Merajut Fakta dengan Feature

Posted by Jammes 6/08/2008 0 comments

ADA berita, ada feature. Sebenarnya, apakah beda antara keduanya? Feature adalah juga berita. Unsur-unsur 5 W + 1 H harus ada padanya. Tetapi, Feature adalah berita yang sudah dikreasikan sedemikian rupa, sehingga fungsinya tidak sekadar menyampaikan informasi.

Ketika seorang tokoh meninggal dunia, berita biasa hanya akan memuat data dimana dia meninggal, pada usia berapa, apa penyebabnya, apa yang membuat dia jadi tokoh, dimakamkan di mana, dan seterusnya. Te-tapi, pada sebuah feature, ketokohannya bisa digali lagi lebih dalam. Kisah-kisah hidupnya, yang unik, menarik dan bisa memberikan iktibar bagi pembaca diceritakan lagi. Komentar kerabat dekatnya diberi tempat.
Itulah fungsi feature. Bentuk tulisan ini leluasa menam-pilkan sosok manusia, menampilkan warna-warni hidup, memberi pencerahan, sekaligus menghibur. Fungsi ini terlalu berat kalau harus diemban oleh berita yang sudah dikenali perangainya sebagai sesuatu yang harus hadir dengan cepat.
Feature juga pas ketika dipakai untuk menulis hal-hal yang kecil, tetapi menarik, yang tak akan pernah jadi berita besar kalau ditulis dalam bentuk berita. Misalnya, minuman ringan paling populer saat ini, yaitu Coca Cola, ternyata lahir setelah John Pemberton, si peraciknya, sakit kepala. Sejarah lahirnya es krim, juga menarik ditu-lis dalam bentuk Feature. Tulisan ilmiah populer sering-kali – atau bahkan selalu – ditulis dalam bentuk feature.
Karena itu, dalam persaingan berbagai bentuk media sekarang, terutam dengan televisi, maka media cetak mau tak mau harus menampilkan kedua bentuk tulisan ini: berita dan feature. Lalu bagaimana menuliskan feature itu?

Jauhi piramida terbalik
Feature, jarang sekali ditulis dalam bentuk piramida terbalik. Feature kebanyakan ditulis dalam bentuk naratif yang kronologis dan berakhir pada klimaks di akhirnya. Atau bisa juga dipakai bentuk penulisan jam pasir.

Pilih Tema.
Pertanyaan yang harus diajukan sebelum memilih dan memutuskan tema feature kita adalah: Apakah tema ini sudah pernah ditulis orang lain sebelumnya? Apakah ceritanya menarik bagi sebagian besar pembaca? Apakah ceritanya bisa menarik emosi pembaca? Apa yang membuat cerita itu menjadi berharga untuk ditu-liskan?

Lead yang menohok.
Tulislah lead yang mengundang pembaca. Sebuah le-ad ringkasan atau rangkuman bukan pilihan yang ter-baik. Lead sebuah feature fungsinya memang sepe-nuhnya untuk menggoda pembaca, maka hindari me-nempatkan unsur-unsur berita yang kering di lead itu. Hingga paragraf ketiga pada sebuah feature yang baik, pembaca harus benar-benar dipikat untuk terus tergoda membaca hingga tulisan selesai. Nah, barulah pada pa-ragraf keempat, apa yang ingin kita kisahkan mulai dima-inkan.

Isi Berita
Informasi penting dalam sebuah feature disajikan sese-dap-sedapnya dalam isi berita. Kelihaian menyusun ka-ta, menghibur dan memainkan emosi pembaca berda-sarkan fakta-fakta yang sudah kita kumpulkan diperta-ruhkan disini. Itulah sebabnya, maka kadang, seorang penulis terjebak memasukkan opininya di sini. Ketimbang beropini, kita bisa mendukung tema feature kita dengan kutipan, data, dialog, dan informasi pendu-kung lainnya.

Penutup Istimewa.
Akhirilah feature kita dengan penutup yang istimewa. Itu bisa dilakukan dengan merujuk ke lead, sehingga pembaca diberi kejutan atau bisa menyimpulkan sen-diri. Penutup feature bisa juga berupa klimaks dari kro-nologi yang sudah dikisahkan sebelumnya.
Seperti Rajutan
Karena feature biasanya ditulis panjang, maka buat-lah tulisan kita seperti rajutan: saling bersambung tak putus! Karena itu penting dilatih keterampilan meng-hu-bungkan lead, isi dan akhir cerita dengan kalimat-kalimat transisi yang tidak kaku. Selang seling antara kutipan ucapan dalam kalimat langsung dengan paraf-rase bisa sangat membantu. Juga kalau kita lengkapi feature kita dengan dialog antara tokoh-tokoh yang men-jadi tema tulisan kita.

Feature, Enaknya Pakai Contoh

Misalnya kita pulang dari peliputan di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Hari itu dibahas Laporan Pertanggungjawaban Wali Kota. Salah satu yang menjadi sorotan anggota DPRD adalah pening-katan jumlah penduduk miskin. Jika kita memberitakan itu apa adanya sesuai dengan apa yang kita dapatkan dalam sidang DPRD itu, kita mendapatkan sebuah berita yang bagus dan menarik perhatian. Bisa jadi ma-salah itu akan jadi pembicaraan selama berhar-hari.
Mestinya kita tidak berhenti pada data saja. Kita bisa membuat berita lain dari isu kemiskinan itu dengan tuli-san yang lebih menyentuh perasaan pembaca. Kita perlu menuliskan beritanya dalam bentuk feature. Istilah ini dipakai untuk tulisan khas di surat kabar atau maja-lah yang bentuknya bukan berita biasa. Bukan straigth news. Tulisan yang disusun seperti kisah. Karena itu, tulisan ini kerap kali mengambil tema yang menyentuh hati manusia, human interest.
Untuk contoh isu kemiskinan tadi, apabila kita ingin membuatnya jadi feature, kita bisa melengkapi bahan-bahan tulisan dengan mengamati, mewawancarai, men-deskripsikan salah satu penduduk kota atau salah satu keluarga yang miskin atau kalau bisa yang paling miskin. Berapa kali dia makan sehari, bagaimana mereka men-cari nafkah, dari mana asalnya, dll. Lalu yakinlah kisah keluarga miskin tadi menjadi contoh yang pasti lebih me-nyentuh ketimbang sekadar berita yang memuat angka-angka statistik tentang kemiskinan yang kita dapatkan dari rapat di kantor DPRD. Apalagi kalau isinya cuma ungkapan-ungkapan keprihatinan dari pejabat.
Tak ada cara lain yang lebih manjur untuk melatih ben-tuk tulisan ini selain mencoba dan mencoba. Apa yang dilakukan Sultan Yohana berikut ini bisa jadi contoh. Baca juga bahasan Farid Gaban, moderator milis jurnalisme atas feature itu. Banyak hal bisa dipelajari. Ini Beritanya:
Saat Perang Aceh Terus Berkecamuk
(Derita Suami Istri Pengedar Ganja)
Wajah Yusnidar (34 th) begitu kentara menyiratkan ketakutan luar biasa. Saat beberapa kamera beserta mikrophone disodorkan tepat di wajahnya, oleh beberapa reporter televisi.”Sudahlah mas, saya mohon, cukup-cukup,” katanya sambil mencoba menyembunyi-kan wajahnya di tubuh suaminya, Hendra (37 th).
Suami istri itu Jumat (1/8) sekitar pukul 15.00 WIB, ditangkap jajaran Satuan Narkoba Poltabes Barelang, di depan Supermarket Kawi Jaya Nagoya Batam. Dugaan awal, keduanya adalah pengedar ‘daun surga’. Dari tangan wanita asal Aceh tersebut, polisi berhasil menyita 10 paket hemat ganja, yang masing-masing dijualnya dengan harga Rp5 ribu.
Bahkan, saking takutnya saat proses penankapan diri dan suaminya, celana warna hijau sepanjang lutut yang dikenakannya itu, basah oleh air kencing. Sesaat sete-lah digeladang ke kantor polisi, keduanya duduk di lan-tai keramik putih pojok ruang tamu. Sementara anak-nya, Putri (3,5) mulutnya sibuk mengemot susu botol, erat berada di dekapan sang ayah. Tak tahu bahwa ke-dua orang tuanya sedang menghadapi masalah besar.
Sesekali gadis berpipi montok itu ikut nangis, melihat bapak dan ibunya menangis,” Sudahlah pak jangan menangis,” kata Yusnidar sambil mengusap air mata suaminya dengan telapak tangan kanannya, se-men-tara tangan kirinya berusaha meraih sang buah
hati dari dekapan sang suami.
Namun masih saja beberapa kamera televisi menga-rahkan lensanya ke wajah ketiga orang itu. Sambil tak henti-hentinya mencecar berbagai pertanyaan dan ber-usaha mengambil gambar yang paling menjual . Meli-hat itu, tak pelak, tangis Hendra semakin berderai. Dibi-arkan saja air mata meleleh dengan deras dari kedua matanya yang memerah. Hendra hanya bisa melawan situasi yang demikian dengan menutupi wajahnya de-ngan kedua telapak tangan.
Yusnidar mengaku terpaksa menerima profesi se-bagai pengedar ganja, saat Ali (tersangka yang meni-tipkan ganja untuk mereka jual,red) menawari keluar-ga yang baru dua bulan datang ke Batam. ‘’ Kami tak ada pekerjaan lagi mas,” kata wanita yang kelihatan berusia lebih tua dari aslinya.
Mereka terpaksa datang ke pulau ini, karena merasa di tempat asalnya, sudah tak lagi mempunyai masa depan yang menjanjikan. Perang saudara terus saja bergejolak di bumi rencong itu. ‘’Di sana tak henti-hen-tinya perang,” tambah Yusnidar sambil terus mem-bu-juk suaminya agar berhenti menangis.
Dari penjualan ganja mereka mengaku, tiap hari ber-hasil menjual kurang lebih 10 paket. Per paket mereka mendapatkan untung sebesar Rp3 ribu. ‘’Semuanya itu untuk makan kami dan membeli susu anak saya,” timpalnya lagi.
Profesi kepepet itu, dilakukan baru satu bulan, Nidar, demikian wanita dipanggil, tahu bahwa apa yang dila-kukan ini adalah hal yang melanggar hukum. Namun bagaimana lagi, sang suami yang berbekal tamatan sekolah dasar, sudah berusaha semampunya untuk mencari kerja yang layak. Karena apa yang diharap-kan ketika datang ke Batam ini, tak menjadi kenya-taan, dan akhirnya terpaksa menjadi pengedar ganja, keduanya memutuskan dia untuk kembali ke Aceh.
‘’Rencananya besok kami pulang. Lebih baik di kampung halaman dari pada menjadi pengedar seperti ini. Kami terpaksa berjualan itu, juga untuk mencari ongkos pulang,” kali ini tangisnya bertambah deras. ‘’ Mas bisakah polisi melepas kami kalau kami langsung pulang,” tanyanya lagi kepada wartawan koran ini dengan wajah polosnya. [sultan]
Berikut ini pembahasan Farid Gaban.
Tema Tulisan
“Pasangan muda yang terpaksa mengungsi dari pe-rang di Aceh dan menjadi pengedar ganja di Batam ka-rena mengganggur.” Kisah seperti ini sangat sarat de-ngan nuansa “human interest”. Tak salah jika Sultan me-milihnya sebagai tema feature, ketimbang sekadar berita langsung (straight-news). Ada perang. Ada pengungsian. Ada pengangguran/kemiskinan.

Pentingnya Feature
Tidak sekadar kisah “human interest”, tulisan seperti ini sangat kuat mengajak pembaca merenungkan beta-pa perang memiliki implikasi yang luas dan mendalam, terutama bagi kehidupan orang per orang. Tulisan seperti ini sangat menggugah dan potensial mempengaruhi perubahan kebijakan [misalnya mengilhami gerakan perdamaian dan bahkan perundingan damai].
Kita mungkin masih mengingat Perang Vietnam. Ra-tusan ribu tewas dalam perang itu, namun salah satu a-degan powerfull yang diingat banyak orang tentang ke-jamnya perang ini adalah sebuah foto yang menggam-barkan seorang anak perempuan telanjang menangis meninggalkan ledakan di latar belakangnya, atau seo-rang polisi tengah menembakkan peluru ke kepala kor-bannya. Dua foto itu bicara tentang manusia bukan ten-tang perang yang impersonal, dan sangat berpe-ngaruh pada munculnya gerakan anti-perang di Amerika.
Ketimbang hanya memfokuskan diri pada berita dan statistik perang, Sultan di sini mencoba menyodorkan “wajah manusia”—bukan sekadar angka. [Masih ingat kata Lenin: “Seratus ribu orang tewas adalah statistik, satu tewas adalah tragedi.”?]
Hal yang sama saya coba dalam liputan Perang Bos-nia [Dor! Sarajevo, Mizan, 1994]. Membaca ulang kumpulan tulisan itu, saya harus katakan tidak seluruh eksperimen tadi berhasil. Namun, yang ingin saya tun-jukkan, saya tidak sekadar meliput dar-der-dor, tapi me-rekam kehidupan sehari-hari penduduk Sarajevo yang selama setahun lebih terkepung oleh blokade—lengkap dengan ketakutan dan kegilaannya.Meski memakai pendekatan feature, Sultan belum mengerahkan semua elemen feature dalam tulisan ini, dan terutama dalam penggalian bahannya.

Kedalaman
Berita ini hanya bersumber pada adegan di kantor po-lisi. Sultan di sini bahkan tidak melakukan wawancara sendiri terhadap obyek tulisannya. Dia hanya melihat dan mendengar. Dia tidak bertanya.Jika kita ingin mem-buat feature yang bagus, wawancara yang lebih menda-lam merupakan keharusan.

Personal.
Jika Sultan bisa melakukan wawancara yang lebih pan-jang, pembaca mungkin akan mengetahui secara lebih lengkap profil keluarga yang malang ini, termasuk menguji fakta benarkah mereka hanya “pengedar yang terpaksa” atau “pengedar profesional”.
Dari Aceh bagian mana mereka datang? Kenapa me-reka memutuskan mengungsi? Kapan mereka meng-ungsi ke Batam? Apa pekerjaan mereka di Aceh sebe-lum operasi militer? Bagaimana pula gambaran hidup sehari-hari mereka di sana? Dengan cara bagaimana mereka datang dan hidup di Batam? Seperti apa kesu-litan sehari-hari yang mereka hadapi di Batam?

Konteks dan Signifikansi
Tulisan yang bagus adalah seperti kerja kamera tele-visi yang bagus. Kamera bergerak hidup dari narasi, close-up, kutipan dan wide-angle. Kisah tentang Yus-nindar dan Hendra adalah “close-up”. Sultan perlu me-lengkapinya dengan “wide-angle”, menempatkan kisah mereka dalam latar yang lebih luas; untuk memper-lihatkan betapa kasus mereka ini memang signifikan (penting) untuk ditulis. Di sini Sultan perlu menambahkan informasi dasar tentang konflik di Aceh dan implikasinya (meski tidak perlu berpanjang lebar):
— Sedikit kilas balik tentang operasi militer terakhir.
— Data pengungsi Aceh (versi pemerintah atau LSM).
— Berapa banyak kira-kira pengungsi Aceh di Batam?
— Bagaimana hidup rata-rata mereka?
— Apakah Batam menjadi tujuan utama?
— Bagaimana pengungsi di Batam diurus pemerintah?
Masih menyangkut konteks, Sultan mungkin perlu sedikit menambahkan data yang bisa menunjukkan apakah menjual 10 bungkus ganja sehari itu merupakan kejaha-tan kecil-kecilan atau kejahatan besar, terutama dalam lingkup Batam. Sultan bisa tanya polisi, berapa banyak penjahat yang ditangkap basah mengedarkan ganja; apakah ada kecenderungan meningkat; dan berapa ra-ta-rata ganja yang berhasil dirampas dari seorang penjahat di sana?
Show it, don’t tell it. Jangan katakan! Tunjukkan! Dalam feature sebaiknya kita menghindari kata sifat (bagus, cantik, luar biasa, marah). Jangan katakan mereka me-ngalami “ketakutan luar biasa”. Tunjukkan betapa mereka memang benar-benar takut (“kencing di celana” adalah ilustrasi yang kuat untuk menunjukkannya).
Lead tulisan ini bahkan lebih kuat jika Sultan memakai ilustrasi tadi, dibanding memakai narasi subyektif (“ken-tara menyiratkan ketakutan luar biasa”). Tapi, di sini mesti hati-hati; bagaimana Sultan tahu celana itu basah karena air kencing, bukan karena tumpahan air?
Sultan telah membuat deskripsi dan kutipan secara efektif. Ini merupakan modal penulis feature yang bagus.
“Setelah digelandang, pasangan suami-istri itu dibi-arkan duduk di lantai keramik ruang tamu kantor polisi. Celana hijau Yusnindar sepanjang lutut nampak ba-sah. Bau pesing menguap ke udara. Hendra, sang su-ami, menangis berurai air mata, sambil mendekap bayi mereka yang baru berusia tiga tahun, yang sesekali merengek dan menyedot botol susu. Beberapa kali Hendra menutup wajahnya dengan dua telapak tangan untuk menghindari terkaman kamera televisi.”Semu-anya itu untuk makan kami dan membeli susu anak saya,” kata Yusnindar. “Kami juga terpaksa ber-jualan [ganja] untuk mencari ongkos pulang [ke Aceh].” kuti-pan yang sangat menyentuh.

Penulisan Nama
Meski ada orang Indonesia yang punya nama dengan satu kata (Soeharto, Slamet), kebanyakan nama mereka terdiri atas dua kata (nama depan dan nama belakang/nama keluarga). Bagaimana dengan Yusnindar dan Hendra ini? Saya khawatir Sultan tidak menanyakan dan mencatat nama lengkap mereka.
Apakah itu penting? Penting. Menanyakan nama leng-kap tidak hanya menunjukkan sikap teliti sebagai warta-wan, tapi juga menunjukkan kepedulian. Banyak warta-wan tidak terlalu peduli pada orang miskin (atau penjahat kecil-kecilan), sehingga berpikir nama mereka tidaklah penting. Jika soal nama kita tak peduli, bisakah diharap kita peduli dengan nasib mereka (termasuk kemungki-nan tersangka itu tidak bersalah)?

Angka dan Ukuran
Sultan menulis: “...polisi berhasil menyita 10 paket he-mat ganja, yang masing-masing dijualnya dengan harga Rp 5 ribu.” Istilah “paket hemat” perlu penjelasan lebih lanjut. Apa yang dimaksud? Berapa gram? Adakah “pa-ket yang tidak hemat”? Apakah Rp 5 ribu itu murah, atau mahal untuk ukuran Batam?

Ending Tulisan
Kalimat ini tidak terlalu jelas bagi saya [‘’Mas, bisakah polisi melepas kami kalau kami langsung pulang?” ta-nyanya.] Sultan bisa menemukan kutipan yang lebih bagus untuk mengakhiri tulisan ini secara meyakinkan jika, seperti awal sudah dikemukakan, Sultan lebih banyak menggali pertanyaan dari obyek tulisannya.

Tulisan Khas Bernama Feature

Posted by Jammes 6/06/2008 0 comments

Feature adalah arti-kel yang kreatif, kadang kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi in-formasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan. Feature memungkinkan reporter ‘’menciptakan’’ sebuah cerita. Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat karangan fiktif dan khayalan tidak boleh, reporter bisa mencari feature dalam pikirannya, setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.

Secara kasar karya jurnalistik bisa dibagi menjadi tiga, pertama stright/spot News berisi materi penting yang harus segera dilaporkan kepada publik (sering pula disebut breaking news)
Kedua, news feature, memanfaatkan materi penting pada spot news, umumnya dengan memberikan unsur human/manusiawi di balik peristiwa yang hangat terjadi atau dengan memberikan latarbelakang (konteks dan perspektif) melalui interpretasi.Dan ketiga, feature bertu-juan untuk menghibur melalui penggunaan materi yang menarik tapi tidak selalu penting.
Dalam persaingan media yang kian ketat tak hanya antar media cetak tapi juga antara media cetak dengan televisi, straight/spot news seringkali tak terlalu me-mu-askan. Spot news cenderung hanya berumur sehari untuk kemudian dibuang, atau bahkan beberapa jam di te-levisi. Spot news juga cenderung menekankan seka-dar unsur elementer dalam berita, namun melupakan back-ground. Kita memerlukan news feature, perkawinan an-tara spot news dan feature. Karena tradisi ini relatif baru, kita perlu terlebih dulu memahami apa unsur-unsur dan aspek mendasar dari feature.

Subyektifitas
Beberapa feature ditulis dalam bentuk ‘’aku’’, sehingga memungkinkan reporter memasukkan emosi dan piki-rannya sendiri. Meskipun banyak reporter, yang dididik dalam reporting obyektif, hanya memakai teknik ini bila tidak ada pilihan lain, hasilnya enak dibaca.
Tapi, reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu. Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk menonjolkan diri sendiri lewat pe-nulisan dengan gaya ‘’aku’’. Kebanyakan wartawan ka-wakan memakai pedoman ini: ‘’Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda.’’

Informatif
Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penu-lisan berita biasa di koran. Misalnya tentang sebuah Mu-seum atau Kebun Binatang yang terancam tutup. Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang enteng-enteng saja, tapi bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan perubahan konstruktif.

Menghibur
Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi surat-kabar untuk bersaing dengan media elektronika. Reporter suratkabar mengakui bahwa me-reka tidak akan bias ‘’mengalahkan’’ wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke masyarakat. War-tawan radio dan TV bias mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah mereka tahu. Se-mentara itu wartawan koran sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa tahu sesuatu kejadian — setelah koran diantar.
Wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan radio dan TV, dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (in depth) menge-nai cerita yang didengar pembacanya dari radio.
Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter selalu mencari feature, terhadap berita-berita yang paling hangat. Cerita feature biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan dikalahkan oleh radio dan TV atau koran lain.
Feature memberikan variasi terhadap berita-berita ru-tin seperti pembunuhan, skandal, bencana dan perten-tangan yang selalu menghiasi kolom-kolom berita, feature bias membuat pembaca tertawa tertahan.
Seorang reporter bisa menulis ‘’cerita berwarna-warni’’ untuk menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya hal-hal yang baru dan segar.

Awet
Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk bungkus kacang. Unsur berita yang se-muanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali ‘’punah’’, tapi feature bisa disimpan berhari, ber-minggu, atau berulan bulan. Koran-koran kecil sering membuat simpanan ‘’naskah berlebih’’ – kebanyakan feature. Feature ini diset dan disimpan di ruang tata mu-ka, karena editor tahu bahwa nilai cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu.
Dalam kacamata reporter, feature seperti itu mem-punyai keuntungan lain. Tekanan deadline jarang, sehi-ngga ia bisa punya waktu cukup untuk mengadakan riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai mem-punyai mutu yang tertinggi.
Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu cu-kup. Profil seorang kepala polisi mungkin baru bisa dipe-roleh setelah wawan-cara dengan kawan-kawan seker-janya, keluarga, musuh-musuhnya dan kepala polisi itu sendiri. Diperlukan waktu juga untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap keadaan tertentu perwira itu.
Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature memberikan penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting, fakta-fakta yang mungkin merang-sang emosi (menghibur, memunculkan empati, disampil tetap tidak meninggalkan unsure informatifnya). Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah hu-man interest atau kisah yang berwarna (colourful).

Teknik penulisan feature
Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pe-ngaturan fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik ‘’mengisahkan sebuah cerita’’. Memang itulah kunci perbedaan anta-ra berita ‘’keras’’ (spot news) dan feature. Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah.
Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia meng-hidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.
Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggu-nakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelinca-hannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu. ‘’Piramida terbalik’’ (susunan tulisan yang meletakkan informasi-informasi pokok di bagian atas, dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah – hingga mu-dah untuk dibuang bila tulisan itu perlu diperpendek) se-ring ditinggalkan.
Jenis-jenis Feature

Feature kepribadian
Profil mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang seseorang yang secara dra-matik, melalui ber-bagai liku-liku, kemudian mencapai ka-rir yang istimewa dan sukses atau menjadi terkenal ka-rena kepribadian mereka yang penuh warna. Agar efektif, profil seperti ini harus lebih dari sekadar daftar pen-capaian dan tanggal tanggal penting dari kehidupan si individu. Profil harus bisa mengung-kap karakter manusia itu.
Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, penulis feature tentang pribadi seperti ini seringkali harus meng-amati subyek mereka ketika bekerja; mengunjungi ru-mah mereka dan mewawancara teman-teman, kerabat dan kawan bisnis mereka. Profil yang komplit sebaiknya disertai kutipan-kutipan si subyek yang bisa menggam-barkan dengan pas karakternya. Profil yang baik juga bisa memberikan kesan pada pembacanya bahwa me-reka telah bertemu dan berbicara dengan sang tokoh.
Banyak sumber yang diwawancara mungkin mengungkap rahasia pribadi atau anekdot tentang si subyek. Tapi, banyak sumber lebih suka meminta agar identitasnya dirahasiakan. Informasi sumber-sumber itu penting untuk emberikan balans dalam penggambaran si tokoh.
Feature sejarah
Feature sejarah memperingati tanggal-tanggal dari pe-ristiwa penting, seperti proklamasi kemerdekaan, pem-boman Hiroshima atau pem-bunuhan jenderal-jenderal revolusi. Koran juga sering menerbitkan feature peri-ngatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh.
Kisah feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiawa mutakhir yang memangkitkan minat dalam topik mereka. Jika musibah gunung api terjadi, koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu. Feature sejarah juga sering melukiskan landmark (monumen/gedung) terkenal, pionir, filosof, fasilitas hiburan dan me-dis, perubahan dalam komposisi rasial, pola perumahan, makanan, industri, agama dan kemakmuran.

Feature petualangan
Feature petualangan melukiskan pengalaman-pe-ngalaman istimewa dan mencengangkan — mungkin pengalaman seseorang yang selamat dari sebuah ke-celakaan pesawat terbang, mendaki gunung, berlayar keliling dunia pengalaman ikut dalam peperangan.

Feature musiman
Reporter seringkali ditugasi untuk menulis feature tentang musim dan liburan, tentang Hari Raya, Natal, dan musim kemarau. Kisah seperti itu sangat sulit ditulis, karena agar tetap menarik, reporter harus menemukan angle atau sudut pandang yang segar.

Feature Interpretatif
Feature dari jenis ini mencoba memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detil terhadap topik-topik yang telah diberitakan. Feature interpretatif bisa menyajikan sebu-ah organisasi, aktifitas, trend atau gagasan tertentu. Mi-salnya, setelah kisah berita menggambarkan aksi tero-risme, feature interpretatif mungkin mengkaji identitas, taktik dan tujuan terorisme. Berita memberikan gagasan bagi ribuan feature semacam ini. Setelah perampokan bank, feature interpretatif bisa saja menyajikan tentang latihan yang diberikan bank kepada pegawai untuk me-nangkal perampokan.

Feature kiat (how-to-do-it feature)
Feature ini berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu hal: bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, bertanam di kebun, mereparasi mobil atau mempererat tali perkawinan.
Kisah seperti ini seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit dalam penulisannya. Re-porter yang belum berpengalaman akan cenderung men-ceramahi atau mendikte pembaca — memberikan opini mereka sendiri — bukannya mewawancara sumber ahli dan memberikan advis detil dan faktual. ***

Dia Tak Mau Menyusahkan Orang

Posted by Jammes 0 comments

Kolom Kamisan yang ditulis Hasan Aspahani, Pimred Batam Pos tanggal 6 Juni lalu punya kesan tersendiri buat saya. Sebab, orang yang dipanggilnya Mama itu, adalah mamaku Emmywarsih yang melahirkan aku 41 tahun yang lalu. Ini hanya sekelumit kisah ketegaran dan kemandiriannya. Tulisan Hasan membuat aku bangga punya ibu seperti dia yang telah memberiku nama Socrates. Terima kasih yang tulus buat Hasan. Semoga tulisan itu tidak karena aku bosnya.


BULAN Agustus nanti umurnya sudah 65. Saya memanggilnya Mama, sebagaimana sebutan dia ketika meng-aku-kan diri kepada orang-orang muda seperti saya. Selasa kemarin, saya bertemu dia. Itulah pertama kalinya saya singgah di rumah yang ia bangun sendiri di Batubesar. Ya, ia bangun sendiri. Ia beli sendiri tanahnya. Ia rancang sendiri bangunannya. Bangunan yang amat sederhana, tapi tampak sekali ia sangat bangga dengan rumah itu. Di depan dan di belakang rumah itu ia tanami berbagai jenis tanaman obat. Ia beberapa kali menyebut kumis kucing.
"Saya sudah pelajari, obat-obat hasil pabrik farmasi itu kebanyakan bahan bakunya kumis kucing," katanya.
Ingatannya masih sangat baik untuk seorang seumur dia. Dia masih sangat sehat. Kemarin ketika saya telepon lagi, dia bercerita baru saja mencari buku untuk hadiah ulang tahun menantu perempuannya. Kepada anak-anaknya pun dia selalu memberi hadiah ulang tahun buku. Dia memang suka membaca. Amat suka. Mungkin karena itu ingatannya tak menumpul.
Ia bahkan mengingat jam ia dilahirkan. "Jam 12, hari Minggu. Di Batusangkar. Sekarang tinggal di Batubesar," dia lantas tertawa. Kalau bertemu dengannya saya tak pernah tidak menjumpainya sebagai seorang yang periang. Kelihatannya dia tak pernah bersedih, ah lebih tepat dia tampak selalu ingin membuat orang lain bersemangat. Ia ingin menularkan semangat hidupnya.
Saya mengagumi dia sebagai orang yang luar biasa. Dulu dia bekerja sebagai perawat. Ah, bahkan sampai sekarang pun di depan pintu rumahnya yang amat sederhana itu ia pasang papan nama dan kata "bidan" di depannya. Saya bertanya dengan hati-hati, takut membuat dia tersinggung,"Kenapa mama masih juga praktek bidan?" Dia tertawa dan ah syukurlah tawa itu bukan keluar dari hati seseorang yang tersinggung.
"Hasan, Mama tak mau membebani anak-anak. Kalau ada orang yang minta tolong mama bantu," katanya. Saya lalu meminta dia memeriksa tekanan darah saya. "Wah, rendah sekali, Hasan. Kamu harus banyak minum jus wortel dan tomat. Suruh Yana menyiapkannya," ia menyebut nama istri saya, yang juga dia kenal baik.
Kalau dia mau, dia bisa memilih tinggal di salah satu dari empat anaknya yang pasti tak akan merasa direpotkan oleh kehadirannya. "Mama tak mau merepotkan orang lain. Tak mau merepotkan anak-anak. Mama masih bisa berguna bagi Tuhan, diri sendiri dan orang lain."
Saya bilang bukankah anak-anaknya juga harus diberi kesempatan untuk membalas jasanya? Dia tidak mengharapkan itu. "Kalau Mama serumah dengan anak-anak, nanti suatu saat ada kalanya mama marah, atau bosan atau anak-anak yang bosan. Pasti akan jadi masalah. Lebih baik terpisah tapi kan juga tidak jauh, jadi sayangnya dobel. Sayang karena tidak serumah, dan sayang karena Mama memang harus disayangi," ujarnya, lagi-lagi dia tertawa.
Ia lantas mengambil sekeping obat dari lemari kaca di depan mejanya. Ada buku panjang, buku catatan keuangan yang baginya digunakan untuk mencatat apapun. Beberapa nomor telepon, dan tulisan berikut ini yang paling menarik:
Bicara 10 Persen
Mendengar 45 Persen
Membaca 25 Persen
Menulis 20 Persen.
Saya bertanya apa maksud tulisannya itu. Lagi-lagi dia tertawa. "Itu pola hidup Mama," dan ia bilang begitulah kalau ingin mencapai keberhasilan. Orang harus mendengarkan orang lain lebih banyak daripada bicara tentang diri sendiri. Dan tentu saja saya amat tertarik dengan persentase membaca dan menulis itu.
"Sejak tahun 1971 sampai sekarang, Mama langganan Intisari. Banyak ilmu pengetahuan bisa didapat dari majalah itu," katanya. 1971? Ah, itu tahun kelahiran saya. Dan dia sudah membaca majalah itu? "Sekarang mama juga langganan majalah lain, dan beli buku. Sekarang lagi baca buku ESQ," katanya.
Tapi, rasanya dia melanggar persentase pola hidupnya tadi. "Mama membaca Quran sehari satu juz, katanya. Lalu dia menyebut beberapa surat kabar, majalah, dan beberapa judul buku. Jangan-jangan persentase membaca dia lebih dari 25 persen!
Saya suka tulisan tangannya, khas tulisan orang-orang yang berpendidikan di sekolah lama. Saya ingat begitulah tulisan Ayah saya. Tersambung rapi dari huruf ke huruf, dengan derajat kemiringan konsisten dan selalu terasa ditarik dengan kecepatan tetap. Hmm, pernah lihat tanda tangan Soekarno? Nah, kira-kira seperti itulah. Dia sekolah perawat dulu di RSU Ahmad Muhtar, Bukittinggi.
Hal lain yang sangat saya teladani dari dia adalah semangat belajarnya. Beberapa waktu lalu dia kursus Bahasa Jepang! Ya, Bahasa Jepang. Saya tanya alasannya. "Anak angkat Mama kan menikah dengan orang Jepang. Kalau bertemu dengan keluarga Jepang itu, Mama bisa bicara dan belajar banyak, termasuk tentang ilmu pengobatannya," katanya.
Dia mengagumi Hembing, si pakar pengobatan herbal itu. Dia menyebut sudah tamat belajar pada Profesor itu tentang berbagai khasiat obat dari berbagai tanaman. Di mana belajarnya? "Saya ikuti dari televisi," katanya. Lihatlah, betapa dia tak memandang media belajar. Dia bisa belajar di televisi, dari siapa saja, dari buku, dari majalah.
Berapa saya membayar untuk konsultasi dan sekeping obat penambah tekanan darah? Gratis. Kami sepakat membarter jasa itu dengan sebuah handgrip - alat melatih otot tangan milik saya yang kebetulan saat itu saya kantongi.
"Tiap pagi Mama kesemutan, ini bagus buat mama, kamu beli saja lagi. Iklhas, Hasan?"
"Ikhlas," kata saya.
Sepulang dari pertemuan dengannya, saya lalu terpapar pada sejumlah pertanyaan: seberapa merepotkan saya bagi orang lain? Seberapa tergantung saya pada orang lain? Apakah saya sudah menularkan semangat hidup pada orang lain, atau sebaliknya merepotkan dan membuat orang lain tidak bersemangat? Seberapa merepotkan saya bagi kantor tempat saya bekerja yang tiap bulan menggaji saya? Seberapa merepotkan saya bagi negara saya? Apakah saya terlalu menuntut? Seberapa manjakah saya?
Setiap pertanyaan itu akhirnya hanya memingatkan saya pada Mama: Dia yang tak mau menyusahkan orang lain, bahkan orang yang akan sangat ikhlas ketika harus ia repotkan. Saya ingin bertemu lagi dengan dia, dan seperti setiap kali saya bertemu dia, saya akan menyalaminya dan mencium tangannya.***

* Komentari tulisan ini di www.hasanaspahani.blogspot.com



Cerita tentang Istriku

Posted by Jammes 0 comments

Aku beruntung dapat istri yang cantik dan baik serta unik. Kami menikah 26 Maret 2000 delapan tahun lalu. Kini dikaruniai sepasang buah hati yang sehat dan lucu. Istriku seorang yang keras hati sekaligus si lembut hati.

Suatu malam, aku mau mengunjungi adikku Ira, yang kos tak jauh dari kantor. Saat bertemu, Yeni Astuti--wanita yang kini jadi istriku, terkesan cuek. Kulitnya putih. Mata sipit mirip orang Cina dengan rambut lurus sebahu. Gadis Palembang itu, segera menyita perhatianku.
Akrab seminggu, aku ajak menikah. Ia menangis tersedu-sedu. Belakangan, ia bilang terharu. Antara nekad dan spontan. Soalnya, saat itu aku sudah 33 tahun dan ia baru 22 tahun. Tapi, masa pacaran sampai setahun juga. Saya melamarnya dan kami menikah.
Lagu Terlena yang disenandungkannya di acara pernikahan kami, seolah mewakili perasaannya terhadapku. Lalu, kami melewati bulan madu yang indah di Thailand, selama dua minggu. Sampai hamil delapan bulan, istriku masih bekerja di perusahaan kosmetika Mirabella. Saat putra pertamaku Axel Ariel Muhammad lahir, ia memutuskan berhenti dan menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Istriku anak ke empat dari enam bersaudara. Ayahnya mantan pelaut dan berasal dari Jawa Timur. Ibunya wanita sederhana dari Ogan Komering Ilir. Namun, hanya istriku yang berkulit putih dan mata sipit seperti Cina. Sejak kecil, ia sering diolok-olok orang Cina.
Istriku seorang wanita yang sangat pengertian. Ia memahami pekerjaanku sebagai wartawan. Sering ia kubawa ke kantor agar ia tahu, wartawan bekerja kadang tak mengenal waktu. Saat aku bentrok dan nyaris disekap oleh seorang oknum pejabat tentara, ia ikut kubawa kabur. ''Ternyata, beginilah rasanya menjadi istri wartawan,''katanya. Ia ketakutan.
Istriku senang jalan-jalan. Ia suka hal-hal baru dan unik. Klop dengan tugasku sebagai wartawan. Wajahnya yang mirip orang Cina, sering membuat orang salah sangka. Kalau belanja di Nagoya, ia diajak bicara Mandarin yang tidak dimengertinya. Bosku Dahlan Iskan pun pernah bertanya,'' Istri Anda Tionghoa?,.. aku tersenyum dan geleng kepala.
Tak pernah ia merecoki pekerjaanku. Kadang aku pulang tengah malam bahkan subuh, ia menelepon dan bertanya, apakah aku tidak pulang ke rumah. Sejak menikah, aku selalu bawa kunci rumah.Saat anak kami Alliya Sonia Azarena lahir, lengkap sudah kebahagian kami.
Satu hal yang aku salut padanya, salat lima waktunya tak pernah tinggal. Setelah ikut ESQ ia memutuskan memakai jilbab. Ia rajin menjadi guru anakku saat mengerjakan tugas sekolah. Ikut kursus bahasa Inggris agar bisa komunikasi dengan guru anakku karena bahasa pengantar di sekolahnya bahasa Inggris.
Beberapa kali, aku membuatnya jengkel. Suatu pagi, aku pergi dengannya membeli sarapan pagi. Setelah memutar mobil, aku kelupaan menjemputnya dan terus melaju di warung tempat ia membeli sarapan. Aku lupa, ha..ha..ha! Ia hanya cemberut melihat aku tertawa-tawa.
Pernah pula, saat mengantarnya belanja ke pasar pagi, aku pergi ke mobil boks yang mendistribusikan koran. Aku baru sadar, istriku sudah kelamaan di tengah keramaian pasar. Aku mencarinya, tapi tak ketemu. Jangan-jangan, ia sudah menunggu di mobil membawa belanjaan.
Celakanya, kami tak membawa handphone. Ternyata benar. Dari jauh kulihat ia berdiri di antara tumpukan belanjaan, sambil menangis terisak-isak. Oalah, istriku. Kalau ia kesal, dnegan ulah kedua anakku,ia juga menangis tersedu-sedu.
Ia juga bukan wanita yang suka jaga gengsi. Kendati aku menjabat sebagai pemimpin redaksi, ia tak malu-malu bikin kue, lalu dijual di kantir kantor. Aku yang disuruh mengantar penganan itu dan mengutip uang penjualannya. Suatu pagi, karena ngerem mobil mendadak, kue-kue itu berhamburan dalam mobil.
Satu persatu, kupungut kembali lalu aku tiup agar tidak kotor. Kue itu lalu dititipkan ke kantin. Sorenya, kulihat kue itu hampir habis. Barulah aku cerita, tadi kue itu terserak di mobil. Ha..ha..ha..
Istriku juga pernah membuka konter kosmetik di mal. Tiap hari ia ke mal berjualan. Namun, hanya bertahan delapan bulan lantaran mal itu semakin sepi. Pernah pula ia menjual pakaian secara kredit kepada ibu-ibu di komplek atau wirid pengajian.
Benarlah kata orang. Istri yang baik akan menjadi pendorong semangat suami. Aku bangga, istriku tak suka bergunjing, iri dan dengki seperti kebanyakan wanita. Postingan ini sebagai kado ulang tahunnya yang ke 30 tanggal 20 Juni 2008. Soal tanggal lahir ini, aku dan istriku serta kedua anakku, semua lahir tanggal 20 tapi bulannya berbeda. ***