. Kelihatannya dia tak pernah bersedih, ah lebih tepat dia tampak selalu ingin membuat orang lain bersemangat. Ia ingin menularkan semangat hidupnya.
Saya mengagumi dia sebagai orang yang luar biasa. Dulu dia bekerja sebagai perawat. Ah, bahkan sampai sekarang pun di depan pintu rumahnya yang amat sederhana itu ia pasang papan nama dan kata "bidan" di depannya. Saya bertanya dengan hati-hati, takut membuat dia tersinggung,"Kenapa mama masih juga praktek bidan?" Dia tertawa dan ah syukurlah tawa itu bukan keluar dari hati seseorang yang tersinggung.
"Hasan, Mama tak mau membebani anak-anak. Kalau ada orang yang minta tolong mama bantu," katanya. Saya lalu meminta dia memeriksa tekanan darah saya. "Wah, rendah sekali, Hasan. Kamu harus banyak minum jus wortel dan tomat. Suruh Yana menyiapkannya," ia menyebut nama istri saya, yang juga dia kenal baik.
Kalau dia mau, dia bisa memilih tinggal di salah satu dari empat anaknya yang pasti tak akan merasa direpotkan oleh kehadirannya. "Mama tak mau merepotkan orang lain. Tak mau merepotkan anak-anak. Mama masih bisa berguna bagi Tuhan, diri sendiri dan orang lain."
Saya bilang bukankah anak-anaknya juga harus diberi kesempatan untuk membalas jasanya? Dia tidak mengharapkan itu. "Kalau Mama serumah dengan anak-anak, nanti suatu saat ada kalanya mama marah, atau bosan atau anak-anak yang bosan. Pasti akan jadi masalah. Lebih baik terpisah tapi kan juga tidak jauh, jadi sayangnya dobel. Sayang karena tidak serumah, dan sayang karena Mama memang harus disayangi," ujarnya, lagi-lagi dia tertawa.
Ia lantas mengambil sekeping obat dari lemari kaca di depan mejanya. Ada buku panjang, buku catatan keuangan yang baginya digunakan untuk mencatat apapun. Beberapa nomor telepon, dan tulisan berikut ini yang paling menarik:
Bicara 10 Persen
Mendengar 45 Persen
Membaca 25 Persen
Menulis 20 Persen.
Saya bertanya apa maksud tulisannya itu. Lagi-lagi dia tertawa. "Itu pola hidup Mama," dan ia bilang begitulah kalau ingin mencapai keberhasilan. Orang harus mendengarkan orang lain lebih banyak daripada bicara tentang diri sendiri. Dan tentu saja saya amat tertarik dengan persentase membaca dan menulis itu.
"Sejak tahun 1971 sampai sekarang, Mama langganan Intisari. Banyak ilmu pengetahuan bisa didapat dari majalah itu," katanya. 1971? Ah, itu tahun kelahiran saya. Dan dia sudah membaca majalah itu? "Sekarang mama juga langganan majalah lain, dan beli buku. Sekarang lagi baca buku ESQ," katanya.
Tapi, rasanya dia melanggar persentase pola hidupnya tadi. "Mama membaca Quran sehari satu juz, katanya. Lalu dia menyebut beberapa surat kabar, majalah, dan beberapa judul buku. Jangan-jangan persentase membaca dia lebih dari 25 persen!
Saya suka tulisan tangannya, khas tulisan orang-orang yang berpendidikan di sekolah lama. Saya ingat begitulah tulisan Ayah saya. Tersambung rapi dari huruf ke huruf, dengan derajat kemiringan konsisten dan selalu terasa ditarik dengan kecepatan tetap. Hmm, pernah lihat tanda tangan Soekarno? Nah, kira-kira seperti itulah. Dia sekolah perawat dulu di RSU Ahmad Muhtar, Bukittinggi.
Hal lain yang sangat saya teladani dari dia adalah semangat belajarnya. Beberapa waktu lalu dia kursus Bahasa Jepang! Ya, Bahasa Jepang. Saya tanya alasannya. "Anak angkat Mama kan menikah dengan orang Jepang. Kalau bertemu dengan keluarga Jepang itu, Mama bisa bicara dan belajar banyak, termasuk tentang ilmu pengobatannya," katanya.
Dia mengagumi Hembing, si pakar pengobatan herbal itu. Dia menyebut sudah tamat belajar pada Profesor itu tentang berbagai khasiat obat dari berbagai tanaman. Di mana belajarnya? "Saya ikuti dari televisi," katanya. Lihatlah, betapa dia tak memandang media belajar. Dia bisa belajar di televisi, dari siapa saja, dari buku, dari majalah.
Berapa saya membayar untuk konsultasi dan sekeping obat penambah tekanan darah? Gratis. Kami sepakat membarter jasa itu dengan sebuah handgrip - alat melatih otot tangan milik saya yang kebetulan saat itu saya kantongi.
"Tiap pagi Mama kesemutan, ini bagus buat mama, kamu beli saja lagi. Iklhas, Hasan?"
"Ikhlas," kata saya.
Sepulang dari pertemuan dengannya, saya lalu terpapar pada sejumlah pertanyaan: seberapa merepotkan saya bagi orang lain? Seberapa tergantung saya pada orang lain? Apakah saya sudah menularkan semangat hidup pada orang lain, atau sebaliknya merepotkan dan membuat orang lain tidak bersemangat? Seberapa merepotkan saya bagi kantor tempat saya bekerja yang tiap bulan menggaji saya? Seberapa merepotkan saya bagi negara saya? Apakah saya terlalu menuntut? Seberapa manjakah saya?
Setiap pertanyaan itu akhirnya hanya memingatkan saya pada Mama: Dia yang tak mau menyusahkan orang lain, bahkan orang yang akan sangat ikhlas ketika harus ia repotkan. Saya ingin bertemu lagi dengan dia, dan seperti setiap kali saya bertemu dia, saya akan menyalaminya dan mencium tangannya.***

* Komentari tulisan ini di www.hasanaspahani.blogspot.com