Media Online & Jurnalistik Virtual

Posted by Jammes 6/11/2008 0 comments

Media online adalah media massa yang dapat kita temukan di internet. Sebagai media massa, media online juga menggunakan kaidah-kaidah jurnalistik dalam sistem kerja mereka. Tapi apakah ada bedanya dengan media massa konvensional?


Sebetulnya, tak ada perbedaan yang terlalu signifikan. Perbedaan yang pa-ling mencolok adalah mediumnya. Yang satu virtual, satunya lagi tercetak. Kare-na itu, se-cara teknis ada hal-hal tertentu yang - mau tidak mau - membuat mereka berbeda.
Sebagian besar perbedaan jurnalistik media cetak dengan media online hanyalah pada masalah-masalah teknis.Dari segi sifatnya, ada satu kemiripan antara me-dia online dengan media elek-tronik seperti radio dan televisi. Mereka selalu dituntut untuk menyajikan berita yang paling /up to date/ secepat mungkin. Mereka juga biasanya tidak perlu menunggu hingga seluruh data ter-kumpul. Begitu ada data, walau hanya sedikit, mereka langsung melaporkannya. Jika ada perkembangan baru mengenai peristiwa tersebut, mereka melaporkannya lagi. Demikian seterusnya. Karena itu, aturan penulisan di dalam media online cenderung lebih bebas, tidak ter-lalu terpaku pada kaidah-kaidah bahasa dan jurnalistik yang berlaku umum.

Teknik Penulisan
Umumnya orang ingin membaca berita-berita di in-ternet secara cepat. Selain karena malas lama-lama “memelototi” layar monitor, mereka juga diburu-buru oleh mahal-nya pulsa internet. Karena itu, gaya bahasa pada media online pun hendaknya disesuaikan dengan hal ini. Harus ringkat, padat, dan menarik.
Biasanya pada halaman pertama sebuah media on-line terdapat tampilan berita-berita terbaru yang terdiri dari judul dan /lead/. Umumnya, lead ini adalah alinea pertama dari artikel berita tersebut, walau tidak mesti demikian.
Yang harus diperhatikan: buatlah lead yang semenarik
mungkin agar /netter/_/*[2] */ <#_ftn2> tergoda untuk mengklik berita tersebut (atau membaca artikel pe-nuhnya). Jika alinea pertama tidak menarik untuk dija-dikan lead, carilah bagian-bagian lain yang lebih me-narik. Atau buat saja lead khusus yang berbeda. Ini sah-sah saja, yang penting isinya masih sejalan de-ngan /full article/.

Jurnalis Media Online
Selain menguasai - tentu saja - ilmu jurnalistik, seo-rang jurnalis media online hendaknya juga menguasai dasar-dasar HTML[3] <#_ftn3>. Tidak harus terlalu men-dalam, cukup yang umum-umum saja. Minimal, mereka harus mengetahui bagaimana cara membuat huruf te-bal, huruf miring, menempatkan gambar di dalam nas-kah, membuat /hyperlink// *[4]*/ <#_ftn4>, dan beberapa pengetahuan HTML mendasar lainnya. Ini akan sangat membantu mereka dalam pembuatan tulisan yang sesuai dengan sifat-sifat halaman web yang jauh berbeda dengan halaman media cetak.
Biasanya panjang naskah telah dibatasi, misalnya 5 - 7 halaman kuarto diketik dua spasi. Tidak ada pemba-tasan panjang naskah, karena halaman web bisa me-nampung naskah yang sepanjang apapun. Namun demi alasan kecepatan akses, keindahan desain dan alasan-alasan teknis lainnya, perlu dihindarkan penulisan naskah yang terlalu panjang.
Naskah biasanya harus di-ACC oleh redaksi/redpel sebelum dimuat. Sama saja. Namun ada sejumlah me-dia yang memperbolehkan wartawan di lapangan yang telah dipercaya untuk meng-upload[ 5] <#_ftn5> sendiri tulisan-tulisan mereka.

Editing
Kalau sudah naik cetak (atau sudah di-filmkan pada proses percetakan), tak bisa diedit lagi. Walaupun sudah online, masih bisa diedit dengan leluasa. Tugas desainer atau layouter. Tiap edisi, desainer atau layouter harus tetap bekerja untuk menyelesaikan desain pada edisi tersebut. Desainer dan programmer cu-kup bekerja se-kali saja, yakni di awal pembuatan situs web. Selanjutnya, tugas mereka hanya pada masalah-masalah /main-tenance/ atau ketika perusahaan memutuskan untuk me-ngubah desain dan sebagainya. Setiap kali redaksi meng-upload naskah, naskah itu akan langsung “masuk” ke desain secara otomatis.

Distribusi
Walau sudah selesai dicetak, media tersebut belum bisa langsung dibaca oleh khalayak ramai sebelum melalui proses distribusi. Begitu di-upload, setiap berita dapat langsung dibaca oleh semua orang di seluruh du-nia yang memiliki akses internet.

Alur Kerja
Secara teknis, tugas redaksi media online cukup mudah. Ia hanya perlu mengisi sebuah *formulir online*. Ada isian judul, ringkasan berita atau /lead/, artikel pe-nuh, dan isian-isian lainnya. Setelah mengklik tombol *Submit* atau *Kirim*, arti-kel tersebut sudah langsung online.
Mengenai alur kerja, sebenarnya media online tidak jauh berbeda dengan me-dia cetak. Karena sifatnya yang harus menyajikan berita secara cepat (sebagai-mana halnya media elektronik), maka media online perlu me-lakukan beberapa penyesuaian di dalam proses ker-janya.
Ketika ada kejadian, reporter di lapangan menelepon redaktur. Si redaktur pun menelepon balik si reporter, meminta informasi lebih lanjut, dan jika perlu dilakukan cek dan ricek. Setelah itu, redaktur menulis naskah dan meng-uploadnya melalui formulir online. Ini adalah contoh alur kerja yang standar.
Bisa juga, si reporter melakukan reportase dan me-nulis sendiri. Tulisan ini diki-rim ke redaksi melalui email atau media-media lain. Proses selanjutnya sama seperti di atas. Umumnya, yang berhak untuk meng-upload naskah hanyalah redaksi. Namun, ada media tertentu yang memberikan wewenang khusus kepada reporter tertentu yang telah dipercaya. Si reporter ini bisa meng-upload sendiri berita yang mereka tulis, melalui komputer warnet, laptop, atau media-media lain yang memung-kinkan.
Masih ada beberapa alur kerja yang bisa diterapkan pada media online. Namun alur-alur di atas cukuplah menjadi contoh. Semoga dapat menjadi gamba-ran yang memuaskan.

Teknis Pengiriman
Halaman web memiliki sifat yang sangat berbeda dengan halaman media cetak. Karena itu, jika Anda hen-dak mengirim naskah ke sebuah media online, hen-dak-nya Anda memperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Ketiklah naskah dengan program NotePad atau program-program sejenis (bukan program pengolah kata seperti MS Word dan sebagainya). Penulisan naskah dengan pengolah kata seperti MS Word biasanya menghasilkan banyak “karakter aneh” ketika naskah tersebut diproses oleh redaksi.
2. Pisahkan pergantian alinea dengan menekan tombol enter sebanyak dua kali. Kenapa? Sebab penulisan nas-kah di website tidak mengenal format “awal paragraf ditandai dengan pengetikan agak menjorok ke dalam” seperti yang bia-sa ditemui pada media cetak. Kalau tombol enter hanya ditekan sekali, pembaca akan ke-sulitan melihat batas-batas alinea.
3. Jangan pakai tombol tab atau menekan tombol spasi lebih dari satu kali. Tabulasi akan diabaikan oleh halaman web. Sementara jika Anda menekan tom-bol spasi sebanyak apapun, yang dipakai hanya satu. Jadi percuma saja Anda repot-repot mengatur tabulasi dan spasi yang macam-macam.
Karena internet adalah dunia yang bebas, Anda memiliki kesempatan yang seluas-luasnya untuk belajar dengan melakukan praktek langsung. Caranya: buatlah sebuah situs dan kelola dengan serius. Siapa pun bisa membuat situs di internet, tak ada yang melarang!

Jurnalisme Online

Posted by Jammes 0 comments

Depan Maju Sihite bingung. Saat mengisi formulir kartu anggota PWI-nya yang habis masa berlaku, ia hanya menemukan media koran, majalah, tabloid dan televisi. Namun, tidak ada kolom untuk multimedia. Padahal, saat ini ia mengelola situs Batam Cyberzone. Begitulah. Era jurnalisme online dimulai. Di mal-mal dan cafe, bandara serta pelabuhan, orang menenteng laptop, berselancar di dunia maya.


Jurnalisme Online secara fungsional bisa dibedakan dari jenis jurnalisme lain, dengan menggunakan kom-ponen teknologinya sebagai faktor penentu, dalam hal perumusan operasional. Jurnalis Online harus memutuskan tentang hal-hal sebagai berikut:
Format media yang mana, yang terbaik untuk menyampaikan suatu berita (multimediality). Sejauh ini bandwidht dan hak cipta merupakan faktor-faktor struk-tural yang masih menghambat pengembangan content multimedia yang inovatif.
Memberi pilihan pada publik untuk memberi tang-gapan, berinteraksi, atau bahkan meng-customize (me-nyesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan publik ber-sangkutan) terhadap berita-berita tertentu (interactivity).
Mempertimbangkan cara-cara untuk menghubungkan (connect) berita yang ia buat dengan berita lain, arsip, sumber data dan seterusnya lewat hyperlinks (hyper-textuality).

Jenis Jurnalisme Online
Orang yang memproduksi content terutama untuk In-ternet, dan khususnya untuk World Wide Web, dapat di-anggap bekerja untuk salah satu atau lebih dari empat jenis Jurnalisme Online yang tersebut di bawah ini.
Berbagai jenis jurnalisme online itu dapat ditempatkan di antara dua domain. Domain pertama, adalah suatu rentangan, mulai dari situs yang berkonsentrasi pada editorial content sampai ke situs-situs Web yang ber-basis pada konektivitas publik (public connectivity).
Editorial content diartikan di sini sebagai teks (ter-ma-suk kata-kata yang tertulis atau terucapkan, gambar-gambar yang diam atau bergerak), yang dibuat atau die-dit oleh jurnalis.
Sedangkan konektivitas publik dapat dipandang se-bagai komunikasi ”titik-ke-titik yang standar” (standard point-to-point). Atau, bisa juga kita nyatakan sebagai ko-munikasi ”publik” tanpa perantaraan atau hambatan (ba-rrier of entry), misalnya, hambatan dalam bentuk proses penyuntingan (editing) atau moderasi (moderation).
Domain kedua, melihat pada tingkatan komunikasi partisipatoris, yang ditawarkan oleh situs berita bersangkutan. Sebuah situs dapat dianggap terbuka (open), jika ia memungkinkan pengguna untuk berbagi komentar, memposting, mem-file (misalnya: content dari situs tersebut) tanpa moderasi atau intervensi pe-nyaringan.
Sedangkan komunikasi partisipatoris tertutup (closed) dapat dirumuskan sebagai situs di mana pengguna mungkin berpartisipasi. Namun langkah komunikatif mereka harus melalui kontrol editorial yang ketat.

Mainstream News sites
Bentuk media berita online yang paling tersebar luas adalah situs mainstream news. Situs ini menawarkan pi-lihan editorial content, baik yang disediakan oleh media induk yang terhubung (linked) dengannya atau memang sengaja diproduksi untuk versi Web. Tingkat komunikasi partisipatorisnya adalah cenderung tertutup atau minimal. Contoh: situs CNN, BBC, MSNBC, serta berbagai surat-kabar online. Situs berita semacam ini pada dasarnya tak punya perbedaan mendasar dengan jurnalisme yang diterapkan di media cetak dalam hal berita, nilai-nilai berita, dan hubungan de-ngan audiences. Di Indonesia, yang sepadan dengan ini adalah detik.com, Astaga.com, atau Kompas Cyber Media.
Index dan Category sites
Jenis jurnalisme ini sering dikaitkan dengan mesin pencari (search engines) tertentu (seperti Altavista atau Yahoo), perusahaan riset pemasaran (seperti Moreover) atau agensi (Newsindex), dan kadang-kadang bahkan individu yang melakukan usaha (Paperboy). Di sini, jur-nalis online menawarkan links yang mendalam ke situs-situs berita yang ada di manapun di World Wide Web. Links tersebut kadang-kadang dikategorisasi dan bah-kan diberi catatan oleh tim editorial. Situs-situs semacam ini umumnya tidak menawarkan banyak editorial content yang diproduksi sendiri, namun terkadang menawarkan ruang untuk chatting atau bertukar berita, tips dan links untuk publik umum.

Meta & Comment sites
Ini adalah situs tentang media berita dan isu-isu media secara umum. Kadang-kadang dimaksudkan sebagai pengawas media (misalnya: Mediachannel, Free-do-mforum, Poynter’s Medianews). Kadang juga di-mak-sudkan sebagai situs kategori dan indeks yang di-per-luas (seperti: European Journalism Center Media-news, Europemedia). Editorial content-nya sering dipro-duksi oleh berbagai jurnalis dan pada dasarnya mendis-ku-sikan content lain, yang ditemukan di manapun di Internet. Content semacam itu didiskusikan dalam ke-rangka proses produksi media. ”Jurnalisme tentang jur-nalisme” atau meta-journalism semacam ini cukup menjamur.

Share & Discussion sites
Ini merupakan situs-situs yang mengeksploitasi tuntutan publik bagi konektivitas, dengan menyediakan sebuah platform untuk mendiskusikan content yang ada di ma-napun di Internet. Dan kesuksesan Internet pada dasar-nya memang disebabkan karena publik ingin berkoneksi atau berhubungan dengan orang lain, dalam tingkatan global yang tanpa batas.
Situs semacam ini bisa dibilang memanfaatkan potensi Internet, sebagai sarana untuk bertukar ide, cerita, dan sebagainya. Kadang-kadang dipilih suatu tema spesifik, seperti: aktivitas anti-globalisasi berskala dunia (situs Independent Media Centers, atau umumnya dikenal sebagai Indymedia), atau berita-berita tentang komputer (situs Slashdot).

Pers Kita Tak Menggigit?

Posted by Jammes 0 comments

Reformasi sudah berjalan sepuluh tahun. Ya, sepuluh tahun. Banyak yang berubah di negeri ini, termasuk kebebasan pers kita. Tak ada lagi bredel. Yang ada adalah media yang mati kehabisan nafas bersaing dan kena seleksi alam. Anehnya, berita di media makin seragam dan membosankan. Kemana daya kritis para wartawan? Masihkah wartawan mau berjerih payah menghasilkan karya jurnalistik yang hebat? Tulisan Wannnofri Samry, kandidat PhD pada School of History, Politic and Strategic Studies, National University Malaysia, dan Staf Pengajar Jurusan Sejarah, Universitas Andalas cukup menarik dicermati para wartawan.



MENURUT Duncan MC Cargo(2000) ada beberapa pradigma yang sering berlaku dalam literatur politik dan media. Pertama, hegemony of state power (dominasi kekuasaan
negara). Dalam hal ini media hanyalah sebagai bidak dan pelayan negara. Fenomena ini sangat kentara di berbagai dunia ketiga seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia sebelum jatuhnya Soeharto, bahwa pers tidaklah bebas.
Berbagai media menjadi corong pemerintah dan menyalurkan kepentingan- kepentingan penguasa. Istilah Goenawan Mohammad, pers ibarat ‘pesawat yang dibajak'. Artinya, ia dikendalikan. Pers semacam ini sulit diharapkan bisa mengkritisi pemerintah. Dalam
konteks literatur sejarah pers Indoensia, pers semacam itu bukan pers yang berjuang untuk kepentingan bangsanya.
Kedua, media sebagai watchdog. Ia sebagai anjing penjaga dari pada kepentingan publik. "Suatu teori tentang watchdog adalah: pers sebagai wali oposisi dan
bertindak dengan kuat menentang segala penyimpangan serta mempromosikan kepentingan publik. Dalam konteks ini pers merupakan media yang progesif untuk demokratisasi.
Ketiga, media sebagai institusi yang netral, menengahi kepentingan publik. Ia mendedahkan berita ke pembaca dan meninggalkan pembaca begitu saja. Pembaca dan
media berjalan sendiri-sendiri. Silakan pembaca untuk mengambil kesimpulan dan
tindakan terhadap informasi yang diberikan media. Kalau banyak media mengemukakan informasi tentu banyak informasi yang diolah. Dalam media seperti itu tentulah semua informasi telanjang, lalu masyarakat, dan pemerintah siap menerima apa adanya.
Keempat, media sebagai agenda setter; yaitu untuk mengembangkan isu dan menempatkan mereka dalam agenda debat dan diskusi publik. Model ini sering
berhubungan dengan analogi watchdog, yang sering menafsirkan dan menghadirkan dengan a highly positive light.
Keberhasilan pers dalam pradigma ini adalah sejauh mana ia mampu mengangkat isu-isu publik ke permukaan dan menjadi agenda bagi pemerintah dan masyarakat
dalam meningkatkan kemajuan hidup mereka. Pers semacam ini tentu juga berani untuk berdebat mengenai berbagai masalah yang peka terhadap kekuasaan sekalipun.

Pers Kita
Di manakah posisi pers kita? Kalau 10 tahun lalu hegemoni negara begitu kuat, pers dibajak, maka tidaklah aneh jika pers berada dalam ketakutan, kemudian dengan berbagai alasan menyalurkan ‘nafsu-nafsu kekuasaan' serta menyembunyikan suara
publik di belakang meja redaksinya.
Kini demokratisasi dan desentralisasi sudah berjalan, semua relatif bebas bicara (tetapi bicara apa?). Apakah pers masih dalam ketakutan dan menjalankan
tipikal hegemony of state power? Mampukah pers menjadi watchdog yang tidak hanya
menggonggong tetapi menggigit. Tetapi, jika menggongong pun tidak juga, maka mungkin ini masalahnya kembali ke perangkat-perangkat dasar dari material pers itu sendiri.
Banyak orang menganggap bahwa masalah pengembangan pers tergantung pada financial dan pada masa Orde Baru dianggap aturan yang mengekang adalah penyebab pers
tidak berkembang.Walaupun didukung finansial yang banyak dan terbukanya pembuluh demokrasi, ternyata masih banyak pers yang bertipikal pelayan dari penguasa-negara, bukan publik.
Pers sering menampilkan a big shot dari tokoh-tokoh politik dan birokrat. Wartawan dan media banyak yang senang dan bangga mengadakan relasi dengan pemerintah
dengan para penguasa. Keinginan pers menampilkan tokoh-tokoh birokrasi ibarat kecanduan bergoyang dangdut di tengah pesta kemabukan.
Wartawan-wartawan muda, yang kata Dahlan Iskan akan menentukan napas pers pada masa depan, tidak dilatih dengan semangat juang ‘pers yang menggigit', mereka
dilatih membuat berita di teras-teras istana pemerintah yang tidak mempunyai tantangan, kecuali penemuan sebuah relasi dan koneksi pemberitaan. Para
jurnalis, jika dalam zaman pergerakan sebagai pemburu berita, kini sebagai a servant of power.
Fenomena dalam sebahagian pers kita hari ini adalah ketergantungan mereka akan iklan, yang ada pada banyak pengusaha dan penguasa. Di banyak daerah yang tidak
tergarap ekonominya, maka pemerintah dan politisi adalah sumber iklan utama.
Setiap hari berita ucapan selamat secara terang-terangan muncul dari politisi dan birokrat. Profil-profil tokoh-politik dan birokrasi muncul di halaman depan dan halaman-halaman penting lainnya. Isinya adalah salinan dari pikiran tokoh tersebut yang dibantu oleh wartawan menuliskannya. Walaupun tidak ada penelitian khusus, tetapi realitas ini sudah menjadi rahasia umum di berbagai media.
Kesalahannya jelas dari alas bakul berdirinya sejumlah media; hanya sebagai alat mencari uang. Jelas sukar untuk membandingkannya dengan berdirinya media-media
besar semacam mingguan Tempo dan harian Kompas, apalagi dibandingkan dengan media masa pergerakan seperti Pedoman, Pandji Islam, dan lain-lain. Media massa kita banyak diawali dengan komitmen jurnalistik yang rendah dan tidak mempunyai visi, bahkan teknis.
Masalah lain juga akan berhubungan dengan para editor, reporter, dan penulis. Para editor yang tidak berpengalaman menulis, lalu tiba-tiba menjadi pengedit berita dan tulisan juga tidak menghasilkan konten pers yang bagus, ditambah dengan kemalasan untuk memeriksa dan langsung copy-paste.
Banyak reporter hanya menjadi pers tempat persinggahan, bukan pilihan hidup dan bagian dari sebuah proses yang penting dalam dunia intelektual mereka. Berita banyak reporter hanya sebagai pemindahan kata-kata ke mesin ketik dan komputer,
nilai-nilai humanisme dan intelektual tidak menjadi roh.
Penurunan berita, tulisan juga sering tanpa sebuah rencana yang matang. Berita hari ini muncul, besok berganti berita lain. Tulisan hari ini dimuat, besok
habis begitu saja. Tidak ada discourse konten, yang terjadi hanya komunikasi satu arah. Ruang polemik sering juga ditutup dengan berbagai alasan para editor
ataupun redaktur. Karena itu tidak akan pernah terjadi saat ini polemik seperti polemik M. Natsir dan Soekarno mengenai Islam dan negara, ataupun seperti
polemik kebudayaan antara Sutan Takdir Alisjahbana( STA), Ki Hadjar Dewantar, Armijn Pane, dan tokoh lainnya.
Mungkin kita juga merasakan tidak dalam pergerakan lagi, tetapi dalam masa akhir perjuangan dan ingin menikmati. Karena itu pers kita tidak menggigit, paling-paling juga sedikit menggonggong. *

Investigasi di Indonesia

Posted by Jammes 2 comments

Orang sering menyebut jurnalisme investigatif sebagai: “Journalism with an impact” “Reporting on public interest issues” Jurnalisme seperti itu kita perlukan sekarang ini, lebih dibanding pada era Soeharto. Namun, mengapa jurnalisme investigasi kurang berkembang di negeri ini?

Lihatlah pertanyaan-pertanya an seperti ini:Apa yang sebenarnya terjadi dengan Skandal Lippo? Siapakah sebenarnya Ali Imron cs, para tersangka Bom Bali? Apa kaitan Bom Bali dengan undang-undang anti-terorisme dan militerisme gaya baru? Itu hanya dua dari banyak pertanyaan penting yang bisa—dan berani—kita ajukan sekarang. Namun, meski era kebebasan pers telah kita nikmati, banyak media tidak bisa menjawab pertanyaan “investigative” seperti itu secara relatif jelas.
Tenggelam dalam timbunan berita dan peristiwa, banyak media bahkan tidak mampu merumuskan pertanyaan-pertanyaan itu sendiri—langkah awal membuat investigasi. Padahal, membedah kasus Lippo (ekonomi-bisnis) dan Bom Bali (politik) memberi publik peluang untuk memahami hal-hal fundamental yang mempengaruhi kehidupan mereka secara luas dan mendalam.
Tapi, ada beberapa masalah yang dihadapi untuk mengembangkan tradisi jurnalisme ini. Sebagian masalah kita warisi dari era pra-reformasi, namun era paska-reformasi juga tidak memberikan iklim lebih baik bagi tumbuhnya tadisi investigatif— setidaknya sejauh ini.

Potensi dan Kendala
Jurnalisme investigatif masuk kategori “advanced” dalam dunia kewartawanan:
Jurnalisme Dasar
Jurnalisme Interpretatif (indepth reporting)
Jurnalisme Investigatif (muckraking)
Jurnalisme investigatif menuntut tidak hanya dana, sarana (tools, ketrampilan) dan resources, tapi juga keberanian media dan wartawan mengambil risiko. Karena kesannya yang “sulit”, “berisiko”, “eksklusif” serta “canggih” seperti itu, jurnalisme investigatif cenderung dihindari. “Barrier to entry” jurnalisme investigatif relatif tinggi, baik bagi media maupun wartawan.
Pada era Soeharto, tradisi investigatif hampir sama sekali mati, meski ada sejumlah upaya untuk menumbuhkannya. Kediktatoran dan ketertutupan politik membuat semua risiko investigasi menjadi maksimal: SIUPP me-mungkinkan pemerintah mengontrol: mengendalikan arus informasi (monopoli atau oligopoli informasi) dan mencegah pluralisme kepemilikan media maupun isinya. Media yang melenceng bisa dibreidel, membuat pemilik kehilangan bisnis dan karyawan menganggur. Suasana seperti itu menumbuhkan “sensor diri sistematis”—wartawan yang berani bahkan akan dianggap pengkhianat karena mengancam eksistensi koran/majalah tempatnya bekerja. Wartawan yang berani bisa kehilangan kebebasan (dipenjara), bahkan nyawa.

Potensi
Kebebasan pers setelah jatuhnya Soeharto menawarkan iklim lebih baik untuk tumbuhnya tradisi investigatif: Tanpa SIUPP, banyak media bermunculan. Monopoli dan oligopoli informasi mengalami perlawanan hebat dari le-dakan pluaralisme media dan opini. Kebebasan pers juga mempromosikan keberanian wartawan untuk meng-ungkap hampir apa saja. Jika dulu keberanian menjadi “liabilities” bagi wartawan, kini cenderung menjadi “asset”. Persaingan bisnis media membuat masing-masing berpikir keras membuat keunggulan dan meningkatkan kualitas editorial. Jurnalisme investigatif adalah salah satu cara media untuk bersaing dengan media lain.

Kendala
Namun, tidak semua faktor di era reformasi mendukung tumbuhnya tradisi investigasi. Ledakan media memicu persaingan ketat. Pemasaran media menyempit ke dalam segmen-segmen yang kian kecil. Aspek bisnis menjadi menonjol dengan efisiensi menjadi kata kuncinya:
Media mungkin tidak dibreidel pemerintah, tapi mati akibat bangkrut karena tidak efisien. Media kini bisa me-ngabaikan pejabat/politisi, tapi mereka menjadi kian pe-ka terhadap bisnis (terutama bisnis besar) karena iklan menjadi nyawa media. (Sensor diri tetap bertahan di ka-langan manajemen media)
Struktur biaya didominasi oleh biaya percetakan dan kertas (sekitar 30-40% dari cover price), kemudian oleh biaya agen dan distribusi (30%), biaya administrasi (20%) dan pajak (10%). Ketika media melakukan efisi-ensi, biaya editorial (peliputan dan penulisan) adalah yang paling rawan dikorbankan. Mutu jurnalistik tidak membaik. Beberapa media memilih isu yang bisa di-produksi secara murah, namun menghasilkan oplah atau iklan besar (sejumlah tabloid seks, adalah salah satu ka-susnya). Kebebasan pers juga disertai keberanian publik untuk menuntut media/wartawan dari aspek hukum. Tuntutan akurasi liputan dan penulisan jadi lebih tinggi.
Walhasil, risiko jurnalisme investigatif yang dihadapi media atau wartawan di masa reformasi tetap sama besarnya. Sementara itu iklim politik-sosial belum pulih benar dari krisis yang kita warisi: Risiko tinggi dalam jurnalisme investigasi di era Soeharto telah membuat kita kekurangan sumber daya manusia (wartawan investigatif adalah mahluk langka) dan kelemahan ketrampilannya. Pendidikan jurnalisme cenderung menghasilkan pejabat humas, bukan wartawan. Pendidikan internal media tidak memberikan “insentif” memadai untuk peningkatan ketrampilan dalam investigasi.
Ketertutupan politik di era lama membuat kita, para wartawan, terjebak dalam “teori konspirasi” yang berbau tahyul dan diilhami kemalasan. Kita tidak terbiasa menggali bahan dan menemukan data/informasi empiris dari lapangan. Tapi, bahkan wartawan yang berhasrat dan berani mengambil risiko melakukan investigasi tidak mudah melakukannya. Jurnalisme investigasi menuntut tidak hanya keberanian, tapi juga ketrampilan, sarana dan resources:
News Cycle. Ledakan pers telah membuat dunia informasi kita seperti “rimba berita”. Disibukkan oleh breaking-news dan news-cycle yang cepat dan bertubi-tubi, wartawan dituntut memiliki pengetahuan dan ketrampilan lebih baik untuk bisa melakukan investigasi.
Public information. Pada era sekarang akses warta-wan ke lembaga negara maupun lembaga swadaya ma-syarakat sudah lebih bagus tapi kendalanya: data yang mereka miliki belum tentu ada (available), dan jika ada belum tentu bisa dipercaya (reliable)
Bagaimana Mengatasinya?
Meski iklim telah membaik, bagi banyak media dan war-tawan “barrier to entry” ke dunia jurnalisme investigatif tetap tinggi. Jika kita ingin mempromosikan tradisi ini, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:

Perubahan Sudut Pandang
Jurnalisme investigasi perlu dipopulerkan dengan sedikit mengurangi mitosnya sebagai jenis jurnalisme yang “sulit” dan “canggih”. Jurnalisme investigasi tidak hanya monopoli majalah serius, misalnya, seperti yang selama ini dipercaya. Jurnalisme seperti itu bahkan cocok untuk koran dan tabloid.

Asosiasi
Perlu ada asosiasi wartawan yang gigih mempromosikan tradisi ini dan melakukan advokasi: Mempromosikan pentingnya jurnalisme investigasi baik ke publik maupun ke media. Membangun jaringan dengan asosiasi serupa (lokal, nasional maupun internasional) Memberi insentif kepada wartawan/media yang mengusahakan jurnalisme investigasi: memberi penghargaan (“award”), mencarikan dana untuk liputan investigatif. Memberikan pendidikan/workshop untuk jurnalisme investigatif Membela wartawan investigatif dari tekanan manajemen media maupun publik.

Database dan Jaringan
Perlu dikembangkan database (apa saja) dan membangun jaringan dengan akademisi/lembaga riset yang bisa membantu wartawan melakukan investigasi secara mudah. Orang seperti Lin Che Wei dan lembaga sema-cam Transparancy International, misalnya, bisa membantu dalam Kasus Lippo.