Mitos dan Realitas Wartawan

Posted by Jammes 5/03/2008 0 comments
SEJAK reformasi, media massa tumbuh bak jamur di musim hujan. Koran tumbuh luar biasa mencapai 2000 pener-bitan. Namun, tahun 2005 tinggal 800 saja. Hanya 30 persen yang sehat secara bisnis. Kematian pers lebih banyak karena hara-kiri lantaran kurang modal dan tak mampu mengelola Sumber Daya manusia. artawan. So, bagi yang masih ‘awam’ sama dunia kewartawanan, simak deh mitos tentang wartawan dan realitasnya di bawah ini.

Wartawan sosok yang menakutkan
Biasanya orang yang takut pada wartawan adalah ‘public figure’ atau lembaga perusahaan yang memiliki kasus jelek, sehingga mereka khawatir jika kasusnya ‘terendus’ wartawan bisa mencemarkan dan menjatuhkan nama baiknya. Memang nggak bisa dipungkiri kalau selama ini ada beberapa oknum yang membuat wartawan ditakuti oleh nara sumber. Misalnya oknum tersebut selalu meminta ‘imbalan’ untuk memuat berita-berita yang bagus dan mengancam akan menulis berita bernada negatif jika tidak diberi imbalan. Padahal pada kenyataannya, banyak wartawan yang menjunjung kode etik jurnalistik. Wartawan-wartawan masa kini sudah lebih santun dalam menghadapi sumber dan menuangkan berita. Bahkan tidak sedikit wartawan yang terus menjalin hubungan baik dengan narasumbernya.

Wartawan bisa menulis apa saja
Salah satu hal yang menyebabkan wartawan menjadi sosok yang menakutkan adalah karena wartawan dianggap bisa menulis apa saja yang didengar dan dilihatnya. Pada kenyataannya, dengan mengacu pada kaidah dan kode etik jurnalistik wartawan tidak bisa seenaknya menuliskan berita. Untuk menurunkan sebuah berita, terutama yang menyangkut informasi suatu kasus, wartawan harus mengkonfirmasikan kebenaran informasi tersebut pada sumber yang dapat dipercaya. Jika berita yang ditulisnya melenceng dari fakta yang sebenarnya, bisa menjatuhkan kredibilitas wartawan dan media yang bersangkutan.

Wartawan selalu minta amplop
Anggapan seperti ini adalah mitos yang paling populer di masyarakat. Wartawan dianggap selalu meminta sejumlah uang pada setiap sumber yang diwawancarainya. Wartawan juga selalu mengharapkan amplop dari panitia liputan acara. Memang ada sebagian wartawan yang bermental demikian, tapi tentu saja tidak bisa ‘dipukul rata’. Di masa sekarang, dengan semakin meningkatnya tingkat kemapanan media massa, praktek meminta ‘amplop’ pada sumber berita sudah bukan jamannya lagi.

Wartawan selalu urakan
Selama ini wartawan memang identik dengan pakaian kumal, mengenakan jaket atau rompi, menenteng kamera, dan rambut acak-acakan. Memang sih, tak sedikit wartawan yang berpenampilan demikian, terutama wartawan yang bekerja di lapangan. Karena wartawan yang ingin meliput peristiwa kebanjiran atau kebakaran nggak sreg juga kan kalau harus berdasi dan bersepatu mengkilat? Tapi memang ada juga wartawan yang selalu berpenampilan ‘urakan’ walau harus meliput dan menghadiri acara resmi. Tapi agaknya penampilan wartawan masa kini sudah mengalami pergeseran ke arah yang lebih baik. Wartawan masa kini yang rata-rata berpendidikan tinggi, terlebih bekerja di media yang cukup mapan, sudah bisa membedakan mana penampilan yang cocok untuk di lapangan dan mana penampilan untuk acara-acara resmi. Penampilan mereka belakangan inipun terlihat lebih rapih dan intelek.

Wartawan manusia sakti
Wartawan disebut manusia sakti karena selama ini wartawan terkesan mudah dalam menembus rumitnya birokrasi. Wartawan sering terlihat jalan melenggang masuk ke stadion sepak bola tanpa harus membeli karcis, sementara yang lain berdesak-desakan berebut karcis masuk. Begitu juga ketika menghadiri pertunjukkan musik, hiburan, bahkan menonton film terbaru di bioskop. Padahal sebetulnya, wartawan itu tidaklah sakti. Mereka bisa melenggang masuk ke tempat-tempat yang semestinya ‘bayar’, karena para wartawan sudah mengurus ID card atau tanda masuk untuk menjalankan tugas. Tanpa ID card, wartawan pun tidak diijinkan masuk, sama halnya dengan orang yang tidak membeli karcis.

Wartawan bekerja 24 jam
Selama ini wartawan dianggap tidak memiliki jam kerja yang jelas. Wartawan harus siap ditugaskan kapan saja. Karena itu banyak yang menganggap wartawan bekerja selama 24 jam penuh. Padahal wartawan juga manusia biasa yang butuh istirahat. Jika urusannya sudah selesai wartawan bisa pulang ke rumah dan istirahat dengan tenang. Tetapi memang, jika mendekati ‘deadline’ wartawan harus siap memenuhi deadline meskipun harus bekerja sampai larut malam.
Banyaknya mitos tentang profesi wartawan menunjukkan bahwa wartawan adalah profesi yang unik. Dan justru karena keunikannya tersebut, profesi wartawan belakangan ini makin diminati oleh kalangan muda yang dinamis dan kritis.
Agaknya anda yang menaruh minat besar dan kualified di bidang jurnalistik, tidaklah sulit untuk mengembangkan karir di dunia kewartawanan. Toh maraknya dunia pers dewasa ini membuka peluang kompetisi yang luas dan sehat bagi anda yang serius di dunia ini. Apalagi belakangan ini media elektronik dan media online terus bertambah. Dan anda yang menganggap bahwa profesi wartawan nggak bisa diandalkan buat masa depan agaknya harus mulai meralat anggapan tersebut.

Wartawan Kreatif dan Produktif

Posted by Jammes 5/02/2008 0 comments
ANDA wartawan baru? Jangan khawatir. Anda bisa menjadi reporter yang produktif. Ikutlah saran-saran berikut ini. Ini bukan sembarang nasihat karena dikumpulkan dari sejumlah jurnalis hebat yang dengan suka rela berbagi pengalaman.

Dua editor Albert L Hester dan Wai Lan J To mering-kas dan memuatnya dalam buku yang diterjemahkan oleh Abdullah Alamudi. Buku itu dalam bahasa Indo-nesia berjudul Pedoman untuk Wartawan (USIS, Ja-karta). Inilah jurus ampuh bagaimana mencari berita dengan kreatif dan menjadi wartawan produktif
1.Anda harus punya rasa ingin tahu. Kalau tidak pu-nya itu, maka lupakanlah cita-cita menjadi reporter yang baik. Kalau Anda tidak bisa cerewet terus menerus dengan pertanyaan MENGAPA begini, MENGAPA begitu? Maka, sudahlah tidak ada harapan buat Anda. Bahkan gaya menulis yang baik pun masih kalah penting dan menduduki peringkat kedua setelah keinginan untuk tahu sebanyak-banyaknya.
2.Tinggalkan kantor. Berita tidak muncul dari balik komputer. Anda tidak mendapat apa-apa kalau hanya duduk membaca koran Anda sendiri atau mengisi teka-teki silang. Kalau Anda toh masih tampak di kantor ketika seharusnya Anda keluar, oleh Koordinator Liputan Anda akan disuruh segera ke lapangan. Artinya, Anda kan harus keluar kantor juga.
3.Jangan tanya sumber Anda, “Ada berita apa?” Tak ada satu pun yang baru bagi mereka, karena mereka biasanya terjebak rutinitas. Mereka biasanya tak sepeka kita, walaupun ada sesuatu yang bisa jadi berita bagus dan itu menimpa kepala mereka. Andalah pemburu beritanya.
4.Berbicaralah dengan berbagai macam orang. Perhatikan seremeh apapun percakapan yang Anda dengar di warung dan restoran.
5.Baca buletin, majalah atau media lain yang sesuai dengan bidang liputan Anda. Berlanggananlah kalau Anda punya dana lebih, atau sarankan kantor Anda untuk berlangganan. Kalau Anda menulis tentang pemerintah lokal, misalnya, mungkin ada publikasi mengenai kantor pemerintah itu yang dibaca oleh pegawainya. Dapatkanlah dan bacalah juga.
6.Hadirilah pesta, pelantikan, buka puasa bersama, resepsi, pertemuan organisasi masyarakat, parpol, atau instansi pemerintah. Apalagi kalau Anda memang diundang untuk datang. Banyak yang bisa Anda dengar di sana.
7.Baca koran Anda sendiri. Jangan juga malas membaca berita dari koran lain. Ikuti perkembangan di dalam koran Anda sendiri. Setiap reporter wajib membaca korannya dan surat kabar lain. Sebuah berita bisa menjadi ide untuk berita selanjutnya.
8.Jangan segan meniru dari surat kabar luar asing. Kalau di tempat Anda susah mendapatkan surat kabar dari negeri lain, Anda kan bisa mencari situsnya. Lihatlah di sana. Situs itu kan memang untuk diklik. Tidak ada hak cipta atas ide. Cobalah sering-sering melokalkan isu di luar yang relavan dengan tempat Anda.
9.Baca pernyataan-pernyataan resmi, meskipun seperti umumnya sebuah pernyataan, dia selalu membosankan. Cermati saja, bisa jadi pernyataan itu menjadi bibit berita.
10.Perhatikan televisi dan dengarkan radio lokal. Media itu sekali-sekali ada menampilkan berita baik yang bisa diangkat dan dikembangkan. Perhatikan juga siaran-siaran televisi dan radio luar negeri. Kalau tidak dapat ide berita, toh siaran itu bisa mendidik dan memperluas persfektif Anda.
11.Sediakan sebuah kalender dan peta peristiwa mendatang. Ini akan mengingatkan Anda dan mendorong Anda memikirkan berita yang perlu diliput. Redaktur akan menghargai Anda sebagai reporter yang terorganisasi kalau Anda mempunyai peta atau catatan tentang peristiwa yang akan terjadi.
12.Perbaiki hubungan Anda dengan sumber-sumber berita Anda. Semakin sering Anda menemuinya, semakin percaya mereka. Kecuali kalau Anda seorang yang tidak bisa dipercayai, semakin sering mereka melihat Anda, semakin mereka tidak mempercayai Anda.
13.Jangan abaikan pengusaha. Mereka sering harus mengetahui apa yang sedang terjadi, kalau mereka terus ingin berusaha.
14.Bergaullah dengan orang-orang LSM. Mereka biasanya haus pemberitaan. Dan ada berita dari mereka yang menarik perhatian pembaca.
15.Para pekerja di bandara dan pelabuhan seringkali mempunyai pengetahuan luas mengenai orang-orang penting yang akan datang atau berangkat. Carilah sumber yang mengetahui soal kedatangan dan keberangkatan. Bersahabatlah dengan perusahaan-perusahaan penerbangan dan pelayaran.
16.Kunjungilah pameran. Hal ini penting untuk mendapatkan perasaan langsung tentang keadaan di tempat pameran itu. Anda tidak akan dapatkan perasaan itu dari pembicaraan dengan pejabat atau duduk-dudk di kedai kopi.
17.Kuasai bahasa asing. Minimal bahasa Inggris. Dengan demikian Anda tidak perlu mendapat informasi dari tangan kedua.
18.Mengobrollah dengan rekan-rekan wartawan lain. Mungkin hal ini akan membosankan, tapi sesekali Anda bisa mendapatkan ide baik untuk satu berita. Sesekali pergilah meliput bersama mereka. Apalagi bila sumber berita itu sudah mereka kenal dan mintalah mereka mengenalkan kita.
19.Ada kalanya dosen dan mahasiwa menjadi sumber berita yang menarik. Berkenalanlah dengan beberapa dari mereka, dan cek apa yang sedang terjadi.
20.Sadarlah Anda tidak selalu mendapatkan berita setiap kali Anda menghubungi sumber berita Anda. Ada kalanya bijaksana untuk mengetahui apa kesenangan mereka dan apa yang membuat mereka terbuka. Hal ini akan membantu Anda mendapatkan berita dari mereka di kemudian hari.
21.Bergunjinglah dengan politisi atau pejabat setempat. Umumnya mereka suka mendengar apa kata orang lain tentang mereka dan juga akan memberi Anda informasi yang menarik.
22.Gunakan waktu Anda berkeliling kota. Pandanglah dengan mata segar apa yang sedang terjadi.
23.Berbaurlah dengan masyarakat – jangan asingkan diri.
24.Sesekali pergilah menyendiri dan berpikir. Bawa buku catatan dan tuliskan segala sesuatu yang mungkin menjadi ide untuk berita. Ini bukan waktu untuk berkhayal. Tapi waktu untuk mendapatkan ide yang lebih baik.
25.Ingatlah redaktur menyenangi reporter yang datang dengan ide-ide segar dan asli.

Wartawan Amplop dan Bodong

Posted by Jammes 0 comments
Jika Napoleon lebih takut kepada wartawan daripada 100 divisi tentara, saya lebih takut 10 orang tentara daripada 100 wartawan, karena 100 wartawan bisa dihadapi dengan 100 amplop”.


Sindiran yang dilontarkan Jaksa Agung Ali Said pada tiga puluh tahun silam tersebut masih relevan dengan kondisi pers saat ini. Sebab, saat ini masyarakat masih diliputi keresahan dan ketakutan terhadap wartawan amplop dan wartawan bodong alias wartawan gadungan. Masyarakat resah karena wartawan amplop sering meminta uang transpor, meminta sumber berita untuk memasang iklan dan mengancam memberitakan aib (korupsi atau skandal seks) si sumber berita jika mereka tidak memberikan uang.
Sejak reformasi, koran tumbuh luar biasa mencapai 2000 pener-bitan. Namun, tahun 2005 tinggal 800 saja. Hanya 30 persen yang sehat secara bisnis. Kematian pers lebih banyak karena hara-kiri lantaran kurang modal dan tak mampu mengelola SDM.
Momentum reformasi, juga berimbas ke Kepulauan Riau. Pada tahun 1998, terbit Sijori Pos sebagai koran lokal pertama di Kepri yang kemudian berganti nama menjadi Batam Pos. Setelah itu, berturut-turut terbit Posmetro Batam, Harian Lantang, Sijori Mandiri, Batam News, Tribun Batam dan Media Kepri yang belakangan juga berhenti terbit.
Juga hadir belasan stasiun radio, tabloid, majalah dan koran mingguan serta tiga stasiun televisi seperti Batam TV, Semenanjung TV dan Urban TV. Peranan media dari luar Kepri, secara perlahan tersisih dengan kehadiran pers lokal.
Dengan gambaran seperti itu, pertanyaannya, apakah wartawan di Kepulauan Riau sudah bekerja secara profesional? Kondisi pers di Kepri salah satu daerah yang termasuk crowded di Indonesia. Sebab, dari jumlah media yang pernah tercatat di Pemko Batam saja—baik cetak mau pun elektronik—mencapai 87 media.
Jumlah wartawan pun diperkirakan mencapai 500 orang. Ini belum termasuk di Tanjungpinang, Karimun, Natuna dan Lingga serta pu-lau-pulau lainnya. Sedangkan jumlah anggota PWI Cabang Kepri yang baru berdiri sejak 2004 hanya 137 orang wartawan. Selain war-tawan media luar Batam, media yang pernah terbit lalu mati, masih tetap mengaku sebagai wartawan yang dikenal sebagai wartawan ’’bodong.’’
Dari berbagai kasus yang melibatkan wartawan dan dilaporkan ke PWI Kepri, sebagian besar karena pelanggaran etika jurnalistik se-perti penulisan yang tidak berimbang, mencampuradukkan fakta dan opini, tidak akurat dan melanggar norma kesusilaan masyarakat serta mengandung prasangka suku, antar golongan, ras dan agama seperti yang kita saksikan di persidangan antar pejabat belakangan ini di Tanjungpinang.
Sementara, kasus-kasus pidana yang menyangkut pidana yang dilakukan oknum wartawan seperti pemerasan, pencemaran nama baik, pelecehan seksual hingga pemerkosaan. Akibat ulah oknum-ok-num tersebut, merusak imej dan mengganggu kenyamanan war-tawan yang berusaha menjalankan tugasnya secara profesional.
Selain itu, beberapa oknum wartawan yang berasal dari luar Kepri, setelah melakukan perbuatan tak terpuji, lalu pindah ke pulau lain yang dijuluki ’’wartawan antar pulau’’ yang juga merugikan nama baik wartawan di daerah ini. Mereka terkenal dengan istilah ’’kapal pecah, hiu yang kenyang.’’ Maksudnya, setelah sebuah kasus diberitakan, maka mereka beramai-ramai memeras narasumber tersebut.
Masalah lain yang dihadapi pers di Kepri adalah persoalan mana-jemen. Ketika pers berkembang menjadi industri, selain modal, tek-nologi canggih untuk kecepatan informasi, perusahaan pers juga dituntut mempercanggih sistem manajemennya secara profesional. Yang terjadi, dari sekian banyak media lokal tersebut, lebih banyak yang mati daripada yang bertahan hidup.
Selain kesulitan modal—berkantor di rumah, dengan beberapa komputer, mencetak di perusahaan lain, terbit tidak teratur, meng-andalkan biaya operasional dari sumbangan atau dimodali pejabat dan pengusaha tertentu—proses rekrutmen dan kualitas sumber daya manusia yang kurang memadai. Malah, beberapa perusahaan media yang tampak bersinar pun, menghadapi masalah kesejah-teraan karyawan seperti tidak naik gaji atau terlambat gajian.
Namun, di sisi lain, Batam dan Kepulauan Riau selama ini dikenal sebagai ’’daerah basah’’ dimana penegakan hukum lemah dan ba-nyak orang bersikap aji mumpung. Artinya, semakin banyak penjabat dan pengusaha yang menyeleweng, maka makin banyak juga oknum wartawan yang memanfaatkan kondisi ini untuk kepentingan dirinya sendiri.
Kasus-kasus korupsi, penyeludupan, pembuangan limbah, pem-balakan hutan, pengerukan dan penjualan pasir, perdagangan wanita dan anak-anak (trafficking) perjudian dan pelacuran, kejahatan tran-snasional, cybercrime, black market dan sebagainya menyebabkan orang gampang tergoda dan silau dengan materi. Termasuk war-tawan. Jadi, perlu syaraf baja dan mental yang kuat agar tidak terlibat konspirasi dengan pelaku kejahatan ini.
Dibandingkan sebelumnya, sebenarnya jumlah wartawan bodong atau orang yang mengaku-ngaku wartawan, sudah jauh berkurang. Terutama sejak lesunya perekonomian Batam dan puncaknya ditutupnya perjudian. Namun, secara diam-diam, beberapa oknum wartawan bodong, masih mencari-cari celah untuk menjalankan modus operandinya, meskipun medianya telah lama tutup dan berhenti terbit.
Tindakan wartawan bodong memang keterlaluan karena mereka juga berani memburu narasumber atau pejabat yang akan diperasnya. Malah, beberapa di antaranya berani beroperasi secara terbuka. Terutama di tempat-tempat yang dianggap ‘’basah’’ seperti Bea Cukai, kantor Samsat, Pelabuhan, dan bahkan sampai ke kantor pemerintah.
Meskipun jumlahnya banyak, sejak dulu dan sekarang, cara beroperasi wartawan bodong tak banyak mengalami perubahan. Mereka biasanya beroperasi secara berkelompok, setidaknya lebih dari satu orang dan tak lupa mereka selalu memakai atribut “pers” di tubuhnya. Ada kesan wartawan gadungan ini tidak cukup pede untuk menjalankan operasinya secara sendirian.
Ada ciri-ciri yang membedakan antara wartawan amplop dan wartawan bodong. Tapi keduanya juga punya persamaan. Wartawan amplop adalah wartawan yang sebagian besar penghasilannya berasal dari amplop sumber berita, baik amplop itu diperoleh dengan cara meminta atau sekedar hasil pemberian dari sumber berita. Wartawan amplop bisa dilakukan oleh WTS (wartawan tanpa surat kabar) atau wartawan yang bekerja di perusahaan pers skala kecil yang tidak peduli dengan kesejahteraan para wartawannya. Di luar kategori ini, wartawan amplop juga dilakukan oleh wartawan yang bekerja di perusahaan pers yang sudah mapan, tetapi wartawan dan perusahaan pers tersebut kurang memedulikan penegakan etika jurnalitik, terutama soal larangan menerima uang/suap dari sumber berita.
Sedangkan wartawan bodong adalah orang yang pekerjaaanya memeras tetapi berkedok sebagai wartawan. Mereka ini mirip dengan intel gadungan atau polisi gadungan yang pekerjaaanya hanya menakut-nakuti masyarakat, tapi ujung-ujungnya adalah meminta uang.
Pelaku wartawan bodong bisa saja para WTS, tetapi juga dilakukan “wartawan” yang bekerja di media tertentu. Hanya saja media yang dikelola para wartawan bodong ini biasanya jadwal terbitnya tidak jelas dan isi medianya (iklan dan berita) adalah hasil negoisasi dengan sumber berita/korban, termasuk negoisasi pemerasan.
Wartawan amplop dan wartawan bodong adalah wujud anomali masyarakat. Dua duanya adalah penyimpangan profesi wartawan. Keberadaan wartawan amplop dan wartawan bodong jelas merugikan masyarakat. Pemberian uang kepada wartawan akan membuat independensi wartawan tergadai.
Sedangkan keberadaan wartawan bodong, selain mencemarkan profesi wartawan, mereka juga menutup akses informasi yang berguna bagi masyarakat. Sebab berita-berita tentang korupsi yang diketahui wartawan bodong hanya dijadikan komoditas bisnis oleh wartawan bodong
Wartawan bodong berani beroperasi karena ada tiga hal. Pertama, karena sumber berita masih menyediakan amplop untuk wartawan, dengan demikian wartawan bodong punya alasan utuk menuntut “hak” yang sama. Kedua, wartawan bodong berani beroperasi karena ada sumber berita yang bisa diperas, yaitu para pejabat atau perusahaan yang bermasalah.
Ketiga, lemahnya kontrol dari masyarakat. Sejak diberlakukannya UU 40/l999, secara otomatis negara tak punya kontrol terhadap media. Sebab pendirian usaha pers tidak lagi memerlukan SIUPP dari pemerintah. Dengan liberalisasi media, siapa saja bisa mendirikan usaha pers, termasuk mereka yang bermodal dengkul.
Kemudahan pendirian usaha pers inilah yang dimanfaatkan para petualang. Mereka ini mendirikan “perusahaan pers” untuk kepentingannya sendiri dan tidak peduli dengan amanat UU 40/l999 seperti memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkan demokrasi dan memperjuangkan keadilan (pasal 6).
Akibat adanya liberalisasi bidang pers ini, maka secara otomatis pengawasan kepada media – termasuk bagi yang menyalahgunakan fungsi media, berada di tangan masyarakat. Pengawasan bisa dilakukan dengan berbacai cara, seperti menghentikan anggaran pemberian amplop bagi wartawan hingga melaporkan wartawan bodong ke aparat hukum atau organisasi wartawan dan meneruskannya ke Dewan Pers.
Karena itu upaya untuk melawan wartawan amplop dan wartawan bodong harus didukung. Tetapi perlawanan ini tidak mempunyai daya dorong jika tidak disertai upaya hidup bersih dari korupsi. Selain mendorong masyakat hidup bersih dari korupsi, insan pers juga harus memperbaiki citranya dengan cara hidup bersih dari amplop.
Sikap anti amplop ini tidak cukup dengan hanya membuat larangan menerima amplop, tetapi perusahaan pers juga harus memberi upah yang layak dan pengawasan yang ketat bagi wartawannya.
Pengawasan kepada pers mutlak diperlukan karena pers masih dianggap sebagai pilar penegakan demokrasi. Kontrol ini diperlukan agar pers tetap berada pada cita-citanya. Jika masyarakat lalai mengawasi pers, maka jangan salahkan jika pers Indonesia akan dipenuhi wartawan sensasi, wartawan amplop dan wartawan bodong.

Seputar Off the Record

Posted by Jammes 4/30/2008 0 comments
William L. Rivers dan Cleve Mathews dalam “Etika Media Massa dan Kecenderungan untuk Melanggarnya”, menekankan perlunya pemahaman wartawan mengenai etika dalam liputan. Kode etik media massa di antaranya, memberikan beberapa jenis keterangan yang mesti diperhatikan wartawan dan sumber – sumbernya.

KETERANGAN ON THE RECORD. Semua pernyataan boleh langsung dikutip dengan menyertakan nama serta predikat si sumber. Kecuai ada kesepakatan lain, semua komentar dianggap boleh dikutip. Oeh sebab itu, pastikan batasan mana keterangan – keterangan dengan kategori ini. Jangan sampai sudah wawancara berjam –jam ehh ujung – ujungnya sis umber bilang “ tapi ini off the record yaa.. “ keterangan yang didapat dari wawancara jadi melorot nilainya.
KETERANGAN ON BACKGROUND. Biasanya disebut “background” saja. Semua pernyataan boleh dikutip langsung, pakai tanda petik, tapi tanpa menyebutkan nama si sumber. Contohnya, “ya, memang ada polisi yang diperiksa berkait pemukulan tahanan itu”. Ujar sumber di Kepolisian. Jenis penyebutan yang digunakan si sumber harus dinegosiasikan terlebih dahulu. Apakah boleh kita menyebutkan kesatuannya? Atau hanya di Mapoltabes saja? Atau hanya menyebut petugas polisi saja? .
Yang harus diingat bahwa makin kabur identitas si sumber, makin ringan juga kredibilitas laporan si wartawan. Seorang perwira di Mapoltabes lebih kabur ketimbang seorang Perwira di Satreskrim Mapoltabes.
KETERANGAN ON DEEP BACKGROUND. Kategori ini jarang dimengerti terutama oleh nara sumber. Semua pernyataan sumber boleh digunakan akan tetapi tidak dalam kutipan langsung. Reporter menggunakan keterangan itu tanpa menyebutkan sumbernya. Hati – hati dengan kategori ini, sebab si sumber (apalagi yang sudah berpengalaman dengan media) sering memanfaatkan status ini untuk mengapungkan umpan tapi tidak mau bertanggung jawab. Apalagi kalau sampai kita terjebak di manfaatkan si sumber tersebut.
KETERANGAN OFF THE RECORD. Informasi yang diberikan secara off the record hanya diberikan kepada reporter dan tidak boleh disebar luaskan dengan cara apapun.
Informasi tersebut juga tidak boleh dialihkan kepada nara sumber lain dengan harapan informasi tersebut bisa dikutip. Secara umum harus diketahui terlebih dahulu bahwa rencana penyampaian informasi secara off the record harus disepakati terlebih dahulu oleh reporter.
Resiko menyetujui informasi off the record adalah si wartawan terikat untuk tidak menggunakan informasi tersebut (termasuk kemungkinan bahwa informasi itu diperoleh dalam bentuk yang lain dari nara sumber lain, tapi bisa menimbulkan kesan bahwa si wartawan tidak menghormati kesepakatannya dengan sumber pertama. Keterangan off the record baru berharga kalau ada pihak lain yang mengeluarkannya dan kita boleh mengutipnya dengan nama lengkap.
Jadi kalau dapat keterangan yang off the record, kita segera mencari sumber lain yang mau bicara. Apa yang dilakukan wartawan POSMETRO ketika memberitakan penangkapan kapal nelayan Thailand adalah contoh yang bagus. Kapal ditangkap hari Selasa, wartawan berkonfirmasi hari rabu, Angkatan Laut yang menahan kapal itu membenarkan tetapi tidak mau memberikan keterangan (sama saja dengan off the record kan.. ?) dan berjanji mengadakan jumpa pers pada hari Jumat. Akhirnya POSMESTRO memberitakan juga dengan keterangan yang jauh lebih bagus yang didapat dari Dinas Kelautan.