Bendera Parpol

Posted by Jammes 7/20/2008 0 comments
Pesan short massage service (SMS) soal bendera parpol itu saya kirim tanggal 28 Maret 2008 pukul 14.50 WIB. Jawaban wali kota singkat saja. Gagasan bagus, terima kasih. Kini sampai sembilan bulan ke depan, wajah kota akan bertabur bendera parpol.

Isi SMS itu begini: Yth Pak Walikota, saya usul Pemko menyediakan tempat pemasangan bendera partai, LSM dan OKP di tempat tertentu. Tiang dan lubangnya disediakan Pemko, termasuk membantu memasang dan membongkarnya. Waktu pemasangan dibatasi 3-5 hari dan parpol tinggal memberikan bendera. Selain kota lebih rapi, ini akan menjadi terobosan baru Anda, terima kasih.

Usul tersebut dilatari oleh kebiasaan parpol dan ormas memasang bendera sebagai atribut di jalan-jalan protokol. Yang terjadi, antar parpol berlomba-lomba agar benderanya kelihatan lebih banyak, lebih tinggi dan lebih menarik pandangan mata.
Masalahnya, bendera parpol (apapun parpolnya) bukannya menambah semarak, malah mengganggu pemandangan. Misalnya, tiangnya tidak sama tinggi. Malah, ada yang tiangnya copot dan tumbang ke jalan. Ini tentu mengganggu penguna jalan.
Nah, jika wali kota menganggap usul sederhana ini penting, tinggal mengumpulkan semua parpol, OKP dan LSM lalu bikin kesepakatan bersama. Isinya, ya pengaturan soal pemasangan bendera parpol itu. Lubang dan tiang bendera disediakan Pemko.
Tentu saja jarak dan tinggi tiangnya sudah diatur. Parpol tinggal menyerahkan bendera ke Satpol PP yang membantu memasang. Kalau perlu, diberikan biaya pemasangan yang terjangkau. Pada saat masa tayang bendera habis, juga dibantu mencabut bendera tersebut.
Tujuannya, kota lebih rapi dan indah dengan kibaran bendera warna warni. Pengguna jalan pun aman dari kejatuhan tiang bendera. Kesepakatan antara Pemko dan parpol itu, dipublikasikan secara luas agar warga tahu.
Sejak bulan Juli 2008 hingga Maret 2009 nanti, selama sembilan bulan, kita akan terbiasa melihat bendera parpol berkibar-kibar. Jumlahnya ada 34 parpol atau 34 jenis bendera pula.
Seberapa menarik pemasangan bendera ini di mata warga yang menjadi sasaran kampanye parpol? Survei Barometer agaknya bisa menjadi perhatian parpol. Ternyata, hanya 44,8 persen yang menyebutkan pemasangan bendera parpol menarik dan 55,2 menganggap tidak menarik.
Kampanye untuk menarik calon pemilih seperti pengerahan massa, konvoi dan pawai kendaraan malah dianggap tidak menarik. Jika kampanye merusak keindahan kota, mengganggu aktivitas warga, bisa jadi bukan simpati yang didapat malah berbalik menjadi tidak suka dan antipati.
Saya tidak kecewa usul saya menata bendera parpol tidak dilaksanakan wali kota. Sebab, dengan jumlah partai sebanyak 34 itu, tentu makin banyak pula lubang dan tiang bendera yang harus disediakan. ***

Pak Rida

Posted by Jammes 7/16/2008 0 comments

Tanggal 17 Juli adalah hari kelahiran Rida K Liamsi, bos saya. Sudah dua belas tahun saya bekerja dengannya sebagai wartawan. Ia menjadi sumur inspirasi dan mata air kebijaksanaan yang tak pernah kering. Di usianya yang ke 65 tahun, Pak Rida tetap energik dan dinamis. Tulisan ini saya posting sebagai kado ulang tahun buat Pak Rida.

Saat mulai bekerja, saya baru tahu siapa bos saya. Seorang lelaki bertubuh tinggi dan kebapakan dan tak banyak bicara. Tapi, ia seorang pekerja keras. Orang-orang dan saya memanggilnya Pak Rida. Belakangan, saya baru tahu, nama aslinya Ismail Kadir. Pertama kali saya bicara dengan Pak Rida, saat saya gelisah dengan pekerjaan sebagai wartawan.
Baru dua minggu bekerja, saya ditugaskan di Perawang, sekitar 60 km dari kota Pekanbaru. Tiap hari, saya bolak-balik ke sana. Kawasan itu hanya sebuah desa, namanya Desa Tualang. Tapi, penduduknya lebih 15.000 karena desa itu lokasi PT Indah Kiat Pulp and Paper. Awalnya, sulit sekali menembus perusahaan itu. Saya hanya bisa wawancara dengan Kepala Desa dan Pembantu Camat. Lalu, soal pencemaran lingkungan, dan berbagai masalah sosial di sana. Merasa banyak tulisan saya berbau kritik, saya didekati oleh humas perusahaan itu. Pernah juga saya berdebat dengan dua orang yang saya kira pegawai humas. Ternyata, dia adalah Njau Kwit Mien, dirut perusahaan itu. Saya merasa, mereka mencoba mendekati dan mempengaruhi saya.
Pernah saya ditraktir makan, atau diberi uang ongkos pulang. Inilah yang membuat saya gelisah. Untuk mengatasi kegalauan hati saya, saya menemui Pak Rida. Saya ceritakan semua yang saya alami. ''Kenapa orang-orang itu begitu memperhatikan saya, kenapa tidak perusahaan saja yang memperhatikan saya?,''tanya saya kepada Pak Rida. Pak Rida menatap saya. ''Kau ini, sama seperti ketika pertama kali aku jadi wartawan. Tapi, kalau orang mau berteman, kan tidak apa-apa,'' jawab Pak Rida.
Empat bulan kemudian, saya pindah tugas ke Bukittinggi. Tak lama, mendadak saya mau dipindahkan lagi ke Batam. Sadar tugas wartawan siap dimana saja, saya pun pamit dengan rekan-rekan wartawan di kota wisata itu. Saya ke Pekanbaru, mengurus kepindahan dan minta tiket ke Batam.
Saat saya di kantor, Pak Rida datang. Melihat saya membawa barang, ia bertanya,'' Mau kemana kau?,'' katanya. ''Kan mau ke Batam, Pak,'' jawab saya. Saya kira, Pak Rida tahu saya bakal pindah ke Batam. Tanpa saya sangka, Pak Rida bilang,'' Kau balik lagilah ke Bukittinggi dan jadi Kepala Perwakilan di sana.''
Saya kaget. Apalagi, saya baru 8 bulan jadi wartawan. Spontan, saya bertanya,'' Apa tak buru-buru mengambil keputusan, Pak,'' kata saya.Perintah sekaligus pesan Pak Rida. ''Kau coba sajalah. Dulu aku juga tak tahu apa-apa soal koran,'' katanya, memberi semangat. Saya terdiam dan tetap tak habis pikir. Akhirnya, saya kembali dan
menjadi kepala perwakilan Riau Pos di Sumatera Barat. Perwakilan ini menjadi cikal bakal Padang Ekspres. Tiga perwakilan lainnya adalah Batam, Tanjungpinang dan Dumai.
Saya setahun menjadi Kepala Perwakilan. Lalu, saya mendapat kesempatan mengikuti pendidikan dan lokakarya redaktur di Jawa Pos Surabaya. Begitu selesai, selembar surat tugas baru sudah menanti. Pindah tugas ke Batam.
Pengalaman paling berkesan bersama Pak Rida adalah ketika saya diajak meliput ke kampung halamannya di Desa Bakung, Dabo Singkep selama empat hari. Mungkin saya satu-satunya karyawannya yang pernah ke sana. ''Baru dua wartawan yang pernah ke kampungku, kau dan Taufik Ikram Jamil,'' katanya. Taufik adalah mantan wartawan Kompas.
Perjalanan ke Dabo melewati Tanjungpinang. Saat di perjalanan, saya banyak bertanya pada Pak Rida. Misalnya, kenapa ia mengganti namanya. ''Aku ini dulu kan guru. Jadi, terpaksa memakai nama pena,'' katanya. Nama yang pernah digunakannya Iskandar Leo dan Rida K Liamsi.
Yang membuat saya heran, ternyata Pak Rida sudah 26 tahun tidak pulang ke tanah kelahirannya.Ia bercerita, saat masih remaja, ia seorang pemain sepakbola. Posisinya kiper, lantaran tubuhnya memang tinggi. Kami tiba di pelabuhan Jagoh, setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam. Lalu, saya dan Pak Rida naik bus dari Kuala Raya menuju desa Pengambil, ke rumah saudaranya dan menginap di sana.
Desa itu memang cocok dengan namanya, Pengambil. Apa saja hasil bumi diambil.
Sejak PT Timah angkat kaki,Pulau Dabo Singkep seperti diobrak-abrik. Tanah berlubang bekas galian timah yang disebut warga setempat kolong. Pasirnya diambil dan dijual ke Singapura. Hutannya dibabat.
Nah, warga desa Pengambil, termasuk saudara perempuan Pak Rida, protes keras pada perusahaan penggali pasir di desa itu. Pasalnya, ikan menjauh dari pesisir pantai lantaran bekas cucian pasir dialirkan ke laut.
Dengan nada putus asa, saudara Pak Rida mengadu. ''Bang, bilanglah pada Pak Gubernur,''katanya. Apa jawaban Pak Rida. Saya tidak yakin Pak Rida bicara begitu lantaran dekat saya. ''Aku kan bukan orang berpengaruh juga,'' katanya. Sebuah sikap rendah hati yang luar biasa. Tak terbayangkan bagi saya, kampung halaman sendiri ekologinya rusak begitu parah.
Keesokan hari, dari Pengambil kami naik sampan pancung menuju Desa Bakung, selama satu jam lebih. Desa yang indah itu, berbentuk teluk. Sebuah batu cadas besar, mencuat dari dasar laut, menjelang masuk ke mulut teluk. Pancung itu sampai terangkat karena pusaran air dan gelombang. Kamera saya sembunyikan dibawah kolong perahu, takut terkena air.
Saya dan Pak Rida berkeliling sebentar. Desa Bakung siang itu agak sepi karena banyak warga sedang melaut. Saking lamanya tak pulang kampung, kalau tidak Pak Rida yang lupa dengan orang kampungnya, orang yang lupa dengannya. Ia dipanggil Pak Mail disana.
Kami bertemu dengan mantan murid Pak Rida. Siang itu, bertiga kami salat di mesjid kecil. Setelah itu, Pak Rida ziarah ke makam ayahnya. Pak Rida menemui sahabat karibnya, seorang warga Tionghoa. Saat ia masih kecil, ia pernah ikut kapal ke Jambi membawa arang, lalu kembali ke Bakung membawa beras. Desa Bakung juga banyak diproduksi kapal-kapal kayu.
Melewati sebuah jembatan kayu, tempat bermain Pak Rida waktu kecil, kami menuju rumah seorang seorang kakek tua tempat ia biasa bermain. Mata Pak Rida berbinar-binar, mengingat masa kecilnya. Ia bercerita, betapa ia sangat gugup ketika seorang camat yang datang ke sekolahnya menyuruhnya tampil ke depan kelas.
Sorenya, kami kembali ke Dabo dan menginap di rumah seorang keponakannya. Di Pulau paling ujung Kepulauan Riau itu, saya menemukan kerusakan lingkungan yang dahsyat. Berlalunya masa kejayaan timah, membuat warga di Pulau itu terhenyak. Dulu, anak-anak warga yang bekerja di PT Timah, naik pesawat dan kuliah gratis. Kini bandaranya ditutup. Sebuah bank juga ditutup. Kalau biasanya, Puskesmas naik status jadi rumah sakit, yang terjadi di Dabo sebaliknya. Rumah sakit yang pernah punya alat pacu jantung itu, turun kelas menjadi Puskesmas. Cukup banyak warga Dabosingkep yang akhirnya pergi ke Tanjungpinang dan Batam.
Malam terakhir di Dabo, kami menginap di sebuah hotel kecil. Pak Rida menyuruh saya memeriksa kamarnya. ''Bagus tak? Inilah hotel terbaik di Dabo,''katanya, tersenyum. Paginya, kami sarapan makan nasi dagang. Nasi yang dibungkus daun dengan lauk ikan teri, sambal dan telor. Nikmat sekali.
Kendati usianya sudah tidak muda lagi, fisik Pak Rida tergolong tangguh. Terbang ke berbagai kota, mengontrol anak-anak perusahaan. Kalau rapat, Pak Rida bisa berbicara berjam-jam, sementara kami yang muda-muda, kadang terkantuk-kantuk kecapekan.
Pak Rida juga orang yang berpikiran maju. Kepada para pimpinan perusahaan saat berkunjung ke Genting Highland dan Thailand, ia mengatakan, menyaksikan negara lain, akan menambah wawasan kita. Selain banyak belajar dari Pak Rida, baik secara langsung maupun diam-diam, saya terkesan dengan sikapnya yang bijaksana. Pak Rida orang yang punya pertimbangan matang, dan kadang mengejutkan.

Kalau bertemu saya, ia selalu membaca buku baru atau sebuah novel. Sikap bijak itu, mungkin lantaran latar belakangnya seorang guru. Ia selalu yakin, orang kalau belajar, lama-lama pasti pintar. Ibarat pedang,kalau diasah akan tajam juga. Saat seorang karyawan yang mengadopsi anak meminta cuti cukup lama, saya bingung. Sebab, ia bukan cuti melahirkan dan kalau saya beri cuti, itu melanggar peraturan.
Pesan Pak Rida membuat saya teguh mengambil keputusan. ''Ia sudah menikah sepuluh tahun dan tidak punya anak. Berarti, ia tidak pernah mengambil cuti yang tiga bulan itu. Berikan saja cuti, demi kemanusiaan,'' katanya kepada saya.
Kalau Pak Rida ke Batam, saya suka menemaninya. Biasanya, diajak makan seafood kesukaannya. Kalau orang lain takut kolesterol, Pak Rida cuek saja. ''Makan sajalah, tak usah dipikirkan,''katanya.
Kadang saya menganggapnya tidak sebagai bos, tetapi sebagai guru dan orang tua. Bagi saya, Pak Rida tempat bertanya, kalau saya ragu dalam mengambil keputusan, termasuk masalah-masalah dalam perusahaan.
Ada yang membuat saya juga heran. Biasanya, kalau ada teman-teman yang diberi kepercayaan menjabat, Pak Rida akan memanggil dan bicara empat mata. Tapi, saya tidak mengerti, saya tidak pernah seperti itu. Memberi kepercayaan begitu besar seperti menjadi pemimpin perusahaan, mendadak dan tanpa pembicaraan sebelumnya. Satu hal yang ingin saya lakukan, saya akan menjaga kepercayaan itu. ***

Bang Mawi

Posted by Jammes 7/14/2008 0 comments

Kendati usianya jauh lebih tua, saya memanggilnya abang. Ia seorang seniman yang piawai soal cetak mencetak koran. Belakangan, ia juga mengurus gedung. Penikmat kopi dan perokok berat itu nyaris kalah melawan serangan jantung.


Namanya Darmawi Kahar. Namun, ia sering memakai nama Armawi KH sebagai nama samaran. Kami biasa menyapanya dengan sebutan Bang Mawi. Saya mengangapnya tidak saja sebagai orang tua, juga teman bicara dan berbagi cerita.
Kadang-kadang, ia bercerita soal masa lalunya. Ia pernah menjadi pegawai negeri, lalu memutuskan berhenti. Ia juga pernah punya mesin offset sehingga ia sangat memahami teknologi mesin cetak.
Kadang-kadang, ia mengungkapkan keresahan dan kegalauannya soal berbagai masalah. Tapi, tak ada nada keluh kesah. Hanya sekedar cerita, sambil menyeruput kopi hitam kegemarannya.
Di saat lain, saya yang menjadikan Bang Mawi tempat berdialog, bertanya dan bercerita. Meski ia sering menasehati, namun tak ada kesan menggurui. Kalau sarannya diterima oke, kalau tidak ya sudah.
Saya makin akrab setelah Bang Mawi ditugaskan ke Batam. Dari atas gedung, kadang saya melihat Bang Mawi mondar-mandir, dari percetakan ke gedung Graha Pena. Ia memang menjadi direktur utama kedua perusahaan itu.
Pernah saya bertanya, kenapa Bang Mawi mondar mandir dan sendirian. ''Ya mau kemana lagi. Di Batam ini, kaulah teman aku,''katanya. Saat gedung graha pena sedang tahap finishing, saya dan Bang Mawi naik ke lantai sepuluh. Nafasnya ngos-ngosan. Wajahnya membiru. Saya sempat khawatir. Tapi Bang Mawi bilang, tidak apa-apa.
Sejak Graha Pena Batam masih kosong, Bang Mawi yang menata ruangannya. Cita rasa seninya yang tinggi, digabung dengan kemampuan desain dengan komputer, sehingga ruangan di gedung paling megah di Kepulauan Riau itu, tertata apik.
Tidak banyak yang tahu kemampuan Bang Mawi soal desain ini. Pak Rida pernah bilang kepada saya, mestinya bagian lay-out atau desain iklan, bertanya kepada Bang Mawi. Soalnya, kalau tak ditanya, Bang Mawi juga enggan mengajari. ''Bak kata orang Melayu, Mawi ini tidak mau seperti hidung tak mancung, pipi disorong-sorong.''
Di saat lain, Bang Mawi berlama-lama di ruangannya yang terus berpindah-pindah. Sebab, kalau ruangan yang ditata disewa tenant, ia mengalah dan pindah ke ruangan lain. Ia juga suka melukis. Kanvas dan cat minyak di ruangannya menjadi tempat ia mencurahkan idenya.
Bang Mawi juga suka bunga dan tanaman. Ia yang memilih tanaman di pekarangan di gedung Graha Pena. Suatu hari, ia tertarik melihat sebatang pohon yang berbunga merah, tanpa daun sama sekali. Kami berhenti dan meminta beberapa dahannya untuk dibibitkan.
Soal makan, Bang Mawi tak banyak pantang. Setelah saya ajak makan di rumah makan Padang di Seraya, ia merasa cocok dan kembali lagi datang ke sana menikmati makanan itu. Pemilik rumah makan itu kemudian ditawari berjualan di kantin percetakannya.
Sejak lama saya khawatir dengan kesehatan Bang Mawi. Namun, ia orang yang optimis. Kalau tertawa, bahunya terguncang-guncang. Saat ngobrol, kadang-kadang Bang Mawi menekan dan memijit dadanya. Beberapa kali, ia pergi ke Melaka Malaysia memeriksakan kesehatannya.
Atau sesekali ia memegang tengkuknya. Bang Mawi memang menderita darah tinggi dan sejak lama mengonsumsi obat darah tinggi tensi plas. Kadar gula darahnya juga di atas normal. Namun, saat dicek, paru-parunya bersih. Padahal, ia perokok berat dan suka rokok merek Marlboro.
''Dokter di Melaka juga heran. Mungkin karena merokok dan banyak dahak, sehingga paru-paru aku bersih,'' kata Bang Mawi membuat analisa sendiri sambil tertawa-tawa.
beberapa bulan lalu, keluhannya ginjal yang kata dokter sudah rusak separuh. Bang Mawi pergi lagi ke Melaka. Kebetulan, saya juga berlibur ke Afamosa, Melaka. Kami sempat saling telepon, tapi tak bertemu. Beberapa minggu kemudian, Bang Mawi balik lagi ke Melaka. Kabarnya, ginjalnya mulai membaik.
Sejak itu, Bang Mawi mengurangi minum kopi. Ia memilih minum teh tanpa gula. Tapi, asap rokoknya tetap mengepul. Saya masih sempat mengajak Bang Mawi terapi Ceragem di Puri Legenda dan ngobrol sampai malam tentang berbagai masalah.
Saya terkejut mendengar kabar Bang Mawi masuk rumah sakit kena serangan jantung. Untunglah Mang Mawi yang sudah sering keluar masuk rumah sakit tidak panik dan kehilangan akal. Ia masih sempat menelepon dan minta diantar ke rumah sakit. Saya baru bisa bertemu setelah Bang Mawi tiga hari dirawat. ''Aduh, kacau. Kena jantung aku,'' kata Bang Mawi, seperti biasa, tanpa beban dengan nada datar.
Ia mengajak saya ngobrol. Padahal, malam itu sudah hampir jam 12 malam. Saya katakan, Bang Mawi harus beristirahat. Setahu saya, ada tiga faktor resiko penyakit jantung. Merokok, kolesterol dan stres. Apalagi, sebulan belakangan kesibukan Bang Mawi bertambah dan makin sering terbang ke luar kota. Terakhir, ia mengurus percetakan buku murah.
Sehari setelah bertemu, besoknya ada miscall dari Bang Mawi. Saya telepon balik, tak diangkat. Saya dengar, Bang Mawi dibawa ke Johor untuk mengobati jantungnya. Saya hanya bisa berdoa, semoga Bang Mawi lekas sembuh. ***

Media dan Kekuasaan

Posted by Jammes 7/06/2008 0 comments
KEKUASAAN selalu menarik dibicarakan. Sebab, orang selalu ingin berkuasa. Kekuasaan-- seperti halnya politik--digambarkan sebagai Dewa Janus dalam pemikiran Yunani kuno. Ia digambarkan sebagai seorang yang berkepala dua, menatap ke kiri dan ke kanan. Gambaran kekuasaan dan politik adalah personifikasi sifat dasar manusia. Ada benci dan ada cinta. Ada konflik, ada kerja sama. Ada rindu dan ada dendam, dan seterusnya.


Kekuasaan itu sesungguhnya jahat, tetapi dibutuhkan (power is devil but necessary) Sekecil apapun kekuasaan itu, kekuasaan cenderung disalahgunakan (power tend coorupt) sehingga, agar kekuasaan tidak disalahgunakan mutlak diperlukan pengawasan.
Mengawasi kekuasaan bukan hanya sekedar hak, tapi juga kewajiban. Barang siapa yang mengetahui telah terjadi kesalahan (kejahatan),dan ia tahu bahwa ia mampu melakukan sesuatu untuk mencegah terjadinya kesalahan (kejahatan) itu, sesungguhnya ia adalah bagian dari kesalahan (kejahatan) itu.
Dalam pemerintahan, terdiri dari tiga komponen yang kerapn disebut trias politika. Yakni, eksekutif, legislatif dan yudikatif. Bila ketiganya bersepakat kolusi, siapakah yang mengawasi ketiga lembaga tersebut? Pers sebagai pilar keempat demokrasi mengawasi lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif itu sekaligus.
Pers adalah kekuasaan. Fungsi kontrol atas kekuasaan yang dijalankan pers melalui perannya melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum agar kekuasaan itu tidak disalahgunakan. Tetapi, karena pers juga adalah kekuasaan, maka pers juga wajib dikontrol agar pers tidak anarkis.
Peran pers adalah memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui; menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia,serta menghormati kebhinekaan; mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum; memperjuangkan keadilan dan kebenaran.
Pers bebas nemberitakan. Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran. Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.
Adalah hak persS memberitakan informasi berupa fakta yang dianggapnya pantas, patut dan layak secara jurnalistik dengan kata-kata di satu sisi, tetapi juga adalah hak bahkan kewajiban bagi yang diberitaka pers secara tidak profesional untuk menjawabnya dengan sanggahan atau tanggapan berupa fakta-fakta dalam bentuk kata-kata, di sisi yang bersamaan pers wajib melayani jawaban itu, sebab jika tidak Perusahaan Pers dipidana denda paling banyak Rp500 juta.
Pers profesional antara lain, yang jujur melayani Hak Jawab pembacanya yang Ikhlas melakoni Hak Koreksi pembacanya yang satria melakukan koreksi dan meminta maaf atas kesalahan pemberitaan yang dilakukannya
Sebab, tidak ada pemberitaan pers yang mutlak benar, yang ada adalah usaha yang tanpa henti dari pers untuk menaikkan dan atau mempertahankan derajat kebenaran pemberitaannya.
Informasi layak berita adalah, hanya informasi yang mempunyai nilai bagi peri kehidupan manusia yang dicari, yang diperoleh yang dimiliki yang disimpan, yang diolah dan yang disampaikan secara etis yang pantas yang patut dan yang layak diberitakan oleh pers.
Bagaimana mengukurnya? Tentang hanya informasi yang mempunyai nilai bagi peri kehidupan manusia gunakan UU Pers. Tentang yang dicari, yang diperoleh yang dimiliki yang disimpan yang diolah dan yang disampaikan secara etis, gunakan Kode Etik Jurnalistik.
Kalau saya harus memutuskan, apakah kita harus memiliki pemerintah tanpa surat kabar, atau memiliki surat kabar tanpa pemerintah, saya tidak ragu akan memilih yang kedua (Thomas Jefferson)
Pemerintah dibentuk sebagai produk demokrasi untuk mensejahterakan rakyat, yang dapat saja menyalahgunakan kekuasaannya dan karena itu harus dikontrol produk demokrasi lain, yakni parlemen. Namun, keduanya bisa saja tidak harmonis dan dapat merugikan rakyat, karena itu keduanya harus dikontrol oleh alat demokrasi lain yang bernama: Pers. (Walter Lipman)